Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 16


__ADS_3

***


Malvin seketika langsung tersentak kaget saat masuk ke dalam ruangan profesornya, bukan sang profesor yang ada di dalam sana, melainkan Damar, sang Papa. Padahal tadi sang Profesor yang menyuruhnya kemari, lalu kenapa justru sang Papa yang ada di ruangan ini. Detik berikutnya, ia langsung mendengus saat menyadari ulah sang Papa.


Malvin tidak habis pikir dengan kelakuan sang Papa yang bahkan sampai bersikap demikian hanya demi menemuinya.


"Astaga, ya ampun, Profesor Damar anda tidak bisa loh semena-mena menggunakan status senior anda untuk hal-hal semacam ini," sindir Malvin sambil terkekeh geli.


Kebetulan profesornya memang junior sang Papa semasa kuliah dulu. Dan Malvin cukup membenci fakta ini.


"Enggak usah sok ngajari Papa kamu, Vin. Papa lebih tahu banyak kehidupan dibanding kamu." Kali ini giliran Damar yang mendengus, "lagian siapa yang suka bersikap sok sibuk ngalahin dokter utama? Kamu, Vin, suka nggak sadar diri banget jadi manusia," sambungnya kemudian.


Malvin manggut-manggut seadanya. Karena ia tidak bisa sepenuhnya membantah omongan sang Papa. Meski sejujurnya, ia sedang kesal setengah mati. Karena tadi ia sedang sibuk belajar, tapi sang profesor tiba-tiba menelfon, tentu saja ia langsung bergegas kemari. Tapi lihat apa yang terjadi, justru sang Papa yang ada di sini. Jelas saja ia kesal dan ingin marah. Tapi ya sudah lah.


Bukannya merasa bersalah, Damar langsung menyuruh sang putra untuk duduk di sofa yang memang tersedia di dalam ruangan itu. Awalnya, Malvin ingin menolak karena berdalih ia harus belajar. Tapi melihat raut wajah serius milik sang Papa, ia tidak bisa berbuat banyak selain menurut. Kebetulan ia sedang tidak berminat untuk mencari masalah dengan pria yang telah mendonorkan ******, sehingga membuatnya berada di dunia ini. Intinya Malvin sedang malas ribut.


"Ada apa sih?" decak Malvin sebal, "aku itu tadi lagi belajar loh, katanya pengen anaknya cepet lulus, tapi ada aja cara buat menghalangi anaknya serius belajar," gerutunya kemudian.


"Papa lagi nggak pengen bercanda, Vin."


Malvin mengangguk setuju. "Sama," sahutnya tidak mau kalah.


Karena targetnya saat ini adalah menyandang status spesialis pada nama belakangnya. Hanya itu, ia sedang tidak ingin mencapai apapun selain itu. Karena ia sudah cukup capek dengan kisah percintaannya yang kurang beruntung ini.


"Papa abis ketemu Erik."


Malvin mendengus. Siapa pula itu si Erik. Batinnya menggerutu.


"Erik siapa sih? Aku kayaknya nggak ngerasa kenal deh."

__ADS_1


"Papa Ailee dan Yasmin."


Astaga, ya ampun, kenapa bisa ia lupa.


"Oh," responnya kemudian, "Om Erik. Kenapa sama beliau?" tanyanya heran.


Damar berdecak. "Harusnya Papa yang nanya. Sebenernya ini ada apa sih? Kamu nggak mau kasih penjelasan ke Papa?"


Malvin mengerutkan dahinya heran. "Tentang?" tanyanya seolah tidak paham.


Saking gemasnya melihat sikap santai sang putra saat ini, ingin sekali Damar melempar vas bunga yang jadi hiasan di meja ini. Tapi ia tidak bisa melakukan itu mengingat bahwa ini adalah ruangan milik juniornya, bahkan ia hanya tamu di sini. Jadi sangat tidak sopan jika dirinya bersikap demikian.


"Jangan berpura-pura bodoh, Vin. Papa tahu kemarin habis nemenin putri bungsu Erik pergi kondangan."


Malvin mengangguk dan mengiyakan. "Terus masalahnya di mana?"


Damar berdecak kesal sambil melirik sang putra dengan tatapan galaknya. "Punya anak satu kamu tuh bener-bener bikin Papa pusing tahu nggak, Vin."


"Coret aja dari KK kalau emang bikin pusing," sahut Malvin santai.


"Coret kamu dari KK nggak bikin ikatan darah yang kita punya putus gitu aja, Vin. Sekarang mending kamu kasih tahu Papa, seenggaknya biar Papa bisa bantu."


Malvin menggeleng. "Enggak usah. Malvin mau menjomblo sampai tua aja lah. Nggak usah nikah, nggak usah punya anak, bikin pusing kan, Pa, punya anak?"


"Malvin," panggil Damar dengan ekspresi seriusnya, "kamu beneran mau bersikap begini? Kamu pikir hidup menua sendirian itu enak? Nanti nggak ada yang mau ngurusin kamu, Vin."


"Enggak papa, Malvin nanti kalau udah tua mau masuk panti jompo aja semisal udah nggak kuat kerja."


Damar sudah kehilangan kata-kata untuk menanggapi kalimat sang putra.

__ADS_1


"Terserah kamu lah," respon Damar tak lama setelahnya.


"Papa masalah nggak kalau semisal aku nggak nikah beneran?"


"Masalah lah, enak aja kamu. Pokoknya nggak mau tahu kamu harus nikah, ngerti. Mau bagaimana pun menikah itu sunah Rasul, Vin. Oke, kita memang bukan keluarga yang sangat memegang teguh nilai keislaman, tapi bagi Papa, menikah itu penting apalagi kamu pria yang memiliki kebutuhan biologis lebih tinggi jika dibandingkan dengan perempuan, jadi kamu harus menikah. Titik. Entah itu kapan, Papa nggak akan maksa kamu, yang jelas Papa cuma minta kamu untuk menikah. Jangan sok lemah deh, yang ditinggal perempuan satu langsung galau seumur hidup dan nggak mau nikah. Awas aja kalau kamu berani begitu. Oke, kalau emang kamu nggak mau berurusan sama Rajendra nanti Papa cariin yang lain, kenalan Papa ada banyak."


"Serah Papa lah," komentar Malvin seadanya.


"Oke, nanti bakalan Papa bantu atur kencan buta buat kamu. Deal?" ucap Damar sambil mengulurkan sebelah tangannya.


Malvin tidak membalas dan hanya menatap tangan sang Papa dengan kerutan di dahinya.


"Mau nggak?"


Malvin menggeleng dengan wajah sombongnya. "Enggak deh, makasih, pilihan Papa belum tentu memenuhi selera aku."


Damar mendengus tidak percaya. "Enggak usah sombong kamu, Vin, pilihan kamu sendiri belum tentu setia sama kamu."


Sekarang Malvin merasa seolah tertampar. Benar juga ya, bahkan sekarang ia ditinggalkan begitu saja tanpa sebuah kejelasan. Menurutnya. Meski untuk sudut pandang Yasmin hubungan mereka telah jelas berpisah. Tapi Malvin masih merasa belum ada yang benar-benar selesai di antara mereka. Dan jujur itu cukup membebani pikiran Malvin.


"Bisa jadi kebahagiaan kamu tergantung pada pilihan Papa, Vin," ucap Damar, kali ini giliran dia yang berbicara dengan nada sombong.


Malvin tentu saja langsung membalas dengan dengusan tidak percaya. Meski demikian, pria itu tidak membalas apapun.


"Ya sudah, sana lanjut kerja! Papa mau balik ke rumah sakit, titip salam buat profesor kamu, bilangin makasih karena udah pinjemin ruangannya."


Malvin hanya manggut-manggut seadanya lalu keduanya pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2