Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Kesabaran Malvin Diuji


__ADS_3

Saat Ayana membuka mata, ternyata ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Pandangannya mengedar ke sekitar, hanya ada Malvin di sini, sedang menerima telfon yang entah dari siapa. Tapi kalau ia dengar dari obrolan mereka, sepertinya sih ngobrol dengan sang kekasih. Soalnya Ayana mendengar sebutan sayang dan aku-kamuan, kalau tidak sedang menelfon pacarnya siapa lagi coba?


Ingatannya kemudian kembali pada kejadian tadi siang. Reflek ia meraba perutnya sendiri, masih membuncit dan ia dapat merasakan tendangan si kecil. Ayana langsung bernapas lega setelahnya. Bayinya aman.


"Eh, lo udah bangun, Na? Gimana? Tidurnya nyenyak?"


Bukannya menjawab pertanyaan Malvin, Ayana malah balik bertanya sambil celingukan mencari keberadaan anggota keluarganya yang setidaknya salah satu harusnya ada di sini, dan bukan hanya ada Malvin doang.


"Kenapa cuma ada lo di sini?" tanya Ayana.


"Nyokap lo barusan banget dari sini. Sekarang gantian jagain bokap lo, btw, bokap lo udah sadar, kondisinya bagus. Abang lo baru pulang sih sore tadi, terus mertua lo tadi siang langsung ke sini kok begitu tahu lo pendarahan dan pingsan."


Ayana manggut-manggut paham lalu melirik Malvin. Pria itu langsung mengangguk saat paham maksud dari lirikannya.


"Oh iya, sampe lupa, laki lo kerja. Ada operasi baru masuk ruang operasi tadi sore, paling setengah jam-an lagi selesai sih harusnya. Kenapa lo butuh sesuatu?"


"Yang gue butuhin nggak bisa lo kasih juga."


Malvin menyipitkan mata curiga. "Lo baru tadi siang pendarahan, Na, masa udah mikirin jatah?"


"Sembarangan! Bukan itu maksud gue," amuk Ayana kesal. Rasanya ia gemas sekali ingin melempar pria itu dengan benda tumpul karena sikap menyebalkannya.


Malvin masih memasang wajah sok polosnya, padahal otaknya sudah traveling kemana-mana. "Lha terus? Sesuatu yang lo butuhin tapi gue nggak bisa penuhin? Jatah kan?"


"Otak lo!"


"Lo butuh otak gue?"


Ayana menarik napas panjang. "Kata gue mending lo diem deh!"


"Gue cabut sekalian, ya?" pamitnya sambil menunjuk ke arah pintu.


"Jangan!" teriak Ayana reflek. Bibirnya langsung manyun kesal saat menyadari kekehan samar dari pria itu, "suami gue mana, Vin?" rengeknya kemudian.


"Dibilang masih operasi juga, sabar, ntar begitu kelar juga langsung ke sini. Lo mau makan?" tawar Malvin, "biar gue minta perawat bawain sekarang. Gue mintain sekarang aja lah, ntar biar begitu suami lo kelar operasi lo tinggal pacaran. Good kan ide gue?"


Ayana menggeleng tidak setuju. "Gue belum laper, ntar aja lah nunggu Mas Saga."


"Lo nggak laper, tapi anak lo? Udah, nurut aja sama gue. Gue keluar bentar," pamit Malvin.


"Enggak, enggak, gue mau makanan yang lain. Enggak mau makanan rumah sakit," cegah Ayana agar Malvin tidak cepat-cepat keluar dari kamarnya.


"Makanan rumah sakit juga nggak bubur doang kali, Na."


"Justru gue pengen bubur ayam deket Indomaret depan."


Malvin langsung menatap Ayana datar. "Misi di hidup lo itu harus banget nyusahin gue ya? Lo mendadak alergi gatel-gatel atau gimana gitu ya, Na, kalau nggak ngerepotin gue?"

__ADS_1


Ayana meringis sambil mengelus perutnya. "Hehe, minta tolong ini loh, Vin. Kan cuma lo yang bisa, kata lo Abang gue pulang, suami gue operasi, bokap gue sakit, nyo--"


"Iya, iya, diem!" potong Malvin dengan wajah kesalnya, "gue beliin."


"Om Malvin emang yang terbaik!"


Malvin menatap Ayana sinis. "Om, Om, Om, Kakak, Na!" protesnya kemudian.


Ayana langsung terbahak. "Sok muda banget lo mintanya dipanggil Kakak, inget selera lo aja yang udah tua kok. Berarti minimal lo harusnya dipanggil Pakde sih."


"Eh, nggak ada hubungannya sama selera gue, ya. Enak aja lo!" sahut Malvin tidak terima.


"Diem deh! Udah buruan sana pergi lo, beliin gue bubur ayam. Ponakan lo udah laper."


"Udah nyuruh, maksa cepet-cepet nggak ngasih uang lagi. Emang bener-bener ya lo, Na!" gerutu Malvin sebelum meninggalkan ruang rawat inap Ayana. Perempuan itu pun hanya membalas dengan kekehan samar.


***


Baru masuk ke dalam ruang rawat inap Ayana, Malvin kembali berbalik. "Eh, lupa belum pinjem mangkok. Gue keluar bentar," pamitnya kemudian.


Tanpa menunggu jawaban dari Ayana Malvin langsung keluar begitu saja. Tak lama setelahnya ia kembali sambil membawa sendok dan juga mangkok.


"Buat apaan?" tanya Ayana heran.


"Wadah bubur lo lah. Takutnya ntar laki lo tiba-tiba masuk liat lo makan bubur lewat styrofoam langsung, kena sembur lagi gue. Kan repot."


"Udah, cuma masa iya lo makan gue-nya cuma liatin lo doang? Ya, gue ikutan jajan lah."


"Itu lo beli apa?"


"Nasi goreng. Kenapa? Lo mau juga?"


Ayana menggeleng sambil mengelap sendoknya menggunakan tisu. "Mau minum dong, tangan gue nggak nyampe nih. Lo kejauhan narohnya, Vin."


Malvin meraih botol air mineral dan langsung memberikannya pada Ayana. Perempuan itu manyun dan bukannya malah menerimanya.


"Bukain sekalian!"


"Astaga, Tuhan, Na! Untung gue sabar."


"Ya, lo yang nggak peka. Udah tahu tangan gue lagi diinfus, masa suruh buka botol air minum sendiri yang masih disegel."


Malvin mencibir. "Halah, emang dasar lo aja yang manja."


"Biarin, soalnya laki-laki di hidup gue manjain gue mulu," ucap Ayana tanpa beban lalu mulai makan bubur ayamnya.


Malvin hanya mampu mendengus lalu mulai membuka bungkus nasi gorengnya.

__ADS_1


"Gue kira-kira besok boleh jengukin Papa belum, Vin?" tanya Ayana sambil menyendok nasi goreng yang Malvin baru buka bungkusnya. Pria itu bahkan belum menyicipi sama sekali tapi Ayana lebih dulu mencicipinya.


Sebenarnya ini bukan perkara ia yang pelit atau apa, hanya saja ia kesal karena saat menawari perempuan itu bilang tidak mau, eh, giliran baru dibuka, udah diduluin aja.


"Tadi katanya nggak mau?" protesnya kemudian.


"Kan tadi, kalau sekarang mau. Tuker dong!" pintanya tidak tau diri.


"Kaga!" tolak Malvin mentah-mentah, "jangan karena lo lagi hamil, terus gue bakalan ngalah demi anak lo? Jangan ngimpi, Na!"


Ayana kembali melanjutkan makan bubur ayamnya dengan bibir manyun. "Dasar pelit!"


"Bodo amat. Masih mending lo gue turuti ini-itu, jadi jangan ngelunjak. Sadar diri dikit, tolong!"


Ayana tidak membalas dan sibuk makan bubur ayamnya. Tak mendapatkan respon, Malvin pun ikut sibuk makan nasi goreng miliknya. Ayana baru membuka suara tepat setelah bubur ayamnya habis.


"Vin, kira-kira besok gue udah bisa jenguk Papa belum?" Ayana menutup botol air minumnya sambil berdecak, "ah, bego banget gue tadi pagi nggak jenguk dulu."


"Makanya jangan ngambeknya doang yang digedein."


"Udah terlanjur, nggak usah nyalahin gue! Ini yang penting besok gue udah bisa jenguk Papa apa belum?"


"Lo mau bokap lo kena serangan jantung lagi karena liat lo pake baju pasien dan tangan diinfus?"


"Amit-amit, Vin, mulut lo! Jangan sembarangan!"


"Ya abis pertanyaan lo aneh-aneh," balas Malvin sambil membereskan sampah mereka.


"Aneh-aneh gimana sih? Kan gue nggak tahu kondisi gue sama calon bayi gue, wajar kan kalau gue nanya. Siapa tahu besok gue udah bisa pulang kan?"


"Kayaknya belum deh, soalnya Bang Saga pengennya lo bed rest dulu sesuai saran dokter Ine." Malvin kemudian kembali duduk di tepi ranjang, "lo tahu nggak tadi Bang Saga mukanya pucet banget pas tahu lo pingsan."


"Hah? Pucet? Sakit maksud lo?" tanya Ayana khawatir.


"Bukan. Tapi pucet yang khawatir campur cemas gitu loh, yang otaknya kayak udah traveling ke mana-mana. Nah, pucet yang begitu, Na. Sumpah gue nggak tega banget liatnya tadi, saking nggak teganya gue liat laki lo, berasa pengen gue pukpuk pala laki, serius. Kasian banget buset. Nah, berhubung lo udah bikin khawatir laki lo, ntar iyain aja dia mau apa. Oke?"


"Duh, gue jadi kasian. Pasti Mas Saga kepikiran banget, ya, tadi, Vin, semalem bokap gue tiba-tiba pingsan. Eh, siangnya malah gue yang gantian pingsan."


"Nah, itu lo tahu. Gue denger dari Bang Tama lo diemin dia ya dari pagi tadi?"


"Sebenernya nggak maksud, Vin, cuma gue kayak masih kesel aja gitu loh sama dia. Jadi bawaannya males ngomong."


"Ya udah, ntar begitu dia kelar operasinya, lo yang minta maaf duluan," saran Malvin.


"Lah, harus banget gue?"


"Ya, menurut lo siapa?" Malvin menatap Ayana kesal.

__ADS_1


__ADS_2