
***
Malvin menaikkan sebelah alisnya, menunggu perempuan yang duduk di sampingnya ini mengeluarkan suaranya. Olivia nampak gelisah, seperti ragu-ragu saat hendak mengeluarkan suaranya.
"Kok malah diem aja sih, Liv? Jadi nggak sih? Kalau nggak jadi gue mau pulang nih, pengen tidur. Ngantuk soalnya."
"Jadi, Mas," sahut Olivia cepat.
Malvin manggut-manggut. Dalam hati ia sedang bersorak kegirangan tapi tentu saja ekspresinya dibuat setenang mungkin.
"Jadi apa?"
"Mas," rengek Olivia tiba-tiba menaikkan nada bicaranya.
Malvin langsung tertawa. "Loh kok ngegas sih? Kan gue cuma nanya, kan gue nggak tahu maksud jadi lo itu apa. Makanya gue nanya dulu, Liv, ingat, malu bertanya sesat di jalan. Makanya gue milih nanya lo dulu."
Di luar dugaan, perempuan itu mendengus kesal. "Aku tahu Mas Malvin tahu maksud pembicaraan aku, cuma Mas Malvin aja yang pura-pura nggak tahu kan. Ayo lah, Mas, jangan bikin aku malu. Kita perjelas saja biar sama-sama enak dan nggak perlu ribet."
"Ya ampun, Liv, otak gue seketika langsung traveling pas lo bilang 'sama-sama enak'," goda Malvin iseng.
Sumpah demi Tuhan, Olivia rasanya ingin sekali menimpuk pria di hadapannya ini. Tapi kalau tidak ingat dirinya yang butuh, ya, mungkin ia akan benar-benar melakukannya.
"Ayo, kita coba, Mas!"
Dengan wajah jahilnya, Malvin kembali menggoda Olivia. "Coba? Maksudnya coba melakukan perbuatan tak senonoh yang berujung sama-sama enak?"
__ADS_1
"MALVIN PRAWICAKSANA!"
Kali ini Malvin tidak bisa untuk tidak tertawa. Menggoda Olivia sangat lah menyenangkan. Perutnya sampai sakit karena menertawakan perempuan itu.
"Masih mau lanjut ketawa atau aku usir," ancam si perempuan.
Malvin spontan langsung menutup bibirnya rapat-rapat sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf O. Lalu pura-pura membuat gerakan mengunci bibirnya sendiri.
Kali ini Olivia lebih tenang. Ia mengangguk pelan lalu memandang Malvin serius. "Aku mau nyoba, Mas, hubungan yang kamu tawarin kemarin."
"Alasannya? Apa lo udah mulai berdebar-debar kalau deket gue?"
Olivia mendengus lalu memutar kedua bola matanya. "Jangan kepedean, Mas! Aku melakukan ini karena ibu aku, katanya aku mau dijodohin kalau nggak bawa pacar aku pulang."
Kebetulan macam apa nih?
"Iya, Mas, aku tahu kamu tenang aja. Aku juga nggak ngajak kamu pulang ke kampungku besok kali."
Tunggu, sebentar, tapi kenapa kalimatnya terasa seperti janggal.
"Tapi maksudnya nanti pada akhirnya lo bakalan ngajak gue ke pulang ke kampung lo gitu?"
Perempuan itu mengangguk ragu-ragu sebagai tanda jawaban. "Tapi tenang aja, Mas, aku bakalan ngajak kalau hubungan kita berhasil kok, kalau enggak, aku nggak akan aku ajak."
Malvin berpikir sejenak lalu menggeleng cepat. "Enggak, nggak papa, Liv, lo boleh ajak gue kok."
__ADS_1
Olivia mengerutkan dahi bingung. "Kenapa begitu?" tanyanya heran.
"Karena gue bakalan ajak lo ke rumah gue juga nantinya."
"Apa?!"
"Ya gitu lah, Liv, kita senasib, gue kalau nggak segera kenalin lo ke nyokap-bokap gue, ntar gue bakalan dijodoh-jodohin sama anaknya kenalan bokap gue." Malvin menggeleng tegas, "gue nggak mau lah, kapok gue. Trauma. Berhubung kita sama-sama saling membutuhkan kenapa kita nggak nyoba aja saling kenalin ke orang tua masing-masing."
"Tapi kan Mas Malvin bilang kalau Mas Malvin nggak bisa sembarangan pergi-pergi?"
Malvin mengangguk dan mengiyakan. "Ya emang nggak bisa sembarangan, tapi asal disesuaikan bisa kok, nanti gue coba cek kira-kira gue dapet cutinya hari apa. Ntar gue kabarin. Ngambil cuti di tempat lo susah nggak?"
Olivia menggeleng. "Enggak kok, soalnya jatah cuti aku belum aku pake."
"Serius? Bagus tuh, jadi kita bisa pergi ke kampung lo nyesuaiin jadwal cuti gue."
Perempuan itu tersenyum tipis. "Terserah Mas Malvin aja, aku ngikut deh."
"Oke, tapi besok malam kalau gue ajak ke rumah kedua orang tua gue lo mau kan?"
"Hah?" Olivia melongo dengan wajah bingungnya, "kok mendadak ngegas, Mas?"
"Lebih cepat lebih baik, Liv, dari pada ntar ditunda-tunda, keburu dijodohin gue sama anak kenalan bokap gue. Ntar gue nggak jadi bantuin lo gimana?"
Ekspresi Olivia terlihat ragu-ragu. Malvin mengangguk cepat saat berusaha meyakinkannya. Tak lama setelahnya Olivia pun mengangguk pelan. Wajahnya terlihat pasrah.
__ADS_1
Tbc,