
Saga masih terlihat sedang membaca buku saat Ayana masuk ke dalam rumah. Suaminya itu pasti sedang menunggu kepulangannya.
"Assalamualaikum, Mas suami-nya aku. Nungguin istrinya pulang ya?"
Menyadari kepulangan sang istri, Saga langsung menutup bukunya dan mengulurkan tangannya. Dengan sigap Ayana langsung mencium punggung tangan sang suami.
"Udah makan malem?" tanyanya mengabaikan sapaan sang istri yang tadi.
Ayana mengangguk lalu duduk di sisi kiri Saga. Kepalanya langsung menyender pada pundak sang suami. Kedua matanya pun langsung terpejam setelahnya.
"Mandi dulu," ucap Saga memperingatkan.
"Kamu udah makan malam, Mas?" tanya Ayana. Kedua matanya masih terpejam.
Saga kemudian mengangguk.
Mendengar jawaban Saga, Ayana langsung membuka matanya dan menatap Saga. "Kita kapan sih, Mas terakhir makan bareng? Kok perasaan lama banget, ya?"
"Minggu lalu kayaknya." Saga kemudian menegakkan tubuh Ayana, "mandi dulu, yuk! Udah malem." Kemudian membimbing sang istri agar segera berdiri. Hal ini membuat Ayana tiba-tiba merubah ekspresi jahilnya.
"Berdua nih, Mas?"
"Kamu mau?" Saga malah balik bertanya. Namun, sebelum Ayana menjawab ia lebih dulu berkata, "enggak. Ini udah malem. Nggak usah aneh-aneh kalau nggak mau aku sentil," ancamnya terdengar tidak main-main.
"Dih, padahal muka-mukanya keliatan mau tuh," ledek Ayana, "hayo, ngaku!"
Saga tidak langsung membalas. Pria itu menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Mau begadang dua hari berturut-turut kamu?" tantangnya tidak mau kalah.
"Ayok, siapa takut," balas Ayana tidak mau kalah. Ekspresinya terlihat tidak main-main.
Saga yang melihatnya, mau tidak mau harus kembali menghela napas dan kali ini terdengar lebih berat. Memang salahnya karena menantang sang istri.
"Aku," ucap Saga pasrah, "kamu habis shift malam terus lanjut rolling shift siang, Yan. Nggak usah aneh-aneh! Ayo, buruan, mandi!"
Ayana langsung tertawa sambil menepuk pipi Saga. "Duh, so sweet banget sih khawatirin istrinya. Jadi meleleh aku, Mas."
"Masuk kulkas kalau meleleh."
Ayana langsung merengut. "Kamu itu emang perusak suasana nomor satu, Mas. Dah, lah aku mau mandi dulu."
"Emang disuruh dari tadi kan?" balas Saga sambil meraih buku bacaannya yang tadi tergeletak di atas meja, lalu menyusul sang istri setelahnya.
Saat Ayana menyelesaikan mandinya Saga masih terjaga. Seperti biasa, pria itu sibuk dengan bukunya. Berbanding balik dengan dirinya, kalau menunggu pria itu sudah pasti ujung-ujungnya malah tidur duluan.
Menyadari sang istri sudah selesai mandi, Saga langsung menutup bukunya. Ayana pun langsung ikut berbaring di sebelah Saga dan memeluk pria itu.
"Langsung tidur?" tanya Saga sambil membalas pelukan sang istri.
"Buru-buru banget, kan itungannya kita masih pengantin baru, Mas. Masa langsung tidur?"
__ADS_1
Saga menggeleng tidak setuju. "Tidur aja," sarannya kemudian.
"Bentar dulu, aku mau ngomong?"
Saga kemudian merenggangkan pelukannya lalu menatap sang istri. "Soal?"
"PPDS." Ayana kembali membenamkan kepalanya pada dada Saga, "menurut kamu lebih baik aku ambil spesialis apa jangan?"
"Ada masalah?" tanya Saga khawatir.
Kebetulan keduanya sudah sama-sama sepakat, kalau Ayana akan mengambil program pendidikan dokter spesialis setelah mereka menikah. Dan Saga setuju dengan hal itu, ia bahkan tidak masalah kalau istrinya akan meminta untuk menunda kehamilan selama program pendidikan. Lalu kenapa sekarang Ayana terlihat ragu-ragu dengan kesepakatan mereka.
"Mama nggak kasih izin."
Saga kembali merenggangkan pelukan mereka. Guna memastikan ekspresi wajah sang istri sekarang. "Kamu sendiri gimana?"
Ayana menggeleng. "Enggak tahu. Aku bingung, Mas."
"Nanti biar aku ngomong sama Mama," ucap Saga mencoba menenangkan sang istri.
"Mama sebenernya nggak masalah meski aku ambil PPDS, cuma Mama nggak setuju kalau kita tunda kehamilan."
"Aku nggak masalah."
Ayana menatap Saga intens. Kedua matanya mencoba mencari kebohongan dari kedua mata suaminya. Namun, ia tidak menemukannya. Saga terlihat serius dengan ucapannya.
"Emang Mas Saga nggak pengen cepet punya?"
"Jadi sebenernya Mas Saga pengen?"
"Mau. Tapi karena yang hamil dan melahirkan kamu, aku terserah kamu. Kalau kamu belum siap, ya kita tunda."
"Aku egois dong, Mas?"
"Enggak," komentar Saga.
Ayana menghela napas panjang. "Kalau ambil PPDS dengan kondisi hamil aku takutnya nggak bisa jadi ibu yang baik gimana, ya, Mas?"
"Kan belum dicoba, mana tahu gimana bisa apa enggak?"
Ayana menggeleng tanda tidak tahu. "Enggak tahu, Mas. Aku bingung."
Saga ikut memiringkan tubuhnya. Sehingga posisi mereka kini saling berhadapan. Kedua tangannya disilangkan di depan dada dan pandangan lurus menatap sang istri. "Jadi residen emang berat, apalagi dengan posisi kamu yang sebagai seorang istri. Mungkin rasanya bakal bertambah berat kalau kamu hamil nantinya. Tapi meski berat, aku yakin dan percaya kamu pasti bisa melewatinya. Kamu juga jangan takut, aku pasti bakal terus support kamu."
"Tapi kata Malvin jadi anak yang kedua orangtuanya dokter spesialis itu berat. Aku takut anak kita ngerasa demikian."
"Yan," panggil Saga terlihat tidak suka dengan pendapat sang istri, "kok kamu ngomong gitu?"
"Mas, kamu tahu kan Malvin itu pureblood clique bukan muggle kayak kita? Kedua orangtuanya itu bahkan dua-duanya spesialis, Mas."
__ADS_1
Saga mengangguk. "Aku tahu, tapi--"
"Aku beneran khawatir, Mas, kalau anak kita nantinya senasib sama Malvin kalau seandainya aku jadi ambil spesialis. Aku nggak mau. Apa itu artinya aku nggak usah ambil PPDS aja ya, Mas?"
Saga langsung menggeleng cepat. "Kalau itu aku nggak setuju. Menurut aku kekhawatiran kamu nggak mendasar. Aku nggak mau kamu melepas mimpi kamu hanya demi mengandung dan melahirkan anak aku. Kalau anak bisa menghalangi mimpi kamu, mending kita nggak usah punya anak sekalian."
Setelah mengatakan itu Saga memilih tidur membelakangi istrinya. Ayana tidak berani mengeluarkan suaranya setelah itu, yang ia lakukan adalah ikut tidur setelahnya. Tubuh mereka sama-sama lelah dan mereka butuh istirahat sesegera mungkin. Bukannya berdebat.
***
Ayana sudah tidak menemukan keberadaan Saga di sisinya, saat ia membuka mata. Sambil mencoba mengumpulkan nyawanya, ia kemudian duduk bersila. Kepalanya mengedar mencari keberadaan sang suami.
"Mas! Mas Saga!"
Ayana segera turun dari ranjang sambil menggulung rambutnya menggunakan jepit rambut.
"Lagi mandi ya?" Ia kemudian berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi. Mengetuknya dua kali, namun tidak mendapatkan jawaban. Lalu saat ia buka, ternyata suaminya tidak ada di sana.
Ayana kemudian memutuskan untuk turun ke bawah. Siapa tahu suaminya sudah berada ruang makan sambil membaca berita atau mungkin jurnal kesehatan.
Namun, saat ia sampai di sana, Ayana tidak menemukan suaminya.
"Mbak, si Bapak ke mana, ya? Kok aku cariin udah nggak ada?"
"Loh, emang tadi enggak sempat pamit Ibu?"
Pertanyaan Darti seolah menamparnya. Ia langsung tersadar, semalam kan Saga sedikit marah terhadapnya perihal PPDS. Astaga, kenapa bisa lupa dia?
"Oh, mungkin Bapak nggak tega bangunin Ibu, kan semalem ibu pulangnya malam. Lagian tadi juga Bapak keliatan buru-buru, kayaknya ditelfon dari pihak rumah sakit. Mungkin ada operasi pagi-pagi tapi Bapak lupa, Bu."
Ayana meringis kemudian mengangguk. "Iya, mungkin ada cito, Mbak. Operasi dadakan. Kalau lupa kayaknya enggak deh, soalnya Bapak jarang lupa kalau soal jadwal operasi."
"Oh, gitu, ya, Bu? Bisa jadi, iya, mungkin gegara itu. Ibu mau dibuatin sarapan sekarang?" tawar Darti kemudian.
"Loh, emang tadi nggak bikin sarapan buat Bapak?"
"Bapak buru-buru, Bu, jadi nggak sempet saya buatin apalagi sarapan. Katanya mau sarapan di rumah sakit."
Ayana mengangguk paham. "Ya udah, kalau gitu saya juga sarapan di kantin rumah sakit aja, Mbak."
Darti terlihat heran sekaligus tidak yakin. "Loh, bukannya Ibu hari ini shift sore?"
Ayana menggaruk rambutnya salah tingkah. "Em, itu... anu, maksudnya saya nyusulin Mas Saga sekalian biar sarapan bareng."
"Oh, baik, Bu."
"Hehe, iya." Ayana mendadak seperti orang yang sedang salah tingkah, "kalau gitu aku... naik duluan ya, Mbak. Mau mandi. Takut Mas Saga udah sarapan duluan."
"Lebih baik ditelfon dulu, Mbak," ucap Darti menyarankan.
__ADS_1
Ayana hanya mengangguk untuk mengiyakan.