
***
"Kita perlu briefing dulu nggak sih, Lee?" tanya Malvin saat masuk ke dalam mobil.
Ailee juga sudah masuk ke dalam dan kini sedang membenarkan tatanan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan, namun, maklum namanya perempuan kalau ketemu kaca rasanya tidak bisa kalau diam saja. Bukannya langsung menjawab, yang ditanya justru malah memasang wajah bingungnya.
"Briefing apaan sih?" tanyanya tidak paham.
Malvin berdecak lalu sambil menyalakan mobil. "Ya, ntar pas di acara nikahan temen lo lah. Biar nanti gue nggak kayak kambing congek pas lo kenalin ke temen-temen lo."
Ailee mengerutkan dahinya heran. Kenapa pria itu harus merasa demikian?
"Kenapa lo harus jadi kambing congek?"
Malvin menghela napas sambil garuk-garuk kepala. "Ya maksudnya ntar lo mau kenalin gue sebagai apa ke temen-temen lo, masa gitu aja nggak ngerti. Kan lo yang paksa gue buat ikut lo, berarti mau nggak mau gue harus ngikutin skenario yang bakal lo buat. Nah, sebelum itu lo perlu kasih tahu gue dulu."
"Oalah, gue kira apa. Santai aja elah, bro, ntar gue bakalan kenalin sebagai temen aja kok. Gue nggak bakalan sok-sokan kenalin lo sebagai cowok gue. Tenang aja kalau sama gue."
Malvin manggut-manggut paham. Oke, sepertinya ia sedikit berlebihan sehingga berpikir kejauhan. Mungkin ia sedikit kegeeran.
"Berhubung sekarang gue udah nemenin lo, berarti lo udah bisa kasih tahu di mana kakak lo sekarang."
Bukannya menjawab, Ailee malah merogoh kantong tas-nya untuk mencari keberadaan ponselnya. Terlihat cukup jelas kalau gadis itu tengah berusaha untuk terlihat seperti orang yang sedang berpura-pura tidak mendengar. Malvin yang menyadari sikap gadis itu spontan langsung menginjak rem karena kesal. Alhasil, Ailee yang tidak memasang seat belt dengan benar otomatis dahinya langsung membentur dashboard mobil.
Ailee menjerit kesal karena kaget sekaligus menahan sakit. "Kak!" rengeknya kemudian.
Kali ini Malvin tertawa. Antara kasian tapi sedikit puas juga.
"Buset, masa gue harus jedotin jidat lo dulu sih, biar manggil gue kakak?"
Ailee merengut sebal. "Ya ampun, benjol nih, bro, tanggung jawab lo!" ia mulai panik saat menemukan benjolan kecil pada dahinya, "sakit tahu."
Malvin muli merasa bersalah. "Maaf, sakit banget emang? Mau mampir ke apotik dulu?" tawarnya kemudian. Kan nggak lucu nanti kalau ini bocah ngadu ke bokap ya kan?
__ADS_1
"Enggak usah, buruan langsung jalan! Berhubung lo udah bikin jidat gue benjol, nggak ada info tentang kakak gue. Titik."
Malvin semakin panik. "Lah, jangan gitu dong, Lee, kan gue udah tepati janji gue buat nemenin lo kondangan. Masa sekarang begini?"
Ailee terlihat tidak peduli. "Bodo amat, pokoknya lo harus baik-baikin gue dulu sampai gue nggak bad mood lagi."
"Ini akal-akalan lo aja kan?" tuduh Malvin kemudian. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah curiganya, "ngaku deh lo mumpung gue masih baik!"
Ailee yang dituduh demikian tentu saja tidak terima. "Enak aja, kok lo jadi nuduh gue begitu? Dah lah, turun aja gue kalau semisal lo tuduh begini." ia merajuk dan langsung turun dari mobil pria itu.
Mau tidak mau Malvin pun ikut turun dan menyusul perempuan itu.
"Lee, Lee, jangan ngambek lah!" cegah Malvin sambil mencekal lengan gadis itu, "oke, gue minta maaf, sorry kalau kalimat tadi keterlaluan. Ayo, masuk mobil lagi! Nanti kita telat ke acara nikahan temen lo. Mau lo?"
"Ya lo, ngeselin!"
"Kan gue udah minta maaf, buruan masuk atau beneran gue tinggal nantinya."
"Kok lo gitu sih?" decak Ailee kesal, "bukannya dibujuk malah diancem," gerutunya kemudian.
Meski dengan wajah sedikit cemberut, Ailee pada akhirnya masuk ke dalam mobil dengan wajah pasrahnya. Masalahnya, kalau ia tidak masuk ke dalam mobil pria itu ia bingung harus pulang bagaimana. Mungkin terkesan berlebihan tapi ia belum pernah naik kendaraan umum sendirian selama ini, pernah naik taksi pun juga rame-rame. Jadi ya terpaksa ia harus pasrah dan naik mobil pria itu.
***
"Jadi ini cowok baru lo?" goda salah satu teman Ailee saat mereka akhirnya sampai di tempat acara.
Acara resepsi tidak dilakukan di dalam gedung, melainkan diselenggarakan di depan rumah si pemilik hajat. Tadi saja Malvin sempat kebingungan harus mencari tempat parkir.
"Iya. Cakep kan? Mantan gue yang kemarin nggak ada seujung kukunya kalau dibandingin yang sekarang. Mana dokter juga loh, udah residen pula."
Malvin bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana karena jawaban Ailee yang di luar dugaan maupun rencana.
"Wah, emang bener ya, dokter itu cocoknya emang udah sama sesama dokter, dosisnya udah sesuai banget tuh. Makanya, Lee, nggak usah sok-sok nyari yang bukan dokter juga, daripada ujung-ujungnya lo-nya diselingkuhi," sahut yang lainnya lagi.
__ADS_1
Malvin sedikit terkejut saat mendengarnya. Maksudnya Ailee putus dengan mantannya yang diceritakan Yasmin itu karena diselingkuhi?
"Tapi gue juga pengen deh punya pacar dokter, biar tiap gue sakit ada yang ngerawat gitu pasti seru."
Keduanya langsung mendengus saat mendengar pengakuan teman Ailee itu. Hal ini membuat kerutan di dahi heran mereka.
"Kenapa?"
Keduanya kemudian menggeleng cepat. "Enggak papa kok. Lo mau punya cowok dokter? Mau gue kenalin sama temen gue?" tawar Malvin kemudian.
"Eh, boleh, dok?" teman Ailee langsung berubah antusias.
"Kenapa enggak? Rekan-rekan saya kebetulan nyari yang bukan dokter nih beberapa, ntar kapan-kapan kita coba atur ketemuan ya?"
"Boleh, dok, makasih ya."
Malvin manggut-manggut tidak masalah. Ailee langsung mengajak pria itu menyalami pengantin.
"Udah dulu, ya, ngobrolnya, nanti dilanjut lagi. Gue salaman sama pengantin dulu, biar cepet ketularan."
"Masih antri itu, Lee, kok buru-buru banget sih?" protes Malvin saat Ailee menarik tangannya dengan paksa.
"Ya biar lo nggak keasikan ngobrol sama merekanya. Lagian kenapa lo nggak protes sih gegara tadi gue ngakuin lo sebagai cowok gue?"
"Ah, iya, bener, kok lo gitu sih, Lee? Sejujurnya gue nggak masalah sih semisal lo ngaku-ngaku gitu, tapi yang jadi masalah lo nggak jujur dari awal. Ngapain lo sok-sokan bilang nggak akan ngakuin gue sebagai 'cowok lo' tapi pada akhirnya lo akuin juga? Kenapa tuh?"
"Ya, soalnya emang di awal gue nggak ada niat buat ngakuin lo, tapi berhubung tadi lo ngomong gitu dan suasana tiba-tiba mendukung, ya udah. Gue akui aja sekalian."
Malvin mendengus. Ailee tersenyum tulus.
"Makasih ya, bro, gue jadi ngerasa bersalah sama lo."
Seketika Malvin langsung menyipitkan kedua mata curiga. Jangan-jangan sejak awal Ailee sebenarnya tidak mengetahui keberadaan Yasmin?
__ADS_1
Tbc,