
Saat Ayana membuka mata ia menemukan Axel, anak tetangga rumahnya berdiri di sampingnya. Kedua matanya kemudian mengedar ke sekeliling ruangan, bau yang sangat khas yang setiap hari ia cium. Saat itu ia tersadar di mana keberadaannya. Ia mengenal tempat ini, ini adalah UGD klinik dekat komplek perumahannya. Namun, ia belum ingat kejadian apa yang menimpanya hingga mengharuskan dirinya masuk UGD dan kehilangan kesadaran.
"Kok gue bisa di sini?" tanya Ayana sedikit linglung.
"Lo nggak inget, Kak?" Bukannya menjawab Axel malah balik bertanya, "lo abis jatuh dari pohon deket rumah gue. Seriusan lo nggak inget?"
Ayana mengangguk. Sekarang ia mengingatnya. Tadi saat ia sedang asik nungguin Saga pulang di teras depan, ada segerombolan anak-anak dari komplek sebelah--yang kebetulan lumayan akrab dengannya--meminta tolong untuk diambilkan layangan mereka yang nyangkut di pohon. Ayana dengan jiwa-jiwa susah nolak kalau dimintain tolong, jelas langsung mengikuti gerombolan bocah itu dan meminta mereka untuk menunjukkan di mana layangan mereka yang menyangkut. Dan ternyata layangan itu nyangkut di pohon yang cukup besar dan tinggi, Ayana dengan tubuhnya yang tidak terlalu tinggi jelas kesulitan. Maka dari itu ia berinisiatif untuk memanjat. Namun, naasnya ia terpleset dan jatuh ke bawah karena kurang menjaga keseimbangan.
"Sekarang gue inget."
Axel langsung bernapas lega. "Syukurlah, gue pikir lo amnesia kayak yang di tv-tv. Gimana, Kak? Bagian tubuh lo yang lain ada yang ngerasa sakit atau nggak nyaman nggak? Kata dokternya gue disuruh nanya itu begitu lo sadar, soalnya takutnya nanti ada bagian tubuh lo yang mengalami fraktur. Apa gue panggil dokter aja biar lo diperiksa langsung?"
"Enggak, enggak perlu. Gue baik-baik aja. Badan gue rasanya emang sakit semua sih, cuma wajar lah, Xel, namanya juga abis jatuh. Tapi kalau sampai ngalamin fraktur, enggak deh." Ayana mendadak takjub dengan dirinya sendiri, "keren juga ya gue abis jatuh dari pohon loh, mana pohon deket rumah lo kan tinggi banget, tapi gue nggak ngalamin patah tulang atau dislokasi."
Axel mendengus sesaat. "Tapi kepala lo bocor, Kak," sahutnya kemudian. Wajahnya terlihat datar seperti orang yang sedang menahan kesal, "kepala lo sampai harus dijahit ini loh, Kak, emang lo nggak berasa?"
Ayana melongo. Ragu-ragu ia meraba kepalanya. Pantas saja ia merasa tidak nyaman pada daerah kepalanya, ternyata yang terluka di sana.
Ayana meringis malu. "Iya, belum berasa soalnya, Xel, jadi nggak ngeh gue."
"Ajaib lo, Kak," komentar Axel sambil berdecak dan geleng-geleng kepala tidak habis pikir, "untung cakep," sambungnya hampir terdengar seperti gumaman. Ayana bahkan tidak mampu mendengar kalimat terakhir pria itu.
"Hah? Lo ngomong sesuatu?" tanya Ayana terlihat seperti orang kebingungan.
Axel langsung menggeleng cepat.
Ayana terlihat tidak peduliĀ lalu bangun dari posisi berbaringnya.
__ADS_1
"Ya udah, yuk, anterin gue pulang. Tapi jangan pulang ke rumah gue, ke rumah Abang gue aja, gue mau mandi sama ganti baju di sana." Ayana sedikit menarik kaos pada bagian belakangnya yang terkena noda darah, "nggak mungkin soalnya gue pulang dengan kondisi begini. Bisa kena amuk nyokap gue ntar."
"Kita belum bisa pulang."
Ekspresi Ayana terlihat terkejut. "Lah, kenapa? Gue baik-baik aja, nggak ada keluhan pusing, mual atau muntah, pengelihatan gue normal dan gue juga nggak ngalami keluhan lain. Gue ini dokter, jadi gue tahu kalau gue pasti udah bisa diperbolehkan. Kecuali biaya perawatan gue barusan belum dibayar, baru deh--" Ayana secara reflek menghentikan kalimatnya dan menatap Axel horor, "jangan bilang lo belum bayar?"
Dengan wajah sedikit bersalah, Axel menggeleng.
"Astaga, Axel, lo jangan khawatir, nanti pasti gue ganti. Tapi sekarang lo bayar pake duit lo dulu, gue soalnya nggak bawa dompet atau hape. Nanti pasti gue ganti kok, lo tenang aja."
"Bukan itu masalahnya. Kalau gue bawa uang pasti gue bayarin langsung."
Ayana menampilkan wajah tidak percayanya. "Terus maksud lo, sekarang lo nggak bawa uang gitu?"
Axel langsung mengangguk cepat.
"Ya, gue panik, lihat lo nggak sadar terus kepala lo berdarah. Gue jadi nggak bisa mikir jernih, makanya gue langsung bawa lo pergi gitu aja sampai lupa kalau ternyata gue nggak bawa dompet."
Ayana mencoba untuk tetap bersabar dan tenang. Ia tidak bisa menyalahkan Axel, karena bukan sepenuhnya salah pria itu. Orang kalau sedang panik memang tidak bisa berpikir jernih dan ia harus memakluminya.
"Ya udah kalau gitu gue pinjem hape lo. Kalau hape bawa kan? Bawa dong? Masa nggak bawa."
Axel mengangguk seraya menyerahkan ponselnya kepada Ayana. "Bawa kok, tenang aja cuma nggak ada pulsa aja masalahnya."
"Kalau kuota ada dong?"
Pria itu berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Kayaknya sih masih."
__ADS_1
Ayana tidak berkomentar setelahnya. Gadis itu memilih untuk langsung menghubungi Tama.
"Abang! Ini gue, plis, tolongin gue!"
Axel yang mendengarnya sontak langsung memprotes. "Biasa aja dong, Kak, kayak jadi korban penculikan tahu kalau suara lo begitu."
Ayana agak menjauhkan ponsel Axel dari telinganya. Jari telunjuknya menempel pada bibir. "Ssst, diem deh lo! Ini itu trik biar dia mau langsung ke sini. Anak kecil nggak ngerti apa-apa mending diem."
Tersinggung disebut anak kecil, Axel langsung mendengus kasar. "Gue bukan anak kecil kali. Orang jelas-jelas dari segi fisik aja gedean gue kemana-mana."
Ayana yang tingginya hanya sebatas dada Axel gantian tersinggung. Bibirnya mencabik kesal kala mengingat fakta itu. Padahal terakhir mereka mengobrol masih tinggian dia deh, kenapa sekarang malah ia yang disalip jauh begini? Terkadang dunia memang tidak seadil ini, ya.
"Na! Lo masih di sana? Kok lo diem aja? Ayana! Lo di mana woe? Jangan bikin gue panik." Nada suara khawatir terdengar jelas dari seberang.
"Gue lagi di klinik deket rumah, Bang. Lo bisa ke sini sekarang?"
"Hah? Klinik? Lo abis nabrak siapa?"
"Gue nggak abis nabrak, Bang. Ini yang luka gue. Gue butuh lo buat bayarin biaya penangangan gue barusan."
"Jadi lo yang ditabrak?"
"Bukan. Nanti aja lah gue ceritanya, panjang, ribet, yang penting sekarang lo ke sini dulu. Gue tungguin, jangan pake lama." Tanpa menunggu jawaban dari Tama, Ayana langsung menutup sambungan begitu saja. Kepala mendadak sedikit pusing karena sempat berdebat kecil dengan Axel barusan dan ia malas kalau harus menjawab berbagai pertanyaan dari sang Abang.
"Nih, hape lo, gue balikin. Thanks, gue mau tidur bentar. Nanti kalau Abang gue udah dateng jangan langsung bangunin gue kecuali administrasinya udah selesai. Lo tahu Abang gue yang mana kan?"
"Iya, tahu."
__ADS_1