Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Ada Apa Dengan Papa?


__ADS_3

"Dari mana lo?"


Tubuh Ayana seketika membeku di tempat saat mendengar suara ketus yang menyambutnya. Dengan perasaan ragu-ragu ia menoleh ke asal suara, dan betapa leganya Ayana saat menemukan Malvin. Syukurlah, yang menyambut pertanyaan ketus barusan bukan suaminya.


"Anjir, gue lemes banget, Vin, gue pikir tadi itu suara Mas Saga. Tahunya lo."


Ayana memegang dadanya sambil sedikit terhuyung ke belakang. Dengan sigap Saga langsung berdiri di belakangnya. Ayana kembali tersentak kaget saat menyadari sang suami ternyata di belakangnya.


"Hati-hati," ucapnya memperingatkan.


Ayana meringis sambil mengangguk paham. "Iya, maaf, Mas."


Saga mengabaikan permintaan maaf sang istri, bukan karena tidak peduli tapi karena menurutnya istrinya tidak perlu melakukan itu.


"Dari mana? Udah makan?"


Ayana mengangguk untuk mengiyakan.


"Sama berondong kan lo makannya?"


"Diem deh lo!" seru Ayana tidak terima.


Tangannya menunjuk ke arah Malvin dengan tatapan mata tidak suka, Saga yang tepat berdiri di sampingnya pun langsung menurunkan tangan sang istri yang digunakan untuk menunjuk Malvin. Lalu mengajak Ayana duduk di sofa.


"Ngapain lo ke sini?"


"Mau pamer pacar," jawab Malvin jumawa.


Sontak Ayana langsung terbahak, karena di ruangan ini tidak ada siapapun selain mereka bertiga. Lalu pacar apa yang dimaksud Malvin?


"Ditolak dokter Yasmin bikin lo gila ya, Vin?"


"Yan," tegur Saga sambil menggeleng.


Kali ini giliran Malvin yang terbahak, karena melihat Ayana yang nyalinya seketika menciut ditegur Saga. Baginya melihat sang sahabat tidak berkutik sepertinya benar-benar menjadi hiburan baginya.


"Nggak usah ketawa lo!"


"Lucu, Na, sayang kalau gue nggak ketawa. Kalian abis berantem ya tadi?"


Saga menggeleng. Tangannya menunjuk ke arah sang istri. "Ngambek," jawabnya singkat.


"Lucu banget ya kalian, yang ngambek Yana tapi yang pegang kendali tetep lo, Bang? Keren," puji Malvin takjub.


"Enggak juga, dia kalau ngambek tetep kalah sih gue. Sungkan sama lo mungkin."


Malvin kembali tertawa. "Lo sungkan sama gue, Na?"


"Mending diem deh lo, sebelum gue usir," ancam Ayana emosi, tangannya bersiap mengambil bantal sofa dan hendak melempar ke arah Malvin, "lo ngapain deh ke sini? Tumbenan banget."


"Dibilang pamer pacar juga, nggak percayaan banget."


"Ya, gimana gue bisa percaya kalau di ruangan ini hanya ada kita bertiga."


"Marah-marah mulu lo, lagi hamil juga. Hamil itu harus banyakin happy-nya, biar anak lo nggak ikutan stress. Jangan lo pikir gue nggak tahu ya, tiap lo chek up tekanan darah lo tinggi terus loh. Enggak baik, Na."


"Ya, gimana gue nggak marah-marah terus kalau punya model lagi kayak begini," balas Ayana sambil menunjuk ke arah Saga secara terang-terangan. Pria itu tidak protes sama sekali, wajahnya pun masih tetap tidak berubah. Datar seolah tanpa ekspresi, dan ini lah yang membuat Ayana sering kali bertambah kesal.

__ADS_1


"Mas, kamu itu ekspresif dikit kenapa sih kalau aku ngomel?"


"Biar rumah nggak sepi," balas Saga santai.


"Vin, lo lihat! Tiap hari gue begini, lo bayangin aja gimana gue nggak emosi coba?"


Malvin terbahak. "Loh, problemnya di elo ini mah, harusnya lo kan bersyukur bukannya malah ngeluh. Ini artinya Bang Saga nerima lo apa adanya, semua yang ada di lo, ia terima tanpa terkecuali, termasuk lo yang hobi ngomel. Jarang-jarang loh ada yang mau nerima kayak laki lo. Harusnya lo pun bisa begitu, siap menerima semua yang ada di Bang Tama."


Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Saga langsung mengacungkan kedua jempolnya untuk Malvin. Pria itu membalasnya dengan acungan jari membentuk oke.


Ayana berdecak kesal karena tidak ada yang berpihak padanya. "Ah, ngeselin semua ya kalian para lelaki!" rajuknya kemudian.


"Makanya jangan banyak tingkah biar kita para lelaki nggak bikin lo kesel."


"Gue banyak tingkah gimana sih, Vin?" protes Ayana tidak terima.


"Ya, ada aja pokoknya."


Ayana hendak melayangkan aksi protesnya sekali lagi, tapi mendadak harus ia urungkan karena kedatangan seseorang. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Malvin, yang kini sedang memasang wajah sombongnya sambil menyilangkan sebelah kakinya.


"Sumpah demi apa?" tanya Ayana masih dengan ekspresi tidak percayanya.


"Demi cinta gue ke sang pujaan hati lah," balas Malvin sambil merangkul pundak sang kekasih. Dengan ekspresi tidak tahu diri, ia masih sempat-sempatnya mencuri kecupan dari pipi Yasmin. Hal ini membuatnya langsung mendapat aksi protes dari sang kekasih.


"Dokter Yasmin kok mau sih sama dia?"


"Heh! Maksud lo apa nanya gitu?" protes Malvin tidak terima, "lo mau jatuhin pasaran gue?"


"Dih, tanpa perlu gue jatuhin juga pasaran lo udah turun kali," balas Ayana sambil menjulurkan lidahnya. Pandangannya kemudian beralih ke Yasmin, "dok, mau saya kasih tahu beberapa hal yang nggak dokter Yasmin ketahui nggak? Sebelum dokter melangkah ke jenjang serius. Sekarang belum terlambat loh, dok."


Yasmin hanya merespon dengan senyuman tipis. Malvin yang menyadarinya langsung tersenyum bangga.


Ayana langsung merengut. Ia menoleh ke arah sang suami. "Mas bantuin aku dong! Masa kamu diem aja istri kamu diginiin?"


"Emang udah nggak ngambek?" Saga balik bertanya.


Susah payah Malvin menahan diri agar tidak menertawakan sang sahabat. Ayana yang menyadari itu langsung melempar bantal sofa ke arah pria itu.


"Diem lo!"


"Apaan? Gue diem ya, dari tadi. Lo aja yang ngajakin gelud," balas Malvin tidak mau kalah.


"Mas!" seru Ayana jengkel langsung mengadu ke suami, tapi Saga tidak terlalu menggubrisnya.


"Welcome, Yas, mereka emang begini kalau udah ketemu. Ke depannya mungkin lo bakal lebih culture shock dari ini," ucap Saga mengabaikan rengekan sang istri.


Yasmin tertawa. "Seru banget ya persahabatan mereka, kenapa dulu kita nggak sih?"


"Mas Saga dan dokter Yasmin kenal akrab?" Ayana tiba-tiba kepo dan tertarik.


Yasmin mengangguk. "Lumayan."


"Dulu Mas Saga gimana?"


"Lah, ngapa lo nanya laki lo ke cewek gue? Bukannya lo lebih dulu kenal?" sahut Malvin, "duluan siapa emang, Bang, yang kenal lo?"


Saga langsung menunjuk sang istri.

__ADS_1


"Tuh, lupa lo kalau Bang Saga itu temennya Bang Tama dulu?"


"Ya kan, dulu gue nggak keinget jelas banget. Kan gedenya Mas Saga gue nggak tahu, Vin."


"Enggak keinget jelas tapi inget kalau dulu pengen nikahin temen abangnya sendiri," sindir Malvin yang langsung mendapat tatapan mata tajam dari Ayana.


Yasmin merasa benar-benar suka dengan interaksi Ayana dan Malvin, yang menurutnya lucu.


"Gemes juga sih kalian, untung lo udah nikahin Yana, Ga, kalau enggak kayaknya gue bisa cemburu sama mereka."


Ekspresi Malvin berubah girang. "Eh, kamu bilang apa sayang? Cemburu?" pandangannya kemudian beralih ke Saga, "Bang, lo nggak ada niatan pengen ganti status dulu? Pengen liat pacar cemburu deh gue."


"Malvin!" Ayana melotot marah ke arah Malvin, "lo rela mengorbankan pernikahan temen lo sendiri hanya demi melihat cewek lo cemburu?"


Nyali Malvin langsung menciut seketika. "Hehe, enggak, bercanda doang kok." ia langsung menunjuk ponsel Saga yang bergetar, "itu, itu, hape lo bunyi, Bang."


Saga langsung meraih ponselnya. Ia memilih berdiri saat melihat nama 'Mama' yang tertera di layar ponsel.


"Ya, halo, Ma?"


"Ga, Papa-mu pingsan. Bisa kamu ke sini? Mama panik."


"Baik, Ma, Saga langsung ke sana."


Klik. Raut wajah Saga berubah tegang. "Yan, aku keluar bentar, ya," pamitnya kepada sang istri.


"Ke mana? Emang yang telfon siapa barusan?"


"Enggak lama, bentar doang. Vin, Yas, titip Yana, ya."


Tanpa menunggu jawaban dari ketiganya, Saga langsung pergi begitu saja.


"Kok suami gue aneh ya, Vin?" Ayana merasa seperti sedikit linglung karena tidak biasanya Saga begini. Yasmin yang menyadari raut wajahnya langsung mendekat dan membantu memenangkan perempuan itu.


"Mungkin cuma perasaan kamu, Na. Kamu jangan terlalu khawatir."


"Enggak, enggak, ini beda Mas Saga nggak biasanya begini. Dia nggak mungkin macem-macem kan?"


"Enggak, Saga nggak mungkin berani," sahut Yasmin cepat, "aku kenal betul siapa Saga, Na."


"Tapi kata gue emang Bang Saga agak aneh," ucap Malvin tiba-tiba, "eh, enggak, aku serius, sayang," imbuhnya cepat, karena beberapa saat yang lalu ia mendapat pelototan tajam dari sang kekasih, "lo notice nggak tadi siapa yang nelfon?"


Ayana menggeleng. "Gue nggak sempet liat. Siapa? Lo liat?"


"Sekilas."


"Siapa?"


"Mama."


"Mama siapa?!"


"Nyokap lo. Untuk memastikannya mending kita sekarang ke rumah orang tua lo deh," saran Malvin.


"Kamu yakin?" tanya Yasmin memperingatkan. Ia kemudian menggeleng ragu.


Ayana tidak memperdulikan keduanya, dia memilih untuk langsung bergegas pulang ke rumah orang tuanya yang kebetulan berada tepat berhadapan dengannya.

__ADS_1


Tubuhnya seketika melemas saat ia sampai di rumahnya dan menemukan Saga yang sedang memeriksa sang Papa dengan wajah seriusnya. Otak Ayana seketika berkelana, kenapa Saga memilih pergi begitu saja tanpa memberitahu dirinya selaku sang putri?


__ADS_2