Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Terhalang Restu?


__ADS_3

Saga sedikit mengerutkan dahinya heran saat melihat keberadaan sang adik bungsu sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Ia baru saja pulang dari rumah sakit.


"Ngapain?" tanya Saga heran.


"Mau ngomong. Mending sekarang lo naik ke atas, terus mandi. Gue tungguin."


Saga semakin mengerutkan dahinya heran, apalagi saat mendengar nada bicara tidak bersahabat Jaka. Batinnya bertanya-tanya, ada apa dengan mood sang adik? Tumben. Tidak biasanya dia begini. Apa Jaka sedang ada masalah?


"Istri lo?"


Saga celingukan mencari keberadaan sang adik ipar.


"Di rumah. Gue ke sini sendirian."


Oh, mungkin mereka sedang bertengkar. Pikir Saga berasumsi. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Tanpa mengeluarkan suara ia mengangguk paham dan langsung naik ke lantai atas untuk membersihkan diri. Terkadang ia akan mandi sekalian di rumah sakit, tapi kebetulan hari ini tidak. Alhasil, ia harus segera mandi biar lebih merasa segar.


Begitu selesai mandi, Saga kemudian langsung turun ke lantai bawah untuk menemui Jaka kembali. Adik bungsunya itu tengah sibuk memainkan game di ponselnya. Reflek ia langsung berdecak tidak habis pikir. Ia pikir setelah menikah pria itu akan berhenti memainkannya, tapi ternyata sama saja.


"Berantem?" tanya Saga sambil mendudukkan pantatnya pada sofa.


Jaka langsung mendongak, menatap sang kakak dengan ekspresi bingung. "Siapa yang berantem?"


Saga menunjuk Jaga. "Lo. Istri lo."


"Amit-amit. Jangan sampe, Mas. Gue sama Bia baik-baik aja kok dan semoga seterusnya bakal begitu. Aamiin."


"Terus?"


"Ini soal lo."


Saga menunjuk dirinya sendiri. "Gue?"


"Iya. Lo. Gue butuh penjelasan dari lo."


"Soal?"


"Yana."

__ADS_1


Saga diam sebentar. "Penjelasan gimana?"


Jaka menghela napas sejenak sambil menegakkan tubuhnya. "Lo serius mau nikahin Yana, Mas?"


Tanpa keraguan, Saga mengangguk yakin.


"Lo serius?"


"Dua rius."


"Mas!" seru Jaka emosi. Ia berdecak tidak percaya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menyandarkan tubuhnya pada sofa, "menurut gue lo gila deh, Mas."


"Maksud lo?" tanya Saga tersinggung.


"Ya menurut lo aja lah. Lo lupa apa yang udah dia lakuin ke lo? Lo lupa, Mas?"


Saga menggeleng. "Gue nggak akan pernah lupa, Ka."


"Terus kenapa lo masih nekat mau nikahin dia?!" seru Jaka emosi. Meski ia sedikit terlambat mengetahui fakta yang telah terjadi di antara mereka, tetap saja Jaka tidak terima dengan perlakukan Yana terhadap sang Kakak. Ia tidak suka jika kakaknya diperlakukan seperti itu.


"Karena gue sayang dan cinta sama dia!" seru Saga tidak kalah emosi.


Saga menatap Jaka tidak suka. "Gue rasa lo nggak punya hak buat komentar begitu."


"Mas, gue begini karena gue sayang sama lo. Gue nggak mau kalau sampai lo disakiti sama perempuan lagi. Gue peduli sama lo, Mas."


Saga sudah kembali pada mode kalem dan ekspresi datarnya. Ia kemudian mengangguk tak lama setelahnya. "Terima kasih karena sudah peduli."


"Jadi lo tetep mau nekat nikahi dia? Lo nggak mau ngetes keseriusan dia dulu?"


Saga mengangguk. "Gue udah liat seberapa keras dia berusaha buat dapetin hati gue lagi. Dan dia sudah lulus. Gue harap lo nggak terlalu ikut campur urusan gue."


Jaka terlihat kesal. Ia langsung berdiri dengan wajah judesnya. "Terserah lo, Mas. Yang penting sebelum lo ambil keputusan besar itu, gue udah coba nasehatin lo. Kalau seandainya ke depannya ada apa-apa, jangan salahin gue. Karena gue udah kasih lo nasehat sebelumnya." Setelah mengatakan itu ia langsung pergi begitu saja tanpa pamit.


Tanpa mereka sadari ternyata Ayana berada di sana. Sedang bersembunyi di balik tembok sambil menangis.


***

__ADS_1


"Vin, menurut lo, gue nggak pantes bahagia ya?" tanya Ayana sambil menangis.


Setelah pergi dari rumah Saga tanpa ketahuan pria itu, Ayana memutuskan untuk menemui Malvin di apartemen pria itu. Beruntung pria itu sedang berada di sana.


"Lo ngomong apaan deh? Kurang bersyukur banget jadi hamba Tuhan," gerutu pria itu sinis, "lo lupa siapa calon suami lo? Dan sekarang lo masih berani bilang begitu? Gue dorong dari atap balkon juga lama-lama."


Jawaban Malvin membuat tangis Ayana menjadi lebih kencang. Hal ini membuat Malvin panik seketika.


"Na, Na, kok nangis lo malah makin kenceng. Sorry, sorry, gue cuma bercanda. Sekarang lo cerita, sebenernya ada apa? Lo ada masalah apa?" Malvin kemudian menyodorkan selembar tisu untuk Ayana, "yuk, bisa, yuk, cerita pelan-pelan. Kenapa? Lo abis berantem sama Mas Saga lo? Ya, namanya orang mau nikah, Na, pasti ada aja halangan dan rintangannya. Kalau lo nggak kuat, saran gue mending lo batalin aja dulu nikahan kalian, tunggu gue, minimal biarin gue dapet ge--"


Dengan penuh emosi Ayana langsung memukul pria itu. "Lo itu bener-bener, ya, Vin, temen lo lagi sedih, lagi ada masalah dan lo bisa-bisanya bilang begitu? Minta diapain lo?"


"Iya, iya, sorry. Namanya juga orang usaha." Malvin merengut sambil mengusap bahunya yang terkena pukulan gadis itu, "jadi kenapa lo begini? Siapa dan karena apa lo begini? Mas Saga apa Mas mantan?"


"Calon adik ipar gue."


"Hah?" Malvin melongo dengan wajah bingungnya, "maksud lo?"


"Dia sekarang nggak suka sama gue. Gegara kebodohan gue kemarin, Vin, sekarang gue harus gimana?"


"Ya, salah lo sih, percuma lulusan kedokteran dianggep pinter, eh, tapi--"


"Vin!" panggil Ayana dengan nada membentak.


Malvin garuk-garuk kepalanya yang mendadak gatal. "Salah mulu gue perasaan. Buset, galak banget sih lo? Lo kalau cuma mau marah-marah mending pulang aja deh," balasnya tidak kalah emosi.


"Ya, lo makanya jangan bikin gue emosi kenapa?"


"Gue?" beo Malvin dengan nada tidak percaya. Jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri, ia kemudian mendengus tidak percaya, "enggak kebalik, tuh?" sambungnya kemudian.


Detik berikutnya Ayana kembali menangis kencang. Malvin sampai pusing saat mendengarnya. Ia tidak tahan.


"Lo kalau nggak mau diem gue telfon Mas Saga lo sekarang juga ya, Na," ancam Malvin tidak main-main.


Mau tidak mau akhirnya Ayana langsung diam. Ia takut kalau pria itu benar-benar akan menelfon Saga. Untuk sekarang ia belum siap bertemu dengan pria itu. Setidaknya Ayana perlu waktu untuk menenangkan diri, sekaligus mencari cara untuk meluluhkan hati Jaka yang kini sedang tidak bisa menerima kehadirannya.


"Buset, takut banget lo sama Mas Saga lo itu, ya, Na?" ledek Malvin sambil terbahak.

__ADS_1


"Gue bukan takut," elak Ayana, "gue cuma belum siap aja ketemu dia. Gue perlu menenangkan diri. Ngerti nggak lo?" ia kemudian menarik selembar tisu dan mengusap ingusnya, "ah, lo nggak bakalan ngerti. Lo belum mau nikah sih."


"Sialan! Malah ngatain gue," gerutu Malvin sambil menahan geram.


__ADS_2