Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 4


__ADS_3

****


Malvin merasakan kepalanya berdenyut kencang saat ia membuka mata, matanya kemudian mengedar ke segala penjuru ruangan. Terlihat asing, kamar siapa nih? Batinnya berpikir heran. Karena ia merasa kepalanya masih sakit, ia kemudian memutuskan untuk kembali memejamkan kedua matanya. Berharap kembali masuk ke dalam mimpi, tapi sayang, sebuah ketukan dari pintu membuatnya terpaksa membuka mata kembali.


"Siapa?"


Cklek!


Pintu itu pun terbuka, lalu masuk lah perempuan berdaster batik dengan wajah galaknya. Sebelah tangannya berkacak pinggang.


"Bagus ya, lo, Vin, udah semalem ngerepotin laki gue, sekarang bangun siang macem anak sultan."


Benar. Perempuan itu Yana, sahabatnya. Malvin langsung memperhatikan desain interior kamar. Oh, Tuhan, ternyata ia sedang berada di rumah Yana?


Ia meringis tak lama setelahnya saat menyadari semuanya. Perasaan bersalah sekaligus tidak enak hinggap pada dirinya. Kedua jarinya yang membentuk huruf V terangkat ragu-ragu tak lama setelahnya. Ia kemudian mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang sudah ia lalui semalam.


Flashback on


Saga hanya mampu menatap malas ke arah Malvin yang kini tengah heboh menari-nari tidak jelas. Ia harus menahan malu karena beberapa orang menatap ke arahnya sambil menahan tawa mereka. Ia mencoba menarik tubuh pria itu tapi lagi-lagi pria itu kembali lolos dari cekalan tangannya. Malvin kembali menari-nari tidak jelas, tapi tidak lama setelahnya pria itu menangis tersedu-sedu. Saga yang melihatnya hanya mampu menghela napas pasrah sambil memijit pelipisnya. Ia paling benci kalau harus berurusan sama orang yang sedang mabuk, ingin ditinggal tapi tidak mungkin. Kali ini bukan karena takut sang istri, melainkan karena tidak tega juga kalau semisal ia harus pergi meninggalkan pria itu begitu saja. Merasa menyerah, ia kemudian memutuskan untuk memanggil supir pribadinya. Saga benar-benar tidak tahan.


Saat udah ada di dalam mobil pun Malvin masih sibuk meracau tidak jelas. Saga sampai pusing sendiri saat mendengarnya. Tidak sampai di situ, pria itu tiba-tiba mual dan ingin muntah. Dengan sedikit terpaksa ia langsung menyuruh Agus agar menghentikan mobil dan membiarkan pria itu muntah di luar.


Selesai mengeluarkan isi perutnya yang bergejolak, Malvin terlelap tak lama setelahnya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena pria itu menggerutu tidak jelas tak lama setelahnya, bahkan terdengar suara sesegukan tak lama setelahnya.


Saga benar-benar pusing dibuatnya. Begitu sampai di rumah, Malvin masih begitu merepotkannya. Pria itu kembali muntah di tempat sembarangan lalu tidur begitu saja, padahal posisinya masih di depan pintu. Mau tidak mau Saga harus memindahkan pria itu ke dalam kamar lalu membantu pria itu berganti pakaian. Benar-benar hari yang melelahkan buat Saga.


Flashback off


"Sorry, ya, gue ngerepotin laki lo banget ya, Na?"

__ADS_1


Malvin merasa sungkan sekaligus tidak enak terhadap Yana maupun Saga. Tidak seharusnya ia bersikap demikian, tapi karena terlalu banyak pikiran ia sampai tidak bisa berpikir jernih dan berujung mabuk sampai merepotkan suami Yana. Tentu saja Malvin merasa tidak enak.


Yana berdecak lalu mendengus tak lama setelahnya. Ia kemudian duduk di tepi ranjang dengan ekspresi prihatinnya.


"Jadi gimana keadaan lo? Udah mendingan?"


Malvin mengangguk cepat. "Gue nyesel, maafin gue banget ya."


"Lo kenapa sampai mabuk segala sih? Kayak bukan Malvin yang biasa gue kenal tahu."


Ekspresi Malvin berubah sedih. "Gue sendiri juga ngerasa asing sama diri gue sendiri, Na. Kenapa cuma karena perempuan gue sampai begini ya?"


"Gue yakin kok pasti pelan-pelan Yasmin bakalan mau lagi sama lo, mungkin dia lagi bimbang."


"Tapi gimana kalau ternyata enggak?" Malvin menampilkan wajah sedihnya.


"Terus kalau bukan dia, siapa jodoh gue?"


Yana hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sebagai respon.


"Kayaknya kalau nanti Yasmin beneran sama sekali nggak mau sama gue, gue bakalan terima perempuan, siapa pun itu, meski gue nggak suka."


Yana berdecak tidak suka. Ia menggeleng tidak setuju dengan kalimat pria itu barusan. "Lo nggak boleh ngomong sembarang gitu lah, Vin. Di dunia ini perempuan bukan cuma dokter Yasmin."


"Tapi gue cuma mau dia," gumam Malvin dengan wajah sedihnya.


Yana langsung mendengus. "Kayak lagu," cibirnya kemudian.


Malvin hanya tertawa tak lama setelahnya.

__ADS_1


Kali ini Yana langsung berdiri. "Udah, ayo, buruan bangun! Cuci muka terus mandi sekalian! Abis itu baru momong anak gue."


"Anjir!"


"Bodo amat salah siapa lo semalem nyusahin suami gue, maka hari ini lo harus rasain efeknya. Udah nggak usah banyak nyari alesan lo."


"Gue nggak nyari-nyari alesan anjir, sembarangan aja! Diem aja loh padahal gue-nya."


Respon Yana hanya berupa dengusan. Lalu berjalan keluar kamar. Tak berapa lama Malvin pun menyusulnya.


"Baju ganti buat gue gimana?"


"Enggak usah mandi kalau gitu," balas Ayana membuat Malvin melongo tidak percaya.


Bercanda kan ini orang? Gerutu Malvin dalam hati.


Malas mendebat apalagi protes, Malvin akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah merasa jauh lebih segar tentu saja ia pergi ke dapur untuk makan.


Saat sedang asik menikmati nasi gorengnya, Yana masuk ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Perempuan itu nampak rapi dan wangi.


"Lah, dinas lo? Jam segini, anjir," komentar Malvin tidak terima melihat Yana sudah nampak rapi.


"Gue mau ada urusan bentar, gue shift sore kok. Titip anak gue ya, dia masih tidur di kamar atas."


"Ada laki lo kan tapi?"


"Kalau ada suami gue, gue nggak bakalan nyuruh lo dodol!" Yana kemudian melambaikan telapak tangannya centil, "dadah! Good luck buat simulasi jadi papa mudanya. Moga sukses ya," sambungnya sambil mengedip genit.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2