Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 21


__ADS_3

 


 


 


 


 


Malvin merasa rela dan tidak rela saat menginjakkan kakinya di rumah milik kedua orang tuanya, sejujurnya ia paling malas kalau harus kemari, tapi ia tidak punya pilihan lain karena katanya sang mama sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Ia tidak yakin sih kalau sang Mama benar-benar sedang sakit. Tapi berhubung dirinya tidak ingin disebut sebagai anak durhaka, jadi ya sudah lah, ia menurut dan pulang ke rumah.


Sesampainya di sana, ternyata sang Mama bahkan belum sampai rumah. Spontan ia tertawa, karena ternyata bisa dengan mudahnya dibohongi.


“Oh, udah sampai, Vin?”


Kesal? Lumayan, tapi perasaan lega lebih dominan saat melihat sang mama nampak sehat. Dapat ia cium bau antiseptik yang bercampur parfum mahal sang mama. Pria itu mengangguk dan mengiyakan.


“Ini juga mau langsung pulang.”


“Kok buru?” tanya Linda heran, “nggak mau makan malam di sini sekalian? Ini mama padahal baru mau nyuruh Bibi nyiapin makan loh, masa kamu mau langsung pulang.”


“Soalnya mama keliatan sehat, jadi aku mau langsung pulang.”


Linda sedikit mengerutkan dahinya heran. “Maksudnya?” tanyanya tidak paham.


“Tadi Papa nyuruh aku pulang, katanya Mama lagi sakit.”


Linda melotot tidak percaya. “Papa-mu bilang begitu?”


Malvin mengangguk cepat untuk mengiyakan. Linda langsung menggerutu kesal.


“Benar-benar ya Papa-mu.”


“Memang.”


 Linda terlihat seperti sedang menahan kekesalannya karena namanya dipakai agar putra mereka menurut.


“Ya sudah kalau begitu tunggu Papa-mu pulang dulu baru pulang. Mama mau ke atas dulu mandi sama bebersih.”


Malvin menggeleng. “Enggak lah, mau pulang aja,” tolaknya yang langsung dibalas gelengan kepala tidak setuju dari sang mama.

__ADS_1


“Tunggu dulu kenapa sih? Kali aja memang ada hal penting yang mau diomongin.  Mama-mu sampai dijadikan tumbal kok.”


Malvin berdecak kesal. “Ah, males lah.”


Linda ikut berdecak kesal. “Tunggu sebentar, Vin, bentar lagi juga pulang kok. Jangan bikin Mama emosi lah.”


“Ya udah, Mama tungguin deh kalau deh kalau begitu,” sambungnya tak lama setelahnya.


"Nggak usah, aku nanti pulangnya kalau Papa udah pulang aja. Mending Mama mandi dulu kalau gitu."


Setengah tidak rela, Malvin kemudian memutuskan untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu. Linda menyipitkan kedua mata curiganya.


"Yakin kamu nggak akan pulang sebelum Papa-mu pulang?"


"Iyaaa."


Linda pun ada akhirnya manggut-manggut, antara percaya dan tidak percaya, tapi ia tetap bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sedangkan Malvin sendiri memilih sibuk dengan ponselnya. Ya, daripada bosan kan?


Saat sedang asik memainkan ponselnya, tak lama setelahnya Damar pulang. Pria paruh baya itu tampak terkekeh puas kala melihat keberadaan sang putra.


"Tumben inget pulang," sindirnya kemudian.


Malvin mendengus sambil memutar kedua bola matanya malas. "Memangnya yang bikin Malvin bisa di sini siapa?"


Malvin kembali mendengus saat meresponnya. Benar-benar sang Papa sedang menguji kesabarannya.


"Langsung to the point, Pa, Malvin pengen cepet pulang abis ini."


Kali ini giliran Damar yang mendengus. "Kamu kenapa sombong banget mentang-mentang sudah punya tempat tinggal sendiri. Iya, Papa tahu kamu sudah tidak nyaman tinggal di sini, tapi minimal ya jangan langsung pulang begitu lah. Makan malam dulu di sini, Papa mau ngomong. Penting. Papa nggak minta kamu buat nginep di sini, tapi minimal jangan langsung pulang."


Kali ini Malvin tidak beraksi apapun selain hanya menatap sang Papa dengan tatapan datar dan kembali fokus dengan ponselnya sendiri. Paham kalau sikap sang putra mau menurutinya, Damar memutuskan untuk langsung menuju lantai atas untuk mandi.


Begitu selesai mandi, ketiganya langsung makan malam. Sebuah momen yang sangat jarang terjadi kala mengingat kesibukan ketiganya.


"Gimana residen kamu, Vin, lancar? Begitu kelar mau langsung ambil sub-spesialis sekalian nggak?"


"Enggak," jawab Damar dengan cepat dan lugas. Padahal yang ditanya hanya diam saja dan sibuk dengan nasi dan lauk pauk yang ada di hadapannya.


"Kenapa kamu yang jawab?" tanya Linda heran. Ia masih sedikit kesal karena sang suami berani-beraninya berbohong dengan sang putra dan membawa-bawa kesehatannya. Dan sekarang ditambah saat ia sedang bertanya kepada sang putra, justru sang suami lah yang menjawab.


"Mewakili. Malvin nggak akan ambil subspesialis, karena dia akan ambil bisnis management. Dia akan jadi pewaris rumah sakit kita, biar rumah sakit kita berkembang nantinya, Malvin harus ambil bisnis management."

__ADS_1


"Loh, siapa yang bilang?" Linda menggeleng tanda tidak setuju, "enak aja, pokoknya Malvin harus ambil subspesialis. Enggak ada itu bisnis management. Titik."


"Loh, ya nggak bisa pokoknya Malvin harus ambil sekolah bisnis management."


Malvin menghela napas panjang lalu meletakkan sendok dan garpunya. Detik berikutnya ia mengetuk meja makan dengan pelan.


Tok Tok Tok


"Mohon maaf, permisi, yang bernama Malvin ada di sini. Dan dia nggak tertarik sama keduanya. Terima kasih."


"Kenapa?" koor keduanya kompak.


"Sekolah terus capek kali, Ma, Pa. Malvin nggak tertarik sama keduanya."


"Nikah aja kalau gitu," sahut Damar tiba-tiba.


Malvin sampai tersedak saat mendengarnya. "Gimana, Pa?"


"Ya, kalau nggak mau sekolah lagi berarti nikah lah."


Seketika Malvin tidak bisa bereaksi apapun. Sementara Linda langsung tertawa saat menyadari niat terselubung sang suami.


"Jadi Papa bohong ke Malvin dan bilang kalau Mama sakit itu karena ini?"


Malvin menoleh ke arah sang Papa untuk meminta penjelasan. Ia langsung menyadarinya saat melihat ekspresi sang Papa.


"Sebenernya bukan kok, tunggu dulu, dengerin Papa. Jadi begini, kan papa ada kenalan gitu, temen Papa, Vin. Anaknya masih kuliah s2, cantik, sopan, ramah dan--"


"Pa, please," potong Malvin dengan ekspresi putus asanya, "jangan lagi-lagi deh, Pa. Malvin nggak suka digituin. Percaya sama Malvin kenapa sih? Nanti kalau udah waktunya, pasti nanti Malvin menikah kok. Tenang aja."


Damar mendengus. "Gimana Papa bisa tenang kalau kamu saja begitu, kamu lupa kalau kamu pernah bilang ke Papa kalau kamu nggak mau nikah. Sebagai orang tua tentu saja Papa khawatir, Vin."


Linda yang baru mengetahui itu terlihat terkejut. "Kamu berniat untuk nggak nikah, Vin?"


Malvin menggeleng cepat. "Enggak, Ma. Malvin nggak serius kok. Insha Allah nanti secepatnya Malvin kenalin,'' ujarnya sambil tersenyum super tipis.


"Jadi kamu sudah ada calon?"


Malvin terlihat gelagapan. Mampus! Jawab apa nih? Batinnya panik. Masalahnya ia tadi hanya asal bicara, kenapa kedua orang tuanya justru bereaksi seserius itu?


"Kalau memang ada nanti Papa langsung batalin. Tapi kalau nggak ada ya terpaksa--"

__ADS_1


''Ada,'' sahut Malvin cepat. Masa bodoh lah jika harus berbohong, yang penting sekarang ia aman dulu. Ia benar-benar malas kalau harus dijodoh-jodohin seperti yang sudah-sudah.


Tbc,


__ADS_2