Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Berkunjung Ke Rumah Tama


__ADS_3

Hari ini agenda Saga adalah berkunjung ke rumah Tama, karena kebetulan sudah lama ia tidak berkunjung ke sana, selain itu karena permintaan Tama tentu saja, makanya ia meluangkan waktunya untuk ke sana. Saat ia memasuki rumah Tama, Gandhi langsung menghadangnya.


"Om, main sama Gandhi, yuk!"


Bukannya langsung menjawab, Saga malah menatap Tama yang sedang menggendong putri kecilnya yang terlihat baru akan tidur.


"Main sama anak gue dulu, Ga, gue tidurin Giselle dulu. Suka ngomel tiba-tiba dia kalau main nggak ada temennya. Biasanya Yana yang suka nemenin, tapi kayaknya itu anak lagi sok sibuk makanya jarang ke sini."


Mendengar jawaban Tama, Saga tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju dan pasrah ditarik-tarik Gandhi untuk mengikuti bocah itu.


"Om bisa bikin pesawat dari lego nggak?"


Sambil garuk-garuk kepala Saga menjawab dengan gelengan kepala. Gandhi langsung berdecak kesal saat melihatnya.


"Kalau mobil-mobilan?"


Lagi-lagi Saga menjawab dengan gelengan kepala.


Gandhi kembali berdecak. "Ah, Om payah banget, masa semua nggak bisa? Aunty Yana aja bisa loh, Gandhi juga bisa bikin mobil-mobilan dari lego. Masa Om yang udah gede nggak bisa. Iiih, Om payah banget."


Saga mendadak merasa gerah saat mendapat kritikan dari putra sulung Tama, maka dari itu ia memutuskan untuk melepas jaketnya dan hanya menyisakan kaos hitamnya.


"Om main ini aja lah kalau gitu."


Secara tidak terduga, Gandhi tiba-tiba memberinya dua boneka, yang satu ia ketahui itu Donald bebek dan yang satu Saga tidak tahu siapa namanya dan tidak mau tahu juga. Tapi yang pasti sang keponakan memiliki boneka itu. Hanya saja ia tidak paham nama-nama mereka.

__ADS_1


"Bukannya Om cuma nemenin?" tanya Saga dengan ekspresi bingungnya saat menerima boneka tersebut, "kenapa Om malah dikasih boneka?" Lagi pula ia heran, Gandhi kan cowok tapi kok punya boneka sih?


"Ya salah sendiri Om nggak bisa bikin pesawat dari lego," balas Gandhi dengan wajah yang agak sinis.


Harus Saga akui Gandhi mirip sekali dengan Tama kalau sedang memasang mode sinis begini, bedanya kalau Gandhi masih terlihat menggemeskan dan membuatnya ingin tertawa tapi kalau bapaknya bawaannya bikin jengkel.


"Kenapa nggak mobil aja?" tanya Saga.


Gandhi kembali menoleh ke arah Saga. "Maksudnya, Om mau bikin mobil-mobilan?"


Saga menggeleng. "Bukan. Kenapa Om nggak dikasih mobil-mobilan aja? Kan Om cowok."


Gandhi kembali berdecak seraya menepuk dahinya. "Aduh, Om, Om nggak lihat sebanyak apa lego aku sekarang? Kalau aku ambil mobil-mobilan juga yang ada nanti aku capek beresinnya, kalau aku udah capek pasti nanti males buat beresin semua, kalau udah gitu pasti nanti Mama marah-marah. Nah, kalau udah gitu nanti akunya tambah capek, Om, dengerin Mama marah-marah. Om ngerti nggak sih?"


Sambil meringis canggung Saga mengangguk patuh. "Iya, ngerti."


Akhirnya setelah Gandhi mulai bosan bermain dengan Saga, bocah itu tidak mengganggunya lagi, dan kini pria itu merasa bebas. Keponakannya saja perasaan tidak ada yang berani begitu padanya, kenapa anak Tama begitu berani padanya?


"By the way, gimana hubungan lo sama Yana?"


Saga memilih diam sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Ya, enggak gimana-gimana." ia kemudian mengangguk saat mendapati ekspresi tak puas dari Tama, "baik," sambungnya kemudian.


Tama langsung menegakkan tubuhnya, kedua matanya menatap Saga dengan ekspresi serius. "Baik dalam artian yang kayak gimana?"


"Ya, enggak gimana-gimana."

__ADS_1


Tama berdecak kesal. "Ah, lo dari tadi jawabnya nggak gimana-gimana mulu deh."


Saga menghela napas. "Ya, lo berharap gue jawab apa?"


"Ya apa gitu kek."


Saga diam saja.


Tama kemudian teringat sesuatu. "Bentar, gue mau nanya, ini sebenernya lo masih mau nggak sih sama adek gue?"


Saga kembali diam.


"Enggak, maksud gue gini, Ga. Kalian udah sama-sama dewasa, lo udah tua ya itungannya, udah nggak cocok loh gantungin perasaan anak orang, adek gue itu, bro. Lo kalau udah nggak mau sama adek gue bilang, jangan gini. Lo terima semua perhatiannya tapi perasaan lo udah beda, kasian adek gue dong. Ya, gue tahu adek gue pernah ada salah sama lo, cuma gue tetep nggak terima sih kalau semisal lo cuma mau manfaatin dia. Gitu-gitu gue sayang banget loh sama Yana, Ga, dia adek kesayangan gue." Tama menghela napas seraya menepuk pundak Saga, "gue tahu lo pria baik, Ga. Gue tahu lo nggak perlu gue nasehatin soal ginian, tapi, adek gue juga butuh kejelasan. Seenggaknya kalau lo udah nggak bisa terima dia lagi, gue bisa secepatnya ngehibur dia."


"Gue masih sayang sama adek lo, perasaan itu nggak pernah berubah. Tapi..."


"Tapi lo masih takut dikecewain adek gue lagi?" tebak Tama tepat sasaran.


Diiringi helaan napas pendek Saga mengangguk dan membenarkan.


"Gue tahu Yana, Ga, dia mungkin pemalas, kadang juga ceroboh, dan sebenernya dia itu nggak pinter menjurus ke arah agak bego sih, faktor hoki sih gue rasa dia bisa jadi dokter kayak sekarang. Tapi lo bisa pegang kata-kata gue, Yana tahu untuk nggak mengulang kesalahan yang sama. Percaya sama gue--"


Tama menghentikan kalimatnya karena merasakan ponselnya bergetar. Sambil berdecak samar ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Nomor tidak dikenal yang tertera di layar. Ia dan Saga kemudian saling bersitatap.


"Angkat aja, siapa tahu penting," saran Saga.

__ADS_1


Maka dari itu Tama memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut. Baru ia menempelkan ponselnya pada telinga, suara melengking Ayana langsung memenuhi gendang telinganya.


"Abang! Ini gue, plis, tolongin gue!"


__ADS_2