Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 35


__ADS_3

***


Malvin merasakan seluruh tubuhnya terasa seperti ingin remuk, saat ia membuka mata. Ia memperhatikan ke sekeliling arah, ruangan VVIP super mewah yang hanya ditempati dirinya seorang. Kepalanya pusing, ia ingin mengomel dan juga marah-marah. Bagaimana bisa sang Mama tidak menunggunya saat dirinya tengah terkapar tidak berdaya di sini?


"Udah bangun?"


Entah kenapa rasanya Malvin ingin menangis saat menemukan wajah datar Saga.


"Bang," panggilnya dengan suara lemah.


Dengan gerakan sigap Saga langsung meraih botol air minum beserta sedotannya, lalu mendekatkan pada bibir keringnya.


"Thanks, Bang."


Kali ini Malvin benar-benar menitihkan air matanya. Ia merasa terharu dengan perlakuan Saga, mungkin kalau ia tidak bersahabat baik dengan Ayana, ia tidak akan pernah mendapat perhatian seperti sekarang. Dulu saat ia kecil, kalau dirinya sakit pasti yang mengurusinya perawat rumah sakit, tapi setelah ia mengenal Ayana, keluarga Ayana lah yang akan bergantian menjaganya.


Saga tidak bisa menahan kerutan di dahinya saat menyadari kedua pipi basah pria itu. Tanpa repot-repot bertanya, Malvin langsung menjawabnya.


"Gue terharu, Bang, lo kok mau nungguin gue? Nyokap gue aja sibuk sama pasiennya, kok lo masih bisa sempetin jagain gue?"


Saga menghela napas lalu meraih selembar tisu. Niatnya ia ingin membantu Malvin mengusap bekas air mata pria itu, tapi Malvin menolak.


"Gue bisa... Akhh, eh, buset, kok sakit banget, Bang?"


Malvin menatap Saga dengan tatapan shocknya.


Saga kemudian sedikit menurunkan lengan baju pasien Malvin, bermaksud menunjukkan kalau bahu pria itu terluka yang dibalut gips.


"Apa ini, Bang?" tanya Malvin dengan raut wajah cemasnya.


"Gips."


Malvin berdecak kesal, tapi di sisi lain ia ingin tertawa juga. "Maksud gue kenapa gue digips segala? Emang ada yang patah?"


Saga menggeleng. "Geser."


Sejujurnya Malvin ingin tahu lebih detail tentang kondisinya, tapi jawaban minim pria ini membuatnya kesal. Jadi berhubung ia malas emosi, lebih baik ia diam saja lah. Baru kemudian ia teringat dengan Ailee.


"Bang," panggil Malvin tiba-tiba.


"Hm?"


Sekarang Malvin bingung bagaimana harus bertanya.


"Em, gimana ya gue nanyanya." Malvin terlihat salah tingkah dan bingung saat hendak bertanya.


"Dia baik-baik saja."


"Hah?" Malvin melongo bingung, "siapa yang baik-baik aja?"


"Cewek lo."

__ADS_1


"Cewek gue? Siapa, Bang?" tanya Malvin dengan wajah bingungnya.


"Amnesia?"


Malvin berpikir sebentar. Ia langsung ber'oh'ria saat menyadari siapa yang Saga maksud.


"Oh, Olivia maksud lo, Bang?"


Saga tidak berkomentar apapun, pria itu hanya menatap Malvin dengan kedua mata tajamnya. Hal ini membuat Malvin salah tingkah.


"Bang, lo jangan bikin gue takut deh."


Saga belum bereaksi lalu menghela napas pendek. "Mobil lo ringsek, jadi nggak mungkin dia baik-baik aja," ucapnya kemudian.


Wajah khawatir terlihat jelas pada wajah Malvin. "Separah apa luka dia, Bang?" tanyanya harap-harap cemas. Kalau saja ia tidak melamun kala itu, mungkin mereka tidak akan mengalami kecelakaan.


Always, penyesalan selalu datang belakangan.


"Masih di ICU," jawab Saga singkat.


"Gue mau liat dia boleh nggak, Bang?"


"Lo juga baru keluar dari ICU, Vin, semalam kalian masih satu ruangan pas di ICU. Kebetulan lo duluan yang dipindahin ke kamar inap biasa. Jadi belum bisa kalau semisal lo mau ke sana."


Malvin tidak bisa menahan seruan takjubnya saat mendengar kalimat panjang lebar milik Saga.


Saga tiba-tiba mengangguk. "Lo emang nggak keliatan kayak orang abis kritis dan baru keluar dari ICU."


Saga tidak membalas, pria itu hanya menatap pria yang ada di hadapannya dengan ekspresi andalannya.


"Baru kenal?"


Sambil meringis, Malvin menggeleng. Tak lama setelahnya pintu ruang inapnya terbuka. Muncul lah Olivia dan juga Ayana.


Malvin mendadak merasa sungkan saat melihat Olivia dengan kedua mata memerahnya. Terlihat sekali kalau gadis itu sedang berusaha menahan tangisnya.


"Liv, lo nangis?" tanya Malvin khawatir. Ia ingin sekali memeluk gadis itu atau sekedar menghapus air matanya yang hendak jatuh, tapi apa daya mengingat kondisinya yang begini, jadi ia tidak bisa melakukannya.


"Lo?" beo Ayana dengan ekspresi tidak percayanya.


Ia menaikkan sebelah alisnya heran sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Pandangannya terlihat tidak begitu bersahabat. Sorot matanya terlihat seolah sedang bertanya. 'maksudnya apaan lo masih pake lo-gue lo-guean segala?'. Tapi kemudian ia tersadar, kalau Olivia kemarin sempat cerita kalau Malvin memang masih sering memakai lo-gue saat mereka mengobrol. Dan fakta ini membuatnya bertambah kesal.


Malvin mendengus sinis. "Apaan sih?" pandangannya kemudian kembali beralih pada Olivia, "maaf, ya, Liv, aku pengen bantu kamu hapus air mata kamu sebenernya. Tapi gue masih susah gerak, badan aku sakit semua."


"Enggak papa, Mas, aku masih bisa sendiri kok kalau cuma hapus air mata." cepat-cepat Olivia mengusap kedua pipinya menggunakan telapak tangan, lalu dengan peka Saga menyodorkan tisu untuk perempuan itu, "makasih, Mas."


Saga tidak menjawab, pria itu hanya mengangguk untuk mengiyakan.


"Oh iya, aku baru inget, kamu udah sembuh belum flu-nya? Demamnya gimana? Masih demam nggak?"


"Udah, Mas, aku udah sembuh kok, udah nggak demam. Udah nggak flu juga, semalem aku bahkan udah masak buat kita makan malam cuma aku malah ketiduran."

__ADS_1


Malvin meringis dengan ekspresi bersalahnya. "Maaf ya."


Olivia menggeleng. "Aku yang harusnya minta maaf, Mas, kamu kecelakaan gara-gara aku ya?"


Malvin menggeleng cepat. "Enggak, enggak kok, astagfirullah, kamu kenapa mikir gitu sih, Liv? Ini emang murni kecelakaan karena gue yang lalai, nggak ada hubungannya sama kamu. Jadi kamu jangan nyalahin diri kamu ya, gue nggak suka."


"Konsisten dikit kenapa sih, Vin?" sindir Ayana tiba-tiba, "kalau aku-kamu, ya aku-kamu, jangan dicampur lo-gue segala," dengusnya kemudian.


Malvin menatap perempuan itu sinis. "Suka-suka gue lah. Lo nggak usah sirik."


"Najis banget gue sirik sama lo," dengus Ayana lalu mengajak sang suami untuk segera keluar. Selain ingin membiarkan keduanya menikmati waktu berduanya, ia juga malas berada di sana lama-lama. Apalagi kalau pria itu sedang dalam mode mengajak ribut seperti barusan.


***


"Mas, laper," rengek Ayana sambil memanyunkan bibirnya manja.


Mereka sudah lumayan jarang menikmati momen berdua mereka, alhasil Ayana lama tidak bermanja-manja dengan sang suami. Setelah melahirkan dan sibuk mengurus putri kecil mereka, bermanja-manja sulit sekali ia lakukan. Boro-boro mau bermanja-manja, suaminya yang datar ini sering kali membuatnya emosi karena tampang datarnya.


Saga tidak membalas dan hanya mengeluarkan dompetnya dari dalam kantong lalu menyerahkan pada sang istri. Tidak ada kalimat yang terlontar dari mulut pria itu. Mulutnya bahkan masih tertutup rapat.


Bibir manyun Ayana makin manyun karena sikap menyebalkan sang suami. Bagi sebagai sebagian orang memang sudah cukup saat diberi dompet oleh sang suami, tapi bagi Ayana jelas saja kurang.


"Apa susahnya ngajakin istri makan dulu sih, Mas?"


Lagi-lagi tanpa mengeluarkan suara, Saga menunjukkan jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan pria itu.


"Bentar lagi visit."


Ayana berdecak kesal. "Kan masih bentar lagi, Mas, masih ada waktu loh ini, ayo temenin aku makan dulu kenapa sih? Kamu nggak khawatir kalau semisal aku pingsan?"


"Malah gampang."


Ayana melotot tidak percaya. "Maksud kamu?"


"Mumpung di rumah sakit."


Ayana melongo tidak percaya. Tunggu, sebentar, suaminya ini sedang bercanda kan? Tapi kalau bercanda kenapa ekspresinya terlihat begitu serius?


"Bercanda," ucap Saga pada akhirnya, tapi Ayana masih menampilkan wajah tidak percayanya.


"Mas, kamu bisa nggak sih kalau lagi bercanda dicampur senyum gitu loh jangan serius-serius banget. Orang mikirnya kamu nggak lagi bercanda tahu," decak Ayana sebal.


Entah sudah berapa kali ia menasehati suaminya demikian, tapi tetap saja sang suami tidak bisa menurut.


"Kita nikah berapa tahun, Yan?"


Ayana berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Ini bukan perkara kita udah nikah berapa tahun, Mas, tapi..." ia kembali berdecak, "udah lah, aku mau nyari makan. Terserah kamu mau ngapain."


Dengan wajah cemberutnya, Ayana pergi meninggalkan sang suami begitu saja. Sejujurnya ia masih berharap sang suami akan menyusul, tapi harapan hanya tinggal harapan, pria itu memilih langsung bergegas untuk melaksanakan kegiatannya daripada memilih menemani sang istri.


Terkadang memang menyebalkan ini lah sang suami.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2