
"Huaa!!"
Malvin tidak dapat menahan keterkejutannya saat membuka pintu langsung disambut perempuan yang mengenakan sheet mask. Saking tidak dapat menahan keterkejutannya, ia bahkan sampai terjungkal di atas lantai. Padahal ia sedang buru-buru harus ke rumah sakit. Tapi malah disambut adegan yang tidak mengenakkan begini.
"Astaga, Tuhan!" keluh Malvin, "lo apa-apaan sih? Pagi-pagi di depan apartemen gue terus pake gituan? Sengaja ya lo?!"
Perempuan itu panik lalu membantu Malvin berdiri. "Sorry, sorry, gue nggak ada maksud buat ngagetin lo." ia jadi merasa bersalah, "lo nggak papa?"
Malvin menatap perempuan itu galak. "Ya, menurut lo? Gue nyaris kena serangan jantung dan sampai jatuh, tapi lo masih berani nanya gitu?" ia jadi gemas sendiri, "lo itu bener-bener ya. Sumpah gue perasaan kalau ketemu lo sial mulu."
"Kan gue udah minta maaf! Lo kenapa sih nyolot mulu kalau ketemu gue?" protes perempuan itu tidak terima.
"Sadar diri, tolong! Lo bahkan lebih nyolot dari gue, lagian gimana gue nggak nyolot kalau setiap ketemu lo, gue sial mulu," gerutu Malvin sambil menepuk celananya yang sedikit kotor.
"Jadi maksud lo gue pembawa sial gitu buat lo?"
Malvin tidak berani membalas, yang ia lakukan hanya melirik perempuan itu seraya berdehem gugup. Sepertinya Malvin mulai merasa bersalah, khawatir kalau apa yang ia ucapkan barusan melukai hati perempuan itu. Tapi mau minta maaf tentu saja ia gengsi.
Malvin berdehem sekali lagi. "Lo ngapain ke sini pagi-pagi?" tanyanya heran. Menurutnya saat ini masih terlalu pagi untuk bertamu, apalagi mengingat hubungan mereka yang tidak begitu bagus.
Perempuan itu menepuk dahinya reflek. "Oh iya, hampir lupa kan, lo sih pake acara jatuh segalanya. Gue ke sini mau minta kejelasan soal utang--"
"Kok lo yang nagih?" potong Malvin tiba-tiba, "kan harusnya gue yang nagih. Yang salah kemarin itu lo, ya, kalau lo lupa."
Perempuan itu terlihat tidak terima. "Iya, gue tahu, gue belum lupa. Enggak usah nyolot!" ia mendengus tidak percaya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "gue ke sini juga mau minta nota pembayaran lo benerin mobil lo. Abis berapa, biar langsung gue transfer." Perempuan itu kemudian merogoh kantong saku pada piyamanya.
Malvin berdecak. "Lo lupa? Kan gue bilang kemarin belum sempet bawa mobil gue ke bengkel. Gue sibuk. Sekarang ini gue juga lagi buru-buru, ntar kalau gue udah bawa mobil gue ke bengkel, gue kabarin." Ia berniat langsung pergi begitu saja, namun, ditahan perempuan itu.
"Eh, lo nggak bisa pergi gitu aja lah. Gue nggak bisa punya utang lama-lama, jadi gue harus segera lunasin utang gue."
Malvin menghela napas panjang. "Mohon maaf apa anda tidak bisa mengerti bahasa Indonesia?" tanyanya sesopan dan sehalus mungkin, "gue bilang gue belum sempet bawa mobil gue ke bengkel," sambungnya dengan nada yang kembali seperti semula.
"Ya udah gini aja, biar gue yang bawa mobil lo ke bengkel. Gimana?" usul perempuan itu.
Malvin menatap perempuan itu tidak yakin lalu menggeleng tidak setuju. "Enggak, enak saja," tolaknya tidak setuju, "gue bakal bawa mobil gue ke bengkel langganan gue sendiri. Gue nggak bisa ngebiarin orang sembarangan ngurus dia. Ngerti lo?"
Perempuan itu mendengus tidak percaya sambil berkacak pinggang. "Astaga, Tuhan, kenapa gue harus bertemu dengan manusia macem ini Tuhan?"
"Maksud lo apa ngomong gitu?" protes Malvin tidak terima. Ia ingin kembali melanjutkan aksi protesnya, namun, terpaksa tidak bisa ia lanjutkan karena ponselnya kembali berdering.
"Ya, halo."
"...."
"Iya, iya, gue bentar, sabar dong, macet kali. Udah otw gue nih. Iya, gue bakal ke sana secepatnya."
Klik.
__ADS_1
Tanpa menunggu respon dari seberang, Malvin langsung memutuskan sambungan telfon.
"Gue harus pergi sekarang. Kita bahas lain kali," pamit Malvin langsung pergi begitu saja.
"Eh, jangan kabur gitu aja lo?" protes perempuan itu, "pokoknya gue nggak mau tahu, gue bakalan tungguin lo pulang malam ini," teriaknya kemudian.
Malvin tidak menggubrisnya dan memilih untuk langsung masuk ke dalam lift begitu saja.
***
Malvin merasakan tubuhnya lelah luar biasa. Ia ingin cepat-cepat tidur habis ini, tidak peduli meski kenyataannya ia belum mandi. Tapi ia tidak peduli, toh, ia tinggal sendiri jadi tidak akan ada orang yang memprotesnya.
Malvin otomatis menghentikan langkah kakinya saat menemukan perempuan, yang sudah menjadi tetangganya hampir lebih dari sebulan, tapi belum ia ketahui siapa namanya. Orang yang sebenarnya lumayan sering ia temui tapi belum sempat ia ajak berkenalan. Boro-boro mau kenalan kalau ketemu saja keduanya pasti adu mulut.
"Heh, lo ngapain tidur di depan unit gue?"
Dengan sedikit kasar, Malvin menendang kaki perempuan itu. Spontan perempuan itu langsung berdiri begitu saja, padahal kedua matanya saja sulit terbuka.
"Siap!"
Malvin langsung tertawa saat melihat respon spontan perempuan itu. Perasaan lelahnya mendadak hilang.
"Siap ngapain lo?"
"Astaga, Tuhan, akhirnya lo pulang juga. Buset deh, lo kerja apaan sih sampe jam segini baru pulang?" keluh perempuan itu sambil menguap. Ia kemudian merenggangkan kedua tangannya.
Perempuan itu menggeleng. "Enggak tahu. Setengah sepuluh?"
"Lebih."
"Setengah sebelas?"
"Lebih lagi."
Perempuan itu membulatkan kedua bola matanya kaget. "Setengah dua belas?"
"Setengah dua pagi."
"Apa?!"
Malvin langsung membekap mulut perempuan itu agar diam. "Enggak usah pake teriak! Nanti ganggu tidurnya tetangga yang lain. Ayo, masuk!" ajaknya kemudian, "Ngomong-ngomong nama lo siapa? Gue Malvin." tanyanya kemudian.
"Gue Angel."
Malvin langsung berbalik. "Siapa?"
"Angel."
__ADS_1
Seketika Malvin langsung terbahak. "Enggak cocok banget sama muka lo. Muka-muka galak begini kok namanya Angel," ledeknya kemudian.
Perempuan yang bernama Angel itu hanya mampu memasang wajah galaknya tanpa perlu repot-repot membalas. Karena dengan begitu saja nyali Malvin seketika langsung menciut.
Malvin berdehem. "Silahkan duduk! Gue mandi dulu bentar, kalau butuh minum lo bisa ambil sendiri di kulkas."
"Lah, mana bisa begitu? Tuan rumah macam apa lo?"
Malvin meringis. "Enggak papa, enggak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri."
Setelah mengatakan itu Malvin langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Angel, perempuan itu langsung bergegas menuju dapur, yang jaraknya tidak jauh dari ruang tamu. Kedua matanya mengedar ke sekeliling arah. Apakah pria ini juga penghuni baru di apartemen ini? Kenapa perabotnya sedikit sedikit sekali. Batinnya heran. Ia kemudian membuka kulkas besar milik pria itu.
Mulutnya langsung terbuka lebar saat mengetahui isinya. Air mineral dan telur mentah satu biji. Benar-benar tidak ada apapun selain itu. Mendadak Angel merasa prihatin. Sepertinya Malvin bujangan yang tidak pandai mengurus diri. Kasian.
"Lo baru pindah di sini juga?" tanya Angel begitu Malvin sudah selesai mandi.
Pria itu tengah sibuk mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Malvin balik bertanya. "Kenapa lo mikir begitu?"
Angel langsung menunjuk ke arah dapur. "Gue abis cek kulkas lo, dan isinya cuma ada air mineral dan telur sebiji doang."
"Oh, udah biasa sih itu. Enggak usah heran. Soalnya gue jarang pulang juga, jadi emang sengaja nggak pernah ngisi kulkas." Malvin cepat-cepat mengkoreksi kalimatnya, "maksud gue jarang."
"Emang kerjaan lo apaan sampe bikin lo jarang pulang? Jadi Bang Toyib lo?"
Malvin meringis. "Jadi residen gue."
"Hah? Dokter spesialis?"
"Calon," koreksi Malvin.
"Iya, itu maksud gue. Ambil spesialis apa lo?"
Bukannya langsung menjawab, Malvin malah tersenyum sambil menatap Angel intens. "Lo nungguin gue sampe pagi begini mau ngepoin tentang gue? Gue kira buat bahas utang lo."
"Orang gila!" Dengan wajah memerah menahan malu sekaligus kesal, Angel langsung berdiri, "enggak jelas lo. Gue mau pulang aja lah. Besok kita bahas ini lagi, sekarang udah pagi nggak baik. Mending lo istirahat. Tidur."
"Nggak mau nginep aja?" goda Malvin iseng, "nggak baik loh perempuan pulang pagi sendirian."
Angel langsung mendengus tidak percaya. "Bener-bener orang gila! Unit apartemen gue tepat di hadapan unit lo, bodoh!"
"Perlu gue antar?"
"Enggak perlu," ketus Angel langsung pergi begitu saja.
Malvin hanya mampu geleng-geleng kepala lalu merebahkan diri di sofa. Sepertinya ia bakalan punya hobi baru nih habis ini.
__ADS_1