Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 40


__ADS_3

***


Saat Malvin terbangun dari tidurnya, Olivia tampak serius dengan pekerjaannya. Tanpa sadar bibirnya tersenyum saat melihat wajah serius gadis itu. Jarang-jarang ia bisa menikmati momen ini.


"Udah bangun, Mas?" tanya Olivia yang ternyata sadar kalau sedang ia perhatikan, pandangan gadis itu bahkan belum teralihkan dari layar laptop, tapi gadis itu sudah menyadari kalau dirinya sudah bangun.


Spontan Malvin tertawa saat menyadari kemampuan luar biasa sang kekasih.


"Ada yang lucu?" tanya Olivia sambil membenarkan kacamata.


Sebuah fakta yang baru ia ketahui kalau ternyata gadis itu memakai kacamata saat bekerja. Terlihat makin cantik dan cerdas. Malvin menyukainya.


"Liv, aku haus."


Kali ini baru lah Olivia mengalihkan pandangannya pada layar laptop lalu berdiri menghampiri pria itu. Ia mengambil botol air minum, lalu Malvin mencegahnya saat gadis itu hendak mengambil sedotan.


"Enggak usah pake sedotan nggak papa, Liv, yang penting tutup botolnya kamu bukain aja."


Gadis itu mengangguk paham, lalu melakukan instruksi yang diminta pria itu. Membuka tutup botol air mineral lalu menyerahkan pada pria itu.


"Makasih," ucap Malvin lalu menegak air minum itu hingga habis setengah botol.


Olivia yang melihatnya sedikit takjub. Maksudnya kan pria itu tidak habis melakukan kegiatan apapun tapi bisa menghabiskan air mineral sebanyak itu. Tentu saja ia takjub.


"Kamu kayak habis ngapain aja, Mas, keliatan kayak orang kehausan."


"Minum air putih yang banyak itu bagus buat tubuh, Liv, kerena tubuh memerlukan banyak cairan."


"Tapi kan kamu udah diinfus, Mas," ucap Olivia sambil menunjuk tiang infus yang masih ada kantong infusnya, "ngomong-ngomong ini kenapa infusnya belum dilepas juga, Mas?"


"Nanti malem atau nanti sore paling juga dilepas."


Olivia manggut-manggut paham. "Oh ya, Mas, tadi Mama-nya Mbak Yana ke sini."


"Mami? Ah, Liv, kenapa aku nggak dibangunin?" rajuk pria itu dengan bibir manyunnya. Terlihat lucu di mata Olivia.


"Kata Mami soalnya nggak usah dibangunin mumpung kamu bisa tidur."


"Aku selalu bisa tidur kok, kalau udah sore biasa aku ngga terima rekan sejawat buat jenguk jadi aku bisa istirahat total. Mama aku juga sering banget aku suruh pulang biasanya kalau udah di atas jam 8."


"Ya aku mana tahu, Mas. Lagian aku sama beliau ngobrol lumayan lama, ya aku pikir nanti kalau bakalan bangun sendiri, eh, tahunya enggak. Hehe."

__ADS_1


Olivia kemudian memutuskan untuk duduk di tepi ranjang.


"Kalian abis ngobrol apa aja?"


"Banyak lah, tapi beliau minta aku buat panggil beliau Mami kayak kamu panggil beliau. Terus beliau juga minta aku buat jadi menantunya. Tapi aku penasaran sih, Mas, emang beliau masih punya anak yang belum nikah?"


Mendengar pertanyaan sang kekasih, Malvin terlihat tidak suka. "Maksud kamu apa nanya begituan?"


"Apa? Emang kenapa? Aku kan cuma penasaran, pengen tahu."


Malvin mendengus. "Mami udah nggak punya anak yang belum nikah kecuali aku, kedua anaknya udah nikah semua, Yana itu anak bungsu kalau kamu mau tahu. Abang Yana itu temen baiknya suami Yana, anaknya udah dua. Alhasil cucu Mami udah tiga."


Olivia manggut-manggut paham. "Berarti kamu beneran dianggap anak beliau ya, Mas?"


Kali ini Malvin tertawa. "Ya iya lah, kalau enggak ya, nggak mungkin kamu disuruh panggil Mami. Soalnya panggilan Mami itu cuma dari aku, buat Yana sama Bang Tama, mereka panggilnya Mama. Oh ya, sama satu lagi, aku kalau panggil suami Mami panggilnya Ayah ya, beliau juga baik banget loh sama aku. Pokok begitu aku sembuh kita ke sana buat ketemu sama mereka." ia berpikir sejenak, "kamu bisa nyetir nggak sih, Liv?"


Olivia mengangguk. "Bisa, cuma kalau di Jakarta aku jarang banget nyetir. Soalnya biasa nebeng sih kalau di sini."


"Oke, nanti kalau semisal aku belum bisa nyetir kamu yang setirin aku ya?"


"Tapi mobil kamu kan ringsek, Mas?" Olivia menatap Malvin tidak yakin lalu menggeleng.


"Aku emang udah ada rencana ganti mobil kok sebelum kecelakaan. Udah lumayan bosen soalnya."


Ah, benar, keluarga Malvin kan sangat kaya dan ia belum mendapat penjelasan dari pria ini.


"Oh ya, Mas, kamu belum kasih penjelasan ke aku."


Malvin menaikkan sebelah alisnya. "Penjelasan apa lagi? Bukannya udah kelar ya masalah kita, aku sama Ailee nggak ada hubungan apa-apa, Liv, kok kamu nggak percaya?"


"Bukan itu, Mas."


"Terus." Malvin kemudian celingukan mencoba mencari sesuatu yang bisa ia makan, "btw, Liv, dari pada tangan kamu nganggur, mending kupasin buah deh, aku pengen ngemil sesuatu sebelum makan siang."


Olivia kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke arah meja nakas. "Pengen apa?"


"Jeruk aja deh. Bisa sambil cerita loh, Liv, aku belum jelasin apa?"


Olivia memilih untuk tidak langsung menjawab, perempuan itu memilih kembali duduk di tepi ranjang lebih dahulu sebelum menjawab.


"Soal keluarga kamu yang punya rumah sakit. Kenapa kamu nggak jujur sama aku?"

__ADS_1


Malvin melotot tidak terima. "Aku nggak jujur gimana? Kan waktu itu kamu nanyanya keluarga aku punya klinik atau enggak. Aku jujur loh, Liv, keluarga aku emang nggak punya klinik."


Olivia menatap pria itu tajam. "Enggak punya klinik tapi punya rumah sakit besar khusus ibu dan anak," dengusnya kemudian.


Malvin garuk-garuk kepala. "Tapi kan waktu itu aku pernah nanya, Liv, kamu butuh jawaban tambahan atau enggak. Kamu keliatan bingung sih, aku juga sebenernya mau jujur waktu itu biar nantinya kamu nggak kaget. Tapi aku nggak enak nanti kalau dikiranya sombong makanya aku nggak berani bilang, lagian itu rumah sakit kan punya kedua orang tua aku, yang bangun mereka jadi aku nggak punya apa-apa."


Setelah selesai mengupas jeruk, Olivia langsung memberikan semua pada pria itu. Yang tentu saja langsung dinikmati Malvin dengan senang hati.


"Tapi kamu anak tunggal, Mas, otomatis kalau itu punya orang tua kamu, ya kemungkinan nantinya bakalan jadi milik kamu. Aku sedih deh karena kita ternyata beda kasta."


Wajah Malvin langsung berubah tidak suka. "Aku nggak suka deh cara pandang kamu yang begini. Nggak usah bawa-bawa kasta bisa nggak sih? Semua manusia itu sama di mata Tuhan, Liv, cuma yang membedakan amalannya."


"Kamu bisa ngomong begitu karena kamu dari pihak anak orang kayanya, Vin, sedangkan aku yang miskin, Mas."


Sekarang Malvin bahkan sudah tidak berminat untuk makan buah karena ia tersulut emosi.


"Kita baru baikan loh, Liv, masa iya kamu ngajak berantem?"


"Loh, kok ngajak berantem sih, Mas?" balas Olivia tidak terima, "aku cuma membeberkan fakta, kenapa kamu mikir begitu? Menurut kamu aku bakalan sampai pindah kerja ke sini kalau cuma mau ngajak kamu berantem?"


Malvin menundukkan kepalanya tanda penyesalan. "Maaf, nggak gitu maksud aku, Liv. Oke, mungkin aku yang terlalu terbawa emosional. Aku nggak suka dengan pikiran kamu yang begitu. Lagian kamu kenapa kayak nggak bisa bersyukur gitu sih, kamu bahkan tinggal di apartemen loh, Liv, bukan ngekost, tapi kenapa kamu berpikir begitu? Bisa nggak sih jangan terlalu memandang diri rendah hanya karena kedua orang tua aku punya rumah sakit."


Kali ini yang menundukkan kepala Olivia. Gadis itu bergumam, "Tapi kalian semua dokter, bukannya kedua orang tua kamu pasti pengen menantu dokter juga? Apalagi kalau mengingat kita nggak benar-benar sama-sama jatuh cinta, Mas, menurut kamu apa hubungan kita bisa berhasil?"


Kali ini Malvin diam. Pria itu terlihat ragu-ragu, setidaknya itu lah yang terlihat di mata Olivia. Gadis itu menghela napas panjang.


"Mungkin nggak akan berhasil kan?"


Malvin berdecak tidak suka. "Kamu jangan menyimpulkan sendiri dulu bisa nggak sih? Kita bahkan baru memulai."


"Justru karena kita baru mulai, Mas, akan lebih baik jika tidak diteruskan kalau memang kemungkinan nggak bagus kan? Biar nggak ada hati yang terluka nantinya?"


Olivia menatap Malvin, pria itu justru memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena ingin menenangkan diri. Ia baru kembali menatap perempuan itu setelah merasa lebih baik.


"Tapi bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu udah mulai jatuh cinta sama aku?"


Olivia menatap Malvin intens. "Lalu Mas Malvin sendiri gimana?"


Wajah Malvin berubah gugup dan juga panik. Pria itu terlihat ragu-ragu.


Tanpa Malvin sadari perempuan itu sedang mengepalkan telapak tangannya demi menyalurkan emosinya.

__ADS_1


"Akan nggak adil, Mas, kalau yang jatuh cinta aku sendirian sedangkan Mas Malvin nggak." sambil menahan tangisnya agar tidak pecah Olivia menggeleng, "aku nggak bisa kalau harus mencintai sendirian."


Tbc,


__ADS_2