
***
Malvin : bang, bisa temui gue sekarang?
Saga hanya mampu menghela napas pasrah saat membaca pesan singkat yang baru saja Malvin kirimkan, sepertinya ia bisa menebak apa yang terjadi dengan pria itu. Kalau dulu sih udah jelas sang istri yang jadi tempat curhatnya, sedangkan kalau sekarang istrinya sibuk mengurus putri kecil mereka. Sudah jelas pasti Yana tidak sempat mendengarkan curhatan pria itu. Otomatis dirinya yang kena.
Tidak, tidak, ia tidak protes sama sekali. Apalagi mengingat dulu dirinya maupun Yana juga sering curhat ke Malvin, jadi wajar kalau sekarang pria itu melakukan hal sebaliknya.
Saga kemudian mengetik balasan.
Saga : share loc!
Tak butuh waktu lama balasan masuk.
Malvin : share location
Meski dengan sedikit terpaksa, Saga tetap memutuskan untuk mendatangi tempat itu. Ya soalnya nggak mungkin juga kalau semisal dia langsung pulang. Selain tidak tega dengan Malvin, ia juga takut kalau nanti pada akhirnya dirinya akan kena omel sang istri. Berhubung ia cari aman jadi lebih baik Saga langsung bergegas menuju lokasi.
Saga tidak bisa menahan decakan kesalnya saat akhirnya menemui Malvin tengah duduk di salah satu meja bar. Benar, pria itu mengunjungi bar, bisa ia katakan cukup mewah karena hanya beberapa orang yang ada di sana dan tentu saja dengan pakaian mewahnya masing-masing. Malvin terlihat setengah sadar gelas di hadapannya belum sepenuhnya habis, masih sisa setengah, tapi ia tidak tahu sudah gelas ke berapa yang tinggal setengah itu.
"Syuting?"
Malvin yang tadinya merasa hampir-hampir mabuk kini merasa kesadarannya penuh kembali. Ia langsung menoleh ke arah Saga dengan ekspresi bingungnya.
"Gimana, Bang?" tanya Malvin benar-benar tidak paham.
Saga menunjuk Malvin, lalu beralih pada gelas pria itu, baru kemudian menunjuk seisi ruangan dengan memutar jari telunjuknya.
Malvin masih loading.
"Apaan sih, Bang, astaga, gue lagi stres, sampe mabuk begini masih aja lo suruh main tebak-tebakan," decak Malvin kesal, "lo jangan bikin gue makin emosi lah."
Malvin semakin bertambah kesal saat Saga hanya menunjukkan wajah datarnya sambil menggaruk pelipisnya menggunakan jari telunjuknya. Detik berikutnya, pria itu menangis karena saking frustasinya menghadapi pria itu.
"Bang, masa reaksi lo begitu doang sih?" decak Malvin emosi.
"Apa?"
"Ya apa gitu kek, tenangin gue, jangan bikin gue malah makin frustasi begini. Rasanya gue sampe kayak pengen mecahin botol minuman ke kepala lo deh saking emosinya sekarang."
"Pecahin kalau berani!" tantang Saga.
Malvin tentu saja hanya mampu membalas dengan dengusan tidak percaya. "Ya lo pikir gue udah gila? Selain sama ponakan gemes gue si Mala, gue takut sama bini lo kali, Bang. Mana sanggup gue kalau lo minta pecahin kepala lo."
"Botolnya."
Malvin mendengus. "Gue pengennya mecanin kepala lo, Bang, bukan botolnya."
"Oh."
__ADS_1
Malvin tidak dapat menahan decakan sebalnya saat mendapat reaksi seperti barusan. Benar-benar manusia penguji iman, pantas saja Mala sering kali uring-uringan lha wong lakinya model begini. Gue kalau semisal tiap hari harus ngadepi manusia macem Saga begini, kayaknya langsung kena tekanan darah tinggi deh.
"Lo hobi banget ya berdecak?"
Kali ini Malvin tertawa, karena merasa lucu dengan pertanyaan suami sang sahabat yang menurutnya sangatlah konyol.
"Dari sekian pertanyaan pa, harus banget lo nanya itu, Bang?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sebagai respon. Malvin semakin emosi, ia menjambak rambutnya sendiri secara reflek.
"Kayaknya gue udah gila deh, Bang, lagi stres begini tapi malah nelfon lo."
"Berantem?" tebak Saga.
Malvin menggeleng sedih. "Enggak. Tapi putus."
Satu.
Dua.
Tiga.
Senyum Malvin langsung terukir jelas pada bibir pria itu. "Kok lo diem aja, Bang?"
"Lagi nunggu."
Malvin mengerutkan dahi bingung. "Nunggu apa, Bang?"
Malvin manggut-manggut paham. Sepertinya ia paham kenapa secara naluriah ia menelfon Saga, karena ia ingin didengar tanpa perlu dicecar dengan berbagai pertanyaan.
"Yasmin mutusin gue, Bang, gue nggak ngerti apa yang salah dari diri gue. Maksud gue, kita nggak abis berantem atau gimana, tapi dia tiba-tiba minta putus. Gue bingung, Bang. Gue setuju kalau semisal dia cuma minta break, tapi kalau diminta batalin pernikahan kita, gue jelas nggak mau lah, bang. Gue susah payah dapetin dia, masa dia tega sih giniin gue, emang salah gue apa, bang?"
"Terlalu cinta?"
"Bang, jangan bercanda!" seru Malvin emosi. Hal ini membuat mereka sempat jadi pusat perhatian, cepat-cepat Malvin meminta maaf karena sungkan. Kalau Saga jelas saja pria itu biasa saja.
"Terkadang manusia tidak suka dengan hubungan yang berat sebelah."
"Hah? Maksud lo, Bang?"
Saga menggeleng tak lama setelahnya. "Lo sendiri ngerasa gitu nggak?"
"Enggak. Gue rasa sih enggak, Bang, gue selalu berusaha--" Malvin menatap Saga ragu-ragu, "menurut lo karena hal ini, Bang, Yasmin mutusin gue?"
Saga hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Bisa iya, bisa enggak."
Malvin menghela napas. "Bukankah kalau emang karena Yasmin ngerasa begitu, harusnya dia berusaha bilang ke gue terus bisa kita obrolin baik-baik ya, Bang?"
"Ya itu menurut lo."
__ADS_1
"Sebenernya kurang gue apa sih, Bang?"
"Bisa jadi justru sebaliknya."
"Bang!" seru Malvin tidak terima, "lo kenapa ngomong gitu sih?"
"Yasmin, Vin."
"Menurut lo, dia masih mikir gitu, Bang?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Bisa jadi."
"Kalau masalah kurang, gue bahkan lebih banyak kurangnya, Bang. Apalagi kalau dibandingkan dengan karir dia, jelas nggak ada apa-apanya."
"Karir masih bisa dikejar, Vin, kalau lo lupa."
"Anak masih bisa adopsi."
Saga berdecak. "Beda, Vin."
"Apa bedanya? Toh, sama aja cuma titipan Tuhan kan, Bang?"
Saga menghela napas. Bingung juga harus menjelaskannya. Ia akhirnya memilih untuk diam saja.
"Padahal gue beneran nggak papa, Bang, di awal gue emang masih mikir-mikir tapi kalau sekarang gue nggak peduli. Karena yang gue butuhin cuma Yasmin."
"Kalau gitu coba diobrolin lagi," saran Saga.
Malvin langsung mendengus saat meresponnya. "Andai semua semudah itu, Bang, gue udah coba berkali-kali tapi Yasmin seolah menutup diri. Dia bener-bener menutup semua akses agar gue masuk lagi ke kehidupannya. Gue sampe bingung harus bagaimana."
Saga diam saja.
"Kenapa kisah cinta gue begini banget sih, Bang, gue coba mau hidup dengan baik. Kenapa susah banget sih?"
"Vin, namanya hidup nggak ada yang mudah. Semua punya perjuangannya masing-masing, kita aja yang nggak tahu."
Malvin terkekeh. "Bisa ngomong panjang juga lo, Bang?"
Saga langsung kembali diam.
"Gue tahu semua orang punya perjuangan masing-masing, Bang, cuma gue lagi pengen ngeluh aja."
"Pulang!"
"Ntar dulu lah, Bang," rengek Malvin, "mau ngapain sih buru-buru?"
Saga langsung mendorong dahi pria itu sambil berdiri. "Gue punya anak-istri kalau lo lupa!"
"Ah, iya, bener. Dih, sombong banget lo mentang-mentang punya anak-istri."
__ADS_1
Saga geleng-geleng kepala lalu menarik pria itu agar segera mengikutinya. Sepertinya Malvin mulai merasakan efek mabuknya.
Tbc,