
"Mas Saga!" panggil Ayana sambil berteriak. Kakinya langsung melangkah masuk ke dalam rumah Saga tanpa perlu menunggu dipersilahkan. Maklum, sekarang statusnya udah resmi sebagai calon istri Saga jadi wajar kalau gadis itu bersikap demikian. Karena dulu saja waktu keduanya statusnya belum jelas, Ayana tidak sungkan untuk nyelonong masuk ke rumah Saga.
"Kayaknya Bapak lagi mandi, Mbak. Tunggu saja di ruang tengah, saya bikinin minum dulu. Mbak Yana mau minum apa?" balas Darti.
Ayana menggeleng. "Enggak usah, Mbak, nanti kalau saya haus biar saya ambil sendiri. Mbak Darti istirahat aja."
Darti mengangguk paham. "Baik, Mbak, kalau gitu saya permisi," pamitnya kemudian.
Ayana ikut mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju ruang tengah, yang biasa mereka gunakan untuk bersantai dan sekedar menonton televisi. Sesampainya di sana, ia langsung meletakkan laptopnya dan memilih untuk menyalakan televisi. Setelah mengenal Ayana, televisi di rumah Saga jadi lebih berfungsi. Dulu kegunaannya hanya sebagai pelengkap aksesoris rumahan. Pria itu tentu saja kurang suka menonton acara televisi.
Tak lama setelahnya, Saga akhirnya turun dan ikut bergabung dengan Ayana.
"Lama?"
Ayana berdecak kesal seraya melirik Saga sinis. "Udah lama?" koreksinya kemudian, "katanya mau belajar nggak pelit kosakata, kok pelit lagi?" sambungnya kemudian.
Saga garuk-garuk kepala salah tingkah. Ayana diam menunggu pria itu mengatakan pembelaannya. Namun, sampai hampir lima menit menunggu, Saga masih dalam mode diamnya. Hal ini tentu saja mengundang emosi Ayana yang kesabarannya sangatlah tipis.
"Mana pembelaannya?"
Saga menggeleng. "Enggak ada."
Ayana langsung mendengus. Sepertinya memang begini lah cara Tuhan menguji kesabarannya. Baiklah, tidak perlu diperpanjang. Batin Ayana mesugesti diri sendiri.
"Buat apa?" tanya Saga sambil menunjuk ke arah laptop Ayana yang terletak di atas meja, "mau bikin jurnal kesehatan?"
"Mau kasih liat kamu beberapa pilihan tema dekor nikahan. Untuk gedung kan udah diurus Jaka, nah, kita tinggal milih temanya. Kira-kira kamu suka yang mana, Mas."
"Terserah," jawab Saga cepat.
Ayana berdecak kesal seraya menoleh ke arah Saga. Ia bahkan baru membuka laptopnya, belum menunjukkan beberapa pilihan tema pernikahan, kenapa pria ini langsung menjawab terserah saja?
"Dilihat dulu dong, Mas, jangan main terserah-terserah aja," decaknya kesal.
Saga kembali garuk-garuk kepalanya seperti orang bingung. Ia kemudian mengangguk dan menginstruksi Ayana agar menunjukkan beberapa pilihan yang dimaksud gadis itu.
"Yang ini gimana menurut kamu, Mas?"
Hanya melihat sebentar Saga langsung mengangguk. "Bagus."
Ayana langsung menggeser gambar selanjutnya. "Kalau yang ini?"
"Bagus."
Ayana mencoba untuk lebih bersabar lagi. Menghadapi Saga memang harus begini, jadi ia tidak boleh emosi. Maka dari itu ia memutuskan untuk kembali mencoba menunjukkan beberapa gambar yang lain.
Ternyata tidak sesuai ekspektasi. Respon Saga masih sama. Kosakata yang terlontar dari mulut pria itu bahkan tidak berubah sama sekali. Hanya diimbuhi 'juga' dan 'kok'.
Astaga, Tuhan!
Sekarang Ayana mulai kehilangan kesabarannya.
"Mas, bisa nggak sih jawabnya selain kata itu? Kuping aku bosen dengernya."
"Good?"
__ADS_1
Ayana menyerah. Ia langsung menutup laptopnya lalu menyandarkan punggungnya pada badan sofa. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Ia mulai aksi merajuknya.
"Marah?"
"Ya menurut Mas Saga?" tanya Ayana sewot, "aku itu serius nanya karena emang butuh masukan dan juga pendapat. Tapi respon kamu kayak nggak ikhlas gitu. Emang yang mau nikah aku doang?"
"Aku nggak ngerti gituan, Yan, semua bagi aku sama."
Ayana melotot tidak percaya. "Sama dari mananya?"
"Sama-sama buat duduk mempelai kan?"
Ayana nyaris kehilangan kata-kata. "Ya, beda dong, Mas..." ia menghentikan kalimatnya saat menyadari sesuatu. Apa dirinya yang berlebihan? Ia langsung menegakkan tubuhnya, "jadi menurut Mas Saga semua sama?"
Saga mengangguk untuk mengiyakan. "Bagi pria, mau dekor pelaminan kayak apa kami nggak peduli. Yang penting mempelainya."
Mendengar jawaban Saga, Ayana langsung mesam-masem salah tingkah. "Dih, malah gombal."
"Serius. Karena aku beneran nggak ngerti, untuk dekor pelaminan aku serahin sepenuhnya ke kamu."
"Enggak bisa gitu kalau semisal aku minta pendapat kamu?"
Saga mengangguk. "Bisa. Tapi jawabanku tetap sama kayak tadi."
"Oke. Kalau gitu aku pilih sendiri deh," ucap Ayana pada akhirnya.
Saga mengangguk setuju sambil mengacungkan dua jempolnya. "Untuk undangan aku bantuin."
Kedua mata Ayana langsung berbinar. "Serius? Mas Saga mau yang kayak apa?"
"Hah?"
"Warnanya."
Ayana tidak mampu berkata-kata setelahnya. Terlalu berekspektasi terhadap calon suaminya memang akan berefek sedikit menyakitkan.
***
Ayana:
Mas, jangan lupa hari ini temenin aku hunting kain
Ayana:
Awas aja kalau sampai lupa🔪😤
Tanpa perlu repot-repot mengetik balasan, Saga langsung memutuskan untuk langsung berganti pakaian dan meletakkan ponselnya begitu saja. Kebetulan ia baru selesai melakukan tindakan. Jadi masih mengenakan scrub suit-nya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi saat ia baru memakai kemejanya, ia bahkan belum mengancingkan satupun kancing bajunya.
"Mas, kenapa cuma di-read doang? Kamu bisa nggak sih ini sebenernya?"
"Bisa."
"Terus kenapa nggak dibales? Kan aku butuh kepastian, Mas, nggak enak loh kalau sampe telat." Suara Ayana terdengar sebal.
__ADS_1
"Telat?"
"Kamu lupa? Kan hunting kainnya sama Kak Jessie. Desainer gaun pengantin aku."
Saga menggaruk kepalanya bingung. "Terus kenapa kita ikut? Bukannya biasanya itu urusan desainernya? Kita tinggal terima beres kan?"
"Enggak bisa dong, ini buat acara pernikahan kita, harus spesial dan aku mau milih sendiri kainnya."
"Bukannya malah ribet?"
Terdengar suara decakan dari seberang. "Ya, namanya mau nikah sama resepsi ya pasti ribet lah, Mas. Kalau nggak mau ribet mending nikah di KUA doang aja."
"Kamu mau?"
"Mas!"
"Cuma nanya. Aku tutup dulu, sampai ketemu di parkiran, aku pake baju dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari Ayana Saga langsung mematikan sambungan begitu saja.
Setelah selesai berpakaian dengan rapi, Saga langsung bergegas menuju parkiran. Ayana sudah menunggu di mobil dengan wajah bete-nya.
"Telat?"
Ayana menggeleng. "Cuma agak bete dikit. Udah nggak papa." Ia kemudian langsung menginstruksi Agus agar segera melajukan mobilnya menuju lokasi tempat kain. Kebetulan ia baru saja dikabari kalau Jessi sudah sampai di lokasi.
"Yakin mau ikut?" tanya Saga memastikan sekali lagi. Ia khawatir kalau mereka ikut pergi ke toko kain secara langsung membuat Ayana bingung karena harus memilih motif kain yang bagaimana, karena sudah pasti pilihan di toko akan sangat lah banyak. Meski kata Ayana toko yang akan mereka kunjungi hanya menjual kain khusus gaun pengantin. Tapi tetap saja, Saga merasa khawatir.
"Ya kalau nggak yakin aku minta pulang lah, Mas. Pertanyaan kamu itu loh, ada-ada aja."
Mendengar jawaban Ayana Saga hanya mampu mengangguk dan mencoba maklum. Ia tidak akan bertanya lebih lanjut apalagi mendebatnya. Sudah lah, ia menurut saja daripada sang calon istri makin bad mood.
***
Sesuai dugaan Saga, begitu sampai di toko kainnya Ayana bingung memilih. Padahal tokonya hanya menjual kain khusus gaun pengantin saja, pilihan warnanya pun hanya putih di toko itu, tapi Ayana tetap saja masih kebingungan memilih.
"Kan, aku tadi bilang apa?"
Ayana langsung menatap Saga sinis. "Emang tadi Mas Saga bilang apa?"
"Yakin mau ikut."
Ayana menatap Saga datar. "Terus?"
"Kamu ngeyel ikut, tapi endingnya bingung sendiri milihnya."
Kali ini Ayana berdecak kesal. "Kalimat kamu nggak ngebantu, Mas, mending bantuin aku milih. Pilihannya tinggal dua. Antara ini atau yang ini, pilihin dong, Mas. Aku beneran bingung banget milihnya." ia cepat-cepat mengimbuhi kalimatnya saat melihat pergerakan bibir Saga yang hendak menjawab, "nggak boleh jawab terserah," ancamnya galak.
Saga menghela napas pasrah. Diamati kain pilihan Ayana secara bergantian. "Ambil dua-duanya," ucapnya final.
Sang penjual toko dan desainernya tentu saja senang. Tapi kalau Ayana? Tentu saja perempuan itu langsung naik pitam.
"Mas, kamu jangan bikin aku emosi deh. Ini cobaan kita jelang nikah udah banyak banget loh, kamu hobi banget mancing emosi aku."
Saga melongo sesaat. "Masih salah?" tanyanya bingung.
__ADS_1