
“Ada yang lo sembunyiin dari gue?” tuduh Ayana sambil menatap pria itu curiga.
Ayana terlihat semakin curiga saat menyadari raut wajah Malvin yang berubah panik. Ia dapat memastikan sesuatu kalau memang terjadi sesuatu di antara mereka sebelum mereka mengalami kecelakaan. Atau mereka sempat bertengkar lebih dahulu sebelum mereka mengalami kecelakaan. Batinnya berasumsi.
Malvin menggeleng cepat. “Apaan sih, nggak ada yang gue sembunyiin,” elaknya terlihat mencurigakan di mata Ayana.
Perempuan itu menggeleng tidak percaya. “Enggak, pasti ada sesuatu kan? Jawab gue, Vin, kalau lo masih mau gue bantuin. Tapi semua tergantung sama diri lo sendiri, kalau semisal lo udah nggak mau gue bantu ya terserah lo.”
Malvin memijit pelipisnya yang terasa pening mendadak. “Bukan sesuatu yang serius kok.”
Ayana tidak dapat menahan dengusanan tidak percayanya. “Bukan sesuatu hal yang serius tapi sampai menyebabkan kalian mengalami kecelakaan separah ini? Lo pikir orang bodoh mana yang bakalan percaya, Vin? Jawab gue!”
Malvin diam dan tidak mampu mengeluarkan suaranya untuk menjawab. Pria itu terlihat semakin gelisah. Ayana yang menyadarinya langsung menghela napas panjang. Perempuan itu memalingkan wajahnya ke sembarang arah sebelum kembali menatap pria itu dengan tatapan yang lebih lembut.
“Vin, lo itu nggak cuma gue anggap sebagai temen gue doang, bukan Cuma sahabat tapi lo itu udah kayak gue anggep jadi saudara kembar gue. Lo tahu kan kenapa gue begini? Bukan maksud gue mau mendesak lo,” Ayana menggeleng cepat, “gue pengen bantu lo nyari solusi. Bukan karena gue sok tahu karena udah menikah sedangkan lo belum, enggak gitu, Vin.”
Malvin mengangguk paham. “Gue ngerti, Na.” Ia mengangguk cepat tak lama setelahnya, “oke, gue bakalan cerita. Selain mau ngasih tahu keberadaan Yasmin, Ailee menemui gue karena...”
Mendadak Malvin menghela napas dan bukannya melanjutkan kalimatnya. Ayana mengangguk paham dan menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya dengan sabar. Ia tidak akan memaksa pria itu.
“Bokap gue, Na.”
Ayana kembali mengangguk. “Kenapa sama Om Damar?”
__ADS_1
Terdengar helaan napas keluar dari mulut pria itu, dan kali ini helaan napas itu terdengar lebih berat.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikirannya.”
Ayana semakin tidak sabar karena pria ini terlalu banyak berbelit-belit dan bukanya langsung to the point. Jujur, ia jadi emosi juga lama-lama. Tapi jelas saja ia tidak boleh memperlihatkannya karena takut membuat Malvin berubah pikiran dan tidak jadi cerita, kan bisa gawat.
Ia menghela napas tak lama setelahnya. “Enggak mudah untuk mengerti jalan pikir orang lain, Vin, apa lagi orang tua kita. Meskipun orang bilang anak sama orang tua terkadang mirip karakternya tetap saja jalan pikirnya beda, Vin, karena mereka beda generasi. Jangankan yang beda generasi, gue sama Mas Saga yang generasinya nggak beda jauh saja suka susah kok buat saling mengerti jalan pikir masing-masing. Apalagi ini orang tua yang beda generasi. Jadi jangan terlalu maksain diri buat mengerti jalan pikirnya, karena mungkin akan sangat sulit.”
Malvin mengangguk setuju, mungkin apa yang dikatakan perempuan itu ada benarnya juga.
“Bokap gue masih berharap rumah sakitnya punyanya kerja sama sama Rajendra grup. Kalau gue semisal hubungan gue sama Yasmin bener-bener nggak bisa diselamatkan, bokap gue mau gue-nya nikah sama Ailee.” Malvin tersenyum getir tak lama setelahnya, “kenapa rasanya perasaan gue semudah itu dipermainkan ya, Na. Maksud gue, setelah gue gagal mempertahankan hubungan gue sama kakaknya gue disuruh balik sama adie harusnya. Gue nggak ngerti, Na, gue shock, kesel, marah dan juga kecewa sama bokap gue.”
Malvin menghela napas tak lama setelahnya. “Padahal bokap gue abis bilang kalau dia nggak akan memaksakan kehendaknya belum lama ini. Tapi sekarang apa?”
“Lo udah coba ngobrol sama bokap lo soal ini?” tanya Ayana hati-hati.
Malvinn menggeleng. “Abis kecelakaan ini, gue belum ketemu bokap.”
Kali ini Malvin menngangguk. “Udah, kata nyokap gue beliau ke sini beberapa kali Cuma pas gue udah tidur. Sejauh ini beliau belum pernah ke sini pas gue nggak tidur. Dengan kondisi gue yang begini nggak mungkin kan gue nemuin dia.”
Ayana mengangguk paham. Benar juga. Meski untuk sekarang kondisi pria itu sudah jauh lebih baik tapi tentu saja dokter belum mengizinkan pria itu untuk keluar dari rumah sakit.
“Tapi nyokap lo gimana?”
Malvin menggeleng. “Nyokap gue nggak tahu-menahu perihal ini. Tapi gue juga nggak tahu sih apa nyokap gue udah nyoba nanya ke bokap gue apa belum.”
“Berarti makin rumit dong semuanya, Vin.”
Malvin mengangguk saat mengiyakan. “Makanya gue pusing.”
“Di antara mereka bertiga siapa yang bikin lo palinng nyaman.”
__ADS_1
Malvin menggeleng. “Mereka punya keistimewaan masing-masing, Na, kayaknya susah kalau harus gue banding-bandingin.”
Ayana garuk-garuk kepala speechless. “Maksud gue biar lo nggak kebingungan milih di antara tiga perempuan ini, Vin.” Ia berdecak tak lama setelahnya, “kata gue lo gila sih, Vin, karena terlibat sama tiga cewek. Anjir lah, tiga loh, nggak Cuma dua. Kalau udah begini namanya cinta apa? Cinta segi empat?”
Ayana mendengus tak lama setelahnya saat mendapati pria itu masih sempat-sempatnya tertawa di saat begini. Benar-benar sih.
Ayana ikut pusing memikirkan kisah pria ini.
“Tahu lah, Vin, pusing banget gue mikirin kisah rumit lo.”
Ayana kemudian berdiri, “mau makan sekarang nggak lo?”
Pria itu menggeleng saat merespon pertanyaan perempuan itu.
Ayana kemudian mendengus. “Makan, mumpung gue masih di sini. Dari pada ntar manggil perawat. Ribet,” ucapnya tidak ingin dibantah.
“Tapi gue nggak nafsu, Na,” elak Malvin dengan wajah merengeknya seperti anak kecil, “enggak bagus tahu maksain orang buat makan. Lo kan tahu rasanya dipaksa itu nggak enak, tapi dengan nggak sopannya lo maksain gue.”
Ayana kemudian menatap pria itu datar. “Lo nggak bisa menghargai usaha nyokap gue yang udah repot-repot masakin lo?”
Kalau udah begini, mana berani Malvin membantah kalau perempuan itu sudah bertitah bahkan sampai membawa-bawa perempuan yang suda ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Maka dari itu ia hanya mampu pasrah dan menurut.
“Makan sendiri bisa nggak sih, Vin?”
Pria itu mengangguk saat mengiyakan. “Bisa, tapi gue masih males pake tangan kiri gue, Na. Tangan kanan gue masih sakit kalau buat makan.”
Ayana mendengus. “Kebanyakan alasan lo, ya udah gue suapin kalau gitu,” ucapnya pada akhirnya.
Malvin yang sedang tidak begitu bernafsu buat makan pun hanya mampu mengangguk seadanya tanpa perlu repot-repot mengeluarkan protesnya.
__ADS_1
Tbc,