
***
Ayana nampak antusias menunggu sang suami selesai mandi. Ia tidak sabar menceritakan hal menarik apa yang sudah ia lalui barusan. Ekspresinya semakin berbinar cerah saat Saga keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Sebuah pemandangan favoritnya. Suaminya ini selalu nampak mempesona dengan rambut basahnya.
“Lagi pengen?”
Ayana memasang wajah bingungnya. “Pengen apa?” tanyanya dengan ekspresi bingung.
Lalu dengan wajah datarnya Saga menunjuk tubuhnya sendiri. Hal ini membuat perempuan itu langsung terbahak tak lama setelahnya.
“Dih, pede banget kamu,” cibir Ayana kemudian.
“Nggak mau?” goda Saga.
Meski niatnya menggoda, tapi ekspresinya selalu menggunakan ekspresi andalannya. Jangan heran, Papa Mala memang begini.
Ayana jadi sedikit salah tingkah. “Iiih, bukan nggak mau.”
“Mau?”
“Hah?” Ayana melongo sesaat, lalu semakin tersipu, “apaan sih? Kenapa jadi bahas ginian? Nanti aja lah, iya, iya, aku mau. Tapi nggak sekarang, kan kamu masih capek. Nanti aja. Sekarang aku pengen cerita soal Malvin.”
“Kenapa?”
“Tahu nggak Mas—”
__ADS_1
“Enggak.”
Ayana melotot kesal. “Aku belum selesai ngomong, Mas, jangan main dipotong kenapa sih?” decaknya kesal, “kamu itu kebiasaan banget deh, Mas.”
“Kenapa?”
“Ngeselin.”
Saga menggeleng. “Malvin.”
Astaga, ya ampun kenapa rasanya susah sekali menghapus kebiasaan suaminya yang irit bicara ini?
“Dia punya pacar baru loh, Mas.”
“Terus?”
“Ya, akhirnya Malvin bisa move on dari temen kamu itu. Aku kesel banget deh kalau inget dokter Yasmin yang seenaknya sendiri itu. Kalau emang dari awal masalah akan hal tersebut kan tinggal bilang nggak mau. Bukannya main mengiyakan, eh, tapi ujung-ujungnya ninggalin. Nggak berperikemanusiaan banget jadi manusia,” gerutu Ayana menahan kesal.
“Yan, jangan berkomentar berdasarkan asumsi kamu sendiri tanpa tahu kebenaran aslinya. Kita nggak pernah tahu apa yang sudah dilalui Yasmin.”
“Belain aja temen kamu terus, kamu ggak kasian sama Malvin, Mas, kalau ada apa-apa sama kita yang bantuin kita tuh Malvin, bukan temen kamu itu.”
Saga mengerutkan dahinya heran. “Ngajak berantem?”
“Siapa?” Ayana mendengus, “siapa juga yang ngajak berantem? Kamu kali yang ngajak berantem,” gerutunya kemudian.
Saga menghela napas panjang. “Marah?”
Ayana menggeleng cepat. “Enggak lah, Mas, aku nggak marah apalagi ngambek. Cuma aku kesel aja sama sikap kamu yang terkesan terlalu belain dokter Yasmin padahal yang bikin patah hati tuh dokter Yasmin. Aku sebagai sahabat Malvin nggak terima dia diginiin lah.”
Saga manggut-manggut paham. Ia tidak mengelak karena ia pun setuju dengan apa yang dikatakan sang istri. Bukan bermaksud membela salah satunya, ia hanya tidak ingin sang istri terlalu membela Malvin tanpa memikirkan dari sudut pandang Yasmin.
“Jangan Cuma manggut-manggut aja lah, Mas, minimal komentar lah,” decak Ayana sedikit kesal, ia hendak ingin kembali mengungkapkan keluhannya, tapi harus ia urungkan karena ada panggilan masuk.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Saga.
“Nuri. Perawat IGD.”
Saga nampak mengerutkan dahinya heran. “Ngapain?”
Ayana mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sebagai tanda jawaban. Baru kemudian memilih untuk menjawab panggilan tersebut.
“Ya, halo, Ri?’
“Halo, dok? Dokter Yana udah dapet kabar atau belum?”
Ayana mengerutkan dahinya heran. “Kabar apa?”
“Kabar kalau dokter Malvin mengalami kecelakaan, denger-denger sama calon istrinya.”
Tubuh Ayana seketika menegang. “Kamu yang bener aja dong, Ri. Jangan bercanda!” tanyanya dengan perasaan cemas.
Melihat wajah sang istri terlihat panik, Saga ikutan panik. “Ada apa?” tanyanya khawatir.
“Malvin, Mas.”
“Kenapa sama Malvin?”
“Malvin sama pacar barunya abis kecelakaan. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang, Mas!” ajak Ayana sambil menangis.
Saga berusaha menenangkan sang istri. “Yan, kamu tenang dulu. Jangan panik! Kita ganti baju dulu terus titipin Mala ke Mama dulu. Baru abis itu kita ke rumah sakit.”
Ayana mengangguk paham. Dengan patuh ia mengikuti intruksi sang suami. Setelah selesai bersiap-siap baru kemudian mereka bergegas menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tbc,