Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Jelang Tujuh Bulanan


__ADS_3

"Mas, buat acara tujuh bulanan nanti acaranya gimana?"


Setelah mengambilkan nasi dan juga lauk, Ayana langsung menyerahkan piring itu kepada Saga. Pria itu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.


"Kamu udah urus izin cuti?"


"Acaranya biasa aja, syukuran doang, pengajian terus undang anak-anak yatim. Nggak usah pake acara adat yang begitu-begitu. Ribet."


Mendengar kata 'ribet' Ayana menjadi tersinggung. Ia meletakkan sendok dan garpunya dan menatap sang suami tajam.


"Apa kamu bilang, Mas? Ribet? Buat anak sendiri dan kamu bilang ribet? Tega ya kamu, Mas?" Ayana mendengus kesal, "kita sama-sama orang Jawa loh, Mas," sambungnya kemudian.


"Ya, terus? Acara begituan nggak wajib juga kan?" Saga menggeleng, "kata aku mending nggak usah. Ribet. Nanti kamu capek. Akhir-akhir ini kamu udah gampang banget capek loh, Yan. Kalau pake acara adat begitu, nanti prosesinya pasti panjang. Jadi mending nggak usah," sarannya kemudian.


"Aku begini karena aku sayang kalian, jadi jangan bilang kalau aku nggak sayang," sambung Saga tak lama setelahnya. Saat ia menyadari sang istri hendak membuka suara.


"Ah, Mas Saga kamu itu nggak asik banget tahu."


"Aku suami kamu, Yan, kalau mau asik-asikin sama temenmu."


Mendengar nada bicara tegas sang suami, Ayana sudah tidak dapat membantah. Mau ia mengancam ingin merajuk sampai seminggu pun, Saga kalau bilang enggak, susah untuk diubah jadi ya. Membujuk Saga bukanlah perkara mudah, mengingat pria itu pemegang teguh pendiriannya.


"Terus kalau Mama atau Ibu protes gimana? Masa sama-sama orang Jawa, acara tujuh bulanannya nggak pake prosesi ada Jawa?"


"Itu urusan aku. Aku udah ngomong sama mereka."


"Serius?" tanya Ayana seolah tidak percaya.


"Kalau enggak, ya, pasti Mama udah heboh."


Benar juga, ya, acara tujuh bulannya tinggal minggu depan. Rasanya tidak mungkin kalau sang Mama sesantai ini padahal acara sebentar lagi.


"Kamu nggak perlu mikirin apapun, tinggal terima beres. Untuk bingkisan para anak yatim, tetangga komplek, sampai rekan sejawat kita masing-masing udah diurus semua. Kamu cuma perlu fokus ke kesehatan kamu sama adek. Udah. Lainnya biar diurus sama Mama dan Ibu." Saga kemudian teringat sesuatu, "ah, sama nanti Nabila juga ikut bantu."


"Semua udah diurus?"


Saga mengangguk seraya menyuap nasinya.


"Kok aku nggak ditanya-tanyain?"


"Apa?"


"Ya, isi bingkisannya lah, Mas. Kenapa kamu serahin semua ke mereka sedangkan aku nggak kamu mintain pendapat?"


Saga menghela napas sambil meraih gelasnya. "Emang perlu? Sama aja kan? Lagian aku juga nggak dimintain pendapat. Nggak ada masalah. Karena emang aku nyerahin semua ke mereka."


"Kenapa nggak nanya dulu sama aku?"


Saga menatap sang istri diiringi helaan napas. "Kita mau berantem cuma perkara ini?"


"Kamu itu selalu gitu, Mas, nyepelein semua hal. Bagi kamu mungkin itu cuma, tapi bagi aku enggak. Kamu paham perbedaan nggak sih, Mas? Aku dan kamu itu beda, kita itu nggak sama, jangan kamu sama-samain bisa nggak sih?" ucap Ayana sebal. Tanpa menghabiskan sisa makanannya ia langsung pergi begitu saja. Moodnya menguap entah ke mana.

__ADS_1


Saga tidak menahan kepergian sang istri. Prinsipnya utamanya kalau Ayana merajuk, ia akan memberinya waktu menenangkan diri sejenak, baru setelah itu ia akan membujuknya.


Sedangkan Ayana yang merasa kesal memilih untuk pergi dari rumah. Dia tidak memilih tempat yang jauh, paling hanya berjalan sekitar komplek untuk cari udara segar.


Saat sedang asik menggerutu, tiba-tiba Axel muncul di hadapannya. Hal ini membuat Ayana bertambah kesal.


"Haishh, lo itu kenapa sih hobi banget ngagetin gue," amuk Ayana sambil memukuli tubuh pria yang beberapa tahun lebih muda darinya ini.


"Hehe, kaget ya, Kak?" cengir Axel dengan wajah tanpa rasa bersalahnya.


"Menurut lo?" sembur Ayana galak.


"Buset, galak banget sih ini bumil satu. Udah kayak nggak dapat jatah kasih sayang dari suami aja." Axel terkekeh sambil melirik Ayana jahil, "jangan-jangan beneran nggak dapet ya?"


Ayana mendengus. "Dih, diem deh lo! Bocil kayak lo mana ngerti istri yang kurang kasih sayangnya suami."


"Lah, ngeremehin. Jangan salah lo, Kak. Bocil-bocil begini, gue bisa kali bikin bocil."


"Halah, nggak usah sok-sokan mau bikin bocil deh. Skripsi lo apa kabar?"


Mendengar pertanyaan yang tidak ingin didenger, Axel langsung berdecak kesal. "Pertanyaan lo nggak sopan buat mahasiswa tingkat akhir kayak gue, Kak."


"Lah, pertanyaan lo tadi juga nggak sopan kali buat istri orang yang laki bete sama suaminya. Mau apa lo?" tantang Ayana tidak mau kalah.


Namun, di luar dugaan Axel malah terkekeh puas. "Oh, jadi ceritanya lo lagi ngambek sama laki lo, Kak?"


"Diem deh lo!" sembur Ayana galak lalu pergi meninggalkan Axel begitu saja.


Meski ditinggalkan begitu saja Axel tidak merasa kesal. Ia justru malah tersenyum sambil memandang punggung perempuan itu kian menjauh. Tak lama setelahnya baru lah ia berlari kecil untuk mengejar Ayana.


"Bocah gila," balas Ayana sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi gue serius."


"Sama. Gue juga. Menurut gue lo itu gila, bisa-bisanya lo modusin istri orang yang lagi hamil lagi. Udah nggak waras lo."


Axel tertawa. "Namanya usaha, Kak, laki-laki itu harus pinter-pinter ambil kesempatan."


Mendadak Ayana merasa ngeri kala mendengar jawaban Axel. Menurutnya bocah ini benar-benar tidak kenal takut.


"Yang barusan itu bercanda kan, Xel?"


Axel tertawa. "Menurut lo gimana, Kak?"


Ayana menggeleng tanda tidak yakin.


"Enggak, enggak, gue bercanda doang. Udah, yuk, gue traktir bakso langganan lo. Lo pasti belum makan kan tadi."


"Udah. Gue masih kenyang."


Kruyuk kruyuk

__ADS_1


Lain di mulut lain lagi perut. Tepat setelah Ayana menjawab, perutnya langsung berbunyi.


"Iya, iya, lo masih kenyang, tapi kayaknya anak lo masih laper. Yuk, gue traktir!" ajak Axel dengan tidak sopan.


Tidak sopannya di sini adalah Axel yang secara tidak tahu diri menggenggam telapak tangan Ayana tanpa beban. Ayana yang merasa lapar tapi gengsi untuk langsung pulang pun, mau tidak mau pasrah ditarik Axel.


"Kak, dulu cita-cita lo apa?"


Ayana melirik Axel heran. "Lo random banget tiba-tiba nanya cita-cita gue?"


"Enggak random sih, sebenernya, cuma kan gue lagi di fase jadi mahasiswa tingkat akhir, butuh pencerahan untuk melanjutkan hidup."


Ayana terkekeh. "Buset, bahasa lo berat banget deh," ledeknya kemudian.


"Jawab aja sih, Kak, cita-cita lo dari dulu beneran jadi dokter?" tanya Axel kepo.


Di luar dugaan Axel, Ayana menggeleng. "Enggak sih, cita-cita gue dari kecil berubah-ubah terus, nggak yang bener-bener emang dari kecil pengen jadi dokter. Gue malah dulu nggak ada cita-cita pengen jadi dokter."


Axel terlihat tertarik. Mereka berdua terus melangkah menuju tempat pangkalan tukang bakso langganan Ayana.


"Terus apa cita-cita lo dulu?"


Tiba-tiba Ayana berhenti dan menoleh ke arah Axel dengan kedua mata menyipit dan jari yang menunjuk cowok itu.


"Gue bakal bilang asal lo janji nggak akan bilang ke siapa-siapa?"


"Jangan terlalu berharap ke gue."


"Ya udah, gue nggak jadi bil-"


"Iya, iya, gue nggak akan bilang siapa-siapa," potong Axel cepat, "lagian gue mau bilang ke siapa juga sih, Kak?"


Ayana mengangkat kedua bahunya secara bersamaan dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Jadi apa cita-cita lo dulu?" Axel langsung bergegas menyamakan langkah kaki mereka, "jangan bilang dulu lo pengen jadi hewan atau kartun animasi?"


"Bukan."


"Terus apaan?"


"Cita-cita gue dulu pas kecil pengen jadi istrinya temen abang gue."


"Hah?" Axel melongo tidak percaya, "lo sebut itu cita-cita, Kak?"


"Bukan sih, cuma waktu itu gue masih kecil banget dan gue nggak pengen jadi apa-apa selain itu."


Ekspresi Axel masih terlihat seperti orang yang tidak percaya. "Lo bilang barusan kalau cita-cita lo ini pas masih kecil, emang dulu lo udah ngerti arti jadi istri itu apa?"


Sambil terkekeh Ayana menggeleng. "Enggak. Ya, enggak mungkin ngerti juga lah, Xel, cuma di bayangan gue dulu, gue cuma pengen jadi kayak nyokap-bokap gue. Itu aja."


Axel mengangguk paham lalu bergumam, "Berarti nggak bisa wujudin cita-cita tuh bukan lah akhir dari segalanya ya?"

__ADS_1


"Eh, siapa bilang gue nggak bisa wujudin cita-cita gue? Yang jadi suami gue sekarang itu lo pikir siapa? Temen abang gue yang gue maksud kali."


"Hah?"


__ADS_2