
"Udah?" ulang Saga memastikan.
Biasanya kalau hendak pergi Ayana akan berdandan sangat lama. Tapi lihatlah sekarang! Saga bahkan baru saja mendaratkan bokongnya pada sofa ruang tamu, tapi Ayana sudah menyusul tak lama setelahnya. Wajar saja kalau ia merasa aneh.
Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Ayana langsung mengangguk cepat.
"Tumben?" Saga masih merasa heran dan juga aneh dengan perubahan sang istri.
"Tumben kenapa, Mas?"
"Cepet."
"Oh. Lagi males ribet, Mas. Udah, yuk, langsung berangkat aja. Takut telat," ajak Ayana kemudian.
"Serius udah?" tanya Saga mencoba memastikan sekali lagi.
Ayana berdecak kesal. Batinnya menggerutu heran, biasanya juga ngomong setengah-setengah, tapi ini kenapa tumbenan suaminya malah nanya berulang-ulang.
"Udah, Mas, astaga, nggak percayaan amat sama istri sendiri. Kalau aku bilang udah, ya berarti udah, ayo sekarang kita berangkat!"
Saga mengangguk paham. Meski masih heran, namun, ia tidak memprotes atau bertanya lebih. Ia langsung berdiri dan mengajak Ayana segera berangkat.
"Mual lagi?"
Ayana menggeleng seraya merangkul lengan Saga. "Kenapa emang?"
Saga ikutan menggeleng. "Cuma nanya."
Baru beberapa kali melangkahkan kaki, Ayana tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Saga yang posisinya lengan sedang dirangkul sang istri otomatis ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Saga heran.
"Kita perlu bawa sesuatu nggak sih, Mas, buat dibawa ke rumah Jaka?"
Saga menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Yakin enggak?" tanya Ayana mencoba memastikan.
Saga hanya mengangguk sekali lagi sebagai tanda jawaban.
"Kenapa gitu?"
"Ya, enggak perlu."
Setelahnya Ayana tidak bertanya lebih lanjut. Keduanya kemudian memutuskan untuk langsung berangkat menuju rumah Jaka.
"Permennya udah?" tanya Saga begitu keduanya masuk ke dalam mobil. Pria itu tidak langsung memasang seat belt-nya, lebih memilih untuk menunggu jawaban dari sang istri.
Sedangkan yang ditanya malah memasang wajah bingungnya. "Permen apa?"
"Permen kamu."
"Oh." Ayana kemudian langsung membuka tas selempangnya. Setelah menemukan beberapa butir permen jahe, ia kembali menutup tasnya, "udah kok, aman." sambil mengacungkan jempolnya.
"Enggak ada yang ketinggalan?"
Ayana menggeleng. "Kayaknya enggak ada sih, langsung jalan aja, Mas."
"Bener ya?"
Ayana mengangguk, meyakinkan. Setelah mendapat anggukan kepala dari sang istri baru lah Saga mulai memakai seat belt-nya dan langsung meninggalkan rumah.
"Mas, menurut aku kayaknya kita nggak perlu dua supir nggak sih?"
Saga menoleh ke arah Ayana dengan tatapan tajamnya. "Mau nyetir sendiri?"
__ADS_1
Bukan-bukan, itu bukan sebuah tawaran melainkan sebuah sindiran. Meski ekspresinya terlihat tidak banyak yang berubah, tapi Ayana dapat menebak dengan pasti melalui tatapan mata Saga, yang terlihat seperti siap mengamuk kapan saja.
Dengan wajah panik, Ayana langsung menggeleng cepat dan mengibaskan tangannya. "Enggak, enggak gitu maksudnya, Mas. Maksud aku gini, Mas Saga kan masih cukup sehat, kuat, muda, terus juga sekarang kan Mas Saga udah nggak ngajar, pasti capeknya berkurang, gimana kalau Mas Saga yang nyetir sendiri? Kan Mas Saga jelas nggak bakalan kasih izin kalau yang nyetir sendiri itu aku kan?"
"Harus banget ya kita bahas soal ini di saat aku lagi nyetir?"
Oho, siaga satu. Sepertinya mood sang suami sedang tidak begitu bagus. Cepat-cepat Ayana menggeleng.
"Maaf, Mas, lain kali nggak begini."
Saga mengangguk. Pandangannya fokus kembali ke arah depan. Setelahnya Ayana bahkan tidak berani untuk mengeluarkan suara. Suaminya kalau mode begini memang menyeramkan itu. Dan Ayana takut.
***
Begitu sampai di rumah Jaka, baik Ayana dan Saga langsung melupakan kejadian saat di mobil tadi. Ayana bahkan langsung merangkul lengan sang suami baru menyapa beberapa saudara Saga, yang sampai sekarang masih belum ia hafal betul nama-namanya.
"Eh, Mas, Bia hamil berapa bulan sih kok perutnya udah gede aja?" tanya Ayana kepo.
Bianca dan Jaka masih terlihat mengobrol dengan Tante Saga. Ayana tidak sengaja melihat dari kejauhan dan ia cukup terkejut. Perasaan baru bulan lalu acara empat bulanan digelar, kok perut sang adik ipar sudah sangat keliatan. Perasaan iri timbul begitu saja tanpa bisa dicegah.
Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Saga langsung mengangkat kelima jarinya.
"Lima bulan? Kok udah gede amat perasaan?"
"Kembar kali," jawab Saga asal.
Ayana yang sedang dalam mode sensitifnya mendadak sedih. "Berarti yang anaknya nggak kembar kita doang? Aku payah ya, Mas, nggak bisa hamil kembar kayak Kak Nabila atau Bia?"
"Masih belum pasti," balas Saga. Ia kemudian langsung mengajak Ayana menghampiri Jaka dan juga Bianca. Kebetulan Tante-tante yang tadinya mengobrol dengan mereka kini sudah pergi.
"Oh, hai, Mas, Na," sapa Jaka.
Ayana tersenyum tipis. "Sehat, Ka?" sapanya sambil menjabat tangan sang adik ipar.
Ayana kemudian beralih pada Bianca, sang adik ipar. Menyapa ala perempuan, cipika-cipiki lalu berpelukan.
Tapi tanpa tedeng aling-aling, Saga langsung bertanya to the point. "Kembar bukan?"
"Hah?" respon Jaka dan Bianca kompak. Keduanya kemudian saling bertukar pandang.
Ayana langsung berdecak kesal. Kedua matanya melotot tajam, lalu tangannya mencubit pinggang sang suami kencang. Saga yang merasa tidak melakukan kesalahan tapi tiba-tiba dicubit tentu saja kesal. Pria itu langsung protes.
"Kok dicubit?"
"Ya, nanyanya pake basa-basi dulu kek, pake prolog atau apa gitu. Masa langsung nanya begitu?" bisik Ayana kesal, "nggak sopan banget."
"Kan kamu udah," balas Saga tidak mau kalah.
Ayana mendadak kehilangan kata-kata. Perempuan itu hanya mampu melongo dengan ekspresi tidak percayanya. Suaminya ini memang paling jago kalau urusan menjawab, meski jawabannya pelit.
Jaka sontak langsung terbahak melihat interaksi menggemaskan dari Kakak dan iparnya.
"Kenapa lo ketawa?" kali ini giliran Saga yang memprotes.
Jaka menggeleng cepat. "Enggak. Enggak papa kok. Btw, itu tadi lo maksudnya nanya anak gue ini kembar atau bukan?" tangannya kemudian mengelus perut besar sang istri, "bukan kok, bukan kembar. Satu ini. Cuma emang keliatan gede banget kan ya? Udah kayak hamil enam bulan lebih, padahal baru lima bulan."
"Denger sendiri kan?" Saga kemudian menoleh ke arah sang istri. Ayana hanya merespon dengan tatapan mata tajamnya.
Jaka kembali tertawa. "Ya udah, ayo dinikmati hidangan seadanya. Gue sama istri cabut sapa tamu yang lain dulu, mumpung acara belum mulai. Ntar kalau nggak disapa semua, para tetua ngambek. Ntar gue dikuliti lagi pas acara arisan selanjutnya."
Saga hanya mengangguk dan mempersilahkan mereka pergi. Setelah keduanya pergi dari hadapan mereka, Ayana langsung mengomel.
"Mual lagi?" tanya Saga tidak nyambung.
"Enggak usah mengalihkan pembicaraan!"
__ADS_1
Saga menggeleng cepat. "Nanya beneran. Siapa tahu kamu ngomel biar mualnya ilang."
Mulut Ayana seketika menganga, terbuka lebar. Shock dengan jawaban Saga. Ia ingin kembali mengomel, tapi sayang sekali tidak bisa ia lakukan karena merek tiba-tiba disamperin Tante Saga. Ayana tidak tahu pasti namanya tapi yang jelas Tante ini termasuk orang yang sangat ingin ia hindari saat acara keluarga. Apapun itu. Kalau bisa nggak usah ketemu sekalian lah.
"Eh, ini si Jaka ya? Adiknya Saga?"
Dalam hati Ayana mencibir. Sok asik salah pula.
"Bukan, saya Saga," koreksi Saga.
"Eh, bukan? Tante pikir Jaka loh, mirip soal e. Tante pikir yang baru nikah kemarin."
Lah, kan emang bener. Sahut Ayana dalam hati.
Pandangan Tante Saga kemudian beralih ke Ayana. "Ini istri-mu?"
Meski rasanya ingin langsung kabur dan melarikan diri, Ayana mencoba untuk tetap ramah. Ia tersenyum tipis seraya menjabat tangan beliau.
"Iya, Tante, saya Yana, istrinya Mas Saga."
"Oh, ini yang dokter juga itu?"
"Iya, Tante."
"Oh, pantesan."
Kening Ayana mengkerut heran. "Pantesan apa ya, Tante?" ia meringis tipis.
"Sampai disalip adik ipar. Itu adikmu saja yang baru nikah kemarin langsung hamil, masa kalian belum juga? Nunda apa gimana? Kan kalian sama-sama tenaga kesehatan harusnya lebih paham, jangan pendidikannya terus yang dipikirin. Anak itu sumber rejeki, percaya sama Tante, meski nanti kalian punya anak rejekinya nggak bakal berkurang, yang ada makin ditambah."
Saga tersenyum super tipis. "Makasih, Tante, atas kepeduliannya--"
"Dengerin dulu! Tante belum selesai ngomong, jangan main dipotong, Ga!" protes sang Tante.
Ayana emosi. Padahal jelas-jelas beliau juga memotong pembicaraan suaminya.
"Nih, tetangga Tante ada itu, dokter juga dua-duanya, sampe sekarang belum hamil-hamil juga karena awalnya mereka nunda hamil cuma buat pendidikan, eh, malah sampai sekarang belum dikasih. Makanya ponakan Tante yang perawat itu begitu nikah, Tante suruh berhenti kerja. Eh, habis itu langsung hamil. Kalian kalau mau cepet-cepet hamil, saran Tante mending istrimu suruh berhenti kerja. Biar langsung isi."
Ayana mencoba untuk tetap tersenyum meski hatinya sudah gondok setengah mati. "Makasih, Tante, untuk sarannya. Tapi saya rasanya nggak perlu--"
"Loh, kenapa? Enggak mau punya anak apa? Atau mau chill free? Jangan! Nanti kalau tua sepi, tetangga--"
"Child free, Tante," koreksi Ayana sudah nyaris kehilangan kesabaran. Ia sengaja memotong kalimat sang Tante karena tak tahan. Ia juga kesal kenapa ini suaminya tak kunjung membantu.
"Sama aja. Intinya sama."
Sama dari mananya? protes Ayana dalam hati. Ingin sekali ia berteriak memprotes beliau. Beda satu huruf kan udah beda arti.
"Tapi kalian nggak begitu kan? Punya anak itu meski ribet ngurusnya tapi menyenangkan kok--"
"Iya, Tante, kami paham. Tante nggak perlu khawatir, karena alhamdulillah saya udah hamil."
"Eh, udah hamil? Tapi kok belum ketara?"
"Soalnya masih--"
"Ini pasti karena kamu masih kerja," potongnya tiba-tiba, "Ga, istrimu mbokyo disuruh berhenti saja. Kasian, masa hamil tapi kurus begini, nggak keliatan perutnya, nanti kamu dikira nggak bisa urus istri loh. Lagian kalau yang kerja satu aja emang masih kurang uangnya?"
"Mas, cabut, Mas, cabut!" bisik Ayana benar-benar tidak tahan, "ayo, pergi! Aku udah nggak tahan sama Tante kamu ini."
"Maaf, Tante, kami duluan, ya," pamit Saga lalu undur diri.
"Loh, dinasehatin kok malah main kabur saja, dasar anak muda!"
Situ dasar tante-tante, balas Ayana dalam hati karena masih mendengar gerutuan beliau.
__ADS_1