
***
Malvin langsung merogoh kantong celananya saat merasakan getaran dari dalam sana. Ada panggilan masuk dan ternyata itu dari sang Papa.
"Ya, halo, Pa?"
"Di mana? Ruangan kamu kosong dan staf bilang kamu sudah pulang, tapi sekarang Papa udah di rumah tapi kamu masih belum ada di rumah. Mampir ke mana kamu?"
"Di rumah Yana. Tapi ini juga udah mau pulang kok."
Malvin cepat-cepat langsung berdiri dan mencari sepatunya.
"Sepatu gue mana?" tanyanya tanpa mengeluarkan suara.
Ayana kemudian menunjuk ke arah pintu luar. "Tuh, di rak sepatu depan."
Malvin kemudian manggut-manggut paham sambil mengangkat jarinya membentuk huruf O. "Gue cabut dulu," pamitnya kemudian.
"Langsung pulang nggak usah mampir-mampir!" ucap Damar sebelum mematikan sambungan telfon.
"Siap, ini langsung pulang."
Klik.
"La, Om Avin pulang dulu, ya, besok main lagi. Oke?"
"Janji?"
Malvin garuk-garuk kepala. Kalau sudah berjanji dengan anak kecil pasti akan ditagih terus-terusan nih. Gimana ya, masalahnya ia tidak yakin juga apa besok bisa ke sini atau tidak.
Dengan kesal, Ayana langsung melotot pada pria itu. "Kalau nggak tahu besok bisa ke sini atau enggak, bilang, Vin, jangan php-in anak gue. Gue males besoknya ntar dia rewel nyariin lo padahal lo-nya nggak bisa ke sini. Ngomong yang bener!"
"Iya, iya," ucap Malvin pasrah pada akhirnya, ia kemudian mengambil posisi jongkok, "Mala cantik kesayangan Om Avin, besok Om Avin ke sini-nya kalau ada waktu ya, jadi Mala jangan nungguin Om, Oke?"
Ayana langsung mendengus saat mendengar kalimat pria itu, yang menurutnya sangat lah kurang tepat.
Meski dengan bibir manyun, Mala pada akhirnya mengangguk dan memeluk leher pria itu.
"Mala nggak boleh nakal ya, kapan-kapan Om ke sini lagi terus kita main bareng. Oke?"
Sekali lagi Mala langsung mengangguk lalu melepas pelukannya dan berlari memeluk sang Mama. Malvin jadi sedikit tidak tega melihatnya.
"Buruan pulang sana!" usir Ayana kemudian. Karena Malvin malah berdiri sambil menatap keponakannya yang tampak sedih.
"Tapi anak lo?"
"Anak gue biar jadi urusan gue, buruan pulang!" usir Ayana kemudian.
Meski sedikit tidak tega, Malvin pada akhirnya langsung pulang dan meninggalkan Mala dengan perasaan sedih. Keduanya sama-sama anak tunggal, jadi mungkin itu juga yang membuat keduanya nampak akrab. Selain karena pria itu hobi sekali memanjakan gadis kecil itu tentu saja.
***
Saat Malvin sampai di rumah, ternyata sang Papa sudah menunggunya. Entah kenapa ia mendadak merasakan atmosfir yang sedikit tidak mengenakkan.
"Pa," sapa Malvin seadanya.
__ADS_1
Damar mengangguk lalu menyuruh pria itu untuk duduk di hadapannya. Ragu-ragu Malvin kemudian duduk dan meletakkan tas beserta jas putih di sampingnya.
"Ada apa, Pa? Kok kayaknya ada hal yang serius?"
"Kamu ada pacar? Gebetan? Atau perempuan yang bikin kamu tertarik?"
Malvin sedikit shock dengan pertanyaan sang Papa. Mendadak jantungnya berdebar kencang, sepertinya ini adalah saatnya tiba. Baiklah, ia memang sudah mempersiapkan perasaan ini dari jauh-jauh hari, tidak, ia tidak akan menolaknya.
Dengan wajah tenang, Malvin kemudian menggeleng cepat. "Enggak ada, Pa. Selama ini Malvin cuma sibuk sama pasien bantu ngurus rumah sakit kadang, sama main-main doang. Papa udah ada kandidat calon buat Malvin?"
"Sudah. Dia anaknya Om Hardi, kamu tahu dia?"
Dengan wajah tidak yakinnya, Malvin menggeleng. Ia merasa asing dengan nama tersebut, jadi ia rasa ia tidak mengenalnya.
"Kayaknya enggak kenal deh, Pa."
"Beliau itu punya pabrik alat medis yang suplai ke rumah sakit kita hampir tiga tahunan ini. Dia punya anak bungsu, dokter juga kayak Mama-mu."
Malvin mengerutkan dahi. Kalau seperti sang Mama itu artinya dia spesialis anak?
"Spesialis anak?"
Damar mengangguk cepat.
"Oke, atur aja kapan ketemuannya. Malvin siap kapan aja, asal dia mau."
"Tenang saja, Papa sudah bicarakan dengan orangnya langsung, dia tertarik."
"Oke." Malvin mengangguk cepat, "udah kan cuma itu? Ada hal lain?"
Damar kemudian menggeleng cepat. "Udah, untuk informasi nanti menyusul, nanti Papa kirimin biodatanya ke email kamu."
"Kamu terpaksa?"
Malvin kembali menggeleng. "Enggak, gitu, Pa. Ya udah, iya, nanti aku liat."
"Jangan malu-maluin Papa, Papa cuma nawarin, kalau kamu nggak mau ya sudah, awas saja kalau kamu sampai berpikir kalau Papa memaksamu."
"Iya, enggak kok, Malvin nggak akan mikir gitu."
Damar mengangguk paham lalu menyuruh sang putra agar segera mandi. Malvin pun mengangguk setuju dan langsung bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Saat menutup pintu kamarnya, Malvin terkejut dengan keberadaan sang Mama yang kini sedang duduk di tepi ranjangnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya menatap lurus ke depan dan entah kenapa itu memberikan kesan yang agak horor terhadapnya.
"Astagfirullah, Mama, iiih, ngagetin aja," seru Malvin reflek berteriak sambil memegang dadanya karena terkejut, "Mama ngapain sih? Lagi syuting film horor?" decaknya sebal.
"Maaf, tadi Mama agak ngelamun bentar. Kamu udh pulang?"
Malvin mendengus karena sedikit masih kesal. "Ya udah, kalau belum mana mungkin aku udah di sini?"
"Kok kamu marah?" protes Linda ikut kesal.
"Ya, gimana aku nggak kesal, aku baru masuk ke kamar terus tiba-tiba Mama duduk di tepi ranjang sambil ngelamun. Gimana bisa Malvin nggak kesal? Mama ngagetin Malvin loh."
"Ya, kan Mama udah minta maaf, nggak usah ngegas bisa dong?"
__ADS_1
Malvin menggeleng cepat. "Enggak bisa, Malvin kesel. Titik. Lagian Mama ngapain sih di sini? Aku pikir tadi ada setan penunggu kamar aku loh."
"kurang ajar banget kamu Mama-nya sendiri dibilang setan."
"Ya salah sendiri ngagetin," gerutu Malvin sambil melepas kancing lengan kemeja.
"Kan Mama nggak sengaja."
"Ya tapi intinya Mama udah ngagetin," ucapnya kekeuh.
"Oke. Mama yang salah. Sekarang Mama mau nanya."
"Nanya apaan?" Malvin mengerutkan dahinya heran.
"Kamu nerima tawaran Papa-mu yang mau dijodohin itu?"
Malvin menggeleng. "Enggak--"
"Enggak?" beo Linda dengan ekspresi tidak percayanya, "kok bisa? Papa-mu ngamuk nggak?"
"Dengerin Malvin biar lanjutin kalimat dulu bisa nggak? Maksud Malvin gini, aku nggak nolak karena kan emang aku yang minta, Ma. Gimana sih?"
Raut ekspresi Linda terlihat sedikit sedih. Malvin yang menyadari hal itu cepat-cepat menghampiri sang Mama dan memegang telapak tangannya.
"Ma, dengerin Malvin, Mama masih pengen punya cucu kan?"
Masih dengan raut wajah sedihnya Linda mengangguk. "Mau."
"Ya udah, berarti Malvin harus dijodohin karena kalau Malvin nggak dijodohin ntar Malvin nggak nikah-nikah gimana?"
"Tapi kenapa harus dijodohin sih? Kan kamu masih muda, dokter, ganteng, pinter, baik, masa harus dijodohin?"
"Ya kan nggak papa, yang penting nikah kan?"
"Kamu nggak keberatan kan? Mama cuma pengen liat kamu bahagia, Vin, kalau nggak menikah bikin kamu bahagia, kamu boleh kok buat nggak nikah yang penting kamu bahagia."
Mendengar jawaban sang Mama, Malvin langsung mendengus. "Katanya pengen cucu," sindirnya kemudian.
"Ya emang, Mama pengen cucu, tapi Mama lebih bahagia ngeliat kamu bahagia, itu aja, Vin."
"Percaya aja, Malvin pasti bakalan bahagia kok. Janji."
"Yang bener?"
"Iyaaaa."
"Ya udah, semoga sukses ya nanti. Kalian nggak perlu maksain diri kok kalau semisal nggak cocok sama yang ini."
"Iya, Ma."
Linda berdecak kesal. "Kamu mah bisanya iya, iya aja, Vin."
Malvin tertawa. "Ya, terus apa dong?"
"Bahagia. Oke?"
__ADS_1
Malvin mengangguk lalu memeluk sang Mama tercinta. Meski ia tidak terlalu berharap dengan perjodohan ini, tapi ya, semoga saja perjodohannya tidak terlalu mengecewakan dirinya maupun pihak perempuan.
Tbc,