
______________________________________
Saga langsung mendesah berat saat baru membuka ponsel dan menemukan chat yang Jaka kirimkan. Ia baru saja menyelesaikan visit sorenya, baru hendak melipir ke mushola untuk melaksanakan salat Ashar, karena nanti jam 4 sore ada jadwal operasi. Dan yang jadi masalah sekarang ini adalah baik Jaka dan keluarganya belum ada yang tahu tentang gagalnya hubungan dirinya dengan Ayana. Bukan tanpa alasan, ia masih malas menjelaskan kepada mereka atau sekedar menjawab kekepoan mereka tentang gagalnya hubungan ia dan Ayana. Saga dan sifat malas ribetnya sungguh sulit terpisahkan.
"Dokter Saga, jadi ke mushola dulu kan?"
Saga langsung menoleh ke arah dokter residen yang tadi menemaninya visit pasien.
"Duluan! Saya telfon sebentar. Nanti saya nyusul."
"Baik, dok, kalau begitu saya tunggu di mushola ya."
Saga hanya mengangguk sebagai respon. Karena fokusnya kini sedang mencoba menghubungi Jaka. Panggilannya tidak segera dijawab, padahal tadi sebelum ia menelfon statusnya online. Saga curiga kalau sebenarnya Jaka sengaja tidak langsung menjawab panggilannya.
Butuh menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan Saga terjawab.
"Ya, halo? Assalamualaikum, Mas-nya aku. Ada--"
"Gue skip," potong Saga cepat dan langsung pada inti.
Di seberang, Jaka jelas langsung merespon dengan decakan sebal. "Jawab dulu kek salam gue, Mas--"
"Wa'allaikumussalam. Gue skip," potongnya sekali lagi.
Saga memang hobi sekali memotong kalimatnya.
"Enggak bisa dong, Mas, lo tahun kemarin udah skip nggak ikut masa sekarang skip lagi? Jangan lah, ajak Yana. Udah beres.
Saga mendesah. "Gue ada operasi."
"Jam berapa?"
"4."
"Masih bisa diatur, Mas, nanti kita mulai acaranya nunggu lo kelar operasi."
"Kelarnya nggak pasti, Ka."
"Ya, enggak papa. Estimasi kelar jam berapa?
"Isya'."
"Paling lama?"
"Cepet."
"Terus paling lamanya?"
"9, 10."
"Jangan bercanda dong, Mas!" decak Jaka sebal, "udah, nggak usah kebanyakan alasan! Begitu kelar operasinya, langsung pulang ke rumah."
"Enggak janji."
Terdengar decakan dari seberang. "Di antara kita bertiga yang paling jarang pulang itu lo, Mas, masa di hari spesial Ibu sama Ayah lo nggak pulang juga. Plis, pulang lah, Mas! Mereka kangen lo juga kali."
__ADS_1
Saga berdecak serba salah. "Kan gue sibuk, Ka. Next time aja."
"Kalau nurutin sibuk enggak akan ada abisnya kali, Mas. Selain itu kita semua juga sibuk kali, enggak lo doang. Tapi yang namanya quality time bareng keluarga itu juga penting. Hidup perlu seimbang, Mas, jangan ngurusin kerjaan doang. Ya, oke, pekerjaan lo emang mulia. Tapi lo juga jangan lupa memuliakan kedua orang tua dan keluarga lo sendiri lah."
Kalau ceramah panjang lebar Jaka sudah keluar begini, Saga tidak bisa berkutik dan hanya bisa mengiyakan dengan nada ogah-ogahan.
"Ya, udah, iya. Gue tutup."
Klik. Tanpa menunggu jawaban Jaka, Saga langsung menutup sambungan telfonnya sepihak. Ia tidak peduli jika di seberang sana, mungkin sang adik sedang misuh-misuh tidak jelas. Telinganya sudah keburu panas karena terlalu banyak mendengarkan adiknya itu berbicara.
Saga kemudian memasukkan ponsel kembali ke saku, berniat kembali melangkahkan kakinya menuju mushola. Namun, mendadak tidak jadi karena ponselnya kembali bergetar. Nama Jaka yang kembali terlihat pada layar. Dengan perasaan sedikit enggan, ia menjawab panggilan tersebut.
"Ada--"
"Gue yang matiin telfon," potong Jaka tiba-tiba. Dan yang membuat Saga bertambah bingung, sambungan telfonnya langsung terputus.
Adiknya ini sedang mengerjainya? Dasar kurang ajar.
Tidak ingin terlalu ambil pusing, Saga kemudian melangkahkan kakinya menuju mushola. Ia bisa terlambat masuk OK nanti kalau tidak segera melaksanakan ibadahnya.
Saat tiba di mushola yang ada di rumah sakit, dokter residen yang akan menjadi asistennya saat melakukan operasi nanti, terlihat sudah selesai melaksanakan ibadah salat asharnya. Pria itu bahkan terlihat bersiap untuk meninggalkan mushola.
"Maaf, dok, saya duluan, soalnya harus bantuin yang lain nyiapin ruang operasi."
Saga mengangguk tidak masalah. "Kalau sudah siap, langsung kabarin."
"Baik, dok, kalau begitu saya permisi duluan."
Sekali lagi Saga mengangguk dan mempersilahkan.
______________________________________
"Ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya dateng juga," sambut Jaka langsung berdiri dan memeluk Saga, "gimana operasinya? Lancar?" basa-basinya kemudian.
Saga hanya mengangguk sekilas lalu menyapa Kakak dan Ayahnya.
"Gimana kabarnya, Ga?"
"Sehat, Yah."
Saga mencium punggung tangan Ayahnya. Lalu beralih pada Bara, keduanya berjabat tangan khas laki-laki lalu duduk bersebelahan dengan Bara.
"Ibu mana?"
"Di belakang nyiapin makan malem sama yang lain," sahut Jaka mewakili padahal jelas-jelas yang ditanya Bara, "Yana juga udah di sana."
"Apa lo bilang, Ka?" tanya Saga tidak terlalu yakin. Ia pasti salah dengar bukan?
"Yana, Mas. Calon istri lo udah bantu-bantu juga di belakang dari tadi sore malah. Sana temuin sekalian!"
Ekspresi tak yakin terlihat pada wajah tampan Saga. Karena masih tidak percaya, pria itu kemudian menoleh ke arah Bara, seolah meminta jawaban kalau apa yang dikatakan Jaka benar adanya.
Dengan ekspresi santainya, Bara kemudian mengangguk dan membenarkan.
Saga langsung berdiri dan bergegas menuju dapur dengan langkah tergesa-gesa. Ekspresinya terlihat seperti orang yang sedang menahan amarah sekaligus tidak percaya.
__ADS_1
Ekspresi tidak percaya makin terlihat pada wajah Saga, saat menemukan Ayana benar-benar berada di dapur keluarganya. Perempuan itu terlihat asik berbincang dengan Kakak ipar dan Ibunya, tangannya nampak sibuk mengaduk tumisan yang tidak Saga ketahui, karena fokusnya saat ini bukan itu.
Mencoba untuk bersikap tenang, Saga kemudian memilih menyapa mereka terlebih dahulu. Raut ekspresi Ayana langsung berubah tegang saat menyadari keberadaan Saga, ada perasaan bersalah juga yang dirasakan gadis itu.
"Boleh pinjem Yana sebentar?" tanya Saga setelah mencium punggung tangan sang ibunda tercinta.
"Lah kenapa tanya sama Ibu? Tanya sama orangnya langsung dong, Ga."
Saga langsung menatap Ayana. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gadis itu langsung mengangguk setuju.
Masih belum membuka suara, Saga langsung keluar dari dapur dengan Ayana yang mengekor di belakangnya.
"Mas Saga udah sehat?"
"Kita bicara di atas," balas Saga tidak nyambung. Menurutnya pertanyaan Ayana hanya sekedar basa-basi tidak penting. Karena sakitnya sudah sembuh hampir seminggu lebih.
"Hah?"
Mendengar kata di atas Ayana reflek menghentikan langkah kakinya. Saga yang menyadari itu ikut menghentikan langkah kakinya dan berbalik.
"Saya tidak mau pembicaraan kita didengar yang lain."
Ayana mengangguk paham. Saga kembali melanjutkan langkah kakinya dan Ayana kembali mengekor di belakang pria itu.
Saga membawa Ayana ke balkon. Sesampainya di sana, pria itu tidak langsung membuka suara. Berdiri membelakangi Ayana sambil memegang pembatas balkon. Sedangkan gadis itu berdiri di belakangnya. Ayana tidak memiliki cukup keberanian untuk berada di sisi Saga.
"Tolong penjelasannya," bisik Saga yang akhirnya membuka suara. Pria itu tidak menoleh, pandangannya masih menerawang ke sembarang arah.
Tak segera mendapatkan jawaban yang diinginkan, Saga akhirnya berbalik. Ayana menundukkan kepalanya, terlihat seperti seorang anak yang sudah siap dimarahi kedua orangtuanya.
"Aku minta maaf, Mas."
"Saya butuh penjelasan, bukan maaf," balas Saga dengan wajah tegasnya.
"Aku kepaksa, Mas."
"Siapa yang maksa?"
"Mas Jaka. Sumpah demi Allah aku tadinya udah nolak, Mas, tapi Mas Jaka terus-terusan maksa aku buat ke sini, tadi ada Ibu kamu juga, aku jadinya nggak enak. Apalagi kamu belum bilang yang sebenernya soal hubungan kita. Aku juga serba salah, Mas, asal kamu tahu. Aku bingung. Aku nggak tahu harus gimana. Tapi demi menghargai kebaikan Ibu kamu ya udah aku dateng ke sini, aku tahu keberadaan aku di sini ganggu kamu--"
"Sangat," sahut Saga cepat.
Ayana langsung kehilangan kata-kata. "Aku akan pergi sekarang juga, Mas, kalau emang keberadaan aku sangat mengganggu kamu."
"Setelah mengacaukan semuanya kamu mau pergi gitu aja?!"
Ayana spontan menghentikan langkah kakinya. "Lalu kamu mau aku gimana, Mas?!"
Saga menggeleng sambil menyugar rambutnya ke belakang. "Aku nggak tahu, Yan." Raut wajah frustasi sekaligus putus asa terlihat pada wajah lelahnya, "kamu bikin aku bingung. Aku nggak ngerti sebenernya mau kamu itu apa. Kalau kamu nggak mau sama aku, enggak seharusnya kamu bersikap begini. Jangan melakukan hal-hal yang membuatku berharap lebih dan kalau pun kamu mau sama aku, enggak seharusnya kamu sama pria itu, Yan. Kamu harus tahu posisi kamu, enggak seharusnya kamu berada di sini!"
Merasa seperti kehilangan kendali, Saga langsung meminta maaf. "Maaf, kamu bisa pulang," ucapnya berusaha tenang meski raut wajahnya terlihat gelisah.
Diusir secara terang-terangan, Ayana tidak punya pilihan selain pulang. Ia juga tidak ingin menyakiti pria itu lebih dari ini. Sudah cukup perasaan bersalahnya selama ini dan ia tidak berniat menambah perasaan tidak nyaman itu.
"Kalau begitu aku pulang duluan, Mas. Maaf untuk semuanya."
__ADS_1
Saga hanya mengangguk sebagai respon. Kakinya terlalu berat untuk melangkah dan mengantar gadis itu meski hanya sekedar sampai depan. Perasaannya sekarang terlalu sulit untuk dikendalikan. Ia tidak ingin menjadi lebih hilang kendali.