Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Galaunya Ayana


__ADS_3

...______________________________________...


Malvin tidak dapat menahan keterkejutannya saat membuka mata dan menemukan Ayana tengah berdiri tak jauh dari kasurnya. Pria itu langsung mengumpat kasar seraya menarik selimutnya dengan panik. Pasalnya saat ini ia tidak mengenakan atasan apapun dan hanya memakai bawahan ala kadarnya. Karena itu memang sudah menjadi kebiasaannya saat tidur di rumah.


"Anjing! Gue kasih lo akses card gue bukan buat ginian kali, Na. Lo ngapain di rumah gue pagi-pagi buta gini," amuk Malvin geram.


Ayana mendengus. "Pagi buta pale lu, ini udah siang, udah setengah delapan, woe. Lo yang buta? Buruan bangun! Gue udah bikin sarapan," balasnya dengan nada tak kalah kesal.


"Brengsek, berasa ternodai banget gue, lo liat gue telanjang gini."


Ayana langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik dengan kedua mata melotot tajam. "Heh, Panjul! Harusnya yang merasa ternodai itu gue, yang liat gue. Kenapa jadi lo yang ngerasa ternodai?"


"Ya, lo enak lihat, lah gue?"


Ayana mengibaskan tangannya tidak peduli. "Bodo amat, gue nggak peduli. Asal lo tahu, gue nggak nafsu sama lo! Sekarang lo buruan pake baju lo, nggak usah kebanyakan drama, terus keluar! Gue tungguin di luar."


Setelah mengatakan itu Ayana langsung bergegas keluar dan menutup pintu kamar Malvin. Sedangkan pria itu berdecak kesal sambil turun dari ranjang dan mencari keberadaan kaos dan celananya. Setelah menemukannya, Malvin langsung bergegas keluar kamar, menuju dapur.


"Ada udang dibalik-balik pasti ini," tuduh Malvin saat menemukan sepiring roti sandwich di atas meja makannya. Pria itu memilih melipir ke arah kulkas untuk mengambil air dingin, sebelum akhirnya duduk di kursi dan menikmati sarapan bikinan Ayana untuknya.


"Teh atau kopi?"


"Teh. Gue mau tidur lagi abis lo pergi."


Ayana mengangguk paham lalu bergegas membuatkan teh untuk pria itu dan secangkir kopi untuknya. Sedangkan Malvin langsung menyantap sarapannya tanpa banyak berbasa-basi. Kebetulan ia juga sudah lapar. Porsinya pun pas, ada dua. Memang hanya Ayana yang paling mengerti dirinya. Duh, sayang banget ini perempuan satu nggak mau ia nikahi, coba kalau mau, sudah pasti ia tidak akan kehabisan akal untuk menolak permintaan kedua orang tuanya itu.


Tuh, teh buatan Ayana saja bahkan sesuai dengan seleranya.


"Kenapa lo?" Ayana memicingkan kedua mata curiga sambil meletakkan cangkir kopinya.


Malvin ikut meletakkan cangkirnya lalu menggeleng sebagai tanda jawaban. Setelahnya pria itu memilih melanjutkan sarapannya.


"Thanks buat breakfast-nya, gue kenyang," ucap Malvin tulus. Pria itu langsung menyandarkan punggungnya pada badan kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "jadi lo butuh bantuan apa?"


"Gue galau."


Tangan Ayana mendadak ditahan Malvin, saat gadis itu hendak menyentuh kembali cangkir kopinya. Pria itu menggeleng lalu menggeser cangkir kopi itu agar sedikit menjauh. Lalu menggantinya dengan air botol mineral dingin sisanya.


"Jangan minum kopi terus, minum air putih juga! Lebih sehat."


Ayana cemberut. Namun, meski demikian ia tetap meminumnya. "Nggak asik banget sih temenan sama dokter," gerutunya sambil menutup botol air mineral itu dan meletakkannya kembali di atas meja.


Sambil mendengus, Malvin langsung mendorong kepala Ayana dengan sebal. "Lo juga dokter, malih!"


"Tapi seenggaknya gue nggak kayak lo."


"Bodo amat, Na, ini buruan lo jadi mau cerita apa enggak? Kalau enggak gue mau tidur lagi."


"Ya, jadi lah, Vin, masa gue repot-repot bikinin lo sarapan terus nggak jadi curhat. Rugi lah, Vin."


"Ya, enggak sepenuhnya rugi juga kali, Na. Kali aja lo lagi simulasi buat jadi istri yang baik buat gue."


Ayana langsung meraih botol air mineral di hadapannya lalu memukulkannya pada kepala Malvin. Pria itu langsung mengaduh kesakitan diiringi umpatan kasar.


"******, sakit, Na! Lo galak banget sih? Bercanda elah," protes Malvin sambil mengelus-elus kepalanya yang terkena pukulan Ayana.


Gadis itu mendengus tidak peduli. "Btw, seminggu kita nggak ketemu kenapa mulut lo kasar banget sih?"


"Lagi banyak pikiran gue. Mumet. Jadi bawaannya pengen ngumpat terus. Apa lagi kalau lagi sama lo."

__ADS_1


"Soal perjodohan itu?"


Malvin mengangguk malas untuk mengiyakan. Demi menunjukkan rasa empatinya, Ayana mengelus pundak pria itu sambil mengucapkan kata-kata untuk menyemangati pria itu. Ia cukup bisa memahami perasaan Malvin.


"Lupain tentang gue, sekarang kita bahas soal lo. Lo tadi galau gara-gara apa?"


Oh iya, hampir saja Ayana lupa dengan masalah yang sedang dia hadapi. Dua harian ini ia tidak bertemu Saga, begitu juga dengan Aska. Untuk Aska ia masih belum tahu cara menemui pria itu, sedangkan Saga, Ayana memilih untuk menghindari pria itu.


"Gegara tetangga baru gue sama gebetan gue."


Malvin menaikkan sebelah alisnya heran. "Lo galaunya karena mereka?"


Ayana langsung mengangguk cepat. "Lo inget nggak kalau gue kemarin abis jadi bridesmaid adiknya Mas Saga."


Malvin mengangguk dan mengiyakan. "Tapi bukannya itu udah kejadian, ya? Terus apa yang lo galauin?" Ia terlihat tidak paham sekaligus bingung.


"Gue belum selesai."


Pria itu kembali mengangguk dan mempersilahkan Ayana melanjutkan kalimatnya.


"Nah, ternyata gebetan gue ini, kerja di perusahaan bokapnya Mas Saga. Jaka, adiknya Mas Saga itu bosnya gebetan gue, otomatis dia diundang ke nikahan adiknya Mas Saga. Sampe di sini lo udah bisa nebak kan?"


Malvin manggut-manggut paham dengan ekspresi seriusnya. "Bisa, bisa banget. Berarti yang namanya Saga-Saga ini kaya raya banget kan? Udah dokter, dosen--"


"Vin," potong Ayana dengan wajah galaknya, "lo jangan bercanda dong! Serius dikit bisa nggak sih? Gue itu lagi mumet."


"Loh, bercanda gimana?" Malvin malah balik bertanya dengan ekspresi bingungnya, "ini yang namanya Saga udah jelas kaya kan? Dokter, dosen, udah punya rumah sendiri, gede lagi. Lengkap dengan pembantu dan supir pribadi lagi, tuh, kurang tajir gimana sih? Salah gue di bagian mana?"


"Iya, emang lo nggak salah, Vin. Tapi bukan itu intinya. Oke?"


"Oke."


"Gebetan gue liat gue sama Mas Saga di nikahan Jaka. Gebetan gue marah banget sama gue, dia ngira gue ada apa-apa sama Mas Saga, dia bahkan bilang kalau gue udah bohongin dia." Ayana berdecak kesal, "tapi kan gue nggak bohong, Vin, gue sama Mas Saga itu beneran nggak ada apa-apa."


Malvin menyipitkan kedua matanya tidak yakin. "Yakin lo sama itu yang namanya Saga-Saga itu, nggak ada hubungan apa-apa?"


"Kok lo malah nanya gitu sih, Vin? Lo nggak percaya sama gue? Gue bahkan udah nolak dia loh, dan lo masih mikir kalau gue ada apa-apa sama Mas Saga?" Ayana berdecak tidak percaya, "udah gila lo?"


Malvin tidak langsung membalas, pria itu memilih menyeruput tehnya yang hampir dingin. Baru kemudian berujar, "Lo yang udah gila. Dikasih calon suami paket komplit, anaknya orang kaya, dianya juga kaya, eh, malah milih karyawan biasa. Lo tuh aneh, Na."


"Vin, ini masalah hati bukan masalah seberapa kayanya dia."


Malvin manggut-manggut acuh tak acuh. "Ya, ya, ya, apapun itu terserah. Kalau lo lebih milih gebetan lo yang belum jelas itu, ya silahkan! Itu hak lo. Tapi, pertanyaan gue sekarang, kalau lo udah jelas milih gebetan baru lo ini, dan nolak si Saga-saga ini, kenapa lo masih galau? Bukannya harusnya lo mikir gimana cara biar gebetan lo ini percaya kalau lo nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Saga lo itu?"


"Dia bukan Mas Saga gue ya, Vin," elak Ayana terdengar tidak suka.


"Yakin?"


"Yakin."


"Kalau dia sama yang lain lo nggak papa?"


"E.enggak papa, ya itu kan hak dia. Bukan urusan gue."


"Kenapa lo gugup?"


Ayana menggeleng cepat. "Siapa yang gugup? Gue biasa aja tuh. Lo jangan ngalihin pembicaraan deh, Vin, gue suruh lo muntahin sandwich bikinan gue sekarang juga ya," ancamnya tidak masuk akal.


"Oke." Malvin langsung berdiri dan menantang, "gue muntahin sekarang juga, tapi abis itu lo makan ya?" balasnya tidak mau kalah. Kedua sama-sama gila.

__ADS_1


Mendadak Ayana ingin muntah. "Malvin, iiih, lo jorok banget sih," amuknya kesal.


"Lo juga!" balas Malvin masih tidak mau kalah, "lo pikir muntahin makanan nggak jorok apa?" Ia menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, "oke, kita sudahi perdebatan tidak jelas kita. Sekarang gue mau kasih lo saran!"


Ayana mendadak tertarik. "Apa?"


"Sekarang gue tanya, siapa yang sebenernya lo suka?"


"Aska."


"Aska itu siapa?"


"Gebetan baru gue."


Malvin ber'oh'ria sambil mengangguk paham. "Oh, jadi namanya Aska?"


Ayana langsung mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Yang lo cinta?"


Ayana menggeleng. "Belum ada."


"Saga gimana?"


Ayana kembali menggeleng. "Gue nggak tahu."


"Lo nggak tahu, tapi lo udah nolak dia?" tanya Malvin dengan raut wajah tidak percayanya.


"Ya, soalnya gue nggak mau kehilangan Aska, Vin. Dia orangnya seru banget, asik, dia bilang nggak mau ketemu gue lagi kalau gue masih ada hubungan apa-apa sama Mas Saga. Ya udah, gue memutuskan untuk mempertegas hubungan gue sama dia lah, biar jelas kalau kita emang nggak ada hubungan apa-apa."


"Terus kenapa lo masih galau?" pancing Malvin mencoba menjebak Ayana.


"Mas Saga nggak mau temenan sama gue. Gila, gue sedih banget tahu, Vin, masa gegara itu dia jadi nggak mau temenan sama gue. Lo aja masih mau temenan sama gue, masa dia enggak? Jahat banget kan?" Tanpa Ayana sadari, kedua pipi gadis itu basah saat mengingat kalau Saga sudah tidak mau berteman dengannya.


"Na, gue mau tanya lagi boleh?"


"Lo nanya mulu dari tadi deh, Vin, kayak wartawan tahu," gerutu Ayana sambil mengusap pipinya.


"Sorry."


"Kok ekspresi lo kayak nggak ada penyesalannya?"


"Ya, soalnya gue emang nggak terlalu nyesel."


"Sialan. Jadi lo mau nanya apa?"


"Lo tahu nggak siapa yang lo suka?"


"Tahu lah, lo pikir gue gadis ABG yang baru jatuh cinta, yang nggak belum bisa bedain siapa cowok yang gue suka?"


"Siapa?"


"Aska, Vin, Aska," balas Ayana ngegas.


"Ya udah, biasa aja, nggak usah ngegas! Sekarang lo pulang deh, ntar siang coba temuin dia di kantornya, lo jelasin ke dia kalau lo sebenarnya nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


"Kalau dia nggak mau dengerin penjelasan gue gimana?"


"Ya udah, berarti dia yang bego. Tinggalin aja dia, atau buang ke laut! Nggak guna. Penjelasan lo aja nggak didengerin, apalagi ntar keluh kesah lo?"

__ADS_1


Reflek Ayana tertawa. Ia mengangguk setuju. Setelah menyesap kopinya yang sudah dingin, ia langsung berdiri dan pamit pulang. Ia akan menemui Aska dan menjelaskan semuanya. Kalau pria itu masih tidak mau mendengarkannya, maka ia yang akan menyerah.


__ADS_2