
Saat Ayana pulang, sang suami sedang menunggunya. Seperti biasa pria itu sedang melakukan kegiatan favoritnya, yaitu membaca. Dan bukannya langsung bergegas mandi, perempuan itu malah menghampiri sang suami. Hal ini tentu saja langsung mendapat protes dari sang suami, apalagi karena sikap perempuan itu yang langsung merebahkan kepalanya di atas paha pria itu.
“Mandi dulu, Yan,” tegur Saga dengan nada yang terdengar tidak suka. Ia kurang suka dengan kebiasaan sang istri yang satu ini.
Bukan Ayana namanya kalau langsung menurut, bahkan perempuan itu malah memejamkan kedua matanya.
“Capek banget aku, Mas,” keluh Ayana, “Mala udah tidur?”
Kali ini Saga meletakkan bukunya dan mengelus rambut sang istri lembut.
Ayana yang mendapat perlakuan demikian tentu saja langsung protes. “Jangan digituin, Mas. Nanti aku ketiduran.”
Saga tentu saja langsung menurut. “Gimana Malvin?”
“Mas, aku laper deh, bisa bikinin aku mie rebus?”
Ayana mengabaikan pertanyaan sang suami dan malah menanyakan hal lain.
Respon awal Saga adalah menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk paham. “Biar aku bangunin Darti," ucapnya kemudian.
Jawaban Saga langsung membuat Ayana mendengus kesal. “Kamu yang bener aja dong, Mas, jangan dibiasain buat ngerepotin orang. Iya, aku tahu Mbak Darti kamu bayar, emang tugasnya buat bantuin kita, Cuma kalau dia istirahat ya jangan kamu gangguin lah. Cuma masak mie rebus aja masa iya sampai panggil Mbak, selagi kerjaan itu bisa dikerjain sendiri, alangkah baiknya dikerjain sendiri. Ini Cuma masak mie instan yang tinggal rebus mie dan tambahin bumbu yang udah disediain. Nggak disuruh ngeracik sendiri," ucapnya panjang lebar.
Saga menaikkan sebelah alisnya heran sebelum berkomentar, “Ya daripada nggak kemakan gegara kurang asin atau keasinan kan?”
Saga kemudian langsung mengangguk cepat saat mendapati tatapan mata tajam sang istri. Kalau sang istri sudah melotot tajam seperti itu mana bisa ia menolak.
“Nah, gitu dong, sesekali aku juga mau dong dimasakin sama suaminya macem istri-istri lain. Udah nggak dapet suami romantis, masa iya kalau lagi pengen makan mie buatan orang lain harus nyuruh orang lain padahal punya suami.” Ekspresi Ayana berubah cerah, ia kemudian bangun dari posisi berbaringnya, “kalau gitu aku mau mandi dulu, kamu masak. Oke? Nanti abis ini sekalian aku mau cerita soal Malvin."
Saga hanya mampu manggut-manggut seadanya lalu menyuruh sang istri untuk segera mandi sementara dirinya membuatkan mie rebus sesuai yang diminta sang istri.
***
Ayana mematung sejenak saat mendapati mangkok berisi mie rebus pesanannya. Tunggu, sebentar, ia bahkan tidak yakin kalau ini bisa disebut makanan. Masalah pertama, sang suami terlalu memasukkan banyak air di dalamnya, lalu kedua tidak ada topping tambahan di dalam mie rebus ini, ia tidak dapat memaklumi sama sekali perihal ini. Masalahnya sang suami tidak mungkin tidak tahu kan kalau dirinya selalu memakai topping saat memasak mie. Lalu yang terakhir, oke, mari kita ralat, ketiga, mie-nya terlalu matang, dan mungkin yang terakhir ia rasa mungkin mie rebusnya tidak ada rasa mengingat terlalu banyak airnya.
“Mas,” rengek Ayana dengan wajah putus asanya, “kamu yang bener aja dong, kamu minta aku mandi lagi pake kuah mie ini?”
“Kenapa?” dengan wajah polosnya Saga balik bertanya. Ia garuk-garuk kepala dengan wajah bingungnya.
“Kebanyakan ini, Mas, astagfirullah.”
“Ya mana aku tahu, aku nggak pernah bikin.”
Ayana melotot tajam. “Aku tahu kamu anak orang kaya, tapi nggak usah sombong. Logikanya dipake bisa dong?”
Saga berpikir sebentar. “Ya udah kalau gitu buang aja, bentar aku panggilin Darti.”
Ayana menghela napas berat. “Udah nggak usah, aku makan ini aja. Meski warisan kamu banyak karir kamu bagus, bersikap mubazir itu tetep nggak boleh, karena di luaran sana banyak orang yang tidak beruntung, Mas.” Ia kemudian bergegas mengambil garam dan langsung menaburkan pada kuah mie rebusnya.
“Gila, masa masih belum ada rasanya padahal udah aku tambahin garem sebanyak ini.” Ayana menatap sang suami agak sinis, “emang sengaja kan kamu?”
“Lain kali makanya jangan nyuruh,” ucap Saga sejujurnya menyarankan. Tapi berhubung pria itu sangat hobi dengan kalimatnya yang kurang jelas, alhasil Ayana salah tangkap.
“Oh, jadi kamu sengaja masak mie begini biar nggak aku suruh-suruh?”
Saga menggeleng cepat. “Siapa yang bilang gitu?” sahutnya tidak terima.
Ayana menggeleng cepat lalu mencari sumpitnya dan sendok. “Emang kamu bilang secara langsung, tapi kamu bilang secara nggak langsung, Mas.”
__ADS_1
Saga menggeleng tidak setuju.
Tapi Ayana terlihat tidak peduli. Ia lebih memilih untuk menarik kursi dan duduk di sana. “Anjir, asin,” ucapnya reflek setelah menyeruput kuahnya, “perasaan tadi masih belum ada rasanya makanya aku tambahin kok sekarang malah jadi keasinan begini ya.”
Akhirnya Ayana memutuskan untuk tidak makan beserta kuahnya. Ia memutuskan untuk makan mie-nya saja. Saat sedang asik menikmati mie-nya mulai menggembang, tiba-tiba ia merasa merasakan hawa yang tidak mengenakkan. Saat ia menoleh ia sudah mendapati wajah datar tapi sorot mata yang tajam tengah menatapnya. Mendadak ia merasa merinding. Pada momen-momen tertentu suaminya itu bahkan lebih serem jika dibandingkan sang Papa.
“Kenapa, Mas?” tanyanya dengan nada yang sedikit gugup, “Mas Saga mau?”
Saga menggeleng cepat.
“Terus?”
“Sadar nggak abis ngomong apa?”
Ayana terlihat bingung di awal. Namun, tidak butuh lama akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud sang suami. Ia meringis dengan wajah takutnya.
“Namanya reflek, Mas, kan nggak sengaja.”
Saga menggeleng. “Aku nggak suka.”
“Iya, aku juga kok. Beneran reflek itu tadi, Mas, lagian aku masih waras kok buat nggak ngomong begitu di depan Mala nantinya.”
“Kalau reflek lagi?”
Ayana meringis malu-malu. “Ya berarti nggak sengaja lagi kan?”
Saga kembali menggeleng. “Nggak lucu, Yan.”
Ayana langsung mengangguk patuh. “Iya, Mas.” Ia kemudian teringat sesuatu, “oh ya, Mas, aku kan belum cerita soal Malvin.”
“Kenapa?”
“Iya.”
Ayana mengerutkan dahi heran. “Iya doang?”
“Iya, aku ingat, Na.”
“Kasian dia deh, Mas. Tadi dia sampe nangis dong nggak tega juga deh aku liatnya.”
“Terus?”
Ayana mengerutkan dahi bingung. “Terus?” beonya sambil berpikir, “ya aku peluk.”
“Enak?”
Kali ini Ayana terbahak. “Mas, dia Malvin loh.”
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. “Sama aja. Intinya bukan aku kan?”
Ayana berpikir sejenak lalu mengangguk. “Iya juga sih, tapi gimana dong, Mas, abis dia keliatan kasian banget deh. Kayaknya patah hati dia serius banget deh. Kan aku jadi nggak tega, ya udah aku peluk aja dia biar tenang dikit.”
"Berhasil?"
Ayana kemudian mengangguk cepat. "Untungnya sih berhasil, Mas."
"Seneng?"
Ayana mengangguk, tapi cepat-cepat ia mengelak. "Maksudnya aku seneng bisa ngehibur Malvin, Mas, bukan karena seneng dipeluk-peluk orang lain."
"Yakin?"
__ADS_1
Ayana kemudian terbahak. "Kamu serius cemburu sama Malvin, Mas?"
Saga tentu saja langsung menggeleng cepat dengan ekspresi datarnya. Nah, kalau begini tuh Ayana suka bingung karena ia tidak dapat menebak dengan pasti apakah pria ini berkata jujur atau sedang berpura-pura. Mengesalkannya punya suami datar ya begini, dirinya bisa saja mudah tertipu karena ekspresinya hampir selalu sama.
"Beneran apa bohong sih, Mas?"
Saga langsung mengangguk cepat.
"Beneran bohong apa apa beneran yang bener sih?" tanya Ayana bingung.
"Keliatannya?"
Ayana menggeleng cepat sebagai tanda tidak tahu. "Kalau aku tahu, aku nggak bakalan nanya, Mas. Soalnya ekspresi muka kamu tuh hampir sama, gitu-gitu aja."
"Ganteng kan tapi?"
"Ya, iy... Anjir, lah, pede gila suami gue," gerutu Ayana yang sukses membuatnya mendapat pelototan mata tajam dari sang suami.
Ia meringis takut-takut seraya mengacungkan kedua jempolnya. "Hehe, yang ini kelepasan deh, Mas. Beneran nggak sengaja."
"Iya, karena kamu terlalu sering menggunakan kosa kata itu makanya reflek keluar terus, Ayana."
Nyali Ayana seketika langsung menciut, apalagi kalau sang suami sudah memanggil namanya begitu. Serius sih, Ayana benar-benar tidak sanggup berkutik lagi. Ia menundukkan kepalanya sebagai tanda penyesalan.
"Maaf, Mas, itu semua keluar gitu aja, susah dikontrol."
"Makanya mulai dikurangi ngomong begitunya, biar nggak kebiasaan. Kamu ini udah jadi ibu loh. Lupa kamu kalau udah jadi ibu mentang-mentang aku kasih kamu kebebasan?"
Ayana menggeleng dengan kepala menunduk takut.
"Makanya jangan begitu lagi."
"Iya, Mas."
"Jangan iya-iya aja, Yan."
"Ya, ini juga coba diusahain, Mas. Jangan marah-marah lah, serem tahu kalau kamu begitu."
Saga mengangguk puas. "Tujuannya memang itu."
Ayana langsung mendengus seraya memasang wajah cemberutnya.
"Kalau sampai ketahuan lagi aku hukum ya?" ucap Saga memperingatkan.
Hal ini membuat Ayana terkejut kala mendengarnya. Mulutnya melongo tidak percaya. "Hah? Dihukum, Mas? Masa kayak anak sekolah aja pake hukum-hukum aja?"
Saga menatap sang istri datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Biar kamu jera."
Ayana semakin merengut kesal. Ia bertambah kesal karena ia tidak bisa berbuat apapun selain mengangguk dan mengiyakan. Sungguh menyebalkan. Gerutu perempuan itu di dalam hati.
Saga kemudian berdiri. "Buruan diberesin, abis itu kita tidur," ucapnya sambil menguap.
"Iya, Kang Mas Ndoro Agung."
Saga kemudian menoleh. "Lupa nama suami?" tanyanya membuat Ayana ingin berteriak gemas.
"Tahu lah," rajuknya kemudian.
Saga yang sedang mode kurang peka hanya mampu menaikkan sebelah alisnya heran sambil membatin. Kenapa lagi nih istrinya?
Tbc,
__ADS_1