Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 14


__ADS_3

***


Selesai acara kondangan, Malvin langsung mengantar Ailee pulang. Pria itu bahkan tidak banyak mengajak perempuan itu mengobrol. Hal ini membuat Ailee bertanya-tanya.


"Bro, nggak jadi ngajak gue ngobrol?"


Ailee akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara saat mobil Malvin memasuki komplek perumahannya.


Malvin menoleh sekilas. "Bukannya dari tadi kita udah ngobrol?" ia malah balik bertanya dengan raut wajah bingungnya.


"Bukan itu, soal Kak Yasmin."


"Oh."


"Oh?" beo Ailee dengan raut ekspresi tidak percayanya, "lo bercanda apa gimana sih?"


"Udah lah, nggak usah dibahas."


"Lah, kok nggak usah dibahas? Gimana sih? Lo kan nemenin gue kondangan demi dapet info tentang kakak gue kan? Kenapa sekarang lo malah minta nggak usah dibahas?" Ailee mendengus tidak percaya sekaligus heran, "aneh banget sih lo."


Malvin langsung menghentikan mobilnya begitu sampai di depan rumah gadis itu. "Sekarang gue tanya, emang lo tahu di mana kakak lo sekarang?"


Mulut Ailee seketika langsung tertutup rapat. Karena tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, ia sendiri memang tidak diberitahu apapun tentang keberadaan sang kakak, Yasmin hanya bilang kalau perempuan itu mau ke luar negeri tanpa menyebutkan ke negara mana perempuan itu akan pergi. Ailee tidak berani bertanya lebih karena mungkin sang kakak khawatir kalau ia nanti akan membocorkan keberadaan perempuan itu kepada Malvin.


"Sorry," cicit Ailee merasa bersalah.


"Udah lah, nggak usah dibahas. Emang dasar gue yang bego sih, kenapa mau-mau aja nuruti lo."


"Tapi gue janji bakalan nyari tahu nantinya. Mau gimana pun juga kan gue adiknya, jadi gue rasa nggak sesusah itu kok. Lo jangan nyerah dulu, nanti pasti gue bantuin."


Malvin menghela napas lalu menggeleng cepat. "Enggak usah lah, Lee, percuma. Toh, kalau gue nantinya tahu dia di mana, gue juga nggak bisa nyamperin dia. Bahkan gue juga nggak bisa berbuat apa-apa, jadi, ya udah. Emang udah seharusnya gue move on pelan-pelan buat ngelupain dia. Mungkin bukan gue orangnya."


Ailee merasa sedih saat mendengar jawaban Malvin. Gadis itu menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada badan bangku penumpang. Pikirannya menerawang.


"Padahal gue tahu lo orang baik, bro, tapi emang dasar kakak gue aja yang bego. Ngelepasin cowok sebaik lo hanya karena perasaan insecure-nya. Kadang gue suka heran sama cewek cantik, mereka kan udah cantik kenapa sih masih aja insecure? Yang biasa-biasa aja bahkan kadang cenderung minus aja belagunya selangit. Tapi kenapa kakak gue bego sih, bro?"


Ailee tiba-tiba merasakan perubahan emosi yang menjadi gemas. Gemas dengan sikap kakaknya sendiri.

__ADS_1


Malvin mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sambil terkekeh. "Mana gue tahu, lo kenapa ngerasa begitu?"


"Ngerasa gitu gimana?" Ailee menoleh ke arah Malvin dengan tatapan herannya, "maksud lo gue ngerasa insecure gitu?" ia mendengus tak lama setelahnya, "najis, gue nggak ngerasa gitu kok. Lagian gue ngerasa biasa aja, nggak cantik."


"Menurut gue dengan lo bilang kalau diri lo nggak cantik, itu tandanya lo insecure loh."


"Hah?"


"Padahal lo cantik anjir, Lee, kok bisa-bisanya lo nggak ngerasa cantik?"


Ekspresi Ailee berubah sok malu-malu kucing. Kepalanya sedikit miring untuk memperhatikan ekspresi wajah Malvin agar lebih dekat. "Jadi menurut lo, gue cantik, bro?"


Anehnya, Malvin tiba-tiba merasa gugup. Telunjuknya kemudian mendorong dahi gadis itu.


"Buruan masuk sana lo! Ntar keburu dicari nyokap-bokap lo."


"Cie, salting," goda Ailee iseng, "jangan-jangan lo mulai naksir gue ya, makanya lo terkesan bodo amat meski gue nggak bisa kasih info tentang kakak gue. Hayo, ngaku lo!"


"Najis."


Malvin pura-pura memasang wajah hendak muntah, hal ini membuat Ailee makin terbahak puas.


Malvin hanya manggut-manggut seadanya dan langsung menyuruh gadis itu untuk segera masuk ke dalam rumah. Sementara dirinya memutuskan untuk pulang.


***


Bingung hendak ke mana, Malvin memutuskan untuk pulang saja. Sebenarnya ia ingin main ke rumah Yana, tapi males kalau harus disuruh-suruh perempuan itu. Dih, mending pulang terus tidur. Enak.


"Abis kondangan, Mas Malvin?"


Malvin terkekeh sebentar lalu sedikit menunduk ke arah kemeja yang sedang ia kenakan. Tak lama setelahnya ia langsung mengangguk untuk mengiyakan.


"Lo?"


Olivia langsung mengangkat barang bawaannya yang terlihat dibungkus bubble warp. Sebenarnya, Malvin tahu kalau Olivia habis dari resepsionis untuk mengambil paketnya, tapi gimana ya, namanya tinggal di Indonesia. Basa-basi itu penting.


"Beli apaan tuh?" tanya Malvin terkesan kepo. Meski sejujurnya, tujuan dan niatnya hanya untuk basa-basi saja. Karena sungguh, ia sama sekali tidak kepo.

__ADS_1


"Hehe, ada deh."


Malvin manggut-manggut paham sambil terkekeh. "Perlu bantuan?" tawarnya kemudian.


Olivia menggeleng sebagai tanda jawaban. "Makasih tawarannya, Mas. Tapi aku bisa kok bawa sendiri."


Malvin hanya mengangguk saat meresponnya. Ia tidak berencana untuk memaksa, karena takutnya malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Gue nggak bakalan maksa loh, Liv, kalau nggak mau ya udah."


"Hehe, makasih, Mas, atas niat baiknya. Tapi kayaknya aku belum perlu deh. Ringan juga kok." saat keduanya sudah mau ke dalam lift, mendadak teringat sesuatu, "oh ya, Mas Malvin."


Malvin terkekeh. "Malvin doang aja kenapa sih?" protesnya kemudian.


"Ya mana bisa, Mas."


"Bisa," ucap Malvin.


Olivia merengut dan menggeleng. "Enggak sopan."


Malvin pada akhirnya manggut-manggut pasrah. "Terus mau ngomong apa tadi?"


Olivia menepuk dahinya reflek. "Oh iya, hampir lupa. Aku tadi mau nawarin, Mas Malvin bisa makan brownis nggak?"


"Hah?" respon Malvin spontan, "maksudnya?" tanyanya tidak paham.


"Ya bisa makan brownis atau nggak, takutnya nanti Mas Malvin ada alergi atau gimana?"


"Oalah, enggak sih, aman, nggak punya alergi kok gue. Kenapa emang?"


"Tadi aku abis bikin eksperimen gitu, mau nyoba nggak?"


"Bikin sendiri?"


Olivia mengangguk cepat. Malvin merasa takjub saat mendengarnya.


"Boleh deh."

__ADS_1


"Oke."


Tbc,


__ADS_2