
______________________________________
"Ga, ini dokternya malah ke mana sih? Kok aku nggak ditangan-tangani, padahal yang dateng kan duluan kita ketimbang bed sebelah," keluh seorang perempuan sambil menahan ringisan perih pada lengannya yang terluka.
"Sabar," sahut Saga datar, kedua tangannya berada di balik saku celana dengan tubuh yang ia sandarkan pada ranjang pasien yang kosong.
"Kenapa nggak kamu aja yang tangani aku sih, kalau cuma jahit luka begini kamu pasti bisa. Kamu kan dokter di rumah sakit ini juga. Mending kamu aja deh yang tangani," keluh perempuan itu dengan wajah kesalnya.
Saga tidak membalas dan hanya helaan napas panjang yang terdengar. Hal ini tentu saja makin mengundang decakan sebal dari perempuan yang bernama Viona itu.
"Ga, kamu kok diem aja sih?" protes Viona, "enggak pernah berubah ya kamu, Ga, dari dulu," sambungnya kemudian, hanya saja kali ini terdengar seperti gerutuan. Namun, masih terdengar cukup jelas di telinga Saga. Tapi lagi-lagi pria itu masih enggan untuk berkomentar.
"Pokoknya aku nggak mau tahu kamu harus bertanggung jawab."
"Bawa lo ke sini adalah bukti pertanggung jawaban gue, Vi," balas Saga.
Viona memang terluka karena dirinya, supir Saga tidak sengaja menabrak mantan pacarnya itu hingga perempuan itu mengalami luka sobek pada lengan kirinya. Sebenarnya kalau boleh Saga jujur, yang salah itu Viona, karena perempuan itu tiba-tiba muncul di depan mobilnya sehingga membuat Agus tidak bisa menghindari kecelakaan yang mengakibatkan perempuan itu tertabrak oleh mobilnya. Saga sendiri tidak terlalu ingat kejadian dengan pasti, ia bahkan tidak dapat memastikan penyebab ada luka sobek pada lengan Viona.
"Aku mau kamu pegang tangan aku pas luka aku dijahit. Kamu tahu sendiri kan aku takut sama jarum suntik dan lainnya?"
Saga menggeleng. Pria itu menggeleng bukan karena tidak tahu tentang fakta itu, tentu saja ia tahu. Di antara beberapa mantan pacarnya, perempuan yang paling rewel, menjurus ke arah bawel dan takut dengan banyak hal ya, Viona ini. Saga menggeleng karena menolak bersentuhan dengan milik orang lain.
"Gue nggak bisa."
"Kenapa? Takut sama suami gue?" tebak Viona.
Saga langsung menjawab dengan anggukan kepala.
Di luar dugaan, Viona malah terkekeh. "Lo belum denger gosipnya?"
Saga menggeleng tidak peduli. "Gue nggak suka bergosip."
Viona langsung mengangguk maklum sambil tersenyum simpul.
Harus Saga akui, di antara banyaknya kebawelan perempuan ini, Viona masih terlihat manis dan cantik seperti saat bersamanya dulu. Bahkan menurutnya mantan pacarnya ini tidak terlalu terlihat seperti seorang ibu anak satu. Karena memang tidak terjadi banyak perubahan pada tubuh perempuan itu.
"Valid no debat sih kalau kamu nggak suka gosip. Tapi, Ga, yang ini bukan lagi gosip sih tapi udah fakta. Kalau faktanya udah denger belum?"
Saga masih terlihat acuh tak acuh.
Viona yang melihat sikap acuh tak acuh Saga langsung merengut.
"Gue single parent, janda anak satu, Ga. Udah hampir setahun malah, lo sama sekali nggak pernah denger kabar ini?"
Saga terkejut saat mendengarnya, ia kemudian menggeleng. Selama kumpul dengan teman-temannya sepertinya ia belum pernah mendengar kabar retaknya hubungan Viona yang dulu terkenal paling sweet--katanya-- dengan sang suami dulu. Lalu sekarang tahu-tahu dengar kabar kalau mereka bahkan sudah bercerai, tentu saja Saga terkejut sekaligus tidak percaya. Kok bisa? Batinnya bertanya-tanya.
"Terus anak kalian?"
"Ikut Papa-nya." Mendapati ekspresi kaget Saga, Viona cepat-cepat mengimbuhi kalimatnya, "maksudnya gantian, dan sekarang jatah dia ikut Papa-nya."
"Oh."
Viona hanya mampu tersenyum saat mendengar respon andalan Saga. Tangannya kemudian terulur meminta pria itu segera menggenggam tangannya. Maka dengan sedikit terpaksa, menjurus ke arah enggan sebenarnya, Saga kemudian menggenggam telapak tangan Viona. Tak lama setelahnya dokter jaga yang akan menjahit luka Viona datang.
__ADS_1
"Permisi, mohon maaf--"
Kalimat sapaan Ayana mendadak terhenti saat kedua netranya tidak sengaja bersitatap dengan Saga. Apalagi secara tidak sengaja ia melihat tangan pria itu menggenggam perempuan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Batinnya bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka sampai pegangan tangan mesra begitu?
"Dokter Yana!"
Lamunan Ayana seketika langsung buyar saat mendengar namanya dipanggil. Cepat-cepat ia meminta maaf dan langsung melakukan tugasnya, meski penasaran sekaligus kepo, ia jelas tidak boleh bertanya, setidaknya sekarang ia harus menahan diri. Untuk sekarang Ayana akan memilih bersikap profesional dan bahkan seolah tidak mengenal Saga. Agar bisa tetap bersikap tenang.
______________________________________
Ayana tidak mengerti dengan dirinya sendiri seharian ini. Moodnya tidak jelas, kacau dan berantakan. Padahal seharusnya ia bahagia keponakannya telah lahir, tapi pertemuannya dengan Saga telah mengacaukan segala. Ayana membenci fakta itu, batinnya seolah tidak terima dengan kenyataan itu.
"Jadi nonton kan kita?"
Ayana langsung menghela napas saat mendengar pertanyaan Aska. Bahkan saat sedang bersama sang kekasih pun moodnya tidak kunjung membaik, bukankah aneh? Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya?
"Next time ya, aku capek banget nih."
Meski kecewa, Aska pada akhirnya mengangguk pasrah karena mendapati wajah lelah sang kekasih.
"Oke, kita bisa nonton next time. Capek banget ya?"
Tangan Aska terulur hendak menyentuh pucuk rambut Ayana, namun, dengan cepat gadis itu menghindar. Hal ini tentu saja membuat Aska merasa tersinggung. Kenapa kekasihnya ini seperti enggan ia sentuh? Batinnya bertanya-tanya.
"Kenapa?"
Ayana yang sedang dalam mode tidak peka hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tebak Aska. Raut wajah pria itu berubah, terlihat sekali kalau pria itu sedang berusaha meredam terbawa emosi.
"Lagi kesel sama seseorang?"
"Ka, plis, aku lagi nggak minat buat berantem. Jadi, tolong, bisa kamu anter aku pulang tanpa banyak tanya?"
Aska langsung mendengus sinis. "Siapa yang ngajak berantem sih, Na? Aku cuma tanya dan satu lagi, aku ini pacar kamu bukan supir taxi online, jadi wajar kalau aku tanya-tanya, kecuali kalau kamu emang nganggep aku demikian. Jadi menurut kamu aku ini cuma supir taxi online yang nganterin kamu pulang?" tanyanya dengan nada jengkel.
Sekarang yang lelah tidak hanya Ayana, dirinya pun merasakan demikian. Pertemuannya dengan sang kekasih diharapkan dapat mengurangi rasa lelahnya, tapi yang ada justru membuat Aska semakin merasa lelah karena sikap perempuan itu.
"Kamu kenapa ngomong begitu sih, Ka?"
"Ya, kamu mau aku ngomong gimana?"
Tanpa sadar Aska tiba-tiba menaikkan nada bicaranya, hal ini tentu saja membuat Ayana terkejut. Bahkan Aska sendiri merasa terkejut dengan dirinya karena tanpa sengaja membentak sang kekasih. Mungkin karena efek kelelahan membuatnya tersulut emosi.
Dengan wajah yang mulai ikut tersulut emosinya, Ayana dengan kasar langsung melepas seat beltnya.
"Turunin aku sekarang!"
"Mau ngapain?"
"Turunin aku sekarang, Ka!" ulang Ayana dengan rahang mengetat menahan emosi, "aku nggak bisa satu mobil sama kamu saat ini, karena kita lagi sama-sama terbawa emosi."
"Kamu jangan makin mancing emosi aku bisa nggak sih, Na?"
__ADS_1
"Aska! Aku bilang turunin aku se-ka-rang!" ucap Ayana tidak ingin dibantah.
Mendengar kalimat sang kekasih yang terdengar tidak ingin dibantah, Aska langsung menghentikan mobilnya. Lalu Ayana langsung keluar dari mobil pria itu.
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Ayana sebelum keluar dari mobil Aska.
"Lakukan apapun yang kamu suka," balas Aska yang masih terselimuti egonya.
Setelah Ayana benar-benar keluar dari mobilnya, tanpa ragu Aska langsung mengemudikan mobilnya dengan kencang. Ayana yang melihat itu hanya mampu mendengus tidak percaya. Ia tidak percaya kalau pria itu akan langsung menurunkannya begitu saja. Merasa kesal dan tidak mau ribet ia langsung memutuskan untuk menghubungi Malvin, meminta pria itu menjemputnya.
Ayana langsung mengerutkan dahinya heran saat mobil milik Malvin berhenti di hadapannya. Karena saat ia hendak membuka pintu mobil, pria itu malah keluar dari mobil.
"Ngapain?" tanya Ayana heran.
"Lo yang nyetir," balas Malvin langsung membuka pintu mobil. Saat pria itu hendak masuk ke dalam, Ayana langsung menarik lengan pria itu. Dengan cepat ia membalas, "gue mau tidur. Kalau lo nggak mau nyetir mending lo telfon taxi online bukan gue. Jadi sekarang lo mau nyetir atau enggak?"
"Ya udah mau," balas Ayana pada akhirnya.
Malvin langsung mengacungkan jempolnya dan masuk ke dalam mobil disusul Ayana tak lama setelahnya.
"Rese lo," decak Ayana sambil memasang seat beltnya.
"Lo yang rese," balas Malvin tidak mau kalah, "gue lagi enak-enak tidur lo telfon suruh jemput. Ngerepotin lo! Masih mending gue mau dateng."
"Oh, jadi nggak ikhlas jemput temen?"
"Ya enggak lah, kalau jemput temen tuh pasti kepaksa beda cerita kalau lagi jemput calon istri atau gebetan. Nah, sekarang lo pilih deh salah satu biar gue jadi ikhlas jemput lo."
"Bodo amat," balas Ayana acuh tak acuh. Ia jelas tidak peduli dengan jokes yang dilempar pria itu karena masih terselimuti emosi.
"Gimana ceritanya sih kok lo minta dijemput? Bukannya lo dijemput cowok lo?"
"Dan bukannya lo tadi bilangnya mau tidur ya, kenapa malah ngepoin urusan gue?"
"Karena rasa kepo gue lebih tinggi ketimbang rasa ngantuk gue sih. Jawab aja dulu, ntar kalau gue udah dapet jawabannya juga langsung tidur. Jadi kenapa?"
"Ya tadi gue emang dijemput Aska, terus kita cekcok bentar gitu, abis itu ya gitu deh, gue diturunin di tepi jalan. Gila banget kan tuh cowok, seumur-umur gue pacaran baru kali ini gue diturunin di tepi jalan begini sama cowok gue, seribut-ributnya gue sama mantan-mantan gue, nggak pernah tuh mereka nurunin gue di jalan begini. Ini cowok gue loh, Vin, Mas Saga yang bukan cowok gue, kalau gue berangkat bareng dia, pasti pulangnya ya bareng dia, ini masa gue--"
Ayana mendadak menghentikan kalimatnya saat merasakan tatapan mata Malvin yang tidak biasa. Buru-buru ia menoleh dan benar saja pria itu tengah menatapnya intens sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mohon maaf ya ibu, ini kan kita lagi bahas cowok lo, si Aska, kenapa jadi bawa-bawa jodoh orang?"
Mendengar kata jodoh orang membuat Ayana bertambah kesal, apalagi saat bayangan tangan Saga yang menggenggam perempuan itu kembali terbayang. Ingin sekali ia menjambak rambut siapa pun untuk melampiaskan emosinya.
"Maksud lo apa ngomong gitu?" tanya Ayana dengan nada suara tidak suka.
"Loh, kenapa? Lo nggak terima kalau Saga jadi jodoh orang? Tapi lo pacaran sama orang lain? Lo ini sebenernya sehat nggak sih, Na?"
"Gue nggak bilang kalau nggak terima," elak Ayana dengan wajah tidak sukanya.
"Ya emang lo nggak bilang, tapi tanpa lo bilang pun udah keliatan. Lo sadar nggak sih hubungan lo sama Aska itu udah nggak bener? Dan gue rasa dari awal pun emang udah nggak bener kan? Lo itu bego, bodoh, tolol. Lengkap deh pokoknya. Sukanya sama siapa, cintanya siapa, tapi pacarannya malah sama siapa. Nggak ngerti lah gue pokoknya sama lo. Tahu lah, mending gue tidur."
Malvin geleng-geleng kepala tidak habis pikir sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu memilih memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Kalimat Malvin seolah menampar Ayana, pikirannya mendadak kosong. Benarkah dirinya sebodoh itu?