Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Bertemu Mantan


__ADS_3

"Saga?"


Mendengar namanya dipanggil, Saga langsung menoleh ke asal suara dan kebetulan orang yang memanggilnya itu berada di tepat di belakangnya.


"Viona? Ngapain?"


Perempuan yang dipanggil Viona itu langsung tertawa kecil. "Antri sembako. Ya, antri kasir lah, Ga, masa ngikutin kamu." ia kemudian menunjuk troli di hadapannya, "nih, belanja bulanan. Sama kayak kamu."


"Sendiri? Anak kamu?"


Viona mengangguk. "Iya, sendiri. Dia lagi jatah ikut Papa-nya, jadi aku sendiri. Menggadis dong. Kamu? Sendiri?" ia sedikit mengintip ke arah keranjang troli ukuran besar milik pria itu, "banyak banget belanjaannya, kayak udah enggak sendiri aja."


Kali ini giliran Saga yang mengangguk. "Ya, emang udah nggak sendiri."


"Maksudnya?" Viona tidak langsung paham, namun, ia tiba-tiba teringat kalau Saga punya asisten rumah tangga dan juga supir pribadi, "oh, ART sama supir pribadi kamu, ya?"


Saga menggeleng. "Istri."


Viona tidak dapat menahan keterkejutannya saat mendengar Saga menyebutkan kata istri. Jadi mantan kekasihnya ini sudah menikah?


"Kamu udah nikah, Ga?"


Saga mengangguk seraya mengusap tengkuknya sedikit salah tingkah. Tangan kanannya kemudian terangkat, bermaksud memamerkan cincin pernikahannya dengan Ayana.


Viona terlihat terkejut sekaligus senang. "Serius udah nikah?" tanyanya seolah tidak percaya.


Seingatnya, terakhir bertemu pria ini belum memiliki tanda-tanda akan segera menikah, tapi kenapa setelah lama tidak bertemu lagi, kok statusnya sudah ganti saja. Tentu saja Viona kaget.


Saga kembali mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Terus istri lo mana?" Viona kemudian celingukan mencari keberadaan istri Saga, "di rumah? Apa lagi hamil muda makanya lo belanja sendirian?"


Saga memilih mendorong trolinya dulu karena antriannya mulai berkurang. "Lagi ambil barang yang kelupaan."


Saga kemudian ikut celingukan mencari keberadaan sang istri. Setelah kedua netranya menangkap sesosok sang istri baru lah ia mengeluarkan suara.


"Itu dia!" ujarnya sambil menunjuk Ayana.


Ayana langsung melambaikan sebelah tangannya saat sang suami kini menatap ke arahnya. Baru setelah itu ia berlari kecil ke arah mereka.


"Itu istri kamu?" tanya Viona sebelum Ayana sampai di hadapan mereka.


Saga lagi-lagi kembali mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Kayak pernah ketemu, gue kenal?" bisik Viona sedikit mendekat ke arah Saga.


Saga menatap Viona tidak yakin kemudian menggeleng. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan insiden saat Agus tidak sengaja menabrak Viona.


"Yang jahit luka kamu waktu ditabrak Agus."


Viona langsung ber'oh'ria sambil mengangguk paham. "Dokter juga?"


Lagi-lagi Saga hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Cakep juga. Tapi kayaknya masih kemudaan nggak sih buat lo? Berapa sih gap years-nya? Jangan bilang masih belum kelar program koasnya?"


Saga terkekeh samar. "Udah. Emang agak baby face sama mungil aja."


Viona terlihat sedikit kaget. "Hah? Serius? Terus udah residen gitu? Curiga residen di departemen lo jangan-jangan?"


Saga menggeleng. "Tetangga. Adiknya Tama."


Kali ini Viona tidak dapat menahan keterkejutannya sama sekali. Mulutnya menganga lebar. "Hah? Serius lo adiknya Tama? Adiyatama? Tama yang itu?"


"Iya, Tama yang itu."

__ADS_1


"Wow, aku agak terkejut. Oh, dia punya adik perempuan toh, cantik juga ya, adeknya."


"Dapet?" tanya Saga saat akhirnya Ayana sampai di hadapan mereka. Istrinya itu mengangguk seraya memamerkan pengharum kamar mandi kepada sang suami, sebelum memasukkan ke dalam keranjang belanjaan mereka.


"Siapa, Mas?" bisik Ayana hati-hati.


Saga langsung memperkenalkan Ayana ke Viona. Lalu keduanya saling berkenalan.


"Oh, hai, saya Viona," ucap Viona memperkenalkan diri. Sebelah tangannya terulur, mengajak Ayana untuk berjabat tangan.


"Ayana," balas Ayana singkat sambil membalas jabat tangan Viona.


"Masih inget saya?"


"Hah?" Ayana mendadak kembali bingung. Wajah perempuan ini memang tidak asing, namun, sampai sekarang ia masih belum dapat mengenali siapa perempuan ini, "em, maaf sebelumnya, emang kita pernah ketemu?" tanyanya hati-hati. Takut kalau teman suaminya ini tersinggung dengan pertanyaannya.


Ayana kemudian menoleh ke arah Saga, bermaksud meminta bantuan dari sang suami.


"Waktu di RS. Kamu kayaknya udah lupa. IGD, Viona pernah jadi pasien kamu waktu enggak sengaja ditabrak Agus. Sampai perlu dijahit waktu itu, kebetulan aku yang nemenin."


Seketika kedua bola mata Ayana membulat sempurna. Kaget dan tiba-tiba merasa kesal tanpa ia duga. Jadi ini adalah perempuan yang dinikahi suaminya sebelum menikah sah dengannya? Dan siapa tadi namanya? Viona? Berarti benar dong? Jadi ini mantan Saga? Mantan suaminya? Yang sudah punya anak itu, dan yang statusnya sudah bercerai itu?


***


"Mas, perempuan yang tadi itu mantan kamu, ya?"


Sesi belanja bulanan kelar. Kini akhirnya mereka sampai di rumah, namun, barang belanjaan mereka masih berserakan di ruang tamu dan bukannya langsung ditaruh di dapur.


"Tahu dari siapa?"


"Jawab aja!"


Sambil menghela napas Saga mengangguk dan mengiyakan.


Perasaan insecure seketika langsung menggerogoti diri Ayana. Mantan Saga saja penampilannya cantik, tinggi, anggun, putih, sedangkan dirinya?


Saga mengangguk.


"Udah pisah?"


"Yan," panggil Saga terdengar tidak suka. Meski yang ditanyakan sang istri kebenaran sekalipun, menurutnya pertanyaan Ayana kurang sopan.


"Jawab dulu lah, Mas! Belum kan?"


"Kalau iya kenapa, dan kalau enggak kenapa?"


Sikap nyebelin sang suami kembali kambuh, ditanya malah balik nanya. Tentu saja Ayana langsung naik pitam.


"Mas!!"


Saga menghela napas.."Iya, udah pisah, udah punya anak juga tapi."


Ayana melongo. Kok sama dengan mimpinya? Padahal Tama belum memberitahu semuanya. Tapi kok bisa sama?


Membiarkan sang istri melongo, Saga kemudian mulai mencicil dan membawa belanjaan mereka menuju dapur.


Saga panik sekaligus kaget saat kembali ke ruang tamu sudah disambut Ayana yang sedang menangis tanpa suara. Meski istrinya itu sedang menangis tanpa suara, tapi perempuan itu sudah menghabiskan lumayan cukup banyak tisu.


"Loh, kenapa nangis?" tanya Saga khawatir.


"Soalnya dia adalah perempuan yang aku impiin, Mas."


"Maksudnya?"


"Tinggi, langsing, cantik, anggun."

__ADS_1


"Ayana?" panggil Saga terdengar tidak suka, "kan kamu juga cantik dan langsing."


Ayana menggeleng kurang setuju. "Tapi aku nggak tinggi."


"Terus kenapa?"


"Kamu pernah nikahin dia tapi, Mas."


"Astaga, kamu denger kabar hoax dari mana? Demi Allah, Yan, sebelum nikah sama kamu, aku beneran masih single. Belum pernah menikah. Aku nggak pernah memalsukan dokumen apapun."


"Aku liat dengan mata kepala aku sendiri, Mas."


"Hah?" Saga makin tidak paham, "kamu jangan aneh-aneh! Ini udah malem loh, kan besok ada shift pagi, mending sekarang kamu mandi lagi deh biar seger, biar otaknya nggak mikir macem-macem!" suruh Saga kemudian.


Ayana menggeleng. "Tapi aku beneran pernah mimpi kamu nikahin mantan kamu yang janda itu, Mas. Aku beneran sedih banget deh kalau inget, Mas. Rasanya beneran kayak kamu tinggal nikah."


"Astaga, Tuhan, Ayana."


Mendadak Saga speechless. Ia benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa, di satu sisi ia merasa hal ini lucu. Namun, di sisi yang lain ia merasa kasian juga.


Saga terkekeh lalu memeluk sang istri. Menenangkan Ayana agar tidak mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan yang dilihat dari mimpi.


"Udah nangisnya, malu. Masa nangis cuma karena mimpi? Lagian yang jadi istri sah aku kan cuma kamu, kenapa masih kamu tangisin?"


Ayana menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. "Ya, gimana orang mantan kamu bentukannya begitu. Cantik, tinggi, langsing, anggun. Udah punya anak tapi belum keliatan kalau pernah melahirkan. Bener-bener cetakan model banget, Mas, aku insecure, takut kamu oleng ke dia."


"Astaga, Yan." Saga memijit pelipisnya yang mendadak pusing. Pria itu terkekeh samar, "kamu nggak percaya sama aku?"


Ayana langsung diam. Kedua bibirnya tertutup rapat. Sepertinya kali ini giliran perempuan itu yang kehilangan kata-kata.


"Aku berlebihan ya, Mas?" tanya Ayana tak lama setelahnya.


Saga langsung mengangguk sebagai tanda jawaban. "Dikit."


"Mas Saga nggak bakalan ninggalin aku cuma karena aku lebay kan?"


"Mau kamu lebay, tukang ngambekan, hobinya marah-marah, kalau tidur susah anteng, dibangunin juga susah. Aku nggak bakalan ninggalin kamu, Yan, karena aku udah berjanji sama Mama dan Papa kamu. Kecuali..."


"Kecuali apa, Mas?" tanya Ayana kepo.


"Kecuali dapet emergency call. Kalau udah dapet itu, maaf, aku harus pergi ninggalin kamu."


Mendengar jawaban Saga. Ayana rasanya ingin mengamuk. Bagaimana tidak, ia pikir jawaban suaminya itu akan sangatlah serius, tapi ternyata justru sebaliknya. Mendadak ia seperti sedang dikerjai.


"Mas Saga iseng banget sih ngerjain aku. Aku tadi udah deg-degan loh, takut beneran kamu ninggalin aku," rajuknya dengan ekspresi cemberut.


"Tapi kan bener," elak Saga tidak terima. Ia tidak merasa sedang mengerjai sang istri seperti yang dituduhkan Ayana. Ia bahkan berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ya emang bener, cuma aku tadi jadi sempet mikir yang ke mana-mana, Mas. Aku pernah kehilangan kamu, jadi aku takut kembali kehilangan kamu."


Saga menggeleng tidak setuju. "Kamu nggak pernah kehilangan aku, tapi kamu sendiri yang memilih pergi. Kenapa aku yang disalahin?" protesnya kemudian.


"Oh, jadi sekarang Mas Saga nyalahin aku?"


"Tapi emang beneran salah kan kamu-nya?" balas Saga tidak mau kalah.


Ayana otomatis kehilangan kata-kata untuk membalas, mau bagaimanapun. Apa yang dikatakan sang suami adalah fakta. Mau dielak seperti apapun jawabannya sudah pasti. Dirinya yang salah, memilih pergi demi cinta sesaat. Makin diingat, Ayana semakin sedih.


"Iya, iya, aku yang salah. Kamu puas?"


Saga terkekeh sambil mengelap kedua pipi Ayana yang masih basah menggunakan tisu. "Udah sana, cuci muka! Terus kita tidur. Biar besok nggak susah dibangunin."


"Ah, masa jam segini tidur?" protes Ayana sambil berdecak.


Ekspresi Saga berubah datar. "Enggak mau?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Ayana langsung meringis takut. "Iya, iya, mau, Mas. Aku cuci muka dulu, minta tolong, ya, sekalian diberesin sisanya," ucapnya sebelum kabur melarikan diri, "makasih suami aku yang ganteng. Love you!" sambungnya sambil membentuk love sign.


__ADS_2