
****
Malvin celingukan mencari perempuan yang hendak dikenalkan dengannya tapi sedari tadi tidak juga ia temukan. Batinnya kemudian bertanya-tanya, apa jangan-jangan perempuan itu sebenernya tidak mau dikenalkan dengannya? Batinnya bertanya-tanya.
Ia mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Baik lah, ia bisa menunggunya sebentar lagi. Mungkin perempuan itu sedang terjebak macet. Bisa jadi kan?
Malvin kemudian memutuskan untuk memainkan ponselnya demi membunuh rasa bosan.
"Dokter Malvin?"
Spontan Malvin mengangkat wajahnya saat mendengar namanya dipanggil.
"Iya?"
"Dokter Iva?"
Perempuan manis itu kemudian tersenyum lalu mengangguk, lalu mengulurkan tangan kirinya. "Ivana. Panggil nama aja, sorry, gue kidal." cepat-cepat ia ganti mengulurkan tangannya, "udah lama?"
Malvin tersenyum tipis lalu menggeleng. "Gue juga baru kok."
Ia kemudian ikut menggunakan lo-gue menyesuaikan perempuan itu.
"Silahkan duduk!"
Malvin berdiri sebentar lalu menarik kursi untuk diduduki perempuan itu. Hal ini membuat Ivana merasa terharu.
"Wah, thanks you."
"It's okay. Nyetir sendiri ke sini tadi?"
Ivana meringis malu-malu kemudian menggeleng. "Enggak, makanya gue telat. Hehe, gue nggak bisa nyetir mobil soalnya. Bokap mau kasih supir sih, tapi gue malu, gengsi gitu sama anak-anak, ntar gue di-ceng-in lagi gegara pergi kemana-mana dianterin supir. Kan udah tua."
Malvin lumayan takjub dengan pengakuan perempuan itu. Entah kenapa ekspresi akhirnya terlihat sangat menggemaskan. Ini yakin yang beginian cuma beda dua tahun dengannya?
Di luar dugaan Malvin, Ivana tiba-tiba tertawa. "Udah tua, tapi belum menikah ya. Malu-maluin banget, ya."
Spontan Malvin tertawa. "Terus gue gimana dong?"
"Beda lah, kan lo cowok. Gue cewek."
Mau tidak mau, Malvin kemudian mengangguk untuk mengiyakan. Ada benarnya juga sih, apalagi kalau ingat mereka tinggal di Indonesia.
"Terus kenapa udah tua tapi belum nikah juga?"
Malvin memasang wajah bercandanya sambil menopang dagu. Menunggu jawaban dari perempuan itu dengan antusias.
Ivana berpikir sebentar sambil mengusap dagunya. "Kenapa ya?" gumamnya pelan, ia kemudian menatap Malvin ragu-ragu, "mungkin karena lo baru sekarang mau nemuin gue-nya," sambungnya sambil tertawa.
Mau tidak mau Malvin pun ikut tertawa. "Oh, jadi gue yang salah?"
__ADS_1
Ivana mengangguk cepat sambil tertawa lagi. "Iya, soalnya kan gue nungguin lo, tapi lo yang ditungguin malah nungguin cewek lain, kan jadinya gue nggak nikah-nikah sampai tua kan?"
"Bisa aja lo," komentar Malvin sambil tertawa.
Sebuah pertemuan yang menyenangkan. Malvin menyukai gadis ini, sepertinya perempuan ini cukup menyenangkan. Dan ia tidak akan merasa kesepian saat harus menghabiskan sisa hidup dengannya.
"Tapi gue serius."
"Apanya?" Malvin menerjapkan bulu matanya dengan ekspresi bingung.
"Nungguin lo."
Malvin melongo tidak percaya. Tunggu, sebentar, perempuan ini sedang bercanda atau serius?
"Serius, Vin." Ivana kemudian tersadar akan sesuatu, "saling panggil nama nggak papa kan?"
Malvin mengangguk dan mengiyakan. Iya, ia tidak masalah dan justru merasa lebih nyaman karena dipanggil nama.
"Serius nggak papa? Tapi kan lo lebih tua dibanding gue?"
Malvin mengangguk cepat. "Serius nggak papa, gue malah seneng kalau dipanggil nama. Kan berasa jadi keliatan lebih muda."
"Terus nanti kalau udah nikah gimana?"
Malvin nyaris tersedak minumannya sendiri kala mendengar pertanyaan perempuan itu. Shock berat tengah ia rasakan. Tunggu, sebentar, dirinya tidak salah dengar kan?
"Iya kan? Pertemuan ini emang tujuannya ke sana? Lo nggak mau?"
"Tunggu, sebentar, gue agak speechless, lo emang biasa begini?"
Ivana berpikir sejenak. "Begini yang gimana?" tanyanya dengan ekspresi bingung. Ia tertawa, "gimana sih gue nggak paham. Jujur, selama ini gue cuma fokus sama belajar, belajar, sama belajar, jadi gue payah kalau harus berurusan sama cowok. Maklum kalau gue kurang cepat nangkep maksud lo. Hehe."
Malvin tersenyum. "Tapi menurut gue lo termasuk cukup berani sih. Jadi gue agak shock. It's okay, nggak papa. Gue nggak ada masalah, gue juga bisa dibilang payah kok soal kisah percintaan, makanya gue pasrah minta dicariin bukan."
"Sama," sahut Ivana takjub, "gue juga gitu. Gue udah bener-bener di tahap males nyari cowok, makanya gue minta bokap buat nyariin calon suami buat gue. Tapi kira-kira lo mau nggak sama gue?"
"Lo sendiri?" Malvin balik bertanya sambil tertawa.
"Kalau gue sih realistis."
"Maksudnya?" Malvin mengerutkan dahi kurang paham.
"Ya, secara fisik dan karir lo menjanjikan, jadi masa iya gue nggak mau? Aneh sih," Ivana cepat-cepat mengimbuhi kalimatnya, "tapi maksud gue ini karena posisinya gue nggak ada cowok ya, makanya gue bilang begitu. Beda lagi kalau gue ada atau pengen nyari sendiri. Maka ya, say sorry aja, mungkin gue nggak bakalan mau sih dijodohin sama lo."
Malvin manggut-manggut paham. Iya, suka cara berpikir perempuan ini. Ia juga suka jawaban perempuan ini. Sepertinya mereka benar-benar akan cocok jika memutuskan menikah. Tidak akan ada hal-hal ribet yang perlu dikhawatirkan olehnya.
"Oke, berarti kita setuju untuk nikah kan ini?" tanya Malvin yang gokilnya langsung diangguki perempuan itu dengan cepat. Bahkan Ivana tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. Hal ini membuat Malvin tertawa.
"Lo nggak mau mikir dulu?"
__ADS_1
Ivana menggeleng. "Kelamaan, ntar gue keburu tua," guraunya sambil tertawa, "yang penting lo nggak terpaksa gue sih nggak masalah. Lo kepaksa nggak?"
Kali ini giliran Malvin yang menggeleng. "Gue nggak ngerasa kepaksa sih. Berarti nanti kita bisa langsung ngomong ke orang tua masing-masing kan kalau kita siap nikah?"
Sebuah pertemuan yang gila, karena baru beberapa menit bertemu dan mengobrol mereka sudah membicarakan pernikahan. Sepertinya mereka akan menjadi pasangan gila.
"Iya, cuma gue nggak mau tahu."
"Hah? Maksudnya?" Malvin tidak paham dengan jawaban Ivana.
"Ya, biarin orang tua kita yang ngurus semuanya, kita terima beres, pokok gue nggak mau ditanyain soal apapun. Gue mau terima beres."
Malvin melongo tidak percaya. Sebenarnya gadis ini serius tidak sih ingin menikahnya.
"Emang lo nggak punya wedding dream?"
Ivana menggeleng cepat sambil tertawa. "Gue aja ngambil kedokteran karena disuruh nyokap, nggak punya cita-cita soalnya gue."
"Terus kok bisa sampai ambil spesialis?"
Ivana berpikir sebentar. "Oh, kalau spesialis yang nyuruh pengasuh gue sih."
Lagi-lagi Malvin dibuat tercengang oleh jawaban perempuan ini. Kok bisa?
"Serius, gue kan lumayan akrab gitu sama pengasuh gue sampai gue tua gini, kan emang hobi gue kalau ada apa-apa suka curhat ke beliau, terus beliau nyaranin gue buat ambil spesialis anak karena katanya gue suka sama anak kecil. Padahal mah, ya, biasa aja, gue nggak bisa dibilang suka juga sama anak-anak. Cuma nggak tahu kenapa emang gue bisa langsung mengiyakan gitu aja. Ya udah daftar lah PPDS, lolos, ya udah jalanin."
"Terus lo pernah nyesel nggak?"
Ivana menggeleng cepat. "Ya, ngapain? Gue dapet uang buat beli ini-itu juga dari itu, ngapain gue harus nyesel? Enggak sih, gue seneng, emang nanganin bocil susah-susah gampang sih, tapi seru kok." ia kemudian menyadari sesuatu, "eh, tapi gue punya syarat yang harus lo penuhin semisal kita nanti nikah beneran."
"Apa?"
"Gue mau nanti kalau kita nikah pengasuh gue yang ini diajak ke rumah kita. Soalnya pertama gue nggak bisa hidup tanpa beliau, terus yang kedua gue nggak bisa masak, Vin, jadi kita perlu beliau buat masakin kita tiap hari."
"Cuma itu?"
Ivana berpikir sebentar lalu mengangguk. "Kayaknya iya cuma itu. Kalau nanti ada tambahan kita omongin lagi deh."
Malvin tertawa geli tiba-tiba. "Gokil nggak sih kita?"
"Kenapa?"
"Masa kita baru ketemu berapa menit langsung ngomongin nikah? Ngegas banget nggak sih?"
Dengan wajah polosnya Ivana mengangguk dan mengiyakan. "Ya, kan emang ngegas kan? Sat set sat set kita tuh, nggak pake lama, langsung gas."
"Anti mainstream ya kita?"
"Iya, soalnya nggak main yang gitu-gitu."
__ADS_1
Lalu keduanya terbahak bersama.
Tbc,