Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Nasehat Tama


__ADS_3

______________________________________


Ayana tersenyum kecil saat melihat seorang perempuan--yang ia tafsir umurnya lebih muda darinya--terlihat keluar dari rumah Saga. Selama hampir setengah tahun lebih mereka bertetangga, ini kali pertamanya ada perempuan--yang sepertinya tidak memiliki kekerabatan dengan pria itu--datang ke rumah Saga. Selama ini Saga jarang menerima tamu apalagi perempuan, hampir tidak pernah kecuali Bianca, adik ipar pria itu. Ayana langsung mempercepat langkah kaki untuk menghampiri Saga, sebelum pria itu masuk ke dalam rumah.


"Mas Saga!" teriak Ayana sambil berlari.


Saga reflek menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Helaan napas samar terdengar tak lama setelah ia menemukan siapa yang memanggilnya. Ekspresi pria itu terlihat seperti tidak suka dengan kehadiran gadis itu.


Ayana membungkukkan badannya untuk mengatur napas yang terdengar sedikit ngos-ngosan. Setelah deru napasnya mulai teratur, baru lah ia menegakkan tubuh sambil memasang wajah tersenyum. Sedangkan Saga jelas dengan ekspresi andalannya.


"Siapa cewek tadi, Mas? Pacar baru ya?" goda Ayana sambil menyipitkan kedua matanya.


Saga langsung melengos. "Bukan urusan kamu."


Sakit hati. Tentu saja, iya. Nada bicara pria itu terdengar ketus sekaligus dingin, bahkan ekspresi wajah Saga terlihat seperti benar-benar tidak suka dengan keberadaannya. Padahal kedatangannya kali ini hanya ingin memperbaiki hubungan mereka yang merenggang.


"Mas Saga masih marah sama aku?"


Saga menggeleng. "Pulang! Saya mau istirahat," balasnya tidak nyambung. Pria itu bahkan tak segan-segan langsung mengusir Ayana meski dengan nada suara tetap tenang.


"Mau sampai kapan sih Mas Saga ngehindari aku terus gini? Mas, bukannya kita udah sama-sama dewasa? Oke, fine, aku akui aku salah kemarin karena kasih kamu harapan secara nggak langsung, dan aku mengaku salah. Aku udah minta maaf juga kan? Sesusah itu untuk maafin aku?"


"Saya sudah memaafkan kamu," balas Saga kalem.


"Tapi Mas Saga masih menghindari aku!" balas Ayana ngegas.


Saga menarik napas dalam lalu menghembuskan secara perlahan. "Lalu kamu mau saya bagaimana? Pura-pura tidak terjadi apa-apa padahal saya tahu kamu tidak akan pernah jadi milik saya?" Saga menggeleng tegas, "maaf, Yan, saya tidak bisa. Saya menghargai keputusan kamu nolak saya, dan tolong hargai keputusan saya untuk menghindari kamu! Ini pertahanan diri saya. Dan tolong jangan kamu hancurkan itu," sambungnya panjang lebar. Kepalanya mendadak pening setelah mengeluarkan unek-uneknya. Ditambah lagi kondisinya sedang tidak begitu fit.


"Maafin aku, Mas," sesal Ayana terdengar sungguh-sungguh.


Saga mengangguk. "Sekarang kamu pulang! Saya mau istirahat."


Bukannya langsung pergi, Ayana malah memperhatikan wajah Saga yang terlihat tidak seperti biasa.


"Mas Saga sakit?"


Saga menggeleng.


Ayana terlihat tidak puas dengan jawaban Saga. Tangannya terulur maju hendak menyentuh kening pria itu. Namun, reflek Saga lebih cepat. Pria itu langsung mundur selangkah sebelum telapak tangan itu menyentuh keningnya.


"Jujur aku tersinggung kamu langsung menghindar gitu. Emang aku semenjijikan itu sampai kamu nggak rela aku sentuh?" tanya Ayana tidak percaya. Suaranya terdengar seperti bergetar.


"Lebih baik kamu yang tersinggung dari pada saya yang berharap lebih." Saga menatap Ayana serius, "jangan lakukan apapun," sambungnya langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Meninggalkan Ayana yang kini sedang mematung di depan rumah dengan perasaan kecewanya.


Lamunan Ayana langsung buyar saat merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia merogoh saku celana dan mengeluarkan benda pipih itu dari dalam sana. Nama Aska terlihat pada layar. Ada perasaan ragu-ragu untuk menjawab. Moodnya kini sedang terjun bebas.


Panggilannya tak dijawab, Aska kemudian memilih mengirim pesan.


Aska:


Sayang, kok telfon aku nggak diangkat?


Aska:


Emang kamu dinas?


Merasa tidak enak, Ayana kemudian memutuskan untuk menelfon Aska balik. Kakinya melangkah meninggalkan rumah Saga.


"Halo, sayang?"


Tak butuh waktu lama pun, panggilannya langsung terjawab.


"Hai, Ka, sorry, ya, tadi lagi ada di kamar mandi, jadi nggak bisa angkat," ucap Ayana memilih berbohong. Ia jelas tidak mungkin berbicara jujur dan berujung pada pertengkaran di antara keduanya. Sikap Saga saat ini sudah cukup membuatnya pusing, dan ia tidak berniat menambah beban pikirannya.


"Oh, aku kirain shift. Hari ini jadi kan?"


"Jadi?" beo Ayana tidak paham, "jadi ngapain?"


"Kok ngapain sih, sayang? Ya nge-date dong, jangan bilang kamu lupa?"


Ayana garuk-garuk kepala. Ia memang nyaris lupa kalau hari ini mereka ada janji ketemuan. Astaga, kenapa bisa?


"Enggak dong, Ka, aku inget kok."


"Oke, berarti nanti mau dijemput jam berapa?"


"Nanti aku kabarin aja ya?"

__ADS_1


"Ya udah, oke, kalau gitu. Aku tunggu ya. See you, sayang, i miss you so muachhhhhhhh."


"I miss you too, Aska.  Ya udah kalau gitu aku siap-siap dulu. Bye!"


"Bye!"


Setelah menutup sambungan telfon dengan Aska, Ayana langsung mengirim chat kepada Tama.


You:


Bang mintol


Bang Tama:


mintol apaan?


You:


ke rumah Saga dong, Bang


Bang Tama:


ngapain?


You:


dia sakit


Bang Tama:


terus urusannya sama gue? yang dokter kan lo, ngapain gue yang lo telfon padahal rumah gue lebih jauh dari rumah kalian?


Bang Tama:


gk usah aneh-aneh deh


You:


tapi kan Bang Tama tahu hubungan gue sama Mas Saga gimana?


You:


Bang Tama:


ya terus masalahnya di mana?


Bang Tama:


kalo dia aja ogah sama lo, ngapain lo sok peduli? udh lah, urusan kalian udh masing-masing, gk usah sok peduli.


You:


gue gk sok peduli, Bang, tapi gue benern peduli.


You:


gue gk tega liatnya. dia keliatan pucet banget tadi. gue takut Mas Saga kenapa-napa


Bang Tama:


ngerepotin lo.


Bang Tama:


lagian gue kasih tahu, Saga itu dokter, udah spesialis. biasa hidup sendiri jadi pasti bisa urus dirinya sendiri. lagian dia gk tinggal sendirian juga di rumah gedongannya itu. Ada ART ada supir pribadinya.


Bang Tama:


ngapain pusing sih?


You:


ini intinya lo mau bantuin gue gk sih, Bang?


Bang Tama:


ck. iya, iya.

__ADS_1


Bang Tama:


bener-bener ngerepotin.


***


Sesuai permintaan sang adik, Tama akhirnya benar-benar datang ke rumah pria itu. Meski hubungan mereka belum begitu membaik karena keputusan gadis itu yang memilih berpacaran dengan Aska, Tama tetap saja tidak bisa abai dengan permintaan sang adik. Selain karena itu, ia juga merasa khawatir dengan sobat karibnya. Maka dari itu ia memutuskan langsung meluncur menuju rumah Saga.


Penampilan pria itu memang terlihat sedikit kurang sehat. Wajahnya sedikit pucat meski menurut Tama, wajah pucatnya itu tidak sepucat seperti yang diceritakan sang adik. Ia jadi sedikit menyesal karena datang terlalu terburu-buru.


"Ngapain?"


"Jengukin lo. Kata Yana lo sakit. Makanya gue disuruh ke sini."


"Siapa?"


Kening Tama mengerut bingung. "Gimana maksudnya? Siapa yang sakit gitu? Kan lo yang sakit. Gimana sih? Muka lo keliatan pucet tuh, ya, meski nggak sepucet yang dibilang Yana sih. Sakit apa sih lo?" cerocosnya kemudian, "sakit hati gegara adek gue?"


"Yang nyuruh."


"Oh. Maksudnya siapa yang nyuruh gue ke sini gitu?" tanya Tama mencoba memastikan sekali lagi.


Saga hanya mengangguk sebagai tanda jawaban mengiyakan.


"Yana lah. Ya kali, bini gue."


Saga menghela napas panjang. Reflek Tama meringis sungkan.


"Maafin adek gue, tuh orang emang gitu orangnya."


"Gue bingung sama adik lo."


Tama mengangguk paham. Jangan Saga, dirinya sendiri juga tidak paham dengan kemauan sang adik. Ayana bilang gadis itu tidak mau dengan Saga, tapi masih berani menaruh perhatian terhadap sang sobat. Wajar saja kalau Saga bingung.


"Gue beneran nggak papa kalau adik lo nggak mau sama gue, Tam. Serius. Gue nggak bakalan maksa."


Tama menghela napas sungkan. "Gue ngerti maksud lo, bro, gue paham. Cuma gimana ya, gue juga nggak tahu harus gimana."


"Nasehati adik lo."


Tama diam saja. Bingung karena harus merespon bagaimana.


"Pulang gih!" usir Saga kemudian, "gue mau istirahat."


Tama kembali mengangguk paham lalu berdiri. "Ya udah, gue cabut ya. Baik-baik lo. Udah minum obat belum lo?"


Saga mengangguk sekali sebagai tanda jawaban.


"Udah makan juga kan?"


Lagi-lagi pria itu hanya merespon dengan anggukan kepala.


Tama tidak bertanya lebih lanjut dan memilih untuk pamit pulang ke rumah orangtuanya.


Sesampai di rumah sang orangtua, Tama langsung mencari keberadaan sang adik. Yang ternyata sedang asik melamun sambil memegang ponselnya.


Tama sengaja menjatuhkan tubuhnya tepat menimpa tubuh kecil Ayana.


"Apaan sih, Bang?" protes Ayana kesal, "gimana? Lo jadi ke rumah Mas Saga nggak? Kondisi dia gimana? Perlu ke rumah sakit nggak sih?"


"Lo kenapa begini sih, Na?" Bukannya menjawab Tama malah balik bertanya.


"Begini gimana sih, Bang?"


Tama menghela napas. "Ya kenapa lo sok peduli sama Saga padahal lo milih cowok lain."


"Gue bukan sok peduli, Bang. Gue beneran peduli," elak Ayana tidak terima.


"Kenapa?"


"Kenapa?" beo Ayana mengulang pertanyaan sang kakak.


"Iya, kenapa? Kalau lo memilih untuk menolak Saga, harusnya lo nggak begini lah, hargai perasaan Saga. Dia beneran ngarep sama lo. Lo ngerti nggak sih?"


Ayana diam.


"Lo kalau sayang sama gue, jangan begini. Jauhi Saga! Kasih dia waktu, seenggaknya biar dia menata hatinya dulu, kalau lo masih berharap untuk dekat sebagai sesama tetangga."

__ADS_1


"Jadi ini salah gue? Gue nolak Mas Saga salah gue? Gue mau tetep peduli sama dia juga salah? Salahin aja gue terus."


Karena kesal Ayana memilih untuk pergi meninggalkan sang Abang begitu saja.


__ADS_2