Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 47


__ADS_3

***


Sejujurnya, awalnya Olivia tidak ingin mampir untuk menjenguk Malvin sepulang dari kantor, tapi perasaannya sedikit kurang nyaman, akhirnya dengan perasaan setengah rela dan tidak rela ia pun memutuskan untuk mampir ke rumah sakit. Ia mencoba meyakinkan diri kalau ia hanya perlu menjenguk pria itu sebentar lalu pulang.


Sebut dirinya bodoh atau apapun, ia tidak peduli. Daripada nantinya ia sudah terlanjur sampai di apartemen lalu tidak tenang dan harus repot-repot mencari taksi untuk ke rumah sakit. Maka itu akan sangat tidak efisien.


Cklek!


Pintu kamar inap Malvin terbuka. Tubuh Olivia seketika langsung mematung detik itu juga kala melihat Malvin tengah berpelukan dengan seorang perempuan cantik. Ada perasaan cemburu dan juga tidak terima kala melihat pria itu dipeluk perempuan yang tidak ia kenal. Tanpa sadar telapak tangannya mengepal.


"Mas," panggil Olivia dengan suara yang terdengar seperti orang mendesis.


"Liv."


Malvin balik memanggil dengan wajah paniknya dan langsung berdiri. Pria itu tidak mengeluarkan suara setelahnya dan itu membuat Olivia sedikit kesal. Kenapa Malvin tidak mencoba untuk menjelaskan sesuatu padanya? Apa hubungan mereka yang tidak jelas itu sama sekali tidak berarti bagi pria itu?


Menyadari nuansa yang kurang mengenakkan Yasmin memilih untuk pamit.


"Vin, berhubung kamu ada tamu lain aku pulang duluan ya."


Malvin mengangguk. "Makasih ya udah jenguk."


"It's okay, cepet sembuh, ya."


Pria itu kembali mengangguk. "Hati-hati ya."


Yasmin mengangguk lalu menyapa Olivia sekedarnya baru keluar dari ruangan itu.


Selepas Yasmin pergi, baik Olivia dan Malvin sama-sama diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hal ini membuat Olivia merasa kecewa luar biasa.


"Kamu nggak pengen jelasin sesuatu, Mas?" todong Olivia pada akhirnya.


Kesabarannya mulai menipis saat harus menghadapi pri ini. Olivia merasa mulai tidak tahan.


"Tanpa kamu jelasin aku tahu kalau perempuan ini bukan yang diberitain kan, Mas?"


Malvin mengangguk tanpa sedikit pun mengelak.

__ADS_1


"Dia siapa lagi, Mas?"


"Namanya Yasmin. Kakak Ailee yang kecelakaan sama aku, perempuan yang diberitain kemarin."


Olivia terlihat tidak puas dengan jawaban pria itu. "Terus hubungan kalian?"


"Dia perempuan yang bikin aku gagal move on, yang pernah aku ceritain dulu."


Shock, tentu saja, Olivia merasa seperti baru saja tersambar petir siang bolong. Ia bahkan tidak mampu berkata-kata sekarang, lidahnya kelu. Yang mampu ia lakukan sekarang ini adalah menangis.


"Maafin aku, Liv," sesal Malvin dengan nada putus asa.


Bukannya merasa lebih baik, justru Olivia merasa semakin hancur. Tangisnya pecah, sekarang ia bahkan tidak mampu menopang tubuhnya lagi, kedua kakinya terasa lemas. Ia mengambil posisi jongkok sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Kamu tahu nggak sih, Mas? Apa yang kamu lakuin sekarang itu jahat, kenapa kamu harus melibatkan aku di antara hubungan rumit kalian? Kenapa, Mas?"


"Karena aku pengen move on dari Yasmin, Liv? Enggak bisa ya kamu bantu aku?"


Olivia menggeleng tegas. "Enggak, Mas, aku nggak bisa. Aku udah bilang kan sejak awal, aku nggak mau mencintai sendirian."


"Tapi aku bisa belajar jatuh cinta sama kamu, Liv, kamu cukup bantu aku."


"Maksud kamu?"


"Seharusnya memang sejak awal kita tidak pernah mencobanya." Olivia mencoba untuk menguatkan diri dan berdiri, "mari berhenti sebelum terlalu jauh, Mas!" sambungnya kemudian.


Malvin menggeleng cepat. "Liv, aku--"


"Aku nggak bisa, Mas. Tolong hargai perasaan aku, ini nggak akan mudah buat aku. Kita bisa berhenti di saat perasaan yang aku rasain belum terlalu jauh, itu lebih baik ketimbang kita mencoba saling memaksakan dan akan berakhir dengan saling terluka."


Kali ini Malvin tidak mampu berkata-kata lagi. Ia tidak boleh egois dan hanya mementingkan perasaannya sendiri. Setidaknya ia harus mengutamakan perasaan gadis ini yang telah ia kecewakan.


"Maafin aku," ucap Malvin penuh penyesalan. Kedua matanya terlihat frustasi dan juga putus asa, "kamu bener, aku emang jahat banget karena dengan egoisnya melibatkan kamu ke dalam kisah rumit aku. Aku beneran nyesel, Liv, kamu boleh membenci aku habis ini, tapi janji satu hal ya sama aku, kamu harus bahagia habis ini. Temui pria baik yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Maaf karena aku nggak bisa jadi orang itu."


Olivia semakin tersedu-sedu dibuatnya. Ini bukan lah akhir kisah yang ia inginkan. Ia pikir ia sudah menemukan orang itu, tapi ternyata ia salah. Ia bahkan lebih terluka kali ini.


"Cepet sembuh, Mas, dan mari jangan bertemu lagi abis ini."

__ADS_1


Tanpa protes, Malvin mengangguk setuju. Mungkin itu adalah cara terbaik agar keduanya menjalani kehidupan yang lebih baik.


"Makasih ya buat waktu yang kita habiskan bareng, meski kita tidak bisa berakhir bersama, tapi aku bahagia dengan waktu yang kita lalui bersama." Malvin menatap Olivia dengan tatapan intensnya, "Liv, boleh aku peluk?"


Dengan cepat perempuan itu menggeleng tegas. Terlihat sekali kedua matanya bengkak.


Malvin mengangguk paham. "Enggak papa, aku nggak akan maksa."


"Terima kasih untuk waktu singkatnya, Mas. Cepat sembuh dan segera lulus spesialis, ya. Setelah aku keluar dari ruangan ini, mari kita sama-sama jadi orang asing."


Meski sedikit kecewa, Malvin pada akhirnya tetap mengangguk dan mengiyakan.


***


Perasaannya terasa hampa dan kosong setelah perempuan itu benar-benar keluar dari ruang inapnya. Ia sedih tapi Malvin tidak menangis. Ia bahkan masih mampu tersenyum getir setelahnya. Ada perasaan sedikit lega karena kini ia tidak harus merasa bersalah terhadap gadis itu.


Sepertinya ia butuh Ayana untuk menghiburnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya itu.


Tanpa menunggu waktu lama, panggilannya langsung terjawab.


"Yes? Can't i help you, bro?"


Malvin menghela napas panjang dan terdengar berat. "Kayaknya gue butuh pelukan lo deh, Na."


Terdengar tawa renyah dari seberang. "Sorry, bro, kalau ini kayaknya lo perlu telfon laki gue dulu deh. Bini orang nih gue."


Malvin ikut tertawa. "Enggak papa, gue suka tantangan. Siap aja sih gue kalau semisal ntar dihajar laki lo kok, asal lo ke sini dulu terus peluk gue. Kayaknya gue nggak butuh apapun selain itu deh."


"Vin, Are you okay?"


Kali ini Malvin tersenyum getir. "Kayaknya kalau gue baik-baik aja gue nggak bakal nelfon lo dan minta pelukan nggak sih?"


"Iya juga, ya, kalau gitu tunggu gue bentar, ya. Gue otw, ke sana bentar lagi, tapi ntar dulu, ini soalnya ada pasien masuk. Gue nggak mungkin cabut gitu aja soalnya."


"Oke, tetep gue tungguin kok."


Klik. Ayana langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja, sementara dirinya hanya mampu menatap nanar ke arah ponselnya yang kini berada di dalam genggamannya. Kenapa rasanya harus semenyesakkan ini ya?

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2