Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 38


__ADS_3

***


Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Malvin memutuskan mencari informasi berita yang Ayana maksud. Perasaannya sedikit ragu-ragu, tapi ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.  Ia harus tahu apa yang sebenarnya media sebarkan.


Berita Terkini Putri Bungsu Rajendra Grup Dikabarkan Alami Kecelakaan Bersama Sang Kekasih


Malvin langsung mendengus tidak percaya. “Kekasih siapa ini yang dimaksud? Dasar media gila,” umpatnya kesal. Ia benar-benar merasa emosi hanya dengan membaca satu judul artikel dan tanpa perlu membukanya. Ini baru satu judul yang ia baca, bagaimana kalau lebih?


Malvin akan sangat marah terhadap kedua orang tuanya kalau ini adalah ulah mereka. Ia memejamkan kedua matanya agar emosinya sedikit reda. Kalau tidak dalam kondisi begini, ia akan langsung menemui sang Papa.  Tapi apa daya, dia mau menggerakkan badan saja masih sedikit kesulitan, apalagi kalau harus menemui sang Papa.


Ia merasakan kepalanya sakit saat memikirkan ini semua. Kenapa semua jadi serumit ini?


“Vin, gimana keadaan kamu, sayang? Apanya yang sakit?”


Linda masuk ke dalam ruangan tak lama setelahnya. Sepertinya ia terlalu sibuk memikirkan masalah yang sedang dihadapinya saat ini sampai ia tidak menyadari keberadaan sang Mama.


“Masih inget punya anak yang abis kecelakaan, Ma?” sindir Malvin sambil memalingkan wajahnya menghindari wajah sang Mama. Raut wajah kecewa dan penuh emosional terlihat pada wajah Malvin yang masih sedikit pucat.


“Vin,” panggil Linda dengan nada penuh penjelasan, “kamu lupa umur kamu sekarang berapa? Kamu pikir, kamu masih cocok ngambekan begini? Terlebih kamu sekarang juga udah jadi dokter. Kamu tahu kan tanggung jawab kita, kesibukan kita. Masa iya kamu masih aja protes, bukannya yang paling penting Mama udah di sini?”


Malvin menggeleng tidak yakin. “Enggak tahu, Ma, Malvin pusing.”


Linda terlihat begitu khawatir saat mendengar keluhan sang putra. “Mama panggil dokter ya?” tawarnya kemudian.


Malvin memilih menggeleng. “Ma, Malvin mau nanya sesuatu.”


Linda mengangguk. “Tanya aja, Mama bakalan bantu jawab.”


Malvin menoleh ke arah sang Mama dengan ekspresi ragu-ragunya. Sepertinya pria itu tidak terlalu yakin untuk bertanya langsung pada beliau.


“Tanya aja, Vin, akan Mama usahakan untuk jawab dengan jujur.”


“Mama tahu ya kalau  Malvin bakalan dijodohin sama Ailee?”


Linda menatap sang putra tidak yakin. Ekspresinya lumayan terlihat bingung. Mungkin sang Mama tidak tahu menahu perihal ini. Karena kalau Malvin perhatikan ekspresi Linda tidak terlihat seperti orang panik karena ketahuan, tapi justru terlihat kebingungan.


“Mama nggak tahu?”


Linda mengangguk. “Tahu, Vin. Kan kamu nggak mau?” ia menatap sang putra ragu-ragu, “iya kan?” tanyanya memastikan.


“Abis itu katanya Papa masih ingin menjodohkan kita lagi. Mama nggak tahu?”


Linda menggeleng tidak yakin. “Lagi gimana? Bukannya udah jelas kalau kalian nggak mau,  kenapa Papa-mu mau menjodohkan kalian lagi?” tanyanya tidak yakin, “lagian kamu kan udah punya pacar. Papa-mu kurang waras atau gimana?” dengusnya kemudian.

__ADS_1


Linda kemudian tersadar akan sesuatu. “Oh ya, pacarmu ke mana? Kok nggak keliatan? Belum tahu dia sama kondisi kamu?”


Malvin mengangguk. “Udah. Tadi pagi udah ke sini.” Ia memejamkan kedua mata lelahnya, niatnya ingin bersantai justru dibebani dengan pikiran yang kemana-mana, “Kayaknya Malvin mau tidur deh, Ma.”


Linda terlihat khawatir. “Kenapa? Kepala kamu sakit? Mau mau Mama panggilin dokter?” tawarnya kemudian. Yang langsung dibalas dengan gelengan kepala pelan.


Linda mengangguk paham. “Ya udah kamu istirahat dulu. Kalau ada apa-apa bilang sama Mama ya, biar Mama panggil dokter.”


Malvin terlihat tidak peduli karena kepalanya terlalu pusing dan ia merasa butuh istirahat.


***


Selesai menemui Ayana, Olivia memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan ia habiskan dengan melamun, bahkan beberapa kali supir taksi sampai menegurnya karena gadis itu terlalu banyak melamun. Terlalu sulit baginya untuk fokus, pikirannya kemana-mana, memikirkan nasibnya yang tidak jelas ini. Ia terus-terusan menyesali keputusannya yang setuju menerima ajakan pria itu dan berakhir begini. Kalau diberi kesempatan untuk mengulang waktu, ia akan sangat senang hati. Tapi semua suddah terlanjur terjadi dan tidak ada yang mampu ia ubah. Kecuai mengakhiri hubungannya dengan Malvin. Ya, ia rasa ia tidak punya pilihan lain selain itu. Ia tidak ingin memperumit keadaan.


Olivia merasa seperti kehabisan tenaganya. Tanpa memilih untuk membersihkan diri atau sekedar ganti baju, ia langsung menjatuhkan tubuhnya pada lantai begitu saja. Sekarang ia teringat kalau seharian ini belum makan sesuatu untuk mengisi lambungnya. Pantas saja lambungnya terasa sedikit perih. Ia kemudian menatap ke sekeliling arah, di mana apartemennya terlihat begitu berantakan karena tadi pagi ia belum sempat membereskannya.


Sekarang ia merasa frustrasi sendiri. Apartemennya terlihat berantakan, perutnya terasa lapar tapi ia tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu. Bahkan hanya untuk sekedar memesan delivery order ia pun seolah tidak memiliki tenaga untuk itu.


Sekarang ia tidak ingin melakukan apapun selain tidur. tapi bukannya langsung ke kamar, gadis itu malah melamun tidak jelas di sana. 


Olivia sedikit bingung dengan sikapnya saat ini, ia tidak mengerti dengan dirinya yang bersikap seolah baru saja mengalami patah hati atau habis diputusin. Padahal kemarin saat ia diputusin sang mantan pacar, ia tidak merasa sehampa ini, lantas kenapa saat dirinya mendapat kabar bahwa Malvin ternyata memiliki perempuan lain hatinya terasa sehancur ini. Ia bahkan seolah seperti baru saja kehilangan dunianya. Bukankah ini tidak wajar? Pikirnya tidak habis pikir.


Apa jangan-jangan ini pertanda kalau dirinya benar-benar jatuh cinta terhadap pria itu?


Olivia tidak bisa untuk tidak overthinking.


Drrt Drrt Drrt


Ia menoleh ke asal suara, di mana ponselnya terlihat bergetar. Ragu-ragu ia meraih benda pipih itu dan menemukan nama Malvin di sana. Ia tidak tau harus bagaimana?  


Ia bernapas lega saat panggilan itu akhirnya berhenti. Ia kemudian memutuskan meletakkan ponselnya kembali, tapi saat benda pipih itu menyentuh lantai, panggilan kembali masuk.


Otaknya berpikir keras. Ragu-ragu ia kemudian meraih ponsel lalu menjawab panggilan tersebut.


“Halo, Liv?”


Dapat ia tangkap nada bicara ragu-ragu dan juga khawatir yang bercampur jadi satu. Hal ini membuat Olivia semakin tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria itu. Apalagi kala mengingat kondisi pria itu yang masih yang masih belum pulih sepenuhnya. Bahkan kondisi pria itu masih bisa dikatakan cukup lemah kalau mengingat Malvin masih terlihat begitu kesulitan menggerakkan badannya. Ia jadi tidak tega.


“Ya, Mas, maaf tadi aku abis dari kamar mandi, nggak tahu kalau Mas Malvin telfon,” ucapnya berbohong.


Tapi Malvin dapat menyadari kalau gadis itu tengah berbohong kala mendengar suara gadis itu yang terdengar seperti sedang menahan tangisnya.


“Liv, are you okay?” tanya Malvin yang sebenarnya sudah cukup tahu kalau gadis itu tidak  terdengar baik-baik saja. Tapi meski demikian, ia sangat ingin mengetahui keadaan gadis itu.

__ADS_1


Malvin sedikit berharap kalau gadis itu mau jujur terhadapnya.


Sekuat tenaga Olivia menahan tangisnya agar tidak ketahuan dari seberang. “Loh, Mas, bukannya aku yang harus tanya begitu?”


Terdengar helaan napas dari seberang. “Yana udah cerita, Liv. Aku bisa jelasin kok, berita itu nggak bener. Gue berharap lo jangan salah paham ya?”


Hening. Olivia memilih diam karena takut kalau ia mengeluarkan suaranya maka yang ada tangisnya mungkin akan pecah tak lama setelahnya. Maka dari itu ia memilih untuk diam dan menunggu pria itu menjelaskannya.


“Oke, aku akui dulu kedua orang tua gue mau jodohin kita. Tapi baik gue maupun Ailee sama-sama nolak. Gue nggak mungkin ngajakin lo buat jalin hubungan kalau perjodohan gue sama dia berhasil. Gue juga nggak mungkin ngajakin lo ke rumah orang tua gue dan kenalin lo ke mereka lah. Menurut lo masuk akal kalau gue ada hubungan sama dia tapi nyokap gue welcome banget sama lo?


Benar juga ya, kenapa ia tidak berpikir ke arah sana?


“Mas,” panggil Olivia ragu-ragu.


“Ya, sayang.”


Spontan Olivia terkekeh. “Apaan sih, Mas?”


Malvin ikut tertawa. “Oke, salah, harusnya gini, ya. Dalem, sayang. Begitu bukannya sih caranya?”


Kedua pipi Olivia mendadak terasa memanas seketika. Selain itu kedua matanya dengan tidak sopan ikut memanas. Sekarang ia meruntuki kebodohannya sendiri yang sudah terlalu overthinking.


“Liv? Kamu masih di sana? Kamu nangis?”


Olivia mengangguk lalu mengiyakan. “Iya, Mas, aku nangis, tapi anehnya aku ngerasa bahagia juga. Kayaknya aku beneran jatuh cinta sama kamu deh, Mas, gimana ini, Mas?”


“Iya, gimana dong ini? Aku belum bisa kalau nemuin kedua orang tua kamu secepatnya. Gimana dong, Liv? Aku kalau mau bangun aja masih manggil perawat, jadi belum bisa kalau nemenin kamu pulang kampung. Sabar dulu, ya?”


“Iya, Mas, kamu jangan khawatir. Nanti aku bakal rawat kamu sampai sembuh dulu.”


Terdengar sorak bahagia dari seberang. “Asik. Makasih sayang, eh, tapi kan kamu harus ngantor. Gimana mau rawat aku?”


“Tenang aja, aku bisa ke kantor buat absen doang abis itu ke rumah sakit buat rawat kamu. Aku juga bisa sambil kerja nanti di sana.”


Malvin meringis tidak yakin. “Emang nggak ngerepotin?”


Olivia menggeleng cepat. “Enggak kok.”


Malvin mengangguk paham. “Oke. Sampai ketemu besok, sayang. Jangan lupa istirahat yang cukup soalnya kan kamu juga baru sembuh.”


Olivia mengangguk patuh lalu mematikan sambungan telfon. Setelahnya ia langsung membereskan beberapa barang yang mungkin diperlukan di rumah sakit sat harus merawat Malvin. Setelah selesai mengurus barang-barangnya, ia kemudian segera mandi lalu pergi tidur. mendadak ia tidak sabar bertemu sang kekasih.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2