
***
Begitu menyelesaikan shift-nya, Malvin berniat untuk langsung pulang. Tadi saat ia mencoba menghubungi Olivia, perempuan itu tidak memberi respon. Hal ini membuatnya menjadi khawatir, meski mungkin saja Olivia tidak merespon karena perempuan itu sedang tidur. Karena tidak ingin berasumsi dengan pikirannya sendiri, maka dari itu ia memutuskan untuk segera pulang dan memastikan sendiri bagaimana kondisi gadis itu. Semoga saja memang benar dugaannya karena gadis itu sedang tidur.
"Baru pulang, bro?"
Spontan Malvin langsung menghentikan niatannya untuk membuka pintu mobil dan berbalik. Di sana ia langsung menemukan Ailee berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya, dengan senyuman tipisnya.
"Ailee? Ngapain lo di sini?"
Ailee menghela napas panjang. "Nyari lo," balasnya singkat. Tanpa menunggu di persilahkan, perempuan itu masuk ke dalam mobil pria itu begitu saja.
Malvin ingin mengumpat kasar dengan sikap seenaknya gadis itu. Tidak kakak, tidak adik dua-duanya semua bersikap semaunya sendiri seolah dunia berada di dalam kendali mereka. Ia mendengus tidak percaya tak lama setelahnya. Memang susah ya kalau berurusan sama anak orang kaya.
Dengan wajah yang terlanjur bete, Malvin kemudian masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Gue bakal anterin lo pulang, tapi abis itu gue harus segera balik. Soalnya gue punya urusan."
__ADS_1
"Gue udah tahu keberadaan kakak gue."
Malvin langsung tertawa sambil memasang seat beltnya. Ia kemudian menyalakan mobilnya dengan santai dan mulai mengemudikannya meninggalkan area rumah sakit.
"Dan lo pikir gue masih tertarik?"
"Lo udah nggak kepo?"
Kali ini Malvin diam. Fokusnya kali ini pada jalanan yang ada di hadapannya. Bohong namanya kalau seandainya ia tidak tertarik, tapi ia sudah terlalu sakit hati untuk mengetahui kabar perempuan itu lebih jauh. Sudah cukup yang ia alami terakhir kali. Harapannya saat ini cukup sederhana, ia ingin segera move on dan menata hidupnya pelan-pelan bersama Olivia. Meski belum ada cinta yang benar-benar tumbuh di antara keduanya, tapi Malvin cukup optimis kalau gadis itu adalah pilihan terbaiknya.
"Ternyata gengsi lo gede juga ya."
Malvin ikut tertawa sambil memutar stir mobilnya untuk berbelok. "Selain gengsi gue yang gede, sakit hati yang ditimbulkan kakak lo nggak kalah gede, Lee. Serius, gue pengen berhenti. Gue pengen hidup bahagia, itu aja." ia menghela napas panjang, "di sini kakak lo yang memilih pergi, sekeras apapun gue berusaha biar kakak lo balik, tapi apa nyatanya? Dia malah memilih pergi makin jauh, sebagai pria dewasa gue tahu kode ini, Lee. Kakak lo udah nggak mau gue perjuangin, dia ingin gue menyerah. Itu aja."
Ailee mengumpat kasar. Wajahnya terlihat kesal. "Kenapa sih kisah kalian ribet banget," gerutunya kemudian.
Malvin tersenyum getir. "Maka dari itu gue memilih untuk berhenti. Udah cukup, Lee. Gue nggak mau hati gue lebih sakit lagi. Udah cukup yang kemarin-kemarin. Gue nggak mau makin trauma sehingga bikin gue takut melangkah. Mungkin orang itu bukan gue, dan orang itu bukan kakak lo. Kisah kita mungkin ditakdirkan dengan pasangan masing-masing."
__ADS_1
"Gimana kalau gue?"
Malvin menaikkan sebelah alisnya heran. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ada apa dengan gadis ini? Batinnya bertanya-tanya.
"Lo gila?"
"Iya, gue frustasi dan juga gila. Bokap gue sama bokap lo masih pengen lo punya hubungan dengan kakak gue atau gue."
Malvin menggeleng tidak percaya. "Enggak mungkin, gue bahkan udah kenalin--" kalimatnya mendadak terhenti karena ia ingat sesuatu. Linda mungkin sangat welcome terhadap Olivia, tapi tidak dengan Damar. Sang Papa terlihat kurang begitu suka dengan pilihannya kali ini.
Apa sang Papa masih menginginkan hal semacam ini?
"Kak! Kak Malvin! Awas!"
Lamunan Malvin langsung buyar, ia tidak menyadari kalau ada truk lewat di hadapannya. Ia mencoba membanting stir agar bisa menghindari truk itu, tapi naas, usahanya kurang cepat sehingga mobilnya dan truk tersebut bertabrakan.
Tbc,
__ADS_1