Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Ayana Sakit


__ADS_3

"Mami!! Anak kesayanganmu pulang nih!" seru Malvin saat memasuki rumah Ayana.


Tanpa menunggu dipersilahkan masuk, pria itu langsung nyelonong masuk ke dapur, karena tahu Kartika pasti jam segini sedang sibuk menyiapkan makan malam. Dan benar saja, saat ia sampai di dapur wanita yang telah melahirkan sahabatnya itu tengah sibuk dengan spatula dan wajannya. Cepat-cepat Malvin mendekat ke arah Kartika dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Baru pulang dari RS kamu?" tanya Kartika berbasa-basi.


"Iya, Mi, capek banget, tapi ke sini dulu demi Mami dong. Yana gimana keadaannya udah mendingan? Masih tidur aja nggak, Mi?"


"Enggak, lagi di ruang tengah paling juga nonton. Kamu samperin gih, sekalian itu buburnya kamu bawa udah Mami angetin."


Malvin langsung mengacungkan jempolnya. Dengan sigap, ia langsung mencari mangkok sendiri untuk menuang bubur. Setelah selesai ia kemudian langsung membawanya ke ruang tengah.


"Mentang-mentang cuti tidur teros," sindir Malvin sambil menendang kaki Ayana pelan. Saat sampai di ruang tengah ia menemukan gadis itu bersandar pada badan sofa dengan kedua mata terpejam. Pria itu kemudian meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di sisi gadis itu, "masih lemes, Na?"


Ayana segera merenggangkan kedua tangannya seraya menguap. "Udah lama lo?" balasnya tidak nyambung.


"Lumayan."


Ayana mengerutkan dahi. "Lumayan lama?"


"Lumayan baru nyampe."


Malvin kemudian menempelkan telapak tangannya pada dahi Ayana, tak lama setelahnya terdengar decakan samar. "Anjir, lo begini gegara siapa sih, Na? Aska apa Saga? Masa demam lo nggak turun-turun?"


"Naik turun, Vin," balas Ayana sambil mengecek suhu tubuhnya sendiri menggunakan telapak tangan, "lo jengukin orang sakit nggak bawa apa-apa?" tanyanya dengan nada sinis. Ia baru tersadar kalau di atas meja hanya ada semangkuk buburnya tadi siang yang dihangatkan. Ayana yakin itu.


"Gue ke sini bukan buat jengukin."


"Terus? Orang kalau jenguk ya bawa bingkisan kali, bukan datang dengan tangan kosong begini. Mau pake alasan apa lo kenapa datang nggak bawa apa-apa?"


Bukannya menjawab Malvin malah membongkar isi tasnya. Ia mengeluarkan termometer dan langsung menyerahkan pada Ayana. "Pake sendiri!" perintahnya kemudian, lalu dilanjut mengeluarkan alat tensi dan stetoskop yang langsung dikalungkan pada lehernya sendiri.


"Berapa?" tanya Malvin kepo saat melihat Ayana mengeluarkan termometer dari ketiaknya.


"38,9."


"Gue suruh Mami panggil dokter Mas Saga lo ya, Na, biar demam lo turun dan nggak naik-naik lagi?" saran Malvin terdengar serius.


"Suruh aja kalau berani," tantang Ayana dengan wajah judes dan nada suaranya yang dingin.


Tidak peka dengan kode yang diberikan Ayana, Malvin langsung berteriak memanggil Kartika. "Mami!"


"Mau ngapain lo?!" amuk Ayana sambil memukul sang sahabat dengan bantal sofa. Wajah judesnya terlihat makin judes saat pria itu malah memamerkan wajah cengengesannya.


"Mau periksa lo, Na. Yuk, tensi dulu. Harusnya tensi lo naik sih karena lo-nya marah-marah mulu."


Malvin kemudian mulai mengecek tekanan darah Ayana. "Keluhan gimana? Masih ada pusing, mual, muntah?"


Ayana menggeleng. "Pusing kadang, cuma udah nggak seberat kemarin. Muntahnya udah enggak, cuma mualnya kadang-kadang masih suka muncul."


"Sekarang?"


Ayana mengangguk. "Iya, kayaknya gegara liat muka lo," guraunya sambil terkekeh.


"Sialan, udah diperhatiin macem pasien VIP masih aja ngatain. Coba aja lo nggak lagi sakit, udah gue jambak rambut lo."


"Berarti ada untungnya juga ya gue sakit?"


"Ya ada, lo jadi dapet limpahan kasih sayang dari gue," balas Malvin santai. Ia kemudian melepas alat pengukur tekanan darah, "masih agak rendah. Kayaknya gue nggak perlu kasih saran lo udah tahu kan apa yang perlu lo lakuin?"

__ADS_1


Ayana mengangguk. "Kalau untuk naikin tekanan darah nggak perlu, Vin, tapi untuk urusan lain kayaknya perlu deh."


"Contohnya?"


Malvin mulai menyumpal kedua telinganya menggunakan stetoskop dan melanjutkan pemeriksaannya. "Tarik napas, Na," ucapnya sambil menempelkan ujung stetoskop pada dada Ayana. Gadis itu langsung mengikuti instruksi sang sahabat, "buang!"


"Aska mutusin gue," ucap Ayana tiba-tiba.


Malvin langsung melepas stetoskopnya secara reflek. Kedua matanya membulat sempurna. "Apa lo bilang, Na?"


Dengan senyum getirnya, Ayana mengulang kalimatnya tadi. "Aska mutusin gue."


"Anjir, kok bisa? Lo ketahuan apa gimana, Na?"


Ayana langsung memasang wajah datarnya. "Ini pemeriksaan lo udah kelar, Vin?"


Malvin langsung mengangguk cepat seraya meletakkan stetoskopnya di atas meja.


"Gue kan ada mual muntah masa lo nggak periksa perut gue?"


"Enggak usah, kan lo udah nggak muntah. Buruan cerita kenapa bisa diputusin!" desak Malvin tidak sabaran.


Ayana langsung mendengus sinis. "Ini lo nggak mau nyuruh gue makan terus minum obat dulu?"


"Nanti aja lah, ini gue terlanjur kepo. Nggak makan bubur sama obatnya sekarang nggak bakal bikin lo langsung mati kali, Na, santai aja. Udah sekarang lo cerita dulu!"


"Wah, parah lo, dokter macam apa sih lo?"


"Yang penting gue bukan dokter yang suka macam-macam sama pasiennya. Udah ngalor-ngidulnya, sekarang cerita!"


Dengan ekspresi terpaksa Ayana kemudian memulai ceritanya.


Flashback on


Siang tadi pria itu berkunjung ke rumahnya. Awalnya bilang ingin menjenguk karena tahu dirinya sedang dalam kondisi kurang sehat. Jujur, Ayana tidak menyangka akan diputuskannya secara tiba-tiba seperti barusan. Dalam kondisi dirinya yang sedang tidak fit pula. Kenapa Aska tega melakukannya?


"Kenapa, Ka, kok tiba-tiba? Kamu masih marah soal kemarin? Kan aku udah minta maaf, kamu sendiri juga ngaku salah kan? Kita baru aja baikan tapi tiba-tiba kamu putusin aku? Salah aku apa?"


"Kamu nggak salah, tapi aku yang salah."


"Maksudnya?"


Ayana tidak paham arah pembicaraan pria di hadapannya sekarang.


"Harusnya dari awal aku sadar diri, siapa aku dan siapa kamu. Harusnya dari awal aku nggak boleh suka dan jatuh cinta sama kamu, harusnya dari awal aku nggak ngajak kamu pacaran, dan harusnya dari awal kita nggak pernah ketemu."


"Ka, kamu ngomong apa sih? Aku bahagia bisa kenal dan pacaran sama kamu. Aku juga nggak pernah menyesali pertemuan kita."


"Kamu sama sekali nggak nyesel?"


"Enggak," balas Ayana tegas, "aku sayang sama kamu, Ka."


"Kalau cinta?"


Mendadak Ayana langsung bungkam. Bibirnya seolah kelu dan tidak tahu harus berkata apa. Ekspresinya pun terlihat gugup. Hal ini membuat Aska langsung tertawa miris.


"Memang aku yang bodoh di sini, Na. Harusnya dari awal aku sadar kalau orang itu bukan aku, tapi kenapa aku masih aja bego dan pura-pura nggak tahu. Aku pikir kebersamaan kita bikin kamu beneran cinta sama aku, tapi ternyata aku salah."


Ayana masih diam dengan kepala menunduk. Perasaan bersalah kian menghantam jiwanya.

__ADS_1


"Berarti memang satu-satunya jalan adalah kita berpisah, Na. Tolong lepaskan aku! Tolong sadarkan aku kalau memang benar orang itu bukan aku. Buat aku pergi dan nggak pernah berharap lagi sama kamu."


"Aska," panggil Ayana dengan suara bergetar. Detik berikutnya tangisnya pecah, "maafin aku, Ka, maafin aku! Enggak harusnya aku melibatkan kamu di dalam kisah rumit ini."


"Sebelum aku maafin kamu, ada baiknya kamu maafin diri kamu sendiri, Na. Jangan terus-terusan merasa bersalah! Kamu berhak bahagia, begitu juga aku."


Ayana tidak mampu berkata-kata lagi dengan kebesaran hati Aska. "Kenapa kamu baik banget sih, Ka? Padahal ini nggak adil buat kamu."


"Karena aku sayang sama diri aku, Na. Aku nggak mau terluka lebih dari ini makanya aku ambil keputusan ini. Lagian setelah aku pikir-pikir, kita juga nggak cocok-cocok banget. Aku juga sulit memaklumi jam kerja kamu, kayaknya aku emang nggak bisa deh pacaran sama dokter. Dan kayaknya bener deh dokter itu cocoknya sama yang dokter juga, biar dosisnya sesuai."


Sambil mengusap pipinya yang basah Ayana berkata, "Ka, boleh peluk nggak?"


Aska langsung mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya.


Masih dengan wajah sembabnya Ayana langsung berhambur ke dalam pelukan Aska. "Makasih untuk selama ini ya, Ka, maafin aku karena banyak banget bikin salah ke kamu."


"Iya, maafin aku juga kalau selama ini aku nggak bisa jadi pacar baik buat kamu. Aku sayang banget sama kamu, Na, tapi aku lebih sayang sama diri aku sendiri. Aku mau bahagia. Makanya aku harus lepasin kamu."


"Aku juga sayang sama kamu, Ka. Sayang banget. Maafin keegoisan aku, ya."


Aska mengangguk sambil mengurai pelukannya. Kedua ibu jarinya kemudian membantu Ayana menghapus sisa air matanya.


"Udahan nangisnya, biar cepet sembuh. Masa ibu dokter sakit-sakitan, malu sama pasiennya dong."


Ayana mengangguk. "Udah sembuh kok abis dipeluk mantan," guraunya kemudian.


Flashback off


"Anjir, sumpah si Aska baik banget sih, Na? Kenapa dia cowok sih? Atau kenapa gue yang nggak jadi cewek aja sih? Coba aja kalau gue cewek udah langsung deh gue seret itu orang ke KUA. Ada ya, cowok sebaik Aska tapi malah ketemu modelan cewek plin-plan kayak lo?" Malvin berdecak sambil geleng-geleng kepala setelah mendengar cerita Ayana, "sumpah kasian banget gue sama Aska."


"Gue juga." Ayana mengangguk setuju lalu meraih mangkuk yang berisi buburnya untuk minum obat, "kasian banget. Mana masih muda dan ganteng lagi, hidupnya tersia-siakan cuma karena kenal gue," sambungnya dengan nada suara sedih, sebelum memasukkan sesuap bubur ke dalam mulutnya.


"Gimana rasanya? Enak?"


"Nggak usah nanyain rasa, yang penting gue makan dan nggak muntah udah beres."


Malvin yang setuju dengan kalimat Ayana langsung mengacungkan kedua jempolnya bangga.


"Terus kalau lo udah diputusin Aska dan masalah kalian kelar, lo minta saran apaan lagi dari gue?" Malvin kemudian teringat kalau Ayana masih butuh saran darinya.


"Gue bingung harus ngapain sekarang."


"Abisin buburnya, Na."


Mendengar itu Ayana langsung berdecak sambil menatap Malvin sinis.


"Ya, abis pertanyaan lo ngadi-ngadi. Udah jelas masalah lo sama Aska kelar ya berarti lo tinggal meluruskan masalah lo sama Mas Saga lo itu. Akui kalau kemarin lo khilaf liat cogan sampai tergiur buat macarin, dan sekarang lo udah sadar kalau lo cinta sama dia. Udah kelar urusannya, Na. Mau ngapain lagi lo? Mikir mau pake adat apa? Apa udah langsung bingung mau milih tema outdoor atau indoor?"


"Ya, enggak segampang itu lah, Vin."


"Ya, kalau bisa dibikin gampang kenapa harus dibuat susah?"


"Maksud gue, ya nggak semudah itu, gue baru aja diputusin mantan gue belum genap 24 jam, masa gue udah langsung sama yang lain? Kesannya gue kayak cewek gampangan nggak sih?"


"Oh, jadi lo lebih mentingin image 'cewek baik-baik' lo ketimbang perasaan dokter Saga? Na, plis, bisa nggak sih nggak usah bego sebentar? Lo nggak kasian sama dokter Saga? Lo nggak peduli sama perasaan dia selama ini? Lo udah nyakitin dia banget loh, Na, lo nggak sadar? Apa lupa? Atau pura-pura lupa?"


Kalimat Malvin benar-benar menampar Ayana. Nafsu makannya yang tidak seberapa mendadak sirna. Dengan spontan ia meletakkan mangkuknya dan pergi begitu saja.


"Heh, Na! Mau ke mana lo? Makan dulu obatnya! Woi!" seru Malvin yang tidak digubris Ayana sama sekali, "dasar. Mau langsung nemuin calon ayang beb-nya tuh. Dan semoga aja deh abis ini bukan Saga-nya yang khilaf sama cewek lain. Nggak kebayang aja gue kalau itu kejadian, bisa kacau semua," gerutunya sambil menyuap bubur bekas Ayana. Maklum ia baru pulang dinas dan mampir kemari jadi belum sempet makan.

__ADS_1


"Malvin, itu kenapa kok buburnya malah kamu yang makan? Yana-nya mana?"


Malvin langsung menyengir lebar saat ketahuan sang pemilik rumah. "Hehe, Mami. Udah selesai masaknya, Mi?"


__ADS_2