
***
Ayana terlihat gelisah saat menunggu kedatangan Olivia. Entah kenapa ia mulai merasa tidak tenang sejak mendapat telfon dari gadis itu. Apalagi kalau mengingat nada bicara gadis itu yang terkesan dingin? Entah lah, Ayana tidak terlalu yakin tapi yang jelas memang terdengar berbeda.
"Dari tadi saya perhatiin dokter Yana nengok ke arah pintu terus, lagi nungguin pasien dateng, dok?"
Hanif salah satu perawat yang menemaninya jaga nampak heran, kala melihat gelagat tidak biasa dari sang atasan.
Ayana menggeleng. "Bukan, nungguin pacarnya temen saya. Duh, perasaan saya kok nggak enak begini ya, gimana, Nif?"
"Enggak enak yang gimana?" perawat itu terlihat kurang paham.
Ayana menghela napas lalu menggeleng. "Enggak papa deh, sana kamu lanjut kerja, itu ada pasien datang, saya mau ke kamar mandi sebentar."
Hanif mengangguk paham. "Siap, dok." ia langsung melaksanakan tugasnya seperti biasa.
Begitu keluar dari kamar mandi, Ayana langsung menangani pasien tersebut. Tak lama setelahnya, Olivia datang, ia menyuruh gadis itu untuk menunggu sebentar sementara dirinya menyelesaikan tugasnya. Dapat ia lihat wajah gelisah terlihat jelas pada wajah gadis itu. Hal ini membuat Ayana berasumsi kalau mungkin gadis itu sudah mengetahui kalau Malvin mengalami kecelakaan bersama perempuan lain. Lebih parahnya lagi kalau gadis itu mengetahuinya dari berita yang dikabarkan oleh media. Bisa gawat nih.
"Sorry, udah bikin nunggu," ucap Ayana saat menyapa Olivia. Perempuan itu kemudian mengajak gadis itu untuk mengobrol di ruang jaga dokter.
Sebelumnya ia pamit pada salah satu perawat lebih dahulu.
"Maaf ya, Mbak, lagi-lagi aku ganggu," ucap Olivia sambil tersenyum getir.
Ayana menggeleng tidak setuju lalu duduk di hadapan gadis itu. "Ngomong apaan sih kamu? Enggak, sama sekali nggak ganggu kok, Liv. Gimana, kayaknya ada hal serius yang mau lo bahas sampai lo ngajak ketemu sekarang?" ekspresinya terlihat ragu-ragu sekaligus cemas.
Olivia mengangguk cepat tapi belum berani mengeluarkan suaranya kembali. Ayana tidak bisa menebak ekspresi gadis itu dengan cukup jelas.
"Liv," panggil Ayana ragu-ragu.
Tapi bukannya langsung mengatakan apa yang mengganggu pikirannya, Olivia malah menangis. Ia terkekeh tak lama setelah menyadari air matanya jatuh.
"Maaf, Mbak," sesal gadis itu.
Ayana mengangguk paham sambil mengelus punggung tangan gadis itu. "It's okay, Liv," ucapnya mencoba menenangkan gadis itu. Ia kemudian meraih selembar tisu lalu menyerahkan pada gadis itu.
"Lo bisa ngomong pelan-pelan, Liv. Sebenernya ada apa? Malvin nyakitin perasaan lo?"
"Mas Malvin itu sebenernya siapa, Mbak?"
__ADS_1
"Hah?"
Ayana mengerutkan dahinya heran. Apa maksud pertanyaan gadis ini? Kenapa Olivia bertanya demikian? Dalam hati Ayana langsung mengumpati Malvin dengan kesal. Sebenernya apa yang sedang dilakukan Malvin? Kenapa perempuan ini menanyakan hal demikian?
"Liv, maksud lo apa nanya begitu? Malvin ya, Malvin? Emang dia siapa? Cowok lo kan?"
Olivia menggeleng tidak yakin. "Aku nggak tahu, Mbak. Kayaknya emang aku yang bodoh."
"Liv, nggak, ini sebenernya ada apa? Coba kasih tahu gue pelan-pelan. Biar gue nggak bingung."
"Boleh aku jujur, Mbak?"
Tanpa ragu, Ayana langsung mengangguk dan mengiyakan dengan cepat. "Tentu boleh, lo boleh cerita apapun itu. Gue bakalan dengerin lo kok. Gue ada di pihak lo, kalau semisal Malvin beneran yang bikin lo begini gue bakalan jadi orang pertama yang hajar dia."
"Sebenernya hubungan aku sama Mas Malvin terjalin karena terpaksa?"
Ayana mengerutkan dahi heran. Terpaksa? Memang siapa yang maksa?
"Mungkin bukan sepenuhnya terpaksa, tapi yang jelas juga bukan murni karena keinginan kami. Kami belum benar-benar saling jatuh cinta, kami hanya baru mau mencoba dan kayaknya percobaan kami gagal." Olivia tersenyum getir, "mungkin ini karma kali ya, Mbak, karena kami coba mempermainkan sebuah hubungan."
Ayana menggeleng kurang setuju. "No, kayaknya kamu mikirnya kejauhan deh, Liv. Gue ngerti kok, wajar kalau dua orang yang sedang dalam status sama-sama single ingin mencoba menyalin hubungan. Ini bukan karma, Liv. Lo jangan mikir aneh-aneh, kalau lo begini karena berita yang beredar di media, lo jangan salah paham dulu. Terkadang emang media suka mengarang bebas tanpa tahu kebenarannya. Oke, mereka berdua memang dulu sempat dijodohkan, tapi hubungan mereka tidak berhasil. Dua-duanya menolak kok, lo tenang aja. Jangan terlalu dipikirin ya, nanti gue bakalan omelin Malvin biar dia cerita semuanya."
"Tapi aku nggak tahu kalau ternyata Mas Malvin bukan orang sembarangan."
"Mas Malvin itu anak tunggal yang punya rumah sakit ibu dan anak?"
Ayana mengangguk saat mengiyakan. "Iya, emang kenapa? Malvin belum cerita?"
Olivia menggeleng. "Aku insecure, Mbak. Kayaknya emang aku nggak pantes buat Mas Malvin ya?"
Ayana berdecak kesal. "Lo ngomong apaan sih? Insecure itu nggak bagus buat mental, Liv, apalagi Malvin nggak sehebat itu untuk bikin lo insecure." ia langsung berdiri, "udah lah, lo nggak usah terlalu mikirin ini semua. Serahin semua pada gue, biar gue yang urus. Lo percaya sama gue kan? Pokoknya gue ada di pihak lo."
Olivia tersenyum seraya mengangguk patuh. "Makasih, Mbak," ucapnya tulus.
"Tenang aja, sama gue pasti beres."
***
Ayana memutuskan pamit sebentar saat IGD bisa ia tinggal. Tujuannya saat ini adalah untuk menemui Malvin. Masa bodo dengan kondisi pria itu yang bahkan masih belum berdaya, pokoknya ia ingin mengamuk pria itu.
__ADS_1
Saat ia sampai di sana, pria itu sendirian. Sudah dapat ditebak. Malvin sedang asik menonton televisi sambil terbahak puas saat menemukan adegan lucu.
Ayana yang kesal, melihat tawa bahagia yang terpancar pada pria itu, langsung mencabut colokan televisi. Tentu saja hal ini membuat pria itu berdecak kesal.
Malvin melotot tidak terima. "Lo apa-apaan sih?" protesnya kemudian, "nggak bisa banget liat gue seneng ya lo?"
Ayana menghela napas sambil menarik salah satu kursi yang tersedia di sebelah ranjang pasien. "Vin, sekarang lo jujur deh sama gue, sebenernya rencana lo apa sih?"
Yang ditanya hanya mampu mengerutkan dahi bingung. "Rencana apa?"
"Rencana hidup lo? Kenapa kisah cint lo rumit banget sih?" decak Ayana kesal, "pertama lo dijodohin sama adik Yasmin, siapa itu namanya?"
"Ailee."
"Nah, iya, Ailee, lo dijodohin sama Ailee tapi lo nggak mau. Terus lo jatuh cintanya sama kakak dia, dokter Yasmin. Tapi nggak beruntungnya lo, elo ditinggal kabur sama dokter Yasmin. Abis itu ketemu lah sama Olive, tapi tiba-tiba lo kayak terkesan mulai deket sama Ailee tapi lo ngajakin serius Olive. Anjir, gue puyeng beneran deh, Vin. Ini sebenernya yang pengen lo seriusin yang mana sih?"
Bukannya langsung menjawab, Malvin malah mengaduh seperti orang kesakitan. "Na, gue belum beneran pulih loh, kepala gue kadang masih suka sakit, tapi lo udah kasih gue pertanyaan berat begitu. Lo nggak pengen gue cepet sembuh atau gimana sih?" keluhnya kemudian.
Ayana menghela napas panjang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lo tahu nggak, aslinya gue ke sini pengen ngamuk lo, tapi karena gue sadar lo masih harus melewati tahap pemulihan makanya gue nanya dengan nada sesantai mungkin."
Malvin mendengus. "Nada bicara lo doang yang santai, tapi pertanyaan lo berat."
Ayana menatap pria itu tajam. "Asal lo tahu, Vin, Olive baru aja nemuin gue tadi sore."
"Kenapa? Maksud gue kenapa dia nemuin lo?"
"Karena dia udah tahu kalau lo kecelakaan sama perempuan lain."
"Bukannya emang dia udah tahu sejak awal?"
Mendengar pertanyaan Malvin, Ayana tidak bisa menahan decakan gemasnya. "Lo itu bener-bener ya, ya dari mana dia tahu lah."
"Lo yang ngasih tahu?"
Kedua mata Ayana langsung melotot tajam. "Lo pikir gue udah gila?"
"Terus masalahnya di mana?"
"Coba lo cek google. Cari berita tentang putri bungsu Rajendra grup yang mengalami kecelakaan. Abis itu lo bakalan ngerti maksud gue." Setelah mengatakan itu, Ayana langsung berdiri, "gue mau balik ke IGD. Abis ini gue harap keputusan lo lebih bijak sehingga tidak ada pihak yang merasa tersakiti. Good luck, bro!"
__ADS_1
Ragu-ragu Malvin menatap ponselnya. Lalu beralih menatap punggung Ayana yang kini sudah menghilang di balik pintu. Perasaannya mendadak tidak enak.
Tbc,