Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 41


__ADS_3

***


Malvin pikir masalahnya sudah selesai dan kisah cintanya tidak akan serumit ini. Tapi ternyata ia salah, semua masih terasa rumit dan sulit ia hadapi. Ia bahkan sekarang tidak tahu harus bagaimana saat bertemu Olivia. Benar, gadis itu terlalu baik. Ia menyukai gadis itu, munafik kalau ia tidak suka. Tapi sayangnya gadis itu tidak hanya butuh suka, ia butuh perasaan lebih sementara dirinya belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Yasmin. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan perasaan ini akan terus ada.


"Jangan kebanyakan ngelamun nanti kesambet baru tahu rasa," sindir Ayana yang baru masuk ke dalam ruang inapnya.


Perempuan itu membawa rantang hasil masakan Mama-nya.


"Mau makan sekarang atau nanti?"


Malvin menggeleng. "Gue bahkan kayaknya nggak bisa makan deh hari ini."


Ayana menghela napas. "Gue tahu lo bosen makan makanan rumah sakit, makanya gue minta nyokap buat masakin buat lo. Dan sekarang udah gue bawain, jadi, please, hargai usaha gue dan nyokap yang sampai menyempatkan diri buat masak dan bawain ke sini. Jadi lo harus makan. Kalau lo nggak makan yang ada ntar lo malah sakit, nggak cukup apa emang ngerasain badan sakit?"


"Hati gue bahkan ikutan sakit, Na."


"Lah, bukannya lo udah baikan sama Olive?"


Malvin menggeleng tidak yakin. "Enggak tahu, Na. Gue pusing."


"Bukannya udah nggak ada masalah sama kepala lo? Kemarin hasil pemeriksaan lanjutan bagus kan?"


"Bukan pusing karena itu, Na, tapi hubungan gue sama Olive."


Ayana terlihat tertarik. Ia tidak jadi membongkar rantang bawaannya, ia kemudian memilih menarik kursi untuk ia duduki dan siap mendengar cerita Malvin.


"Kenapa emang? Coba cerita sama gue."


"Gue pengen move on."


"Dari dokter Yasmin?" tebak Ayana dengan kedua mata melototnya, "lo belum sepenuhnya move on tapi berani ngajakin anak orang jalin hubungan?"

__ADS_1


"Gue ajak dia jalin hubungan biar gue move on, Na."


Ayana mendengus tidak percaya. "Terus sekarang lo udah move on?" sindirnya kemudian.


Malvin berdecak. "Enggak semudah itu lah, Na," sahutnya tidak terima.


Ayana langsung tertawa sinis sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kalau lo tahu emang nggak semudah itu, harusnya lo nggak ambil keputusan nekat ini. Olive terlalu baik untuk lo libatkan dalam kisah rumit lo, Vin. Gue nggak terima."


Kali ini Malvin terlihat kebingungan saat hendak membalas kalimat Ayana. Perasaan bersalah hinggap dalam dirinya, perempuan ini benar. Tidak seharusnya ia melibatkan Olive dalam kisah rumitnya. Sekarang ia menyesal.


"Gue beneran bakal ngamuk lo kalau sampai Olive udah jatuh cinta sama lo, sementara lo masih belum move on darip dokter Yasmin."


"Gue lagi berusaha, Na."


Ayana frustasi sendiri. "Lo bener-bener ya, Vin, gue nggak ngerti sama jalan pikir lo yang begini. Lo sama sekali nggak ada rasa suka gitu sama Olive?"


"Perasaan lebih dari sekedar suka gimana?"


Kali ini Malvin diam. Ayana mengumpat samar. Ia kehilangan kata-kata untuk sekedar berkomentar.


"Sekarang gue nggak tahu harus komentar apa, Vin."


"Lo nggak bisa bantu gue?"


"Kalau lo-nya sendiri nggak ada usaha buat move on, gue bisa bantu apa sih, Vin?"


Malvin menggeleng tidak terima. "Gue bukan nggak ada usaha buat move on, Na. Tapi emang nggak segampang itu, lo nggak ngerti rasanya gagal move on."


Ayana diam. Ia menghela napas panjang. Suasana mendadak hening, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Baru tak lama setelahnya Ayana membuka suara.

__ADS_1


"Kalau gitu selesaikan masalah lo sama dokter Yasmin dulu, mungkin lo masih butuh penjelasan lebih dari dia sebelum nanti melangkah sama Olive."


"Gue bahkan nggak tahu dia sekarang di mana, Na," sahut Malvin.


"Usaha cari lah!"


"Udah, bahkan gue rela dimanfaatin Ailee demi dapet info di mana Yas--"


Tunggu sebentar, sepertinya ia teringat sesuatu. "Na, kayaknya gue tahu harus nanya ke siapa."


Ayana menaikkan sebelah alisnya. "Siapa?"


"Ailee."


Ayana menatap Malvin tidak yakin. "Menurut lo dia bakalan mau kasih tahu lo keberadaan sang kakak?"


Malvin mengangguk optimis. "Kemarin sebelum kecelakaan Ailee mau kasih tahu gue. Dia nemuin gue demi kasih tahu gue soal ini."


"Terus kondisinya sendiri gimana? Maksud gue kan katanya luka dia cukup serius. Menurut lo dia bisa lo tanyain soal ini?"


Malvin terlihat tidak yakin. Pria itu menggeleng lemah setelahnya. "Tapi gue mau coba dulu liat keadaan dia, toh, semenjak kecelakaan gue belum jenguk dia."


Ayana berdecak. "Kondisi lo juga masih perlu dijenguk soalnya, Vin. Jadi nggak papa."


"Tapi gue nggak enak, kita kecelakaan gegara gue, soalnya gue yang bawa mobil."


Ayana menatap Malvin ragu-ragu. "Kalian ngobrolin apa sih sampai lo nggak fokus dan bisa kecelakaan separah ini?"


Bukannya menjawab Malvin malah diam saja. Hal ini menimbulkan kecurigaan dari Ayana. Mendadak ia merasa penasaran.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2