
****
"Na, gue mau nikah," ucap Malvin tiba-tiba.
Ayana hanya tertawa saat mendengar kalimat pria itu. Tangannya masih sibuk membuat adonan kulit risol. Sang putri sedang suka sekali dengan risol mayo, dan kebetulan stoknya hari ini habis, alhasil ia harus membuatnya lebih dahulu.
"Serius."
"Iya, selamat ya atas pernikahannya. Mau minta kado apa ntar lo?"
Malvin merengut kesal saat mendapati respon sang sahabat yang terkesan menyepelekan berita bahagianya.
"Reaksi lo kok gitu doang sih?" rajuknya kesal.
"Ya, lo berharap gue ngapain? Salto? Mana bisa gue begituan, anjir. Jadi ya, selamat. Cukup kan?"
Mumpung sang putri sedang tidur jadi ia bisa dengan bebas menggunakan kosa kata tersebut. Kebetulan sang suami juga sedang tidak ada di rumah.
"Lo serius nggak kaget?"
Gerakan tangannya yang tadinya sedang mengaduk mendadak terhenti. "Emang lo seriusan mau nikah?"
Malvin melotot tidak percaya. "Ya, serius lah, Na. Masa iya bercanda."
"Sama siapa?"
"Calon istri gue lah, masa iya sama calon istri orang lain."
"Punya nama kan?"
"Punya lah."
"Siapa?"
"Namanya Ivana, anaknya temen bokap. Dokter juga, spesialis anak kayak nyokap."
"Anjiir. Lo serius? Kok bisa?" tanya Ayana dengan raut wajah tidak percayanya, "bentar, kali ini serius apa bercanda lagi kayak kemarin."
Malvin tertawa. "Beneran dong, Na. Gue bahkan udah lamar dia?"
"Kapan? Kok bisa-bisanya lo nggak cerita?"
"Nah, gini dong reaksi yang bener. Oke, gue bakal cerita. Jadi, pertemuan gue sama dia tuh baru dua mingguan, terus gue lamar dia di hari ke 10 kalau nggak salah."
"Lo gila?"
Ayana ingin sekali menyiram kepala pria itu menggunakan adonan kulit risol yang baru saja ia buat, tapi berhubung nanti takut dicariin sang putri, maka dari itu ia harus mengurungkan niatnya tersebut.
"Bisa-bisanya lo lamar anak orang di saat baru kenal seminggu? Udah nggak waras lo?"
Reaksi Malvin kali kembali tertawa. Bahkan dengan cepat pria itu mengangguk dan setuju dengan perempuan itu. "Bener, emang nggak waras kita tuh, Na."
"Gila dua-duanya?"
"Ho oh." Malvin kembali tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dan menghentakkan kedua kakinya, "gue sama Iva sama-sama gila sih, Na. Besok atau kapan-kapan deh gue kenalin, dia anaknya asik kok. Lo bakalan lebih shock pas pertama kali kita ketemu."
"Emang kalian ngapain?" tanya Ayana heran. Perasaannya mulai tidak enak, kedua matanya langsung menyipit curiga.
"Baru berapa menit kenalan kita udah bahas nikah. Karena emang baik gue sama dia, dateng ke sana dengan tujuan mau nikah kan, dan ya udah, langsung kita bahas. Nyiapin ini-itu baru deh gue langsung lamar dia. Sama kayak lo, nyokap gue shock parah sih, tapi gue cuma ketawa-ketawa aja."
Ayana berdecak sambil geleng-geleng kepala lalu mulai menyalakan kompor. Lebih baik ia segera membuat kulit risol sebelum sang putri bangun.
"Emang beneran gila ya kalian? Serem amat, baru kenalan langsung ngobrolin nikah. Lo nggak ilfeel?"
__ADS_1
"Lah iya juga ya, kenapa gue nggak ilfeel, Na?"
"Jatuh cinta beneran tuh pasti lo, jatuh cinta pada pandangan pertama. Buset, gokil juga ya lo."
"Ho oh, gue juga nggak nyangka kalau bakalan langsung begini."
Malvin langsung menoleh saat menyadari ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk, dan itu dari Ivana. Calon istrinya.
"Ini dia orangnya nelfon."
"Loudspeaker coba!" ucap Ayana menyarankan, "kepo banget gue jadinya."
"Ya, halo, Va. Gimana?" sapa Malvin begitu sambungan terhubung.
"Halo, Vin, lo di mana? ini gue udah selesai jadi ngajak ke rumah besti lo nggak? Kalau enggak gue mau order taksi nih."
"Maksudnya gue?" bisik Ayana sambil menunjuk dirinya sendiri. Malvin kemudian mengangguk untuk mengiyakan.
"Ini gue udah di rumah dia, Va."
"Oh, udah di sana? Ya udah, kalau gitu gue pesen taksi kalau nggak ojol deh. Have fun!"
"Gue jemput!"
Ivana yang tadinya hendak mematikan sambungan telfon mendadak urung. "Hah? Gimana?" tanyanya memastikan, takut kalau salah dengar.
"Gue jemput, Va."
"Enggak usah, kan lo udah sampe di sana, gue naik taksi aja deh. Atau lo share loc aja, biar gue samperin gimana?" tawar Ivana.
Malvin berpikir sebentar. "Enggak gue jemput aja?"!
"Enggak usah, daripada bolak-balik lo-nya, mending gue yang nyusul ke sana. Buruan share loc ya?"
Klik. Sambungan terputus, Malvin kemudian langsung mengirimkan chat kepada Ivana.
Malvin : share location
Malvin : ntar kalau udah deket, berkabar aja. Gue jemput dari depan rumah
Malvin : 🤣🤣🤣
Ivana : 👌
"Kenapa?" tanya Malvin heran kala menyadari ekspresi Ayana yang mendadak berubah agak julid. Perempuan itu menggeleng lalu kembali fokus pada adonan kulit risolnya, "seriusan mau ke sini dia?"
"Ya, serius, masa iya bercanda. Mau nikah aja serius, masa mau ke sini bercanda gimana sih?"
"Lah, ini gue nggak punya apa-apa buat suguhan kali, Vin, gue nggak enak." Ayana kemudian berdecak dan mematikan kompor, ia berjalan menuju kulkas dan membukanya, "mau dikasih suguhan apa coba ntar?"
"Halah, santai aja, ntar juga dia bakalan bawa sendiri. Percaya deh, apalagi udah pernah cerita kalau lo udah punya anak."
"Ya, tetep aja, Vin."
Malvin menggeleng cepat. "Enggak papa, serius, dia orangnya selow kok. Serius."
Ayana mendengus kesal. "Ya, dia selow tapi gue-nya yang enggak selow," ujarnya sambil menatap pria itu kesal, "ah, ngerepotin lo."
"Santai, ntar kasih aja itu risol mayo bikinan lo."
Ayana menepuk tangannya sekali. "Oh iya, bener, gue bikin itu dulu aja deh."
"Lah, nggak usah, dia mah kalau disuruh main betah. Lo selesaiin semua juga bakal ditunggu sama dia, dari pada kena amuk Mala."
__ADS_1
Benar juga, ya, sang putri kalau ngambek mirip Papanya lagi. Serem.
***
Saat Malvin sedang menunggu Ivana, Mala ternyata sudah bangun. Bocah yang belum genap berumur tiga tahun itu tiba-tiba menyusulnya dengan kedua mata yang masih terlihat sedikit mengantuk. Karena gemas, Malvin langsung menggendong bocah yang masih terlihat mengantuk itu.
"Udah bangun, udah pipis belum?"
Mala mengangguk sebagai tanda jawaban, sebelah tangannya mengusap kedua matanya yang terlihat masih mengantuk.
"Masih ngantuk?"
Kali ini Mala tidak menjawab dan hanya menyandarkan kepalanya pada pundak sang Om.
"Kalau ngantuk boleh tidur lagi kok," ucap Malvin.
Tapi, Mala justru mengangkat kepala saat mendengar kalimat sang Om. Secara random, gadis mungil itu mencium sebelah pipi pria utu lalu kembali menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.
Reflek Malvin terbahak. "Duh, gemes banget sih." Ia kemudian melambaikan tangannya saat menyadari kalau Ivana sudah sampai.
"Sempet nyasar nggak tadi?"
Ivana menggeleng. "Enggak lah, kan lo-nya keliatan gede segini masa iya masih kesasar. Ini anaknya temen kamu? Tidur?"
Malvin langsung memutar tubuhnya. "Udah bangun sih, cuma kayaknya masih agak ngantuk."
"Halo," sapa Ivana sambil melambaikan sebelah tangannya, karena sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk menenteng plastik, menyadari itu Malvin langsung mengambil alih plastik bawaan perempuan itu.
"Siapa namanya, Vin?"
"Mala. Nirmala."
"Halo, Mala, sayang, salim?"
Mala langsung menurut, gadis kecil itu langsung mengulurkan telapak tangannya lalu berjabat tangan dengan Ivana, tak lupa ia mencium punggung tangan perempuan itu.
"Duh, gemes, banget deh, Vin, mau juga yang begini. Satu aja deh tapi," ucap Ivana karena merasa gemas, "ini kalau pipinya aku cubit dikit nangis enggak sih?" sambungnya kemudian membuat Malvin langsung melotot tajam.
"Ya, nangis lah, Va, apalagi kalau nyubitnya dikit, makin sakit tahu."
"Emang iya?" tanya Ivana terlihat seperti orang kurang percaya. Tanpa banyak berpikir ia langsung mencubit pipi Malvin.
Malvin yang kaget tentu saja langsung mengaduh kesakitan dan menjerit protes.
"Iva, iiih, kenapa punya gue yang lo cubit?" protesnya kesal.
"Ya, terus punya siapa kalau bukan punya lo?" Ivana berdecak kesal, "masa iya punya Mala, ntar yang ada dia nangis. Mau lo disalahin emaknya?"
"Ya nggak punya mala juga lah, Va, kan bisa punya lo sendiri lah," sahut Malvin kesal.
"Sayang dong, kulit gue sensitif tahu, jadi nggak bisa sembarangan dicubit."
"Bisa banget lo ngejawabnya," dengus Malvin yang hanya dibalas Ivana dengan menaikkan kedua alisnya naik-turun.
"Btw, ini gue nggak mau disuruh masuk? Cuma disuruh berdiri depan pintu abis itu disuruh pulang?"
Malvin tertawa. "Mau? Kalau mau gue panggilin taksi, eh, tukang ojek deh, kalau taksi ntar boros," guraunya kemudian.
"Dasar calon suami perhitungan sama istri sendiri juga," sahut Ivana dengan wajah pura-pura mengambek.
Malvin kembali tertawa lalu keduanya masuk ke dalam rumah Ayana.
TBC,
__ADS_1