
Ayana tidak dapat menahan keterkejutannya saat Saga tiba-tiba menyodorkan ponsel di hadapannya. Tatapan mata pria itu masih fokus pada layar i-Padnya.
"Buat saya?" tanya Ayana dengan ekspresi bingungnya.
Batin Ayana bertanya-tanya. Maksud pria ini apa tiba-tiba menyodorkan ponselnya?
Pertanyaan Ayana sukses membuat Saga menoleh. "WhatsApp," ucapnya singkat.
"Maksudnya?" Ayana masih bingung.
"Nomor WhatsApp."
Ayana masih menampilkan ekspresi bingungnya, karena ucapan Saga yang menurutnya masih terdengar ambigu.
Saga menghela napas. "Tulis nomor WhatsApp kamu," ucapnya menjelaskan pada akhirnya.
"Buat?"
"Dihubungi."
"Untuk kepentingan?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Siapa tahu butuh."
Benar. Mereka kan bertetangga, siapa tahu butuh. Sambil mengangguk paham, Ayana meraih ponsel Saga dan mengetikkan nomornya pada ponsel pria itu. Setelah selesai langsung ia kembalikan.
"Terima kasih," ucap Saga langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pandangannya kembali fokus pada layar i-Pad, mengabaikan lirikan ragu-ragu dari gadis yang kini sedang duduk di sampingnya.
Tak tahan dengan keheningan, Ayana kembali membuka suara. "Saya dengar dokter Saga sudah spesialis ya?"
Saga mengangguk sekali. Tidak ada balasan atau pertanyaan basa-basi dari pria itu. Alhasil Ayana yang harus kembali membuka suara.
"Ambil spesialis apa kalau boleh tahu, dok?"
"Kardiologi."
"Wow," seru Ayana takjub, "gede dong gajinya? Dinas di RS mana aja? Pelita Kasih aja atau sama RS lain juga?"
"Harapan Kita."
"Praktek sendiri juga?"
Saga menggeleng dan menyimpan i-Padnya di dalam tas.
"Kenapa?"
"Susah bagi waktunya."
"Spesialis kan biasanya weekend libur, masuk kalau ada emergency call aja kan biasanya? Kan bisa itu dipake buat buka praktek sendiri."
"Weekend saya ngajar."
__ADS_1
"Ngajar di kampus?" tanya Ayana terdengar tidak yakin.
Saga mengangguk sebagai tanda jawaban.
Ayana tidak bisa menahan keterkejutannya saat mendengar jawaban Saga. Gila ini orang. Batinnya seolah tidak percaya. Sudah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah--yang bisa dikatakan gajinya masuk jajaran gaji dokter spesialis tertinggi--dan masih jadi dosen juga? Bisa kebayang seberapa banyak saldo atmnya? Yakin yang model beginian jomlo? Muka oke, dompet apalagi. Duda jangan-jangan ini orang. Batin Ayana curiga.
"Enggak ada hari libur full sehari?"
"Memang kamu ada?"
Ayana meringis lalu menggeleng dengan ekspresi malu-malunya. Benar juga sih, tidak ada hari libur full sehari bagi paramedis seperti mereka kecuali kalau sedang mengambil cuti.
Saga langsung merogoh kantongnya saat merasakan ponselnya bergetar. Nama salah satu residen tertera di sana. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menggeser tombol hijau dan menempelkannya pada telinga kirinya.
"Ya, halo."
"..."
"Berapa tekanan sistole-nya?"
"..."
"Sudah diberi norepinefrin?"
"..."
"Kalau begitu beri vasopressin, hubungi saya lagi kalau tekanan tidak naik."
"..."
Tidak terasa mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Ayana langsung melepas seat beltnya begitu mobil Saga terparkir di tempat parkir khusus dokter spesialis.
"Terima kasih ya, dok, atas tumpangannya. Maaf merepotkan," ucap Ayana sebelum turun.
Saga mengangguk tidak masalah. "Nanti pulangnya nunggu saya telfon."
Ayana menggeleng. "Enggak usah, dok, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya," tolaknya sopan.
"Itu bukan tawaran."
Ayana menghentikan niatannya untuk membuka pintu dan turun dari mobil. Ia menoleh ke arah Saga dengan ekspresi bingungnya. "Maaf?"
"Perintah."
Dalam hati Ayana langsung menjerit, "What?! Siapa lo berani merintah gue? Ini orang sok berkuasa banget sih? Udah irit ngomong, irit ekspresi, suka ngatur, nyebelin."
Astaga, Ayana tidak tahan.
"Dari Mama kamu," imbuh Saga tak lama kemudian.
Ayana mendengus kesal. Mamanya kembali berulah? Astaga ya ampun, kenapa juga harus dengan pria ini?
__ADS_1
"Tidak turun?"
Lamunan Ayana langsung buyar.
"Saya pulang sendiri saja ya, dok," balas Ayana tidak nyambung. Ia merasa tidak sanggup kalau harus semobil dengan pria ini sekali lagi.
"Berangkat sama saya, pulang sama saya," ucap Saga terdengar tidak bisa dibantah, ia kemudian membereskan barang-barangnya dan segera turun, "Saya duluan. Selamat bertugas," imbuhnya sebelum menutup pintu mobil dan segera meninggalkan Ayana dengan ekspresi memelasnya.
"Dokter Saga juga selamat bertugas," ucap Ayana entah kepada siapa. Karena Saga sendiri sudah tidak terlihat dan masuk ke dalam gedung rumah sakit, sedangkan ia masih di mobil bersama supir pribadi Saga.
Gadis itu menghela napas panjang sambil mengucapkan terima kasih kepada Agus dan segera turun dari mobil. Langkah kakinya terasa lesu seolah tidak berdaya, pandangannya kosong. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan Malvin yang kini tepat berada di belakangnya. Ayana baru menyadarinya setelah pria itu berhasil mengagetkan gadis itu.
"Dor!"
"Mampus lo! Eh, mampus," seru Ayana spontan karena kaget. Ia langsung memukul pria itu saat menyadari kejahilan sang sahabat, "apaan sih lo, Vin, ngagetin aja. Lo mau bikin gue jantungan?" dengusnya kesal.
"Ya, abis lo dari tadi dipanggil-panggil nggak nyaut, ya gue kagetin sekalian. Lagi ngelamunin apaan sih?"
"Kepo lo, dah lah, gue mau cabut duluan. Udah ditungguin Ranti pasti, ntar gue kena omel lagi."
"Bentar dulu, buru-buru amat. Gue mau nanya," cegah Malvin sambil mencekal pergelangan tangan gadis itu.
Mau tidak mau Ayana langsung menghentikan langkah kakinya.
"Nanya apaan sih? Nggak bisa nanti-nanti? Harus banget sekarang?" sewot Ayana kesal. Moodnya sejak tadi sedang tidak bagus dan ia sedang malas meladeni pria ini.
Malvin menggeleng. "Enggak bisa, harus sekarang. Soalnya hari ini gue super sibuk, lagian nanti kalau gue nggak tanya sekarang keburu lupa."
Ayana menghela napas sambil manggut-manggut malas. "Ya udah, oke, mau nanya apaan lo?"
"Itu tadi gue lihat kok lo dari tempat parkir dokter spesialis ya? Gue cari mobil lo di tempat parkir biasa juga nggak keliatan, nebeng siapa lo? Lagi ngincer spesialis sape lu?"
Wajah Ayana seketika langsung pias. Mampus. Kok Malvin tau? Bisa gawat nih kalau sampai ketahuan pria ini. Ia tidak ingin diledeki pria itu. Ugh, sungguh memalukan.
"Heh! Ditanya juga kenapa malah ngelamun?" Malvin menepuk pundak gadis itu pelan guna membuyarkan lamunan Ayana.
"Apaan sih?" tanya Ayana sewot.
"Sumpah lo mencurigakan banget. Lo lagi pdkt sama dokter spesialis ya? Hayo, ngaku dokter dari departemen mana yang lagi lo incer!"
"Enggak ada," ucap Ayana langsung meninggalkan pria itu.
Malvin langsung menyusul gadis itu. "Gue nggak percaya. Pasti ada sesuatu yang lo sembunyiin kan? Ngaku aja lo!"
"Apaan sih? Enggak ada. enggak ada yang gue sembunyiin."
"Bohong," tuduh Malvin.
Ayana berdecak kesal. "Iya, gue lagi ngincer dokter spesialis yang ganteng, muda dan gajinya gede. Puas lo?"
Malvin langsung terbahak. "Emang ada?" ledeknya kemudian.
__ADS_1
Ayana tidak terlalu menggubris dan memilih mempercepat langkah kakinya meninggalkan pria itu.