Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 6


__ADS_3

*


*


*


Kartika lalu kembali menyusul Malvin setelah membawakan pria itu segelas jus kiwi, sisa jus yang ia buat untuk sang suami.


"Nggak jadi masak, Mi?" tanya Malvin sambil menerima gelas berisi jus tersebut. Tanpa perlu menunggu dipersilahkan, ia langsung meneguknya hingga tandas.


Kartika menaikkan sebelah alisnya heran. "Memang masih belum kenyang? Kamu ini jangan banyak-banyak deh makannya. Udah tua kamu, Vin, sudah bukan masa pertumbuhan lagi jadi udah nggak perlu makan banyak-banyak. Secukupnya saja."


Malvin merengut. "Padahal aku kangen deh masakan Mami. Masih muat loh, Mi."


Kartika menggeleng cepat. "Nanti siang Mami masakin."


Kali ini Malvin mendengus. Kalau menunggu nanti siang keburu dirinya berangkat dinas lah, mana sempat kalau harus makan masakan Kartika dulu.


"Sekarang cerita dulu sama Mami soal masalah yang lagi kamu hadepi, kali aja Mami bisa bantu."


Bukannya langsung menjawab, Malvin malah diam saja sambil menghela napas berat. Batinnya bertanya-tanya haruskah ia menceritakan masalah ini kepada sang wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri?


"Kenapa malah diem aja? Kamu ragu sama Mami, Vin?"


Malvin menggeleng.


"Terus?"


"Malvin cuma agak bingung gimana ceritanya, Mi. Sebenernya kami baru aja putus, mungkin lebih tepatnya, Malvin diputusin sih sebenernya."


Kartika manggut-manggut paham. "Tapi kamu sebenernya nggak mau diputusin?"


Malvin langsung mengangguk cepat saat mengiyakan. "Malvin sayang banget sama dia soalnya, Mi, Malvin nggak mau kehilangan dia. Tapi dia... Malvin nggak ngerti deh ngadepi dia, kayak mau nyerah aja rasanya."


"Ya udah jangan."

__ADS_1


Malvin menatap Kartika dengan raut wajah tidak terimanya. Bukan jawaban ini yang ia inginkan, ia ingin didukung dan disupport.


"Nih, ya Mami kasih tahu, pernikahan itu untuk sekali seumur hidup. Kamu akan menghabiskan sehari 24 jam sehari sama pasangan kamu yang ini. Tapi kalau kamu nggak ngerasa sanggup menghadapi dia, ya udah jangan, Vin. Karena kalau sekarang saja kamu meras berat, bagaiman nanti? Nantinya bakalan lebih berat loh. Percaya sama mami.'"


Malvin menghela napas. Dalam hati ia menyetujui kalimat Kartika, tapi di sisi lain ia merasa tidak rela juga jika harus melepas sang pujaan hati begitu saja. Ia merasa sangat mencintai perempuan itu, belum pernah ia merasa jatuh cinta terhadap perempuan sampai begini.


"Kayak apa sih perempuan itu, Mami jadi penasaran kayak apa orangnya, sespesial apa sih dia sampai bikin kamu begini?"


"Temen Bang Saga, Mi."


Ekspresi Kartika awalnya terlihat terkejut, namun hal itu tidak berlangsung lama. Ia manggut-manggut tak lama setelahnya. "Oh, maksudnya junior Saga gitu ya?"


"Kok junior sih, Mi? Temen kampusnya dulu." Malvin meringis malu tak lama setelahnya, "ya, emang seumuran sama Bang Saga sih. Denger-denger emang tuaan dikit dia ketimbang Bang Saga sih."


"Itu janda, Vin?" tanya Kartika dengan wajah polosnya, badannya sedikit condong maju ke depan.


Malvin sedikit terkekeh. "Bukan, Mi, alhamdulilah bukan."


"Walah, kalau seumuran sama suami Yana sudah tua loh, Vin. Kok selera kamu yang beginian?"


Malvin lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Mengutak-atik sebentar lalu menunjukkan pada Kartika. "Selera Malvin tuh tinggi, Mi, liat! Cantik banget kan?"


Karena penasaran, Kartika langsung merebut ponsel Malvin agar ia bisa melihat foto itu lebih jelas. "Yang beginian kamu bilang seumuran Saga? Kamu bohongi Mami ya?" tuduhnya kemudian. Ia seperti ditipu karena menurutnya perempuan yang ada di foto tersebut sama sekali tidak terlihat seperti perempuan berumur tiga puluhan.


"Enggak lah, Mi, beneran. Itu seumuran sama Bang Saga, kalau Mami nggak percaya bisa tanya langsung sama Bang Saga."


Kartika menunjukkan wajah tidak percayanya. "Kamu serius?"


Malvin langsung mengangguk cepat untuk mengiyakan.


"Kok bisa sih? Operasi plastik apa gimana ini? Cantik banget terus awet muda, kamu kalau bilang dia mahasiswa Saga pun Mami bakalan langsung percaya, Vin. Pantas saja kamu sampai begini, orang modelannya begini." Kartika berdecak sambil geleng-geleng kepala, "apa nggak suka laki kali, Vin, kalau udah seumuran Saga tuh harusnya anaknya udah dua."


"Masalahnya di situ, Mi."


Kartika mengerutkan dahi tidak paham. "Maksudnya?"

__ADS_1


Malvin menghela napas sedih. "Dia nggak bisa kasih Malvin keturunan nantinya."


"Kenapa?"


"Ya, nggak bisa hamil maksudnya, Mi."


Kartika manggut-manggut paham. "Iya, Mami paham, cuma maksudnya kenapa nggak bisa hamil? Kan banyak faktor, Vin. Semisal nggak mau hamil atau beneran nggak bisa hamil. Kalau dalam dunia medis kan banyak penyebabnya, macem-macem. Nah, itu pacarmu yang mana satu."


Malvin menggeleng. "Enggak bisa hamil, Mi, untuk kondisi detailnya jujur Malvin nggak paham. Karena takut menyinggung perasaan dia."


"Bercanda kan kamu, Vin?"


Malvin mengerutkan dahinya bingung. "Maksudnya? Kok bercanda sih, Mi? Serius loh ini, nggak lucu juga kalau mau dibecandain."


"Ya, abis kamu ada-ada aja. Masa mau nikahi anak orang nggak cari tahu dulu sih, Vin? Ini masalah serius, bukan masalah sepele loh. Nanti kalau semisal dia ternyata perempuan jadi-jadian gimana? Kayak itu yang lagi viral, siapa namanya? Luna Cita? Serem loh, Vin," Kartika bergidik ngeri. "Amit-amit loh, Vin. Mami nggak rela kalau semisal kamu dapet yang nggak jelas begitu. Move on aja udah, cari yang lain, yang jelas gitu loh."


"Ini jelas kok, Mi, beneran perempuan."


"Udah pernah ngecek kamu emang?"


Malvin langsung terbahak lalu garuk-garuk kepala malu-malu. "Ya, belum sih."


"Udah lah nggak usah pusing-pusing, nggak usah galau. Cari yang lain nanti Mami bantuin."


Malvin hanya mampu memasang wajah datarnya tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara.


Kartika menegakkan tubuhnya. "Mami serius loh, Vin. Hidup itu jangan dibikin pusing, nikmati saja. Mati satu nanem lagi lah sampai tubuh sepulu ribu."


Malvin tersenyum getir. Andai saja semua terasa mudah seperti yang dikatakan, mungkin ia tidak akan merasa segalau ini. Ia akan merasa baik-baik saja tanpa harus protes saat Yasmin mengajaknya berpisah. Tapi justru sebaliknya, ia merasa hampa, tertekan, sedih dan bahkan ia merasa putus asa setelah perempuan itu mengajaknya berpisah.


"Mami tahu segala sesuatu itu memang tidak ada yang mudah, Vin, tapi tetap saja kamu harus tetap semangat dan jangan putus asa. Ingat, perempuan di dunia ini nggak cuma satu, masih banyak perempuan yang mau sama kamu. Sebagai pria emang harus pandai memperjuangkan wanitanya, tapi kalau mereka sudah tidak mau diperjuangkan ya buat apa kamu berjuang sendirian? Yang ada nanti kamu sedih sendiri." Kartika menepuk pundak pria itu, seolah sedang memberinya semangat, "mungkin bukan dia orangnya, Vin," sambungnya kemudian.


Malvin sangat sedih saat mendengarnya. Seolah tertampar kenyataan, jangan-jangan memang benar demikian.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2