
______________________________________
Tubuh Ayana seketika langsung mematung saat melihat sang suami keluar dari rumah dengan stelan rapinya. Berbanding balik dengan dirinya yang tampilannya bahkan sudah tidak karuan lagi, karena ia baru saja pulang dari shift malamnya.
"Morning," sapa Saga langsung menghampiri Ayana. Pria itu kemudian langsung mencium kening sang istri lalu dilanjut dengan Ayana yang gantian mencium punggung tangan sng suami, "aku berangkat, ya. Ada visit pagi," pamitnya kemudian.
Ayana hanya mampu mengangguk seadanya seraya melambaikan tangannya melepas kepergian sang suami. Dua minggu dinikahi Saga, kehidupan Ayana hanya begini-begini saja. Saga dengan segala kesibukan jadwal operasi dan praktek rawat jalannya. Pria itu kini sudah berhenti menjadi dosen demi membagi waktu dengan dirinya, tapi tetap saja pria itu masih sibuk.
"Gue pulang, suami gue pergi. Giliran suami gue yang pulang, gue-nya yang harus pergi. Rumah tangga macam apa ini," gumam Ayana sambil geleng-geleng kepala, merasa prihatin dengan nasib rumah tangganya sendiri. Meski tahu ini adalah resiko yang harus mereka hadapi tapi tetap saja perasaan sedih kadang masih suka muncul tiba-tiba.
Dengan jas putih yang tersampir pada lengan kirinya, Ayana kemudian menutup pintu mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Beruntung rumah mereka ada ART jadi tidak terlalu terasa sepi, coba bayangkan saja betapa kesepian dirinya kalau seandainya mereka hanya tinggal berdua? Duh, Ayana bahkan tidak sanggup untuk sekedar membayangkannya.
"Sarapan, Bu?" tawar Darti saat menyambut Ayana.
Setelah resmi jadi nyonya di rumah ini, Darti mengganti panggilannya, padahal Ayana sudah berulang kali bilang tidak perlu. Dan kalau boleh jujur sebenarnya ia lebih suka dipanggil 'Mbak Yana' seperti dulu. Tapi apa mau dikata, sepertinya ini memang salah satu resiko lain yang harus ia tanggung karena menikah dengan Saga.
Ayana mengangguk seraya menarik kursi dan langsung mendudukinya. "Mbak Darti kalau mau lanjut kerja silahkan, nanti kalau aku perlu bantuan aku panggil." Terkadang ia merasa tidak enak hati kalau Darti terlalu melayaninya, padahal ia mampu melakukannya sendiri.
"Baik, Bu."
Darti kemudian pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, baru beberapa langkah Ayana tiba-tiba memanggilnya.
"Eh, Mbak, minta tolong dong."
Darti kemudian berbalik dan menghampiri sang majikan. "Minta tolong apa, Bu?"
"Tolong cuciin jas aku," cengir Ayana sambil menunjuk jas putih yang tersampir pada kursi yang ada di sebelahnya.
Darti langsung mengangguk paham dan meraih jas putih itu. "Mau dipake kapan? Nanti malem?"
Ayana menggeleng. "Enggak, aku nanti pake jas yang lain kok."
"Oh, baik, Bu. Kalau gitu saya permisi."
Ayana mengangguk. "Makasih, Mbak," ucapnya sambil memamerkan senyum terbaiknya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Ayana kemudian bergegas naik ke kamar untuk mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, bukannya langsung tidur, ia memutuskan untuk main ke rumah Mamanya. Sudah lama ia tidak mampir ke sana dan kebetulan ia merindukan masakan sang Mama tercinta.
"Masak apa, Ma?" tanya Ayana saat memasuki halaman rumah Kartika. Wanita paruh baya itu nampak tengah sibuk mengurus tanaman kesayangannya.
"Belum sarapan kamu?" tanya Kartika masih sibuk dengan tanamannya.
Ayana mengangguk. "Udah."
"Terus kenapa nanyain masak apa?" Kali ini Kartika menoleh, "jam segini ya mana mungkin Mama udah masak, Papa-mu kan pulangnya nanti sore, Na."
"Sisa sarapan tadi ada dong?"
Kartika menggeleng. "Enggak ada."
__ADS_1
Ayana merengut lalu berjalan mendekat ke arah Kartika. "Bikinin apa gitu, yuk, aku kayaknya ngidam masakan Mama deh."
Kartika langsung menyipitkan kedua matanya curiga. "Hamil kamu?"
Mendengar pertanyaan sang Mama, Ayana langsung melotot tidak terima. "Ya Allah, Ma, aku sama Mas Saga nikah belum ada sebulan. Baru dua minggu. Masa udah ditanyain hamil?"
"Ya, siapa tahu, kan kamu dulu sering main ke rumah Saga waktu sebelum nikah. Mana tahu dulu sempet nyicil, jadi begitu sah, kamu-nya langsung hamil."
Ayana mendengus tidak percaya. "Ngaco! Mama ngebet banget nambah cucu? Kurang itu dua cucu daru Bang Tama?"
"Ya, beda dong, Na. Mama juga pengen punya cucu dari kamu. Kalau bisa langsung program aja, Na, biar langsung hamil. Mama ada rekomen dokter kandungan bagus. Mau ya?"
Ayana menggeleng.
"Kenapa? Kamu punya kenalan sendiri? Atau temen Saga ada yang jadi dokter kandungan?"
"Bukan."
"Terus?" Detik berikutnya Kartika langsung tersadar, kedua bola matanya membulat sempurna, "kalian nunda?"
"Enggak nunda. Cuma lebih ke hati-hati biar nggak hamil duluan."
Mendengar jawaban Ayana. Kartika spontan langsung memukul lengan sang putri. "Kalian ini kan sudah sag jadi suami-istri, malah bagus kalau kamu hamil, ngapain pake berhati-hati segala?"
"Yana belum siap hamil dalam waktu dekat, Ma. Jadi alangkah baiknya berhati-hati dulu. Lagian aku masih pengen ikut PPDS dulu."
"PPDS?" beo Kartika. Ia merasa tidak asing dengan singkatan itu, tapi apa ya? Otaknya berpikir keras, "PPDS apaan, Na? Mama kayak pernah denger tapi lupa."
"Apa? Gila ya, kamu? Kemarin-kemarin ditawarin Papa kamu katanya kamu nggak mau ambil spesialis, kenapa sekarang setelah punya suami malah mau ambil spesialis." Kartika menggeleng tegas, "enggak, Mama nggak setuju. Mama harus nunggu berapa lama lagi buat dapet cucu dari kamu?"
Kartika terlihat emosi lalu meninggalkan Ayana begitu saja. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah, saat sampai di bibir pintu, ia kemudian berbalik.
"Kalau kamu masih nekat mau ambil spesialis, jangan harap kamu bisa panggil Mama," ancam Kartika serius.
Ayana hanya mampu menghela napas pasrah.
***
"Selamat malam dokter Ayana istrinya dokter Saga. Ada apa dikau wahai ibu, kok mukanya lecek banget kayak uang gocengnya abang kondektur?"
Malvin kebetulan sedang mendapat jatah shift malam juga. Karena takut ketiduran saat menunggu pasiennya pembukaan lengkap, ia akhirnya memutuskan untuk main sebentar ke IGD.
"Pusing gue," keluh Ayana sambil menopang kepalanya menggunakan telapak tangan kiri. Helaan napas berat terdengar tak lama setelahnya.
"Penganten baru ribut mulu dah," komentar Malvin sambil berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Ini bukan soal suami gue."
"Lha terus? Pusing beneran? Lo sakit?" tanya Malvin khawatir, "apa lo hamil?"
__ADS_1
"Sembarangan! Main hamil-hamil aja. Gue baru nikah dua minggu, mana kemarin pas hari pernikahan gue bocor."
Sambil tersenyum jahil, Malvin kemudian menggoda Ayana. "Terus gimana? Lo udah diunboxing sama laki lo belum?"
"Lo nanya gituan sekali lagi, gue patahin tangan lo, ya," ancam Ayana galak, "serius dikit, ini gue lagi pusing."
Malvin kemudian menarik kursi dan duduk di sana. "Ya udah, buruan cerita mumpung pasien gue belum pembukaan lengkap."
"Ini soal PPDS gue."
"Kenapa? Ada masalah?"
"Nyokap gue nggak kasih izin," ungkap Ayana sedih.
"Lah, bukannya itu bukan masalah besar? Kan sekarang lo udah jadi istri orang, yang penting suami lo kasih izin kan?"
Ayana menghela napas sambil menggeleng tidak yakin. Meski dirinya sekarang sudah menikah dan resmi menjadi tanggung jawab sang suami, tapi rasanya ia tidak rela kalau seandainya apa yang ia kerjakan tidak mendapat restu dari sang Mama.
"Ya, meski sekarang yang lebih bertanggung jawab memberikan izin itu suami gue, tapi tetep aja lah, Vin, gue juga perlu restu dari nyokap gue. Mau gimanapun kan gue yang ngelahirin dan ngebesarin beliau, masa mentang-mentang nikah langsung bantah gitu aja. Enggak adil kan?"
Malvin mengangguk setuju. "Tapi alasan nyokap nggak setuju kenapa emang?"
"Karena gue..."
"Jangan bilang lo ada rencana nunda kehamilan karena mau fokus ke PPDS?" tebak Malvin tepat sasaran.
Ayana tidak dapat mengelak. Karena kenyataannya memang ia ada rencana untuk menundanya.
"Ya, pantesan nyokap lo ngelarang lah kalau lo-nya begini. Lo pikir nyokap nyuruh lo cepet-cepet nikah biar apa? Biar dia segera nimang cucu dari lo, Ayana!"
"Nah, itu dia yang bikin gue pusing, Vin. Gue takut kalau nggak siap."
"Gini aja, mending lo pilih satu. Pilih PPDS atau anak?"
"Lo yang bener aja lah, Vin," decak Ayana tidak suka dengan pertanyaan pria itu.
"Lo nggak bisa milih?"
Ayana diam.
"Berarti lo nggak boleh tunda kehamilan meski jadi dokter residen. Lagian meski lo nggak tunda kehamilan, belum tentu juga kalau lo bakal langsung dikasih kepercayaan sama Tuhan, Na. Jangan kepedean lo!"
Ayana masih diam. Ia melirik Malvin dengan ekspresi seriusnya. "Vin, gimana rasanya jadi anak yang dua-duanya dokter spesialis?"
"Berat," jawab Malvin cepat, "serius, berat banget, Na. Beban banget, apalagi menghadapi ekspektasi orang-orang di sekitar. Rasanya gue kayak mau melakban mulut-mulut mereka. Seenak jidatnya aja mentang-mentang beropini itu gratis."
Ayana kembali diam dan berpikir serius. "Jadi, gue nggak usah jadi ambil spesialis aja, biar anak gue nggak ngerasain apa yang lo rasain?"
"Hah?" Malvin melongo bingung, "eh, nggak gitu maksud gue, Na. Eh, si anjir, jangan mikir begitu gegara itu juga lah. Kan ini gue, gue anak nyokap-bokap gue, bukan anak lo. Bisa jadi ntar anak kalian nggak begitu kan? Jangan gegabah ambil keputusan, mending obrolin dulu sama laki lo!" sarannya kemudian. Ia langsung berdiri saat merasakan ponselnya bergetar.
__ADS_1
"Udah dapet panggilan nih, gue cabut duluan, ya. Nggak usah terlalu dipikirin! Selow aja," ucap Malvin sebelum pergi meninggalkan IGD.