Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Curhatan Aska


__ADS_3

Mengikuti saran Malvin Ayana mencoba memanfaatkan quality time dengan sang kekasih sebaik-baiknya. Setiap ada kesempatan ia akan mengajak pria itu untuk pergi bersama. Namun, hari ini ia merasa heran dengan sikap Aska yang terlihat tidak seperti biasa. Hari ini kekasihnya itu lebih banyak diam, padahal biasanya cerewet dan berisiknya minta ampun. Apalagi kalau sedang di mobil begini, kekasihnya ini biasanya akan menyanyi sepanjang perjalanan, tapi kenapa hari ini pria itu mendadak lebih banyak diam dan anteng? Aneh. Sedang ada masalah kah kekasihnya ini?


"Ka," panggil Ayana memecah keheningan.


Aska langsung menoleh sekilas. "Hmm," responnya seadanya.


"Kamu kenapa sih? Tumben nggak berisik atau nyanyi-nyanyi kayak biasanya?" tanya Ayana heran.


Aska menggeleng. "Lagi pusing."


"Sakit?" tanya Ayana khawatir, tangannya kemudian terulur, menyentuh leher Aska kemudian beralih pada pipi pria itu.


Tidak demam. Batin Ayana.


"Enggak, sayang," balas Aska sambil memamerkan senyuman terbaiknya, "bukan pusing yang itu," sambungnya kemudian. Tangannya kemudian menggenggam telapak tangan Ayana yang tadi menyentuh pipinya, lalu mencium punggung tangan sang kekasih, "tapi pusing karena... nanti deh aku cerita kalau kita udah sampai di apartemen aku."


Ayana langsung mengangguk paham dan tidak bertanya lebih. Pandangannya kembali fokus ke depan dengan telapak tangan yang masih berada dalam genggaman Aska.


"Foto dong," pinta Aska tiba-tiba.


Ayana langsung menoleh ke arah Aska dengan ekspresi bingungnya. Sebelah alisnya terangkat. Aska emang orangnya sedikit random, tapi ia tidak menyangka kalau hari ini kerandomannya akan kambuh.


Sambil memamerkan senyumnya, Aska mengangkat tangan yang masih setia menggenggam telapak tangan gadis itu.


"Buat?" tanya Ayana merasa heran.


"Diposting di sosmed," cengir Aska.


Ayana langsung mendengus dan mencibir, "Alay."


"Iiih, kok alay? Ya enggak dong, sayang. Romantis tahu," balas Aska tidak setuju.


Ayana menggeleng tegas. "Enggak ah," tolaknya kemudian, "norak tahu."


"Enggak, sayang. Enggak norak lah. Romantis tahu, emang kamu nggak pengen gitu sosmed kita dipenuhi foto-foto kita?"


"Dih, malah makin-makin. Enggak. Ogah sih aku, pacaran itu tentang aku dan kamu yang menjadi kita, ngapain sih diumbar-umbar gitu?"


"Ya, biar seluruh dunia tahu kalau kamu itu punyanya aku lah."


"Terus kenapa kalau dunia nggak tahu kalau aku punya kamu? Emang masalah? Enggak kan?"


"Ya, emang enggak. Cuma emang kalau dunia tahu kamu punya aku, bagi kamu itu jadi masalah?"


Ayana berdecak kesal. "Kok jadi ke arah sana?"

__ADS_1


"Ya abis kamu ngajakinnya ke sana," balas Aska tidak mau kalah.


Ayana memilih diam. Aska melirik sang kekasih sedikit takut-takut.


"Jadi mau apa enggak?"


"Enggak lah," tolak Ayana cepat, "alay, Ka."


"Enggak, sayang."


"Iya, sayang."


"Enggak."


"Iya."


"Enggak," kekeuh Aska dengan jawabannya. Kedua matanya pura-pura melotot tidak suka.


Ayana menghela napas panjang. "Ini kita mau debat sampai apartemen kamu?" tanyanya dengan ekspresi datar.


"Ya kalau kamu ngajak, kenapa enggak? Aku sih yes, nggak tahu Mas Anang."


Ayana langsung mendesah berat sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya ia mulai menyesal karena sudah terlalu khawatir dengan sang kekasih.


"Sebahagia kamu deh, Ka. Terserah. Lakuin apa yang kamu suka."


"Iya."


"Lampu merah depan nanti aku minta sesuatu."


Ayana langsung menyipitkan kedua matanya curiga. "Apaan?"


Bukannya menjawab, Aska malah memonyong-monyongkan bibir sambil menaikkan alisnya naik turun.


Ayana loading sebentar, lalu setelah paham, ia langsung melotot tajam ke arah sang kekasih.


"Ya, enggak gitu dong, sayang, konsepnya."


Aska tertawa sebentar. "Loh kenapa? Katanya terserah aku? Ya, berarti suka-suka aku dong? Iya kan?"


"Iya."


Mendengar jawaban Ayana, raut wajah Aska langsung berbinar cerah. "Serius boleh nih?"


"Enak aja, ya enggak lah. Langsung aku aduin Bang Tama kalau kamu berani."

__ADS_1


Aska langsung menggeleng cepat. "Enggak jadi deh kalau gitu. Soalnya kalau itu aku takut, sayang. Enggak berani. Langsung mundur teratur aku."


Kali ini giliran Ayana yang tertawa. "Kamu kenapa sih takut banget sama Bang Tama?" tanyanya heran.


Menurut Ayana, meski sebenarnya Tama itu nyebelin dan kadang-kadang sedikit galak, tapi menurutnya tidak semenyeramkan itu deh untuk sampai ditakuti sang kekasih.


"Ya menurut kamu aja dong, sayang, Bang Tama itu kayak nggak suka gitu sama aku. Gimana aku nggak takut, mana keliatan banget lagi kalau nggak sukanya. Iya, aku ngerti, Mama kamu juga sebenernya lumayan agak keliatan nggak suka juga sama aku, maksud aku, belum mungkin, ya, tapi tetap aja seenggaknya kalau beliau nggak terlalu keliatan, sayang, kalau nggak suka sama aku. Seenggaknya beliau masih berusaha menghargai aku. Beda banget sama Bang Tama, jadi bawaannya serem gitu. Kira-kira aku harus ngapain sih biar Abang kamu itu nggak terlalu nggak suka sama aku?"


Aska sudah mulai kehilangan akal hanya untuk meluluhkan hati sang calon kakak ipar.


Ayana mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Karena sampai sekarang ia belum tahu apa yang harus ia lakukan agar Abangnya itu menerima Aska dan kembali akrab dengannya. Sejak ia memutuskan untuk menolak Saga, hubungannya dengan Tama sedikit merenggang. Meski untuk kasus Saga sakit, pria itu masih mau diajak bekerja sama dan setelahnya Abangnya itu kembali seperti menjauhinya.


"Sabar ya, sayang," ucap Ayana sambil menepuk pundak Aska pelan, "mungkin Bang Tama perlu waktu, kita juga kok."


"Aku usahain, sayang. Jangan pernah tinggalin aku, ya. Aku sayang banget sama kamu."


"Aku juga."


***


"Jadi, masalah apa yang bikin kamu pusing?"


Keduanya kini sudah berada di apartemen Aska. Sedang bersantai di bed sofa yang ada di ruang tamu sambil menonton acara televisi, meski sebenarnya fungsi televisi itu sendiri hanya sekedar pajangan, karena keduanya bahkan tidak yakin dengan apa yang sedang mereka tonton.


"Adik aku."


"Kenapa sama mereka?"


"Kamu tahu kan adik aku kembar?"


Ayana mengangguk untuk mengiyakan. Tentu saja ia ingat, masa iya ia lupa dengan calon adik ipar.


"Mereka kan bentar lagi masuk perguruan tinggi."


Sepertinya Ayana dapat menebak ke arah mana pembicaraan Aska.


"Sebenarnya kalau masalah uang pendidikan, almarhum bokap udah nyiapin dana pendidikan. Sebagai seorang kakak, aku pun juga udah ikut nyiapin itu semua buat jaga-jaga. Tapi yang bikin aku pusing itu karena dua-duanya pengennya kuliah di luar kota. Yang satu pengen di Bandung terus yang satu pengen di Jogja. Menurut kamu aku sebagai kepala keluarga di rumah nggak pusing?"


Ayana tidak berani berkomentar dan hanya mengelus punggung sang kekasih. Berharap sedikit menenangkan pria itu.


"Maksud aku, tuh, gini, kalau kuliah di luar kota kan biaya hidup mahal. Uang makan, uang kost, transportasi dan lain-lain. Kalau cuma satu sih masih mending, lha kalau dua-duanya pengen kuliah di luar kota beda-beda begini siapa yang pusing? Aku kan, Na? Kok mereka nggak kasian sama kakaknya yang kerja banting tulang sampai begini?" Aska menghela napas sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Ayana, "mengingat kondisi keuangan keluarga aku yang nggak sebagus orang-orang, maksud aku itu ya, kuliah di mana aja nggak usah yang harus begini atau begitu, yang penting kuliah gitu lho. Lagian kalau mereka pada kuliah di luar, ibu aku kan jadi nggak ada temennya di rumah. Kasian. Masa harus aku juga yang jagain? Kan kesel. Udah aku yang kerja keras banting tulang kok adik-adik aku nggak ada yang bisa diandelin. Aku tuh kesel banget, Na, pusing. Mana mereka ngeyelan, kalau udah punya kemauan tuh susah dibujuk."


"Terus kakak kamu gimana?"


"Dulu dia kuliahnya juga di luar kota, jadi nggak bisa terlalu bantuin."

__ADS_1


"Ya udah, nanti coba kapan-kapan kamu ajak ngobrol adik kamu. Kasih tahu pelan-pelan siapa tahu mereka mau dengerin kamu. Atau kamu kasih tahu mereka, kalau beneran masih ngotot pengen kuliah di luar kota, harus pake beasiswa full, jadi kamu tinggal nanggung biaya hidup aja."


Aska langsung tersenyum cerah. "Makasih, sayang. Mereka nggak terlalu pinter, jadi aku rasa susah sih buat mereka bisa dapetin beasiswa full." ia kemudian langsung memeluk sang kekasih, "kamu emang yang terbaik, sayang. Pinter. Pantesan bisa jadi dokter. Hehe."


__ADS_2