Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Kepedulian Ayana


__ADS_3

Ayana mengerutkan dahinya heran, saat membuka ruang rawat inap Malvin tapi pria itu tidak ada di sana. Batinnya bertanya-tanya, kemana perginya pria itu? Malvin tidak mungkin kabur dan memutuskan pulang ke apartemen pria itu kan? Kalau iya, bisa bahaya mengingat kondisi pria itu. Tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada sahabatnya, Ayana kemudian memutuskan untuk menanyakan keberadaan Malvin pada perawat jaga yang bertugas.


Langkah kakinya spontan terhenti. Ia bahkan tidak tahu harus bersyukur atau marah karena ternyata, Ayana justru menemukan pria itu sedang asik mengobrol dengan perawat jaga di dekat meja nurse station.


"Kok lo di sini?" tanya Malvin heran.


Sebenarnya kalau boleh jujur, Ayana akui wajah pria itu sudah tidak sepucat kemarin, tapi tetap saja wajahnya masih lumayan terlihat pucat.


"Harusnya gue yang nanya, lo kenapa di sini?" tanya Ayana heran, "Vin, lo itu kena hepatitis A, harus istirahat total. Bukannya malah kelayapan begini, lo itu mau sehat nggak sih?"


"Gejala, Na," koreksi Malvin tidak terima, "lagian ya gimana, gue boring, Na. Di kamar sendirian nggak ada yang nemenin, lo bayangin, gue biasanya sibuk terus harus tiduran doang di ranjang seharian. Bisa mati kutu gue, anjir, makanya gue keluar bentar."


Ayana tidak peduli. "Kalian juga, gimana sih bukannya nyuruh pasien kalian istirahat di kamar malah diajakin ngobrol?" omelnya pada perawat jaga, "nanti kalau terjadi sesuatu sama pasien dan kalian yang disalahin mau?"


"Lah, ngapain lo omelin mereka?" tegur Malvin, "kan gue yang gabut. Boring tahu sendirian tuh."


"Gue nggak peduli apapun alasan lo, Vin, lo itu butuh istirahat total. Lo bukan sakit tifus doang loh ini, tapi gejala hepatitis A." Mode mengomel Ayana keluar, "lagian lo itu gimana sih? Lo itu dokter masa bisa kena hepatitis? Malu-maluin tahu, masa seenggak bisa itunya lo menjaga diri?"


"Ya, dokter juga manusia kali, Na. Kalau bisa milih gue juga milih cuma sakit tifus doang," balas Malvin tidak terima.


Ayana kembali terlihat tidak peduli. "Nyokap lo?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Malvin melirik Ayana heran. "Lo ngapain nanyain nyokap gue? ayak nggak kenal nyokap gue aja lo. Nyokap gue itu dokter anak, jelas lebih mentingin anak orang lah. Jenguk gue aja belum, nelfon doang kemarin sama ngomel panjang lebar. Ya, jelas gue kesepian lah, Na, di kamar sendirian."


"Ya udah, pindah aja ke kamar kelas tiga." Ayana kemudian beralih pada sang perawat jaga, "masih ada yang kosong nggak?"


"Masih. Tadi ada yang baru pulang tadi pagi, dok, udah bersih kok. Mau pindah ke sana, dok?"


Malvin berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Ya, enggak lah, gue harus istirahat total. Kalau di kamar kelas tiga berisik, nggak bisa tidur gue."


Ayana langsung mencibir. "Halah, biasanya juga tidur di mana-mana kok, begayaan banget lo nggak bisa tidur. Kalau kelas dua ada?"


"Enggak ada, dok, penuh. Tinggal kelas satu sama VVIP doang."


"Nyokap lo nggak bisa nemenin gue?"


"Tadi sih ngabarin mau ke sini, cuma nggak tahu ke sininya jam berapa." Ayana memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya, "ayo, balik ke kamar dulu! Lo itu perlu istirahat total. Turun dari ranjang aja nggak boleh, lah, ini malah kelayapan. Lo itu gimana sih?"


"Boring banget gue sumpah, Na," balas Malvin sambil mendorong tiang infusnya.


"Siapa suruh sakit," gerutu Ayana dengan wajah kesalnya.


"Lo kenapa nyalahin gue mulu sih?" balas Malvin tidak terima, "mental gue ini lagi jelek-jeleknya, nanti kalau gue nekat lo mau tanggung jawab?" ia kemudian melirik Ayana, "lo jadi hamil nggak sih, Na?" tanyanya tiba-tiba.


"Kok pertanyaan lo bikin gue su'udzon? Lo berharap gue keguguran apa gimana?"


Malvin menggeleng cepat. "Enggak. Amit-amit, gue nggak sejahat itu kali. Kan gue cuma nanya, soalnya perut buncit lo nggak keliatan-keliatan. Berapa bulan sih?"


"Bulan depan masuk bulan ke lima."


"Lah, nggak ada acara empat bulanan?"


"Ada lah, lo aja yang nggak dateng."

__ADS_1


"Oh, yang waktu itu?"


Ayana mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Terus cewek apa cowok?"


"Rahasia. Ntar kalau udah lahir juga tahu."


"Kepo nih gue."


"Salah sendiri nggak dateng ke acara. Udah lo langsung istirahat, gue mau balik ke IGD. Kalau butuh apa-apa panggil perawat aja, jangan turun dari ranjang, yang ada ntar lo nggak sembuh-sembuh."


Malvin mengangguk paham. Meski ekspresi wajahnya terlihat antara rela dan tidak rela.


***


Saga lama-lama merasa risih karena sedari tadi ditatap sang istri. Mereka sedang berada di mobil, baru kelar dinas dan hendak pulang ke rumah.


"Mau minta apa?"


"Soal yang kemarin."


Saga mengerutkan dahi tidak paham. "Apa?" tanyanya bingung.


Ayana berdecak kesal karena suaminya ini selalu menjadi pelupa kalau menyangkut hal yang ia inginkan. Padahal kalau urusan yang lain, Saga sangat jago mengingat. Apa jangan-jangan suaminya ini sengaja pura-pura lupa karena malas?


"Malvin sama tetangga itu loh, Mas."


"Terus?"


"Kamu berharap aku ngapain?"


"Ya, apa gitu kek, temuin tetangga Malvin itu, terus kamu bujuk."


"Biar?"


Ayana berdecak sebal. "Ya, biar mereka bersatu gitu loh, Mas, kasian banget deh sama Malvin. Dia kayak nggak ada semangat sembuh. Sembrono banget, Mas, dibilangin susah. Ngeyelan. Ah, pokoknya aku khawatir sama dia, Mas. Dia itu sahabat aku, dia yang selalu ada buat aku, masa giliran dia yang begini aku nggak bisa bantuin dia. Kan sedih, Mas."


Saga menghela napas panjang. "Tapi mereka sudah sama-sama dewasa, dan enggak seharusnya kita ikut campur. Percaya saja mereka pasti bisa menemukan jalan terbaik mereka."


"Oh, jadi kamu nggak mau bantuin, Mas? Ya udah, biar aku sendiri yang ngomong sama tetangganya itu."


"Terserah."


Ayana makin kesal karena sang suami tidak ada niatan untuk membantunya sama sekali.


***


Karena Saga tidak berniat membantu, maka hari ini ia memutuskan untuk menemui perempuan itu sendiri. Bermodal foto yang dia ambil dari ponsel Malvin, Ayana menunggu perempuan itu di lobi. Sebelumnya ia lebih dulu bertanya apakah tetangga Malvin itu sudah pulang atau belum.


Setelah bosan menunggu dan dirinya hampir menyerah. Akhirnya perempuan yang Ayana tunggu menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.


Ayana tidak dapat menahan keterkejutannya saat bertemu dengan perempuan itu secara langsung. Pantas saja Malvin sampai begini karena patah hati, penampilan Yasmin bahkan sama sekali tidak terlihat seperti perempuan berkepala tiga. Sesaat Ayana curiga kalau perempuan ini memalsukan umurnya.

__ADS_1


"Dengan dokter Yasmin?" sapa Ayana menyapa perempuan itu.


Perempuan itu tersenyum tipis sambil mengangguk ragu-ragu. "Ya, ada yang bisa saya bantu?"


"Ayana," ucap Ayana memperkenalan diri, "sahabatnya Malvin."


Ekspresi Yasmin seketika berubah. "Ada apa?"


Ayana meringis malu. "Mohon maaf sebelumnya, gimana kalau kita ngobrolnya di suatu tempat. Kebetulan saya agak pegel nih tadi nunggunya."


Meski terlihat sedikit enggan, Yasmin tetap mengangguk dan mengajak Ayana untuk ke Cafe yang ada di dekat gedung.


"Jadi ada perlu apa anda mencari saya?"


"Anda tahu kan kalau Malvin sekarang sedang sakit?"


Yasmin mengangguk untuk mengiyakan.


"Tahu sakitnya apa?"


"Maaf, kalau itu saya kurang tahu. Bahkan saya rasa, saya tidak--"


"Hepatitis. Malvin kena hepatitis. Kondisinya cukup serius."


Dalam hati Ayana meminta maaf pada Malvin, karena ia terpaksa berbohong. Meski begitu ia tidak menyesal karena sudah berbohong, bahkan Ayana merasa cukup berbangga diri kala mengingat ekspresi Yasmin yang terlihat berubah khawatir, begitu selesai mendengar kalimatnya.


"Dok, mungkin kedatangan saya saat ini lancang dan mungkin terkesan kurang sopan. Tapi saya merasa tidak memiliki pilihan lain, sebagai sahabat saya nggak mungkin diam saja melihat sahabat saya terbaring lemah di rumah sakit kan?" Ayana menghela napas panjang, "Malvin itu jarang sakit, dok, nyaris nggak pernah sakit, tapi sekalinya sakit, eh, malah langsung kena hepatitis. Jujur saya sedih banget, dok, apalagi apalagi sekarang saya sudah menikah dan kondisi saya sedang hamil. Jadi, saya nggak bisa bantu ngejagain dia, mana dia anak tunggal, kedua orangtuanya pun sibuk dengan pasien-pasien dia. Dia sendirian, dok, kan kasian, padahal orang kalau sakit hepatitis harus diperhatiin betul, harus dijagain banget."


"Dia yang nggak mau liat saya."


"Saya kenal betul dengan Malvin, dok, dia bukan tipe yang pendendam. Dia orangnya pemaaf kok, meski kita udah ngelakuin kesalahan, dia bukan orang yang bakal berlama-lama memaafkan kita."


"Tapi saya nggak bisa tinggal."


"Kenapa?"


"Terlalu banyak perbedaan yang terjadi di antara saya dan Malvin. Saya tahu dan paham maksud kedatangan kamu menemui saya, tapi saya nggak bisa ke sana. Bukan karena saya tidak peduli atau abai, tapi karena saya tidak mungkin tinggal."


"Dok, justru perbedaan yang menyatukan pasangan. Oh, saya salah, maaf, perbedaan mungkin tidak bisa disatukan, mereka hanya perlu berjalan beriringan dan diimbangi dengan pemakluman agar saling bisa mengerti satu sama lain." Ayana kemudian mengelus perutnya, "dokter tahu siapa suami saya?"


Ekspresi Yasmin terlihat seperti sedang mengatakan 'apa saya harus tahu itu?'. Namun, perempuan itu tetap dalam mode diamnya tanpa mengeluarkan suaranya.


"Saga. Sagarana Nauren Cakra. Dokter Yasmin mengenalnya?"


"Kamu istrinya Saga?" tanya Yasmin terlihat terkejut dan seolah tidak percaya.


Ayana langsung mengangguk cepat. "Saya istrinya Mas Saga, dan janin yang saya kandung adalah anaknya."


"Di antara kami berdua juga terdapat banyak berpedaan yang tidaklah sedikit. Sama seperti anda, saya pun tidak merasa bakalan mampu menghadapi perbedaan kami. Bahkan saya sampai melakukan kesalahan dengan meninggalkan dia, tapi setelah itu saya yang menyesal. Untuk mendapatkan Mas Saga, akhirnya saya harus berjuang," Ayana tersenyum tulus, "sebagai sesama perempuan saya tidak mau anda mengalami yang saya rasakan. Karena rasanya benar-benar tidak mengenakkan. Sebelum anda merasakan penyesalan seperti yang saya rasakan, saya mau anda bertanya pada diri anda sendiri. Bagaimana perasaan anda terhadap sahabat saya. Selama anda memikirkan ini semua, saya berharap anda benar-benar fokus pada perasaan anda sendiri, tidak perlu mencampuradukan suatu hal yang lain."


Yasmin tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih, Yana, Malvin beruntung punya sahabat seperti kamu. Kamu sangat berani dan peduli dengannya."


"Kami saling peduli satu sama lain, dok. Karena kita saling mengandalkan. Tapi dokter Yasmin tidak perlu cemburu karena saya sudah menikah dan akan jadi ibu. Malvin hanya menyukai dan cinta sama dokter Yasmin. Kami pure sahabatan dari kecil, jadi tidak perlu khawatir dengan persahabatan kami."

__ADS_1


Sambil tersenyum Yasmin mengangguk paham.


__ADS_2