Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 8


__ADS_3

 


 


Hari ini Malvin memutuskan untuk menemui Ailee, adik semata wayang Yasmin. Ia masih berharap mendapat jawaban atas keberadaan Yasmin melalui adik Yasmin. Karena ia sudah tidak dapat menghubungi perempuan itu hanya untuk menemukan keberadaan atau bahkan hanya untuk mengetahui kabar perempuan itu. Galau tentu saja ia rasakan. Diputusin secara sepihak dan sekarang ia ditinggal pergi entah kemana, ingin rasanya Malvin mengamuk perempuan itu begitu ia berhasil menemukan perempuan itu.


Oke, sepertinya ia berlebihan, ia tidak akan mengamuk. Mungkin ia hanya perlu mengomeli perempuan itu sedikit karena sudah membuatnya sekhawatir ini.


Di sela kesibukannya mengurus pasien, ia masih bisa menyempatkan untuk menemui Ailee. Awas saja kalau gadis tengil itu tidak mau berbagi informasi dengannya. Serius, ia tidak akan tinggal diam saja.


“Widih, aku diapelin Mas Bidan aku.”


Itu adalah kalimat yang pertama kali keluar dari mulut Ailee saat mereka akhirnya bertemu. Sambil tersenyum jahil, Ailee masih menyempatkan diri untuk mencolek dagu pria itu lalu terbahak tak lama setelahnya.


Malvin mendengus lalu memalingkan wajahnya. “Nggak usah pegang-pegang lo, muka gue mahal nih.”


Ailee langsung mencibir. “Berapa emang? Buruan sebut angka gue bayar langsung,” ucapnya sombong.


Kali ini Malvin tertawa, tidak heran sih kalau gadis itu bersikap demikian, soalnya dia putri bungsunya Rajendra grup. Jadi wajar-wajar saja kalau Ailee  bersikap demikian. Ia kemudian merangkul pundak perempuan itu dan mengajaknya meninggalkan area rumah sakit.


“Yuk, traktir gue jajan, gue laper nih. Lo udah kelar dinasnya kan?”


“Kebalik kali,” dengus Ailee tidak setuju, “lo kan udah jadi residen sedangkan gue masih koas.”


Malvin terkekeh. “Ya kan tapi bokap lo tajir.”


“Sama aja elah, bokap lo juga tajir,” sahut Ailee tidak terima, “nggak usah sok miskin deh lo,” sambungnya kemudian.


“Tapi kalau gue beneran miskin elah. Nggak kayak kakak lo.”


Ailee mendengus. “Ini nih sikap jelek lo yang mungkin bikin kakak gue males ngadepin lo, makanya dia milih kabur.” Ia berdecak tak lama setelahnya, “sebenernya kalian ada masalaah apa sih?”


Malvin menurunkan rangkulan tanngannya pada perempuan itu. Helaan napas panjang terdengar tak lama setelahnya. “Gue sendir juga nggak tahu apa sebenernya yang salah dari gue, dia tiba-tiba mutusin gue, terus tahu-tahu semua kontak gue diblokir sama dia. Bahkan gue juga nggak tahu kalau dia pindah awalnya.”

__ADS_1


“Kakak gue itu emang cantik banget sih, secara akademik dan karir emang bagus banget, tapi kalau soal percintaan dan semacamnya begini tuh dia tolil. Dan menurut gue orang yang udah jatuh cinta ke dia tuh pasti ikutan tolil.”


Mau tidak mau Malvin tertawa saat mendengar Ailee mengatai sang kakak secara terang-terangan seperti barusan, tapi di sisi lain ia juga merasa setuju juga sih dengan apa yang dikatakan gadis itu.


“Mau makan apa lo, Kak? Gue stres deh, abis dibantai dokter konsulen gue, pengen makan yang pedes-pedes. makan seblak, yuk!” ajak Ailee yang langsung ditolak Malvin dengan gelengan kepala tidak setuju.


“Lagi males makan itu, yang lain aja lah. Yang deket-deket sini aja, bakso aja gimana,” tawar Malvin yang langsung diangguki kepala setuju oleh gadis itu.


Keduanya pun memutuskan untuk memasuki warung bakso yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.


“Jadi gimana, kakak lo pergi ke mana?” tanya Malvin setelah keduanya duduk di kursi yang tersedia  di warung tersebut.


Ailee menggeleng cepat sebagai tanda jawaban. Kedua matanya fokus menatap layar ponsel tanpa berniat menoleh ke arahnya.


Malvin yang merasa dicuekin langsung berdecak kesal. “Lo jangan gitu lah, Lee, lo nggak kasian sama gue?”


Ailee tersenyum meledek. “Dulu waktu kedua orang tua kita jodohin kita tapi lo nolak gue, ada perasaan kasian nggak lo ke gue, Kak.”


“Sorry, enggak gitu maksud gue, Dek. “


Ailee benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak terbahak. Umpatan samar spontan keluar dari mulutnya, ekspresinya terlihat tidak percaya. “Lo serius nggak kasian sedikit pun dulu, Kak, waktu nolak gue?”


“Bukannnya dulu kita sama-sama nggak mau ya?” Malvin balik bertanya.


“Ya, tetep aja masa lo nggak ada perasaan nggak enak atau sungkan atau lainnya. Mana sekarang lo nggak tahu diri banget lagi giniin gue,” gerutunya kemudian.


“Oke, gue minta maaf kalau sikap gue dulu nggak sopan—“


“Sekarang sikap lo lebih ngeselin kali ini,” potong Ailee dengan muka snewennya.


Malvin berdecak gemas. “Terus gue harus gimana?”


Ailee pura-pura memasang wajah berpikirnya.

__ADS_1


“Anjir, pake segala sok mikir lagi,” cibir Malvin.


“Temenin gue kondangan ke nikahan temen gue minggu depan.”


Malvin melongo dengan  ekspresi tidak percayanya. “Cowok lo?” tanyanya tidak yakin.


Dengan wajah kecutnya Ailee menggeleng.


Malvin menatap Ailee tidak yakin dengan menyipitkan kedua mata curiga. “Lo lagi dalam rangka modusin gue atau bagaimana?”


Ailee mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. “Anggap aja begitu.”


“Tapi kenapa gue?”


“Soalnya lo butuh gue.”


Malvin kembali menatap Ailee tidak yakin. Ia berpikir sebentar kemudian menganggu setuju. “Oke, deal. Gue bakalan temenin lo kondangan.”


Ailee tersenyum puas. “Thank you Mas Bidan gantengnya aku. Janji loh ya nanti temenin aku.”


“Tapi kasih tahu dulu kakak lo di mana.”


“Enak aja,” sahut Ailee tidak terima, “nanti lah, gue bakalan kasih tahu lo kalau minggu depan lo beneran bisa temenin gue. Kalau gue kasih tahu sekarang bisa jadi lo bakalan mangkie dengan berbagai alasan klasik yang mungkin nggak bisa gue terima.”


Kali ini Malvin menggeleng cepat. “Enak aja, mana bisa begitu, Lee, itu nggak adil buat gue lah.”


“Jangan ngomongin keadilan, Kak, karena keadilan itu belum tentu beneraan ada di dunia. Dunia ini tuh kejam, dan susah kalau disuruh adil tuh. Gue sih nggak maksa, kalau mau ya ikut cara gue, kalau nggak mau. Ya itu terserah lo sih. Yang penting gue udah berusaha buat nawarin, perkara lo mau iyain atau enggak. Itu sih urusan lo, soalnya kalau lo nggak mau gue bisa cari pendamping lain. Banyak kok jasa sewa pacar.”


Malvin mendengus, kalimat Ailee meski bukan sebuah ancaman tapi cukup mengintimidasinya. Mau tidak mau, akhirnya ia hanya mampu mengangguk pasrah dan mengiyakan. Sementara Ailee langsung bersorak kegirangan dalam hati. Tapi meski begitu ekspresinya terlihat dibuat sedatar mungkin. Karena tidak mau kalau sampai pria itu nantinya akan berubah pikiran begitu saja. Jadi ia harus bersikap setenang mungkin.


 


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2