Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 50


__ADS_3

***


Olivia spontan menghentikan langkah kakinya saat menyadari seorang perempuan yang kini tengah menyapanya sambil melambaikan sebelah tangannya. Ia mematung sesaat sebelum tersenyum samar. Jujur ia tidak tahu harus beraksi apa terhadap perempuan itu.


“Kabar baik kan, Liv?” sapa Ayana.


Gadis itu kemudian mengangguk dan mengiyakan. “Mbak Yana sendiri gimana? Sehat kan?”


“Seperti yang keliatan. Makin langsing sih karena gue masih asi eksklusif.” Ayana tertawa canggung tak lama setelahnya, “sibuk nggak lo?”


Ekspresi Olivia berubah ragu-ragu. “Kenapa ya, Mbak?” tanyanya kemudian dengan wajah bingung.


Ayana menggeleng cepat. “Enggak papa kok. Hehe, cuma pengen ngajak nongkrong nih, temen-temen gue sekarang susah diajak nongkrong. Mau nggak lo kalau semisal nongkrong sama gue?” ia menggaruk kepala bagian belakangnya salah tingkah, "ya emang sih gue udah ibu anak satu. Lo masalah nggak sama status gue?"


Tidak langsung menjawab, gadis itu nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap Ayana ragu-ragu.


"Sebenernya nggak ada masalah sih, Mbak.


“Nah, pas banget dong kalau gitu. Ayo lah, mau!” rengek Ayana terlihat sedikit memaksa, "ya, ya, ya."


Berhubung Olivia termasuk orang yang sedikit tidak enakan, akhirnya ia pun mengangguk dengan pasrah. “Ya udah, boleh deh, Mbak. Mau nongkrong di mana emang?”


Ayana meringis malu-malu sambil mengusap rambut bagian belakangnya. Ia terlihat tidak yakin. Karena jujur, semenjak menikah dan memiliki Mala sudah jelas pasti ia tidak pernah lagi merasakan yang namanya nongkrong.


“Masa lo tanya tempat nongkrong ke Emak-emak sih, Liv, ya mana ngerti.”


“Lah, kan yang ngajak Mbak Yana jelas nanyanya Mbak Yana lah, masa mau nanya anak Mbak Yana. Mbak Yana ini ada-ada aja."


"Lo aja deh yang nentuin," ucap Ayana menyarankan.


"Duh, gimana, ya,” kali ini giliran Olivia yang garuk-garuk kepala, “aku juga kurang suka nongkrong sih, Mbak. Jadi aku kurang tahu tempat-tempat mana yang asik buat nongkrong”


Ayana berpikir sejenak sambil mengusap dagunya. “Gimana kalau kita nonton?” ucapnya menyarankan.


Olivia melongo sesaat sebelum akhirnya menggeleng ragu. “Kayaknya itu bukan ide yang bagus deh, soalnya kan ini udah sore, Mbak, nanti kasian anaknya Mbak Yana nyariin gimana?” ia tersenyum simpul tak lama setelahnya, “lagian Mbak Yana Cuma mau ngobrol aja kan? Jadi kalau nonton kurang efisien deh, Mbak.  Aku juga lagian lagi nggak mood nonton film.”


Ayana mengangguk paham lalu mengajak perempuan itu masuk ke dalam mobilnya. “Ya udah, kalau gitu kita ngobrol di Cafe itu, yuk! Abis ini gue anter balik, gimana?”


Olivia mengangguk tidak masalah. “Tapi untuk pulang kayaknya aku bisa pulang sendiri deh, Mbak. Aku udah biasa—“


Ayana menggeleng tidak setuju. “Gue nggak suka penolakan, Liv, jadi lo harus gue anterin abis ini. Titik. Nggak ada bantahan apa lagi penolakan.” kali ini ia mengangguk tak lama setelahnya, "iya, bener, Liv, gue emang orangnya agak maksa."

__ADS_1


Olivia tidak berkomentar banyak. Gadis itu mengangguk pasrah tak lama setelahnya lalu masuk ke dalam mobil Ayana sesuai perintah perempuan itu.


"Btw, lo editor kan, Liv?" tanya Ayana berbasa-basi.


"Iya, Mbak, kenapa? Mbak Yana tertarik pengen nerbitin buku?"


Mendengar pertanyaan balik dari Olivia, Ayana langsung terbahak tak lama setelahnya. "Haha, gue mana bisa sih, Liv, nerbitin buku. Pertanyaan lo emang suka ngadi-ngadi aja." ia menggeleng tak lama setelahnya, "gue buta dunia literasi. Mana paham gue dialog tag dan kawan-kawannya."


"Lah, itu tahu dialog tag, padahal beberapa penulis ada loh yang sama sekali nggak tahu dialog tag. Serius aja, Mbak. Temen aku pernah nanganin penulis begini, dia lumayan stres awal-awal karena berasa jadi guru dadakan, tapi nggak lama setelahnya, eh, penulisnya malah jadi penulis terkenal. Bukunya masuk ke jajaran rak best seller."


Ayana melongo takjub. "Bisa gitu ya?"


"Bisa dong, Mbak, semua orang bisa jadi penulis kok, Mbak Yana kan dokter tuh, pasti pengetahuannya banyak. Kenapa nggak coba tulis pengalaman dulu sama mas suami atau pas jaman-jaman koas, lumayan loh komisinya."


Ayana tertawa. "Enggak deh, insecure gue. Enggak berani, takut dibully netizen. Soalnya kisah cinta gue sama suami gue agak memalukan."


"Suami Mbak Yana dokter juga bukan emang?"


Ayana mengangguk. "Iya, suami gue dokter plus dosen sebelum nikah, tapi setelah nikah udah nggak jadi dosen sih, soalnya sibuk, gue nggak suka. Quality gue sama anak gue jadi makin kurang. Enggak suka gue."


"Wow, keren ya, suami Mbak Yana. Pasti Mbak Yana khawatir ya kalau suaminya ditaksir mahasiswi-mahasiswinya."


"Enggak lah. Gue tahu suami gue cinta mati sama gue, Liv," ucap Ayana sambil tertawa, "tapi sebenernya suami gue orangnya agak kaku sih, jadi dia juga bakalan kurang peka kalau lagi ditaksir."


"Wiishh, kayak di novel-novel dong, Mbak?"


Seketika Ayana tertawa kencang. Kedua matanya sampai sedikit berair karena menertawakan kalimat gadis itu.


"Enggak, beda jauh sama yang ada di novel-novel yang beredar di toko buku. Soalnya kalau yang suka beredar di pasaran kan sok kulkas tapi begitu ketemu cewek yang jadi pasangannya bakal berubah cerewet dan suka clingy kan? Nah, kalau suami gue nggak sih. Sama aja, dari jaman pdkt, pacaran, eh, kayaknya gue sama suami gue bisa dibilang nggak pacaran deh. Nikah sampai punya anak sama aja. Nggak ada yang berubah, masih irit ngomong, kadang nih gue gue salah paham atau harus loading dulu biar paham."


Olivia tertawa. "Bisa gitu ya."


"Bisa lah, namanya kehidupan nyata, Liv, bukan di novel," balas Ayana sambil ikut tertawa.


Olivia manggut-manggut setuju tak lama setelahnya. "Btw, kalau boleh tahu suami Mbak Yana dokter spesialis apa emang?"


"Bedah TKV."


Olivia melongo bingung. Ia terkekeh sambil garuk-garuk kepala tak lama setelahnya. "Itu apaan, Mbak? Baru denger deh aku, kok namanya kayak nama sekolah taman kanak-kanak."


Ayana tertawa. "Hahaha, TK V gitu maksud lo? TK A besar TK A kecil?"

__ADS_1


"Iya. Mirip."


"Bukan dong, bedah TKV itu bedah toraks kardiovaskular. Biasanya nangani pembedahan area thoraks atau dada. Kayak penyakit atau cidera yang terjadi pada kerongkongan, paru, jantung, mediastinum serta pendukung organ-organ yang ada di thoraks atau dada. Kayak selaput jantung, selaput paru, sama diagfragma."


Olivia manggut-manggut paham. "Oh, jadi bahasa gampangnya itu dokter jantung ya?" OLivia cepat-cepat mengkoreksi kalimatnya, "eh, bedah jantung ya?"


Ayana mengangguk meski terlihat ragu-ragu. "Semacam itu, tapi sebenernya beda sih ya, Liv, soalnya kan ada dokter bedah jantung dan pembuluh darah sama dokter BTKV ini tadi."


Olivia meringis. "Ribet ya, Mbak, pantesan mereka keliatan keren banget meski cuma dokter umum. Ngomong-ngomong Mbak Yana kenapa dulu nggak ambil spesialis?''


''Kalau boleh jujur sebenernya gue abis nikah hampir ambil spesialis loh, tapi nggak jadi karena gue pada akhirnya milih buat hamil ketimbang ambil spesialis. Padahal gue udah belajar mati-matian buat ikut ujian PPDS, eh, endingnya nggak jadi."


"Kebobolan? Emang dokter yang ambil spesialis nggak boleh hamil, Mbak?"


sambil tertawa Ayana menggeleng cepat. "Bukan nggak boleh sih, susah aja. Gue nggak cukup yakin kalau bisa, sama satu lagi, gue nggak kebobolan sih. Justru biar gue cepet hamil, gue sampai suntik hormon, lo tahu, Liv, gue sampe didiemin laki gue karena ini."


"Emang kenapa, Mbak?"


Mendadak Ayana malu hendak mengatakannya. Ia bahkan baru tersadar kalau ia sudah terlalu banyak bercerita terhadap perempuan ini. Menurutnya, Ayana nyaman bercerita dengan perempuan ini.


"Liv," panggil Ayana tiba-tiba, "gue cerita kebanyakan nggak sih?"


"Enggak papa sih, aku justru seneng kok, Mbak."


Ayana menghentikan mobilnya karena lampu merah. "Lo masih mau temenan sama gue?" tanyanya hati-hati.


Di luar dugaan Olivia tertawa. "Kenapa enggak, Mbak?'' ia balik bertanya, "yang punya masalah kan aku sama Mas Malvin. Setelah melihat sikap Mbak Yana yang tetep biasa ke aku, aku jadi semakin nggak punya alasan untuk ikut musuhin Mbak Yana."


"Apapun yang terjadi sama lo dan Malvin gue nggak akan ikut campur, Liv. Itu urusan kalian, gue cuma mau tetep temanan sama lo, kalau lo mau. Lo masih mau nggak sih?"


Tanpa keraguan, Olivia langsung mengangguk cepat. "Masih, Mbak, tapi aku boleh minta suatu hal nggak?"


"Apa?"


"Untuk sementara waktu biar aku move on, tolong jangan bahas ini dulu, ya."


"Ups, sorry."


"Enggak papa, Mbak."


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2