Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Panik


__ADS_3

_____________________________________


"Yana kenapa?" tanya Saga khawatir.


Tama menggeleng tidak yakin. "Gue juga kurang tahu pasti, tapi kayaknya dia kecelakaan deh. Dia minta gue ke sana buat bayar perawatannya."


Mendengar Ayana mengalami kecelakaan, Saga langsung berdiri secara spontan. Ia merasa khawatir kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu. "Ayo!" ajaknya terlihat tidak sabaran.


Tama yang melihat ekspresi tak sabaran Saga langsung tertawa. "Khawatir banget lo sama adek gue?"


Saga mengeram tertahan. Kesabarannya sedang diuji. Tidak anak tidak bapak, dua-duanya... Ah, sudah lah, Saga malas membahasnya.


"Kalau terjadi sesuatu sama Fira, emangnya lo nggak khawatir?" Saga balik bertanya dengan wajahnya yang agak malas. Saat ini ia sudah tidak sabar untuk memastikan kondisi Ayana, tapi Tama malah memberinya pertanyaan tidak penting.


"Ya, khawatir lah," balas Tama cepat, "tapi, bentar deh, duduk dulu!"


Saga berdecak tidak sabaran. "Apa lagi sih, Tam? Lo nggak pengen cepet-cepet mastiin kondisi adek lo?"


Tama mengangguk seraya menyilangkan kakinya. "Dia baik-baik aja, selow aja! Santai. Buktinya tadi yang nelfon dan ngabarin gue Yana sendiri. Kalau dia kenapa-kenapa nggak mungkin dia bisa sampai nelfon gue, Ga."


Benar juga sih. Batin Saga mau tidak mau setuju.


"Tapi tetep aja gue pengen mastiin sendiri."


Tama tidak protes dan hanya mengangguk maklum. "Iya, paham. Cuma gini, Ga, kalau gue khawatir sama Fira itu sih wajar, kan secara dia bini gue, bro, gue suaminya. Dia ibu dari anak-anak gue, jadi semisal, amit-amit nih ya, kalau seandainya terjadi sesuatu sama Fira, ya wajar kalau gue khawatir. Secara dia istri gue. Lah kalau situ siapanya adek gue?"


Saga langsung memasang wajah seriusnya. "Gue calon suaminya," ucapnya lugas.


Tama yang mendengar jawaban lugas Saga langsung terbahak puas. Pria itu bahkan bersorak kegirangan seperti baru saja menang lotre.


"Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang mau jadi calon suami adek gue. Akhirnya bokap gue mantu juga. Akhirnya adek gue nggak jadi patah hati. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah."


______________________________________


Saat Tama dan Saga sampai di klinik, ternyata Ayana sedang tidur pulas. Saga langsung mendekat ke arah Ayana untuk memeriksa kondisi gadis itu lebih dekat.


"Dia sadar kan?" tanya Saga pada Axel.

__ADS_1


"Hah?" Axel kebingungan.


"Maksudnya dia bukan pingsan kan?" sahut Tama mewakili. Ia dapat menangkap raut wajah bingung sang mantan tetangga.


Axel mengangguk. "Oh, bukan, lagi tidur kok itu. Tadi Kak Yana sempet pesen minta nggak boleh dibangunin sebelum administrasinya selesai diurus. Tapi sebelum saya bawa ke sini memang sempat pingsan, tapi nggak lama setelahnya dia sadar kok. Kayaknya ngantuk deh."


"Ada keluhan begitu sadar? Seperti mengeluh pusing, mual atau bahkan muntah? Dokternya udah sempet cek lagi belum begitu dia sadar? Tadi sempet pemeriksaan apa aja?" cerocos Saga seolah tidak ada titiknya.


Lagi-lagi Axel memasang wajah kebingungan. Tama yang melihat langsung menyenggol lengan pria muda itu.


"Dia dokter juga, Xel, jadi ya begitu lah pertanyaannya. Harap maklumi, ya?" kini pandangannya beralih ke arah Saga, "lo juga, Ga. Kalau nanya satu-satu, itu anak orang jadi bingung kan."


"Maaf," ucap Saga tak lama setelahnya.


Sambil meringis canggung, Axel mengangguk paham. Lalu Tama melihat keduanya secara bergantian.


"Ngomong-ngomong emang kalian nggak saling kenal? Dia juga tetangga lo loh, lo nggak tahu?"


Masih dengan wajah shock dan agak kebingungannya Axel menggeleng. Pria muda sepertinya mana peduli dengan tetangga baru, yang lama saja ia tidak kenal apalagi yang baru.


"Jadi?" Saga masih menunggu jawaban dari Axel atas pertanyaannya tadi.


"Oh, enggak kok, dok, tadi Kak Yana bilang nggak ada keluhan. Nggak ada gejala fraktur juga katanya."


"Kamu yakin?" tanya Saga masih belum puas dengan jawaban pria muda itu.


Axel mengangguk cepat tak lama setelahnya.


Setelah obrolan singkat mereka, Tama langsung mengajak Axel untuk menemaninya mengurus administrasi, sedangkan Saga yang menunggui Ayana. Awalnya Axel protes, namun, setelah mendapat decakan sekaligus pelototan mata tajam dari Tama, akhirnya pria muda itu pasrah ditarik oleh Tama.


"By the way, itu gimana ceritanya, Xel, kok adek gue bisa masuk sini dan kepalanya bocor gitu? Adek gue bukan korban tabrak lari kan?"


Sambil menunggu administrasinya diproses, Tama memutuskan mengajak Axel mengobrol, karena dia sudah kepo juga dengan kejadian apa yang menimpa sang adik semata wayang.


Axel menggeleng. "Bukan kok, Bang."


"Terus?" tanya Tama kepo.

__ADS_1


"Jatuh dari pohon."


"What?! Lo jangan bercanda dong, Xel." Tama terlihat shock sekaligus tidak percaya dengan jawaban Axel.


"Serius, Bang, Kak Yana jatuh dari pohon deket rumah gue makanya gue tahu. Jadi ceritanya dia lagi mau bantu ambil layangan bocah-bocah dari komplek sebelah yang nyangkut di sana, eh, tapi apes, ya udah jatuh deh gubrak. Kepala ngebentur aspal, ya udah bocor lah, Bang."


Tama berdecak sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan kelakuan sang adik.


"Astaga, ada aja kelakuan itu anak. Bener-bener deh, ini kalau sampai orang tua gue tahu, bisa abis dia kena omel Mama Tika. Duh, Xel, malu gue sebagai Abangnya."


"Loh, kenapa malu, Bang? Harusnya Bang Tama bangga dong, Kak Yana kan baik mau bantuin anak-anak itu."


Tama tiba-tiba menyipitkan kedua matanya curiga. "Lo naksir adek gue?" tebaknya tepat sasaran.


Axel langsung tertawa keras. Namun, Tama tahu kalau tawa itu sangat lah palsu.


Tama lalu menepuk pundak Axel. "Jangan, ya, bro!" sarannya tulus.


Mendadak Axel menjadi kepo. "Emang kenapa, Bang?"


"Lo masih kecil, buset, masa ngegas banget pengen adek gue. Meski dia penampilan masih imut-imut ngegemesin gitu, dia aslinya udah tua. Saran gue mending jangan deh!" ucap Tama serius, "ribet. Banyak maunya. Pokoknya jangan deh! Mending cari cewek lain."


"Bukannya emang pada dasarnya perempuan itu ribet, ya, Bang? Emang istri Bang Tama enggak?"


Tama lumayan terkejut saat mendengar jawaban Axel. "Lo seriusan suka sama adek gue?"


"Gue rasa kayaknya gue nggak punya hak buat jawab deh, Bang. Gue permisi, ya, mau balik ke Kak Yana dulu," pamit Axel berniat meninggalkan Tama begitu saja. Namun, dengan cepat pria itu langsung menarik ujung kaos yang Axel kenakan.


"Heh, mau ke mana lo? Lo nggak bisa pergi gitu aja, bro!" Tama kemudian mendengus tidak percaya, "apa tadi lo bilang? Lo nggak punya hak buat jawab pertanyaan gue? Maksud lo apa? Lo mau bilang kalau gue nggak berhak tahu gitu?"


Dengan wajah seolah tidak punya takut, Axel mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Hal ini membuat Tama lumayan geram dibuatnya.


"Wah, songong ini bocah. Heh, asal lo tahu, gue ini Abangnya. Abang kandungnya, lo jangan macem-macem sama gue. Lagian nih, ya, gue kasih tahu selera adek gue bukan bocil macem lo begini. Ngerti nggak lo?"


"Ya, gue tahu, Bang. Gue menghargai lo sebagai Abangnya Kak Yana. Tapi soal perasaan, gue rasa lo nggak punya hak buat ngatur-ngatur. Sorry, kalau perkataan gue menurut lo keterlaluan, tapi menurut gue sikap lo juga keterlaluan. Jangan karena lo Abangnya, lo berhak ngatur-ngatur perasaan orang yang suka sama adek lo. Sorry, sekali lagi kalau gue lancang. Permisi."


"Buset, serem juga ya anak muda zaman sekarang," gumam Tama selepas Axel pergi.

__ADS_1


__ADS_2