Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Akur Mode On


__ADS_3

"Tumben inget pulang."


Malvin otomatis menghentikan langkah kakinya saat mendengar sindiran sang Mama. Harus ia akui, kalau dirinya sangat jarang pulang. Bukan tanpa alasan, tentu saja karena ia malas pulang. Ngapain pulang kalau di rumah nggak apa siapa-siapa kecuali beberapa asisten rumah tangganya.


"Mama juga tumben inget pulang?" balasnya tidak mau kalah.


"Kok jadi Mama yang kena? Setiap hari Mama pulang ya, Vin, kamu aja itu yang nggak pernah inget pulang kecuali lebaran. Itu pun juga belum tentu kamunya tidur di sini. Orang jelas-jelas tinggal di ibukota yang sama kok sampai nggak inget pulang."


Kali ini Malvin tidak membalas. Pria itu memilih diam saja dan berbelok ke dapur. Tenggorokannya sedikit kering, ia butuh sesuatu untuk membasahi tenggorokannya.


Di luar dugaan Malvin, ternyata sang Mama mengekor di belakangnya. Ia sedikit tersentak kaget, nyaris tersedak air minumnya, karena saat ia menoleh ada sang Mama di sana. Sedang menatapnya intens.


"Mama kenapa nggak bilang sih kalau ikut ke sini?" omelnya sedikit kesal.


"Kamu aja yang nggak peka. Lagian ini rumah Mama, suka-suka Mama lah mau ke mana, kenapa harus laporan ke kamu segala?"


Malvin memilih diam dan kembali minum.


"Kamu nginep?"


"Liat ntar."


"Jadi mau ngomong apa sama Mama?"


Malvin kembali diam. Pria itu menimbang, kira-kira jadi ingin mengutarakan niat kedatangannya pulang atau tidak. Sebelum pulang, Malvin memang sempat menelfon sang Mama. Memberitahu perempuan yang telah mengandungnya itu, kalau ia ingin bicara hal penting terhadap beliau. Tapi setelah sampai di rumah, dirinya mendadak ragu.


"Heh! Ditanya orangtua bukannya jawab malah ngelamun!" tegur sang Mama.


Lamunan Malvin langsung buyar. Ia mengangguk dua kali lalu memilih untuk pamit mandi.


"Nanti deh, Malvin mau mandi dulu, Ma."


Sang Mama mengangguk paham. "Kalau belum siap malam ini, bisa kapan-kapan, yang penting sekarang kamu mandi terus istirahat aja," sarannya kemudian.


Malvin menggeleng tidak setuju. "Enggak, Ma, Malvin mau ngomong hari ini. Lebih cepat lebih baik."


Ia sudah tidak tahan dengan kondisinya saat ini, gelisah, galau, dan juga merana. Meski hubungan ia dan kedua orangtuanya tidak begitu akur, tapi Malvin tetap ingin membuat keputusan dengan melibatkan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa gegabah memutuskan sendirian.


Sekali lagi, sang Mama mengangguk paham. Ia mencoba memaklumi sang putra lalu menyuruhnya untuk segera mandi. Sedangkan dirinya bergegas mendekat ke arah kulkas, membukanya, mengambil beberapa buah untuk ia kupas dan dipotong-potong.


Malvin langsung turun ke lantai bawah begitu selesai mandi. Sang Mama masih di dapur dan mengupas buah. Sejak koas, dirinya memang terlatih untuk mandi cepat, apalagi sekarang dirinya sudah jadi residen, makin mahir lah.


"Udah selesai mandinya?"


Malvin mengangguk seraya mengambil buah pir yang selesai dikupas, namun, belum dipotong-potong.


"Mama potongin dulu sini, Vin."


Malvin menggeleng. "Enggak usah, segeran begini."


Sang Mama berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Kamu kenapa mandinya cepet banget? Jadi mandi beneran nggak sih?" tanyanya heran.


"Ya, jadi, emang nggak kecium bau wangi sabunnya?"


Sang Mama kemudian mendengus saat menyadari baunya. "Kamu pake sabun Mama?"


Malvin mengangguk dengan ekspresi tidak bersalahnya. "Kan Malvin jarang pulang, jadi kamar mandinya nggak ada sabun lah."


"Salah sendiri nggak pernah pulang."


"Ma, please, Malvin lagi nggak mood berantem sama Mama. Jangan ajakin aku, mending kapan-kapan aja lah," decak Malvin kesal.

__ADS_1


"Siapa yang ngajakin berantem?" sahut sang Mama tidak terima, "Mama nggak pernah, ya. Kamu aja tiap ketemu Mama bawaannya ngajak berantem terus."


"Papa juga," koreksi Malvin mengimbuhi.


Sang Mama menghela napas panjang. "Itu juga, kamu ini sudah besar dan tua. Udah jadi dokter dan juga calon spesialis, masa masih belum ngerti juga sih, Vin, kenapa kami begini?"


Malvin mengerti dan paham. Tapi tetap saja, sebagai anak ia juga capek dan lelah kalau disuruh mengerti terus tanpa benar-benar dikasih perhatian agar mengerti. Malvin capek karena terus-terusan disuruh mengerti tapi dirinya tidak dimengerti balik.


"Mama selalu minta aku buat ngertiin Mama dan juga Papa, tapi emang pernah kalian ngertiin aku balik? Kenapa yang dituntut buat ngerti cuma aku?" Moodnya Malvin kembali terjun bebas, "kenapa anak yang nggak punya pengalaman selain jadi anak dituntut buat ngertiin orang tua, sedangkan orang tua yang jelas-jelas punya pengalaman pernah jadi anak, sulit buat ngertiin anaknya? Kenapa, Ma? Bukankah kalian lebih berpengalaman?"


"Vin," panggil sang Mama dengan suara yang terdengar sedikit bergetar, "maafin Mama sama Papa, ya. Maafin kalau kami terlalu egois nuntut banyak hal ke kamu. Maafin karena selama ini kamu nggak dapet kasih sayang selayaknya anak-anak pada umumnya."


Malvin mengusap wajahnya, lalu kembali melanjutkan makan buah pir-nya. "Udah lah, Ma, udah lewat. Malvin udah setua ini juga kan, udah nggak cocok dapet perhatian yang begitu-begitu."


"Mama beneran mama yang buruk ya buat kamu?"


Malvin menghela napas sambil menggeleng. "Enggak sepenuhnya buruk, Mama tetap Mama yang hebat buat Malvin. Meski Mama bukan yang terhebat," akunya jujur. Ada nada candaan terselip di kalimat akhirnya.


Sang Mama mengangguk tidak masalah. Dibilang Mama yang hebat sudah lebih dari cukup.


"Oh, ya, ngomong-ngomong kamu jadi mau ngomong apa enggak?"


"Jadi lah."


"Ya udah, buruan ngomong!"


"Ini juga lagi ngomong."


"Malvin!"


"Mama itu terlalu kaku, ini nih yang bikin kita nggak terlalu akur," balas Malvin dengan ekspresi agak kesal.


"Kita nggak akur bukan karena itu, tapi karena Mama selalu sibuk di rumah sakit dan pasien-pasien Mama."


"Mau gimana pun, seburuk-buruknya Mama jadi seorang Mama, Mama tetep lah Mama, Vin. Orang yang udah mengandung dan melahirkan kamu."


"Iya deh, iya."


Sang Mama berdecak kesal. "Jadi ngomong nggak sih? Dari tadi muter-muter terus."


Bukannya langsung mengutarakan isi hatinya, Malvin malah menuntun sang Mama menuju meja makan. Ia menarik salah satu kursi dan menyuruh beliau duduk di sana. Baru setelahnya ia yang duduk di sebelahnya.


"Malvin mau nanya, Ma."


"Ya udah, nanya ya tinggal nanya, kenapa pake prolog segala?"


"Ya sambil nyiapin mental, Ma."


"Emang kamu mau nanya apaan?" sang Mama menyipitkan kedua mata curiga.


"Kalau seandainya Malvin nikah--"


"Kamu udah ada calon? Siapa yang mau sama kamu? Kamu kan belum lulus spesialis? Emang ada yang mau?" potong sang Mama dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Ma, kita jarang-jarang akur duduk berdua di meja makan begini loh, jangan bikin Malvin kesel. Biarin aku selesaiin pertanyaan aku dulu."


"Oke, maaf, Mama cuma agak kaget."


Malvin menarik napas panjang. Mentalnya sedikit berantakan. Susah payah ia merangkai kata, kini semua ambyar sudah.


"Kenapa sekarang malah diem aja?"

__ADS_1


"Kosakata yang aku susun mendadak ilang gara-gara Mama." Malvin merengut kesal.


"Emang kamu mau nanya apaan sih, kok sampai menyusun kosakata segala? Ini Mama loh, Vin, Mama kamu bukan orang lain."


"Malvin takut Mama nggak siap."


"Mama selalu siap, karena semua ini hanya lah titipan. Kalau kamu sudah menemukan perempuan itu, Mama bakalan siap."


"Terus kalau Malvin nggak kasih keturunan buat Mama, apa kira-kira Mama siap?"


"Kenapa kamu nanya begitu?"


"Jawab aja, Ma!"


"Kenapa? Calon istrimu nggak mau punya anak?"


"Bukan gitu."


"Terus?"


Malvin garuk-garuk leher. "Ya, pokoknya intinya itu kalau semisal Malvin beneran jadi nikah, terus nggak kasih keturunan buat Mama, Mama bakal marah apa enggak gitu loh."


"Kenapa Mama harus marah?"


"Hah?"


Malvin melongo bingung. Reaksi sang mama benar-benar di luar ekspektasinya.


"Enggak, maksudnya kenapa kamu nanya ini ke Mama? Punya keturunan itu kan keputusan calon orang tuanya, yang mau mengandung dan melahirkan istrimu, yang bakal negbiayain dan lainnya kamu, yang bakal ngebesarin kalian. Kenapa soal begini kamu nanya Mama?"


"Ya, karena Mama, Mama Malvin makanya Malvin nanya ini ke Mama."


"Vin, ngurus anak itu bukan perkara mudah. Nggak cuma butuh finansial aja, tapi dia butuh perhatian dan kasih sayang. Kamu tahu betul kan rasanya nggak dapat semua? Mama memutuskan untuk nggak punya adik setelah kamu pun karena pertimbangan ini."


"Jadi Mama nggak papa kalau semisal udah nikah tapi nggak kasih cucu ke Mama?"


"Ya, kalau kamu nggak mau kasih cucu ke Mama, gimana Mama bisa maksa? Udah cukup Mama maksa kamu di banyak hal, untuk satu ini, Mama nggak akan maksa. Keputusan Mama serahin ke kamu."


"Mama serius?"


Sang Mama mengangguk tanpa ragu. "Anggap saja ini adalah salah satu wujud permintaan maaf Mama karena selama ini belum bisa jadi Mama yang baik buat kamu."


Dengan perasaan penuh haru, Malvin langsung memeluk sang Mama. Ucapan maaf tak henti-henti terdengar dari mulut sang putra semata wayang.


"Iya, udah, asal calon istri kamu beneran jadi istri."


Malvin loading. "Hah? Maksudnya?"


"Ya, maksudnya perempuan."


Malvin terbahak. "Mama nggak perlu khawatir, yang ini beneran perempuan. Super cantik meski umurnya udah nggak muda."


"Hah? Kamu mau nikahin Tante-Tante?"


"Ya, enggak tante-tante juga lah, Ma. Cuma agak berjarak dikit umurnya."


"Nggak sampe tiga tahun kan tapi?"


Kali ini Malvin meringis.


"Astaga! Berapa, Vin? Kamu jangan bikin Mama takut lah."

__ADS_1


"Mama nggak perlu takut, nanti kapan-kapan Malvin kenalin."


Sang Mama tidak bisa berkomentar lebih dan hanya mampu mengangguk pasrah. Ia sudah terlanjur bilang ingin menebus kesalahannya di masa lalu, jelas tidak mungkin kan sekarang ia protes?


__ADS_2