Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 34


__ADS_3

***


Berkat obat yang diberikan oleh Ayana, Olivia merasa jauh lebih segar saat bangun tidur. Ia sudah tidak terlalu merasa pusing, bahkan demamnya pun sudah mulai turun. Ia kemudian bergegas untuk mengecek ponselnya. Ada beberapa panggilan dan juga chat masuk. Tanpa sadar senyumannya langsung terbit saat menyadari kekhawatiran Malvin terhadapnya. Meski menurutnya kekhawatiran pria itu sedikit berlebihan, tapi di sisi lain ia juga merasa senang.


Aneh memang kan?


Apa mungkin ini karena dirinya mulai jatuh cinta dengan pria itu. Tapi masa iya secepat ini. Batinnya keheranan.


Meski harus ia akui kalau dari segi penampilan pria itu memang terlihat sangat menarik, dan ia yakin semua orang akan mudah jatuh cinta dengan pria itu. Dan sepertinya mungkin dirinya sudah terkena virus jatuh cinta.


Tanpa sadar Olive terkekeh malu-malu. Ia merasa geli dengan sikapnya sendiri setelah menyadarinya.


Cepat-cepat ia menggeleng, mengusir pikiran ngawurnya. Baru setelah itu ia memutuskan untuk memasak. Berhubung ia baru dalam tahap pemulihan dari sakit flu-nya, Olive memutuskan untuk membuat sop ayam. Selain karena mudah dan tidak ribet, ia memang sedang butuh yang hangat-hangat. Berhubung ia merasa tenggorokannya kurang nyaman, ia memilih untuk tidak membuat gorengan. Tapi mendadak ia teringat kalau Malvin mungkin akan merengek kesal karena tidak memasak gorengan sekalian.


Baiklah, demi sang kekasih ia tidak papa.


Kekasih?


Kedua pipi Olive mendadak terasa memanas karena malu. Astaga, ya ampun, kenapa sekarang dirinya terkesan seperti ABG yang baru pertama kali pacaran? Padahal kan dirinya sudah lumayan berpengalaman, bahkan ia putus dari sang mantan pun belum lama ini. Lantas kenapa dirinya terkesan selebay ini?


Baik lah, mungkin ia bersikap demikian karena pria yang sedang ia kencani tipe model macem Malvin, yang tidak sembarangan orang bisa mengencaninya. Ya, mungkin saja.


Tidak ingin terlalu ambil pusing, Olivia memutuskan fokus dengan masakannya. Baru setelah selesai masak, ia memutuskan untuk mandi agar jauh lebih segar. Setelah mandi, ia tidak sengaja kembali tertidur hingga pukul dini hari.


Cepat-cepat Olivia mengecek ponselnya. Ada beberapa panggilan masuk dari Ayana. Sahabat Malvin yang baru dikenalnya. Batinnya bertanya-tanya kenapa dirinya ditelfon sebanyak ini? Ingin balik menelfon, tapi tidak mungkin karena ini sudah dini hari. Rasanya tidak sopan jika ia melakukannya.


Tapi mendadak perasaannya tidak enak, Malvin bahkan tidak menelfonnya sejak semalam. Tumben sekali.


Mungkin pria itu kelelahan dan langsung beristirahat setelah mencoba memanggilnya tapi ia tidak dengar. Tapi agak aneh sih, kalau seandainya Malvin mengetuk pintu dan ia tidak dengar, bukan kah seharusnya pria itu menelfonnya? Lalu kenapa tidak ada tanda-tanda panggilan masuk?


Ini sangat bukan Malvin sekali. Perasaanya mulai gelisah. Semoga pria itu baik-baik saja.


***


Begitu hari sudah berganti Olivia berniat untuk menemui Malvin langsung, tapi terpaksa harus ia urungkan karena Ayana menghubunginya.


"Halo, Liv? Ini gue Yana, lo baik-baik aja kan? Semalem gue coba telfon lo, tapi lo susah banget buat dihubungi. Gue jadi khawatir kalau lo kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Enggak kok, Mbak, aku baik-baik aja. Berkat obat yang Mbak Yana kasih kemarin demam aku langsung turun terus aku bisa masak abis itu, eh, tapi abis masak aku malah ketiduran. Maaf ya, Mbak, udah bikin khawatir."


"Enggak papa, gue ngerti kok. Syukur deh kalau lo nggak papa, gue lega."


"Iya, Mbak, aku udah sehat kok. Ini mau ke unitnya Mas Malvin, soalnya tumben semalem Mas Malvin nggak mampir. Kayaknya gegara bangunin aku tapi aku-nya nggak bangun-bangun deh makanya Mas Malvin nggak mampir."


Hening. Hanya terdengar helaan napas berat tak lama setelahnya.


"Liv," panggil Ayana.


Entah itu hanya perasaannya saja atau memang ada sesuatu yang hendak disampaikan perempuan itu. Tapi yang jelas perasaan Olivia mendadak semakin gelisah.


"Ya, kenapa, Mbak?"


"Gue punya kabar, tapi gue harap lo nanti jangan panik atau gimana ya, tenang!"


Jantung Olivia semakin berdebar kencang. Perasaannya semakin gelisah tidak menentu.


"Mbak Yana jangan bikin aku takut deh."


Terdengar helaan napas frustasi tak lama setelahnya. "Ya udah, lo siap-siap ya, abis ini gue jemput."


"Nanti gue kasih tahu begitu gue sampai di sana. Kita ketemu di depan sekalian nggak papa kan?


Olivia tetap manggut-manggut paham meski tahu Ayana tidak dapat melihatnya. "Ya, Mbak, aku siap-siap dulu kalau gitu."


Ayana kemudian menyadari sesuatu. "Eh, emang lo nggak ngantor, Liv? Astaga, gue lupa."


"Gampang, Mbak, aku bisa cuti dulu hari ini. Aku editor, Mbak, aku bisa kerja di mana aja, yang penting absen dan kerjaan beres."


"Oke, gue langsung otw ke sana, ya."


"Iya, Mbak."


Setelah menutup sambungan telfon, Olivia langsung bergegas mandi dan bersiap-siap. Saking terburu-burunya, ia bahkan tidak sampai sarapan. Boro-boro sarapan, ia saja tidak sempat membereskan tempatnya tidur dan langsung pergi begitu selesai mandi dan berganti pakaian. Ia bahkan tidak sempat memakai make up, maka dari itu ia hanya memutuskan untuk memakai masker begitu saja. Sebuah trik kalau males atau tidak sempat memakai make up, memang dirinya akan langsung memakai masker begitu saja.


***

__ADS_1


"Sorry, anak gue tadi rewel bentar, makanya telat," sambut Ayana begitu Olivia masuk ke dalam mobilnya.


Perempuan itu mengangguk tidak masalah dan langsung memakai seat beltnya. "Sebenernya ada apa sih, Mbak?" tanyanya tampak harap-harap cemas, "apa ada masalah sama Mas Malvin?"


Ayana mengangguk seraya mengemudikan mobilnya. "Kemarin Malvin kecelakaan--"


"Hah? Kecelakaan? Kok bisa, Mbak? Terus keadaannya gimana?"


"Gue jelasin pelan-pelan ya, Liv. Kondisinya pagi ini bagus kok, udah melewati masa kritis, udah juga dipindahin ke ruang inap biasa, pagi ini. Laki gue sendiri yang udah memastikan kalau udah dipindahin, tapi tadi pas suami gue ngecek emang kondisinya belum siuman, soalnya semalem kondisinya cukup serius sampai harus dioperasi."


"Astagfirullah, Mbak, sampai dioperasi? Kok bisa?"


"Tabrakan sama truk, bagian depan mobilnya sampai ringsek. Sorry, gue baru bisa ngabarin, soalnya semalem gue coba mau nelfon lo, tapi lo-nya nggak ngangkat telfon dari gue."


Olivia tidak dapat menahan tangisnya saat mengetahui kalau ternyata Malvin mengalami kecelakaan. Ia sedikit menyalahkan dirinya sendiri karena semalam tidur terlalu lelap.


Ayana yang melihat Olivia menangis jadi merasa tidak enak. "Duh, Liv, jangan nangis dong. Kan yang penting sekarang Malvin nggak papa, kondisinya udah mulai stabil. Tinggal pemulihan aja yang mungkin bakalan butuh waktu sedikit lama."


"Emang dia yang luka apa aja, Mbak?"


"Yang dioperasi bagian kepala, soalnya ada pendarahan deket otak, kalau nggak dioperasi membahayakan. Jadi dokter langsung ambil tindakan operasi malam itu juga. Sama ini sih, bahunya agak geser dikit jadi mungkin dia nanti bakalan terapi fisik dulu untuk sementara." saat lampu merah, Ayana langsung menghentikan mobilnya dan memberi Olivia air mineral, "udah nggak usah nangis, Malvin itu orangnya kuat, jadi dia nggak bakalan kenapa-kenapa. Oke?"


Olivia hanya mengangguk seadanya dan langsung meneguk air mineral yang diberikan Ayana. Meski perempuan itu bilang kalau kondisi Malvin sudah mulai stabil, tapi tetap saja perasaan khawatir tidak bisa ia hilangkan begitu saja.


"Aku ngerasa bersalah, Mbak," ucap Olivia tiba-tiba.


Ayana mengerutkan dahi bingung. "Bersalah kenapa? Ini bukan salah lo, Liv, emang dasar murni kecelakaan." dalam hati perempuan itu menggerutu, "emang dasar Malvin yang bego. Udah tahu punya perempuan setulus ini tapi malah main sama wanita lain."


Kalau ingat kelakuan pria itu yang bisa-bisanya kembali terlibat dengan adik Yasmin. Ayana ingin sekali menyukurkan karena pria itu mengalami kecelakaan. Apalagi dengan berita yang beredar dan klaim kalau adik Yasmin itu diakui sebagai calon istri pria itu. Rasanya Ayana menjadi gemas sendiri.


"Bukan itu, Mbak, aku bersalah karena semalem nggak bisa langsung angkat telfon."


Spontan Ayana tertawa, namun, hal itu tidak berlangsung lama. Ia langsung mengubah ekspresinya menjadi datar saat menyadari wajah bingung gadis di sampingnya.


"Sorry," sesalnya sedikit merasa malu.


Olivia terkekeh geli lalu menggeleng tidak masalah.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2