
***
Malvin masih mencoba untuk bersikap setenang mungkin, mengingat sekarang masih di tempat umum. Ia jelas tidak mungkin bersikap kurang sopan. Tak ingin terlalu ambil pusing, ia kemudian memilih untuk menyalami pengantin dan nyari makan lebih dahulu. Setidaknya perut mereka perlu diisi sebelum nanti mereka membicarakan perihal serius.
“Lo mau makan apa? Biar gue ambilin.”
Ailee sedikit terperanjat kaget karena sikap pria itu yang terkesan seolah semua baik-baik saja. Padahal ia yakin kalau pria itu menyadari sesuatu. Tapi kenapa pria ini bersikap seperti ini. Jujur ia mendadak merasa ngeri selama beberapa saat.
“Kak, lo nggak curiga sesuatu?”
Malvin menghela napas panjang. “Untuk sekarang gue mau ngurusin perut gue dulu ketimbang hal lain. Jadi prtanyaan gue, lo laper juga nggak?”
Dengan wajahnya yang terlihat sedikit malu-malu. Ailee mengangguk pelan. Malvin pun mengangguk paham, ia kemudian menuju stand catering untuk mengambil makanan buat mereka berdua. Sementara Ailee memilih mengobrol dengan beberapa temannya. Sebenarnya kalau boleh jujur, awalnya ia ingin ikut dengan pria itu saja tapi kata pria itu tidak usah. Ailee yang merasa sedang tidak ingin mencari masalah pun hanya mampu pasrah dan mengikuti kemauan pria itu.
“Gila, lo nemu cowok secakep itu di mana deh, Ai. Mana dewasa banget lagi perawakannya. Tuh, tuh, liat aja punggungnya tipekal si tulang punggung idaman mama mertua. Huhu, gue iri setengah mampus sama lo. Sumpah.”
__ADS_1
“Tahu begini gue dulu ikut lo deh ambil kedokteran aja, biar dapet yang begituann juga.”
“Gue juga,” timpal yang lainnya, “lo dulu abis nyelamatin negara apa giman sih sampai dapet yang modelan begitu?”
Ailee tidak bisa berkomentar banyak. Yang ia lakukan hanya sebatas menggaruk pelipisnya sambil menatap mereka satu persatu dengan tatapan malasnya. Enggak tahu aja mereka apa yang sebenarnya terjadi.
“Bagi tips dan trik lah, Ai. Jangan main rahasia-rahasiaan sama kita.”
Ailee menatap mereka satu persatu sekali lagi. “Kalian butuh saran?”
“Jadi anak bungsunya Rajendra grup lah,” ucap Ailee dengan nada sombong. Ia memaikan alis naik-turun yang langsung mendapat sorakan dari teman-temannya. Hal ini pun akhirnya mengundang perhatian beberapa tamu undangan yang lain. Ailee pun hanya mampu tertawa puas tak lama setelahnya.
“Tadi ngobrolin apaan apa sih kok keliatannya seru banget?” tanya Malvin kepo.
Kini keduanya tengah menikmati sop matahari mereka. Biasa, Malvin dan jiwa keponya. Mana tahan pria itu kalau tidak langsung bertanya. Meski untuk kasus Yasmin ia mencoba untuk lebih bersabar. Apa lagi memang kalau perjuangannya untuk mendapatkan gadis itu tidak lah mudah. Jadi Malvin memang sudah bertekad kalau ia akan lebih banyak bersabar.
__ADS_1
“Ngomongin lo,” aku Ailee jujur, “kata mereka lo itu idaman para mama mertua.”
Respon pertama pria itu hanya tertawa, baru tak lama setelahnya ia baru berkomentar. “Kalau itu sih emang bener, dan gue emang udah diakui. Enggak kaget sih gue.”
Ailee reflek tertawa saat mendengar kalimat jumawa pria itu.
"Tapi gue serius loh."
"Iya, iya, deh, percaya gue."
"Selesai makan, kita ngobrol di luar ya, Lee," ajak Malvin yang langsung dia angguk setujui gadis itu dengan cepat. Meski sedikit berdebar sekaligus was-was, tapi Ailee tetap mengangguk cepat tak lama setelahnya.
Tbc,
__ADS_1