
"Permisi, dok, mau nanya pasien."
"Atas nama siapa ya, Mas?"
Ayana langsung menghentikan kegiatan menulisnya dan mendongak. Ia tidak dapat menahan keterkejutannya saat menemukan Aska yang ternyata sedang berdiri di hadapannya, tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Loh, Aska? Kok bisa di sini? Siapa yang sakit?" Reflek Ayana langsung berdiri.
Pria itu menggeleng sambil garuk-garuk rambut salah tingkah. "Hehe, enggak ada sih sebenernya, cuma ngetes aja tadi. Lo lagi sibuk banget ya?"
Ayana menggeleng sambil mengutak-atik ponselnya, mencari tahu barang kali Aska tadi sempat mengiriminya pesan dan bilang mau mampir tapi dianya tidak tahu.
"Enggak sih, biasa aja, emang kegiatan gue gini-gini aja. Tumbenan mampir nggak kasih kabar dulu?"
Ia kembali meletakkan ponselnya dan menatap Aska penasaran. Enggak biasanya pria itu langsung menghampirinya begini tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Kebetulan lewat aja sih di depan, terus ya udah, mampir sekalian gitu."
Ayana menyipitkan kedua matanya tidak yakin. Karena nada bicara pria itu terdengar tidak seperti biasanya.
"Oh. Emang abis dari mana?"
"Kantor."
Ayana langsung melirik jam tangannya. "Oh, udah jam pulang kantor ya? Mau ke mana emang abis ini?"
"Ketemu lo."
"Mau ngajak keluar? Sorry, Ka, gue nggak bisa, kan hari ini gue shift sore, pulangnya nanti jam 9. Tapi kalau lo mau ngajak gue ngobrol bentar bisa sih." Ayana menatap Aska ragu-ragu, "jadi lo ke sini mau ngapain?"
"Ngobrol bentar yuk sama gue?"
Ayana mengangguk senang lalu menepuk pundak salah satu perawat duduk di sampingnya, "gue ngobrol dulu sama temen gue ya, Mbar. Nanti kalau ada pasien langsung panggil, ya. Gue pake ruang jaganya bentar."
"Siap, dok."
"Thanks." Ayana kemudian beralih pada Aska, "yuk, Ka, kita ngobrol di tempat lain."
"Di mana?"
"Ruang jaga."
"Emang gue boleh masuk?"
__ADS_1
"Boleh, kan sama gue. Yuk, ah, nanti keburu ada pasien."
Dengan tidak sabaran Ayana menarik tangan Aska, dan mengajak pria itu masuk ke dalam ruang jaga yang biasa dipakai dokter jaga. Kebetulan kali ini ruangan sedang sepi karena semua sedang sibuk dengan tugas masing-masing.
"Ini seriusan nggak papa kita di sini? Ini kan juga masih jam kerja lo, Na."
"Nggak papa, Ka. Tenang aja, kok. Aman. Santai. Kan kebetulan lagi nggak ada pasien juga."
Aska mengangguk paham. "Ya kan gue cuma nggak mau lo kena masalah gara-gara gue, Na. Gue soalnya belum sanggup untuk biayai hidup lo," cengirnya kemudian.
"Enggak papa, duduk dulu. Lo mau minum apa?"
Aska menarik kursi dan duduk di sana. "Air putih aja deh biar sehat, kan lagi di rumah sakit," candanya sambil memamerkan senyum terbaiknya.
"Kita ada teh atau kopi kok, Ka. Berbagai merk, lo mau apa?" Ayana kemudian menunjukkan kopi sachet beda merk, "mau yang merk ini atau ini? Atau yang ini aja?"
"Air putih, Na."
Ayana mengangguk paham. "Oke, air putih." Dengan gerakan gesit, ia kemudian meraih gelas dan mengambil air mineral dari dispenser.
"Thanks," ucap Aska saat menerima air minum itu. Tanpa dipersilahkan pria itu langsung menegaknya hingga tandas.
"Haus banget, Pak?" goda Ayana langsung berdiri, "gue ambilin lagi ya?"
Ragu-ragu Ayana kembali duduk. "Jadi, ada apa?"
Raut wajah Aska berubah tegang, terlihat sekali kalau pria itu merasa tidak nyaman. Seperti gelisah dan ada yang mengganggu pikirannya.
Ragu-ragu Ayana menyentuh pundak Aska. "Ka," panggilnya hati-hati.
Aska menoleh. "Hm?"
"Lo lagi ada masalah ya?"
Sambil memaksakan senyumnya, Aska mengangguk. "He em."
"Mau cerita?"
"Gue bingung."
Ayana mengangguk paham sambil menepuk pundak Aska sekali lagi. Ia tidak ingin memaksa pria itu jika memang pria itu tidak mau bercerita dengannya. Ia paham.
"Enggak papa, Ka, kalau lo nggak mau cerita. Gue nggak akan maksa."
__ADS_1
Aska mendadak diam. Kepalanya menunduk dalam diiringi helaan napas panjang. Dialihkan pandangannya ke sembarang arah, mencoba menghindari kontak mata dengan perempuan yang kini tengah menatapnya penuh rasa khawatir.
Jujur Aska tidak menyangka kalau Ayana tipe perempuan yang seperhatian dan seperduli ini. Padahal mereka belum mengenal terlalu.
"Ka, gue harus gimana biar lo nggak begini?"
"Kita ini apa sih, Na?" potong Aska tiba-tiba dan balik bertanya. Ia memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Ayana, "lo anggep apa sih gue ini di hidup lo?"
Sorot matanya terlihat lain, seperti sedang menunjukkan betapa kecewanya pria itu.
Ayana speechles. Ia kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu harus merespon pertanyaan pria itu dengan jawaban apa. Ia bingung. Apakah ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya?
Di tengah kebingungan Ayana, tanpa terduga, Aska tiba-tiba tertawa miris. "Gue bego banget ya, Na? Harusnya gue sadar diri, gue ini siapa, lo siapa, dan Mas Saga itu siapa."
Mas Saga? Beo Ayana dalam hati. Kok Aska kenal Mas Saga? Batinnya bertanya-tanya.
"Lo kenal Mas Saga dari mana, Ka?"
Aska melirik Ayana. "Gue kerja di perusahaan bokapnya, Na. Gue jelas nggak mungkin nggak tahu anaknya bos gue, meski dia jarang, yang nyaris nggak pernah ke kantor." Ia menghela napas sambil mengalihkan pandangannya menghindari kontak mata langsung dengan Ayana, "dan kemarin gue lihat lo di nikahan Mas Jaka. Jujur, gue kecewa banget sama lo. Tapi di sisi lain gue sadar, di sini gue yang bego."
Wajah Ayana berubah pias. "Jadi kemarin lo juga di sana?" Ia membekap mulutnya dengan ekspresi tidak percaya. Terkejut jelas tengah ia rasakan.
"Iya. Lo kenapa bisa bohong sama gue sih, Na? Motif lo apa lakuin ini ke gue? Salah gue apa?"
Ayana menggeleng cepat. "Enggak, lo nggak salah apa-apa, Ka. Ini semua nggak seperti apa yang lo pikir. Gue sama Mas Saga itu cuma..."
"Cuma apa?"
"Gue..."
"Kecewa, Na," sambung Aska dengan dan putus asanya, "kecewa banget gue sama lo."
"Harusnya dari awal gue tuh nggak ngedeketin lo, Na. Harusnya lo juga nggak kasih celah buat gue masuk ke hidup lo. Kalau gue udah terlanjur suka sama lo begini, gue harus gimana, Na?" Aska menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi, "gue jelas nggak mungkin ngalahin Mas Saga. Dia terlalu lebih segalanya dibandingkan gue yang nggak punya apa-apa."
Ayana ikut berdiri dan menyentuh lengan pria itu. "Gue sama Mas Saga nggak ada hubungan apa-apa, Ka, tolong percaya sama gue! Gue mohon!"
"Gue nggak sebodoh itu, Na! Lo bahkan akrab sama keluarga mereka, dan kemarin hampir semua tamu undangan ngomongin kalau lo itu calon istrinya Mas Saga. Dan lo masih berani bilang kalau lo nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Saga?" Aska langsung tertawa sinis, "omong kosong macem apa itu, Na?" Ia menggeleng tegas, "enggak, gue nggak bisa ketemu lo lagi. Gue nggak bisa terluka lebih dari ini. Gue suka sama lo, Na, gue sayang sama lo. Sorry, Na, mulai sekarang jangan pernah hubungi gue lagi, karena gue juga nggak akan hubungi lo lagi. Udah cukup seneng-senengnya, Na, lo harus kembali ke tempat asli lo dan itu nggak bareng gue."
Setelah mengatakan itu, Aska memilih langsung keluar dari ruangan. Sedangkan Ayana mematung di tempat dengan ekspresi masih shocknya. Jadi, Aska juga memiliki ketertarikan terhadapnya? Jadi perasaannya terbalas? Tapi ia tidak bisa berbahagia karena justru Aska sedang salah paham terhadapnya. Dan itu cukup membuatnya frustasi.
Tok Tok Tok
"Permisi, dok, ada pasien kecelakaan lalu lintas yang mau on the way ke sini, kita diminta siap-siap!"
__ADS_1
Ayana mendesah berat sambil meraup wajahnya lalu berdiri dan keluar dari ruangan. Demi profesionalitas, ia jelas harus melupakan perasaan frustasinya bukan?