
Saat Saga masuk ke dalam kamar, Ayana tampak sibuk dengan ponselnya. Kalau dilihat dari cara perempuan itu memegang ponselnya sepertinya istrinya itu sedang menonton.
"Tumben nonton lewat hape?" tanya Saga heran. Pria itu kini sibuk melepaskan kancing pada lengan kemejanya.
"Mager. Males naik-turun juga. Jadi ya udah pake hape aja."
"Kenapa nggak pake laptop?"
Ayana menggeleng sebagai tanda jawaban lalu kembali fokus menonton.
Pandangan Saga kemudian mengedar. "Perlu pasang tv?"
"Kan udah ada tv di bawah, Mas," Ayana kemudian baru sadar maksud dari kalimat sang suami, "Oh, maksudnya di kamar mau dipasang juga gitu?"
Saga mengangguk untuk mengiyakan.
"Enggak usah lah, ntar malah makin mager aku-nya. Bumil kan harus rajin gerak, Mas."
Saga kembali mengangguk. "Ya udah, aku mandi dulu."
Setelah memastikan sang suami masuk ke dalam kamar mandi, Ayana kembali fokus pada acara tontonannya. Saat asik menonton, tiba-tiba ponsel Saga berbunyi. Khawatir kalau yang menelfon dari rumah sakit, Ayana memutuskan untuk menjawabnya.
"Ya, halo?" sapanya tanpa perlu berniat mengecek lebih dulu siapa yang menelfon.
Klik. Tiba-tiba sambungan telfon terputus begitu saja. Ayana mengerutkan dahinya bingung, karena penasaran ia kemudian langsung mengecek siapa yang menelfon barusan. Ia tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat membaca nama Viona di sana. Ia mungkin tidak terlalu curiga kalau perempuan itu bersikap biasa saja, menanyakan keberadaan Saga atau langsung menyampaikan tujuannya kenapa menelfon. Tapi karena sambungan telfon langsung terputus begitu saja, Ayana jadi overthinking.
"Mas, kamu masih berhubungan sama mantan kamu?" todong Ayana begitu Saga keluar dari kamar mandi.
Saga mengerutkan dahinya bingung. Gerakan tangan yang tadinya sedang mengusap rambutnya mendadak terhenti.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Barusan mantan kamu nelfon, aku angkat, begitu tahu aku yang jawab langsung dimatiin."
"Oh."
Saga bersikap seolah kalau itu bukan masalah. Bahkan pria itu dengan santai melangkah menuju arah lemari, untuk mengambil pakaiannya.
"Oh?" beo Ayana tidak percaya, "bisa-bisanya kamu kasih respon itu doang, Mas?"
"Terus?" Saga memakai kaosnya, "kalau orang selingkuh pasti panik kan?"
"Ya siapa tahu kamu terlalu profesional jadinya nggak panik meski udah kepergok begini."
Saga masih terlihat kalem dan santai. "Menurut kamu, aku pro soal gituan?"
Ayana diam. Otaknya berpikir serius. Ia kesal sendiri. Kenapa sih suaminya ini selalu setenang ini padahal dirinya sudah gondok setengah mati.
"Terus kenapa mantan kamu nelfon malam-malam begini?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Mana aku tahu."
"Kok bisa nggak tahu?"
__ADS_1
Saga menghela napas. "Suamimu manusia biasa, Yan, bukan paranormal yang bisa baca pikiran orang." ia kemudian meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Viona. Tak lupa ia langsung menekan tombol speaker setelah sambungan terhubung.
"Ga, ini gue, gue ngelakuin kesalahan ya?"
"Kenapa?" tanya Saga sambil melirik Ayana.
"Tadi gue nelfon lo, tapi yang angkat istri lo, gue kaget dan panik terus gue matiin. Gue takut istri lo mikir macem-macem."
"Ada apa?"
"Ini gue mau nanya, anak gue demam dari tadi pagi. Tiap gue kasih paracetamol turun, tapi abis itu panas lagi. Gue bingung, menurut lo harus gue bawa ke IGD malam ini apa enggak?"
"Kapan?"
"Apanya yang kapan? Mulai demamnya? Tadi pagi."
"Maksud gue kapan terakhir minum paracetamolnya?"
"Barusan udah gue kasih sekitar sejam lah, tapi ini masih demam. Belum juga turun. Menurut lo gimana? Sejak bayi dia jarang sakit begini, ini gue panik banget. Mau nelfon Papanya, nggak enak gue, Ga, soalnya dia lagi di luar kota, takut dia ikutan panik."
"Tunggu satu atau dua jam lagi, kalau masih belum turun juga langsung lo bawa ke IGD. Kalau udah turun tapi pagi masih anget, saran gue tetep lo bawa ke dokter besok paginya. Oh ya, lo bisa kompres dia pake air hangat buat menurunkan demam, atau lo kasih plaster demam."
"Oke, thanks. Sorry, ganggu waktu istirahat lo. Bilangin maaf juga ya buat istri lo, gue beneran nggak enak nih."
"Ngomong sendiri!"
"Eh, nggak usah, jangan lo kasih hapenya ke istri lo, Ga!"
"Lo aja yang bilang."
"Maksud gue, enggak gue kasih ke istri tapi hapenya gue speaker."
"Kok lo nggak bilang?"
"Kalau bilang yang ada istri gue malah jadi curiga," sahut Saga sambil melirik Ayana.
"Eh, iya, juga ya. Ya udah deh, sorry, ya buat Ayana. Gue sama Saga seriusan nggak ada hubungan yang aneh-aneh kok, jadi lo jangan khawatir! Gue kalau mau balikan sama mantan pun, pasti pilih-pilih."
"Pilih mantan suami lo maksudnya?"
"Iya lah, seenggaknya dia seratus kali lebih baik daripada lo, Ga. Udah dulu, ya, anak gue bangun. Sorry, sekali lagi udah ganggu waktunya. Dan thanks buat sarannya."
Klik.
Saga langsung mematikan sambungan telfon dan menyerahkan ponselnya kepada Ayana. Tanpa berkomentar apapun ia kemudian meraih sisir untuk menyisir rambutnya yang sedikit masih basah. Ia menoleh sekilas.
"Aku belum makan, mau nemenin?"
Kedua mata Ayana melotot kaget. "Mas Saga belum makan?" ia kemudian melirik ke arah jam dinding, sudah pukul sembilan lebih tiga puluh menit.
Saga menggeleng. "Mau nemenin nggak?"
Ayana mengangguk cepat. "Ya mau lah, ayo, mau dibikinin apa?"
__ADS_1
"Emang Darti nggak masak?"
"Masak. Tadi aku minta dibikinin sayur sawi, jam segini ya udah nggak enak dimakan kan, Mas."
Keduanya kemudian keluar dari kamar.
"Emang cuma bikin sayur sawi aja?"
"Ya, enggak, ada terong balado sama tumis buncis. Gorengannya jam segini juga udah abis. Aku pikir tadi kamu makan di rumah sakit."
"Nggak papa, aku bisa makan sama tumis buncis."
"Ya, jangan, masa kerja sampe malam, makannya nasi sama tumis buncis doang. Bentar, aku gorengin ayam. Udah ada ayam ungkep kok, tinggal digoreng doang."
Saga terlihat ragu-ragu. "Tapi kan kamu hamil."
Ayana langsung tertawa mendengar kalimat Saga. "Ya, emang kenapa kalah aku hamil? Kan cuma hamil, Mas, bumil itu harus banyak gerak nggak boleh dimanjain terus-terusan." ia kemudian membuka kulkas untuk mengambil ayam ungkep-nya lalu di letakkan di atas meja, "nih, ya, Mas aku kasih tahu, kamu pikir semua perempuan hamil di dunia ini kalau mau makan tinggal bilang? Enggak loh, beberapa dari kita semua harus masak dulu, ngerjain apa-apa sendiri, belum sambil ngurusin anak dan beberes rumah? Jadi, kamu jangan berlebihan karena aku cuma mau goreng ayam doang? Bisa dimengerti sampai sini Mas suami-ku tersayang?" ucapnya sambil memasukkan potongan ayam yang sudah diungkep ke dalam ke minyak panas.
Saga mengangguk. "Tadi Malvin jadi ke sini?"
Ayana langsung menoleh. "Jadi, Mas, tapi aku kasian deh sama dia. Dia jadi kek patah hati gitu?"
"Kenapa? Diputusin?"
"Dibohongi. Bentar, nanti aku ceritain."
Ayana kemudian membalik ayam gorengnya, setelah dirasa sudah matang ia langsung meniriskannya. Lalu beralih memanaskan tumis buncis, setelah semua selesai ia langsung membawanya ke hadapan sang suami.
"Sebelum aku cerita, aku mau nanya, kamu kenal keluarga Rajendra, Mas?"
Saga mengangguk. "Yang punya perusahaan alat kesehatan itu kan?"
Ayana meringis. "Aku malah kurang paham, kayaknya iya deh. Kok kamu bisa kenal, Mas?"
"Putri sulungnya temen kampus dulu, adiknya pernah jadi murid aku. Kenapa?"
Ayana melongo tidak percaya. "Jadi beneran seumuran sama kamu, Mas?"
Saga mengangguk disela kunyahannya. "Bahkan bulan lahirnya duluan dia. Kenapa emang?"
"Kamu tahu, Mas, tetangga Malvin yang aku ceritain kemarin ternyata anak dari keluarga Rajendra itu."
"Ailee?"
Ayana langsung menggeleng cepat. "Yang satunya."
"Yasmin? Dia bohong kenapa?"
"Kata Malvin dia bahkan bohong soal nama aslinya. Ngakunya itu kalau nggak salah namanya Angel."
"Oh, itu juga nama dia, Yasmin nggak sepenuhnya bohong. Dia itu penulis dan nama penanya Angel."
Ayana semakin tidak dapat berkata-kata. Ia terlalu speechless. Sebenarnya di sini siapa yang bermasalah?
__ADS_1