
“Eh, Mas Malvin pagi-pagi udah rapi amat, mau ke mana, Mas?” sapa Olivia tetangga Malvin yang terlihat baru keluar dari unitnya sambil menenteng kantong plastik lumayan besar berisi sampah.
Malvin tersenyum lalu mengangguk dan mengiyakan. Ia meringis sedikit lalu berbasi-basi. “Mau buang sampah?”
Olivia mengangguk. “Iya, Mas, Mas Malvin turun aja duluan. Soalnya kan kalau saya mau buang sampah, takutnya parfum mahal Mas Malvin kena bau sampah aku.”
Malvin terkekeh, merasa geli karena gadis itu masih tetap memanggilnya dengan sebutan Mas, tidak langsung nama sesuai keinginannya. Padahal kalau boleh jujur ia lebih nyaman kalau dipanggil nama saja ketimbang diimbuhi embel-embel Mas, meski pada kenyataanya umurnya dengan Olivia memang terpaut cukup lumayan jauh.
Tak ingin protes Malvin mengangguk dan mengiyakan, lalu pamit duluan. Kebetulan ia tidak mau kena omel Ailee yang super cerewet itu kalau sampai dirinya terlambat kelamaan. Bukan apa-apa, ia tadi sempat bangun kesiangan karena semalam tidak bisa langsung tidur. Kalau dulu dia sangat mudah terlelap di mana saja, tidak dengan sekarang. Entah lah, dirinya tidak paham kenapa ini bisa terjadi. Yang jelas jam tidurnya akhir-akhir ini benar-banar berantakan.
Saat ia masuk ke dalam lift, ada pesan masuk dari Ailee.
Ailee : jemput gue di rs aja, bro
Malvin mendengus tidak percaya saat membaca pesan singkat yang dikirmkan gadis itu. Terkesan tidak sopan karena memanggilnya bro. Padahal dirinya bukan teman gadis itu, mana suka nyuruh-nyuruh seenaknya lagi, mentang-mentang yang disuruh nurut.
Tak ingin langsung menurut, Malvin kemudian memutuskan untuk mennghubungi gadis itu. Tidak butuh waktu lama sampaii akhirnya panggilannya terjawab karena statusnya online.
“Yes, Mas Bidanku, ada yang bisa adek bantu?”
Malvin langsung mendengus. “Nggak usah sok manis dan juga sok asik. Ini kenapa gue harus ke rumah sakit? Jangan bilang lo baru abis dinas. Belum siap-siap dan lainnya?”
“That’s right Mas Bidannya aku. Aku abis dapet jatah shift malem.”
Malvin berdecak kesal. “Jam berapa ini, Lee, lo yang bener aja lah. Seneng banget deh kayaknya lo ngerjain gue.”
__ADS_1
“Hehe, gue tadi ngantuk banget, bro, kalau maksain pulang takutnya malah kenapa-kenapa. Terus kalau gue kenapa-kenapa ntar lo nggak jadi dapet info tentang kakak gue lah. Lo yang rugi loh.”
Malvin kembali berdecak kesal. Bisa banget ini bocah ngejawabnya. Kalau sudah begini ia bisa apa selain pasrah. Ia kemudian mematikan sambungan telfon secara sepihak, tanpa membiarkan gadis itu berbicara. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Malvin benar-benar kesal karena ia tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah menuruti kemauan gadis itu. Kalau bukan ingin mendapatkan informasi tentang Yasmin, Malvin rasa tidak akan sudi bersikap begini terhadap gadis itu.
Malvin bisa langsung mencium bau antiseptik saat Ailee masuk ke dalamm mobilnya. Ia tebak gadis itu pasti belum mandi. Ia langsung menampilkan wajah datarnya, tapi bisa-bisanya Ailee justru memasang wajah sambil tersenyum polosnya. Berbanding balik dengan wajah snewen Malvin.
“Kenapa nggak mandi dan ganti baju di rumah sakit sekalian?”
“Ya kenapa nggak bawa?”
Ailee menatap Malvin galak. “Ya nggak usah ngajak ribut gitu lah mukanya.”
“Hahaha, lucu banget sih kamu,” komentar Malvin sambil tertawa canggung. Tangannya kemudian terulur dan mendorong dahi gadis itu gemas, “yang ngajak ribut itu lo sendiri, anjir. Nggak sadar diri banget,” sambungnya kemudian.
Malvin kemudian menyalakan mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit. “Ngomong-ngomong ini gue harus bawa lo ke mana dulu?”
“Ya pulang dong, bro, lo pikir harus ke mana lagi emang?”
“Lo bercanda kan pasti?”
Ailee mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Dengan ekspresi cueknya, Malvin semakin menampilkan wajah tidak percayanya. Mulai emosi menghadapi kelakuan gadis ini yang semakin seenaknya.
“Bro, gue ini anak bungsu loh, kakak gue suka nggak ingat pulang, masa iya gue harus ngekos sendiri?”
__ADS_1
“Tapi gue bahkan anak tunggal, anjir.”
Ekspresi Ailee terlihat terkejut. “Hah, lo anak tunggal? Enggak punya saudara? Terus lo mau nikahin kakak gue?” ia geleng-geleng kepala sambil berdecak, “pantesan kakak gue sampai kabur begini. Tekanannya besar, bro.”
Malvin memutar kedua bola matanya malas. “Lo kenapa sekarang nggak pernah panggil gue kakak lagi sih? Bro bra bro terus, lo pikir gue temen lo apa?”
“Lo nggak mau bertemen sama gue emang?”
Tanpa keraguan Malvin menggeleng cepat sebagai tanda jawaban.
“Ya udah, turunin gue kalau gitu.”
Malvin mencibir. “Najis, ngambekan banget sih lo jadi bocah.” ia terkekeh tak lama setelahnya.
Ailee langsung menyahut tidak terima. “Jangan sembarangan lo, gini-gini gue udah bisa diajak bikin bocah.”
Malvin mendengus. “Bocah sekarang emang udah pada bisa bikin bocah sih, nggak heran.”
Ailee mengangguk cepat. “Bener banget, bro, gue kemarin pas jaga IGD, parah sih ada bocah yang dikira sakit lambung tahunya hamil. Gue shock parah, serius. Tapi kerennya ibunya itu nggak ada marah tapi beliau justru merasa bersalah, mana kasian banget lagi kayaknya dari keluarga yang kurang punya gitu.” Ekspresinya berubah sedih, “gue suka miris sama anak jaman sekarang deh. Mereka kayak belum siap dengan kecanggihan teknologi jadinya begini. Miris banget kan.”
Malvin diam, ternyata Ailee punya pikiran yang cukup dewasa, tidak melulu berpikir tentang dirinya sendiri saja. Sepertinya ia sedikit salah menilai gadis ini.
“Kenapa ekspresi lo begitu?” tanya Ailee heran.
Malvin menggeleng lalu fokus ke arah jalanan.
“Gue mau nanya deh, lo kenapa nggak coba move on aja sih dari kakak gue? Kan dia nggak mau sama lo. Melihat sikapnya yang sekarang, kalau gue jadi lo, gue sih udah nggak bakalan ngarep lagi.”
Malvin tersenyum. “Itu karena gue bukan lo, Lee. Kalau lo jadi gue? Bisa jadi sebaliknya.”
Ailee tidak berani berkomentar lebih. Menurutnya mungkin memang ini bukan urusannya. Tahu lah, ini kan urusan mereka dan tidak seharusnya ikut campur.
“Ini nanti begitu gue anter lo, gue harus gimana? Nggak mungkin kan kalau gue harus ikut lo masuk?”
“Ya kalau itu terserah lo sih, kalau mau nungguin di mobil ya nggak masalah. Cuma mau sekedar mengingatkan kalau gue mandi dan dandan itu lama.”
Sungguh jawaban yang sangat tidak ingin dia dengar. Sejujurnya Malvin ingin protes atau sekedar mengeluh. Tapi sepertinya tidak usah, daripada ntar dia sendiri yang berujung emosi karena jawaban menyebalkan yang nantinya akan diberikan gadis itu.
__ADS_1
Tbc,